Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Pemakaman Sang CEO (Part 2)


__ADS_3

PLAKK....!!


Mang Jajang menampar Kyara karena sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.


"Bapak...!!"


Bi Irah berteriak kencang melihat suaminya menampar keponakannya. Dia segera menghampiri Kyara dan memeluknya.


"Sadar neng ! Mamang mohon, sadarlah ! Dengar !" ujar mang Jajang seraya membalikkan tubuh Kyara agar menghadapnya.


"Ini sudah takdir dari Gusti Allah, kita sebagai manusia tidak akan mungkin bisa menghindari takdir Allah. Mamang mohon, kuatkan hatimu nak ! Allah tidak akan mungkin memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Mamang percaya, Aneng pasti kuat ! Selama ini, Aneng sudah membuktikan jika Aneng wanita yang tegar. Aneng wanita yang sangat sabar. Aneng harus ingat, Aneng tidak sendirian, masih ada mamang, ada bibimu dan juga keluarga almarhum suamimu." ujar mang Jajang mencoba memberi pengertian kepada keponakannya.


"Ta...tapi Aneng yakin, mang..., dia bukan kang Bagas ! Aneng mohon, percaya sama Aneng !" ujar Kyara seraya mengatupkan kedua tangannya.


"Cukup Aneng ! Bersikaplah dengan wajar ! Jangan permalukan keluarga suamimu !" ujar mang Jajang tegas.


"Sudah pak ! Jangan terlalu keras padanya ! Mungkin Aneng merasa shock atas kepergian suaminya." ujar bi Irah.


"Kemarilah, nak ! Kita duduk dulu !" ujar bi Irah seraya memapah Kyara untuk duduk di sofa ruang keluarga.


Tanpa mereka sadari, Ajay mendekati Kyara. Dia pun menyentuh tangan Kyara.


"Ky..., Kya...!" panggil Ajay. "Aku turut berdukacita atas kepergian suamimu." lanjutnya.


Kyara mendongakkan wajahnya dari pelukan bibinya. Matanya menatap tajam mendapati pria yang tengah berada di hadapannya.


"Kau ! Jangan sentuh tanganku !" ujar Kyara menepiskan tangan Ajay.


Seketika Kyara berdiri dan hendak kembali pergi ke kamarnya.


"Kya tunggu !" Ajay kembali menarik tangan Kyara.


"Aku sudah bilang, jangan sentuh aku !" Kyara kembali menepiskan tangan Ajay.


"Kamu tahu ! Semua ini gara-gara kamu ! Jika waktu itu aku tidak pernah menemuimu, semua ini tidak akan pernah terjadi ! Suamiku tidak akan pernah marah, dia tidak akan pernah pergi meninggalkan aku ! Kamu memang bener-bener pembawa sial dalam hidupku ! Dulu kamu renggut ayahku, sekarang kamu renggut suamiku ! Kenapa...? Kenapa tidak kamu saja yang mati ? Kenapa harus suamiku ? Kenapa, hah ?"


Kyara semakin tidak bisa mengendalikan emosinya saat kembali melihat orang yang selama ini telah membawa derita dalam hidupnya.


"Aaargghhh...! perutku !"


Tiba-tiba Kyara memegang perutnya yang terasa sakit.


"Astaghfirullah hal adzim...! Kenapa neng ?"


"Tolong Aneng, bi ! Perut Aneng sakit !"


Bi Irah semakin panik ketika melihat darah di kedua betis Kyara.


"Ya Allah...! Da... darah neng...!" pekik bi Irah.


Ajay terhenyak kaget melihat keadaan Kyara. Dia segera berteriak memanggil dokter Nita.


"Nit...! Nita...! Tolong dia !"


"Ada apa ini ?" tanya seorang lelaki yang kebetulan lewat di depan ruang keluarga.


Kyara menoleh ke arah sumber suara. Dia terkejut melihat lelaki yang sedang berdiri di hadapannya.


"Gu... Guntur...!" ujarnya lirih.


Kyara mencoba mencari pegangan, tubuhnya sudah tidak mampu lagi berdiri karena menahan rasa sakit di perutnya.


Melihat itu, orang yang bernama Guntur segera meraih tangan Kyara dan menggendongnya.


"To... tolong bawa aku ke rumah sakit ! A...aku tidak mau kehilangan anakku lagi ! To... tolong selamatkan di.. dia..!" sejurus kemudian Kyara pun tak mampu mengingat apa pun lagi.

__ADS_1


Lelaki itu segera membawa Kyara keluar.


"Permisi...! Permisi...! Tolong beri kami jalan !" teriak Guntur sambil terus berlari menggendong Kyara.


Semua orang tampak kaget sekaligus heran melihat Kyara tak sadarkan diri dalam pangkuan seorang pria tampan.


"Tunggu ! Gerald, ada apa ? Apa yang terjadi pada Kyara ?" ujar Gunawan mencoba menahan asisten Bagas yang dari Jerman.


"Maaf, tuan ! Sepertinya, nona Kya mengalami pendarahan. Sebelum pingsan tadi, dia memintaku untuk membawanya ke rumah sakit." jawab Gerald.


"Astaghfirullah hal adzim ! Ya sudah, kamu segera bawa dia ke rumah sakit ! Tolong jaga dia, sementara itu saya akan mengurus pemakaman Bagas dulu !"


"Baik, tuan !"


"Bibi, ikut den ! Bibi khawatir sama keadaan Aneng ! Bagaimana, pak ! Apa ibu boleh ikut ?" tanya bi Irah kepada suaminya.


Mang Jajang pun mengangguk sebagai tanda mengizinkan.


Dengan diantarkan sopir pribadi kak Indah, mereka pun pergi ke rumah sakit.


Sementara itu, di ruang keluarga Ajay masih terpaku melihat kejadian barusan. Hatinya merasa sakit saat mendengar semua perkataan Kyara. Ajay sangat terluka melihat kebencian di mata Kyara. Dan dia semakin terluka saat tidak bisa menolong Kyara yang tengah menahan kesakitan di perutnya. Dia merutuki keadaannya yang tak mampu menggendong Kyara untuk pergi ke rumah sakit.


"Aargghh...!!" Ajay menjambak kasar rambutnya.


Dokter Nita yang sedari tadi memperhatikan Ajay dari kejauhan, segera menghampirinya. Dia memegang tangan Ajay.


Ajay menatap nanar kepada dokter Nita.


"Dia..., dia membenciku Nit !" ujar Ajay lirih.


"Dia tidak membencimu ! Dia hanya sedang emosi saja. Itu adalah hal yang wajar, mengingat kondisi Kyara yang sedang mengalami musibah saat ini. Jangan pernah berpikiran buruk, Jay ! Semua pasti ada jalannya. Kita akan mencari waktu yang tepat untuk menemui dan meminta maaf kepada Kyara. Sekarang kita pulang, ya ! Kamu butuh istirahat yang cukup, Jay." ajak dokter Nita.


Ajay menyetujui ajakan dokter Nita. Dia sendiri sudah merasa lelah dan pusing melihat tamu-tamu yang melayat berdatangan silih berganti. Akhirnya, setelah berpamitan dengan kak Indah dan Gunawan, Ajay dan dokter Nita pun pergi kembali ke klinik.


Doni sang asisten Bagas, merasa sangat terharu melihat begitu banyak orang yang hendak menyolatkan dan mengantarkan bos nya ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Selepas solat berjamaah dzuhur, jenazah Bagas pun segera diangkut oleh mobil ambulance menuju TPU. Maklum, jarak antara kediaman Gunawan dengan TPU cukup jauh, memakan waktu sekitar satu jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.


Tiba di sana. Para penggali kubur sudah selesai dengan tugasnya. Mereka pun segera menyambut jenazah yang akan dimakamkannya. Semua orang berjalan beriringan menuju TPU. Akhirnya, Bagas pun segera di masukkan ke liang lahat.


Semua orang tampak bersedih dengan kepergian sang CEO yang baik hati. Meskipun dia seseorang yang sangat dingin dan tak banyak bicara. Namun dia orang yang sangat baik hati, tulus dan dermawan. Semuanya merasa kehilangan sosok pimpinan yang sangat berwibawa, berkharisma dan memiliki otak yang brilian.


Prosesi pemakaman sang CEO berjalan cukup lancar, meski tanpa dihadiri oleh istrinya. Para pengusaha yang berasal dari Jerman bahkan merasa terkejut ketika mengetahui jika Bagas telah menikah. Mereka sedikit menyayangkan sikap Bagas yang tak pernah mengundangnya dalam pernikahannya. Namun mereka sendiri tidak ingin terlalu mempermasalahkannya. Bagi mereka, Bagas tetaplah orang yang pantas untuk mereka hormati dengan segudang persembahan terbaiknya untuk Dunia Perusahaan Otomotif.


***


Di rumah sakit ibu dan anak Al Zahra.


Kyara mulai membuka matanya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Seketika dia pun teringat jika tadi dia mengalami pendarahan. Dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Tak lama kemudian, bi Irah muncul dari dalam kamar mandi.


"Bi...!" gumam Kyara lirih.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, neng !" ujar bi Irah seraya mendekati Kyara dan mengusap lembut pucuk kepala Kyara.


"Ba... bagaimana janin Aneng, bi ? Apa dia bisa bertahan ?" tanya Kyara.


"Sebenarnya bibi tidak tahu, neng ! Tapi, tadi dokter memanggil pemuda yang menggendongmu kemari." jawab bi Irah.


Kyara diam. Dia ingat jika tadi dia meminta Guntur membawanya ke rumah sakit.


Kenapa Guntur bisa berada di rumah kak Gunawan ? batin Kyara.


Kyara mulai memejamkan matanya, merasai sedikit pusing di kepalanya. Saat dia mulai terlelap, sayup-sayup dia mendengar suara seseorang yang sedang mengobrol dengan bibinya. Kyara pun kembali membuka matanya.


"Guntur...!" panggil Kyara lirih.

__ADS_1


"Hai Kya...!" ujar Guntur tersenyum.


"Ba... bagaimana janinku ?" tanya Kyara.


"Kamu tidak usah khawatir, baby mu sangat kuat Kya. Aku yakin jika dia sudah besar nanti, dia pasti akan menjadi orang yang hebat seperti ayahnya." jawab Guntur.


Kyara tersenyum. "Terima kasih." jawabnya.


Guntur terpana melihat senyuman Kyara yang tampak begitu manis. Ya Tuhan....., seumur hidup mengenalnya, baru kali ini dia tersenyum padaku. Senyuman yang sangat sempurna. Batin Guntur.


"Apa kau mengenal suamiku ?" tanya Kyara.


Guntur meraih kursi yang berada di sisi bi Irah. Dia kemudian menaruh kursi itu di dekat kepala Kyara.


"Ya, aku mengenal suamimu. Bahkan sangat mengenalnya." jawab Guntur.


"Benarkah ? Di mana kamu mengenal suamiku ?" tanya Kyara lagi.


"Di Jerman. Aku mengenal suamimu yang sedang mengisi acara di kampusku. Saat itu, dia masih menjadi asisten dosen. Selain sebagai asisten dosen, dia juga mulai terjun sebagai pengusaha yang sedang menjalankan projects B. Dia pemuda yang sangat pintar. Dia juga seorang motivator bagi kami orang-orang yang selalu menganggap kegagalan adalah akhir dari semua usaha yang telah kami lakukan. Tapi ternyata, cerita hidupnya mampu memberikan kami motivasi untuk bangkit kembali. Aku merasa beruntung mengenalnya. Kami pun mulai bersama-sama membangun BA Group setelah projects B-nya berhasil."


"Ja...jadi, kau Gerald ?" tanya Kyara terkejut.


"Kau tahu aku ?" tanya Guntur tersenyum.


"Ya, kakang selalu cerita tentangmu." jawab Kyara.


"Kakang ?" tanya Guntur heran.


"Ya, kang Bagas. Aku memanggilnya kakang. Lalu, kenapa namamu berubah menjadi Gerald ?" Kyara balik bertanya.


"Ah Kya ! Inilah akibat dari sikapmu yang dingin. Bahkan untuk mengenal nama cowok yang satu kampus pun, sepertinya kamu enggan melakukannya." ledek Guntur.


Kyara hanya tersenyum.


"Namaku, Guntur Geraldy Roeslan. Karena waktu itu aku tinggal di luar negeri, dan ingin terlihat keren, jadi aku mengenalkan nama tengahku kepada orang-orang di sana. He...he...he..." ujar Guntur terkekeh.


Kyara pun hanya tersenyum mendengar pengakuan jujur teman kuliahnya dulu.


***


Menjelang ashar, proses pemakaman sang CEO selesai. Satu persatu, orang-orang yang mengantar pun sudah meninggalkan area pemakaman.


"Apa sudah ada kabar tentang Kyara, Don ?" tanya kak Indah.


"Iya nyonya, tadi bos Gerald menelpon, katanya nona Kyara dan janinnya alhamdulilah selamat. Tapi nona Kyara harus menjalani bedrest dulu sekitar 10 hari." jawab Doni.


"Baiklah, setelah solat ashar, kita sama-sama jenguk Kyara di rumah sakit. Kita harus sering-sering menemaninya, agar Kyara tidak merasa sendirian dalam menghadapi cobaan ini." ujar Gunawan.


"Iya mas !"


Gunawan segera merangkul istrinya.


"Kamu juga, Khumaira...! Ikhlaskan kepergian adikmu ! Mas tidak mau kamu jatuh sakit karena terus memikirkan kepergian Bagas. Ingatlah, suatu hari nanti, kita juga pasti seperti Bagas. Akan kembali menghadap sang pemilik kita. Setiap yang hidup, pasti mengalami kematian. Hanya saja, kita tidak tahu, kapan, di mana dan bagaimana kematian itu menjemput kita." ujar Gunawan.


Kak Indah mengangguk-anggukan kepalanya seraya merebahkan dirinya di dalam pelukan suaminya.


"Sudah sore, ayo kita pulang !" ajak Gunawan.


Akhirnya, mereka pun kembali ke rumah Gunawan.


Bersambung...


Mohon maaf, jika besok author telat up, soalnya author masih harus menghadapi ujian sehari lagi.


Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏

__ADS_1


__ADS_2