
Sudah malam An...! Tidurlah...!" ucap seorang gadis berambut pirang kepada sahabatnya yang sedang bersedih.
Gadis itu mengangguk, kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang. Matanya terlihat bengkak, menandakan jika dia telah begitu banyak menangis.
Gadis itu mulai terlelap, meski sesekali isak tangisnya masih terdengar.
***
Keesokan harinya di apartemen yang memiliki luas sekitar 25 meter persegi, tampak gadis berambut pirang itu sedang menyiapkan sarapannya. Setelah semuanya siap, dia menuju kamarnya untuk membangunkan sahabatnya.
"An....! Andin...!" ujarnya menggoyangkan pelan bahu sahabatnya yang masih tertidur.
Ya..., gadis yang sedang tertidur pulas itu, dia adalah Andin. Kegundahan di hatinya saat mendengar Ajay telah memiliki calon istri, membuat Andin pergi untuk menenangkan pikirannya ke apartemen sahabat masa kecilnya.
Cecilia Maharani. Gadis cantik berambut pirang keemasan dengan wajahnya yang oval, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang sedikit tipis merupakan teman masa kecil Andin.
Dia terlahir sebagai anak dari orang yang sangat kaya. Ayahnya pemilik perkebunan kelapa sawit. Namun ketidakharmonisan orang tuanya, memaksa Cecilia untuk hidup mandiri dan tinggal jauh dari orang tuanya.
Kini Cecilia tinggal di sebuah apartemen yang sangat sederhana. Selain berkuliah di universitas biasa, dia pun bekerja part time di sebuah resto cepat saji.
"Bangun An...! Sudah siang, kita sarapan dulu..!" ujar Cecilia kembali menggoyangkan bahu Andin.
Andin membuka matanya. Dia menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. "Jam berapa ini..?" tanyanya.
Cecilia melirik jam tangannya. "06.30.., sebaiknya kamu mandi dulu An...!" ujar Cecilia.
"Iya, dari kemarin aku tidak mandi. Badanku pasti bau !" ujar Andin.
Cecilia tersenyum, dia pun mengambil bathrobe yang tergantung di dekat pintu kamarnya. Setelah itu, dia memberikan bathrobe itu kepada Andin. "Cepatlah ! Aku tunggu di meja makan !" ujarnya.
Andin mengangguk. Dia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
20 menit kemudian, Andin sudah tampak rapi dengan pakaiannya. Dia pun bergabung di meja makan untuk sarapan.
"Gimana...?" tanya Cecilia.
"Apanya..?" Andin balik bertanya.
"An..., permasalahan itu bukan untuk dihindari, tapi harus dihadapi untuk mencari penyelesaiannya." ujar Cecilia, menasihati.
Andin menghela napasnya. "Gue masih sakit hati sama dia, Li..!" jawab Andin. "Gue bener-bener nggak nyangka, dia sanggup mengkhianati gue..! Padahal gue udah serahin semuanya untuk laki-laki itu..!" lanjut Andin penuh emosi.
"An..., kamu pernah cerita jika dia sangat mencintaimu..! Bahkan semalam kamu sempat bilang, kamu masih tidur dengannya, padahal calon tunangannya sedang bersama keluarganya. Itu artinya, dia masih mencintaimu, An..!"
"Tapi, Li...! Kenapa dia tidak pernah cerita tentang pertunangan itu..!"
Cecilia memegang tangan Andin. "Dengar...! Saran aku, lebih baik kamu temui kekasihmu...! Mungkin dia punya alasan yang cukup masuk akal, kenapa dia menyembunyikan pertunangannya. Kalau kamu terus sembunyi seperti ini, semuanya nggak akan pernah jelas, An..!" nasihat Cecilia.
Andin diam. Memang ada benarnya apa yang diucapkan sahabatnya.
"Ya sudah..! Sekarang kita sarapan dulu...! Sebentar lagi aku akan pergi ke kampus, siangnya aku harus kerja. Kalau kamu berubah pikiran, hubungi aku. Biar nanti, aku antar kamu pulang...!" ujar Cecilia.
Kembali Andin mengangguk.
***
"Tunggu...! Jangan pergi dulu, Han...! Kamu belum sarapan !" seru Kyara kepada Ajay yang hendak pergi untuk mencari Andin lagi.
__ADS_1
Ajay terus berlari tanpa menghiraukan ucapan Kyara.
Kyara membawa kotak makan dari dapur. Dia pun mengisi kotak makan itu dengan nasi lengkap beserta lauk pauknya. Kyara segera berlari ke luar untuk mengejar Ajay.
Ajay mengeluarkan kunci mobilnya, saat dia membuka pintu mobilnya, Kyara menghampirinya.
"Bawalah ini...! Kamu bisa memakannya nanti jika sudah tiba di kampus..!" ujar Kyara sambil menyerahkan kotak makannya. Kyara berkata demikian, karena Kyara pikir Ajay akan pergi ke kampus.
Ajay menatap tajam ke arah Kyara. Ajay mengambil kotak makan itu, tetapi....
PRAKK....!
Sekuat tenaga, dia melemparkan kotak makan itu, sehingga isinya pun berceceran di tanah.
Kyara kaget melihat apa yang telah dilakukan oleh Ajay. Belum sempat dia bertanya, tiba-tiba...
Jedukk.....
Ajay menarik keras tangan Kyara, hingga tubuh Kyara tertarik dan pelipis kanannya membentur ujung pintu mobil Ajay yang tengah terbuka.
"Ishh....!" Kyara meringis, memegang ujung pelipisnya yang tampak lebam. Namun, kembali dia mengalami sesuatu yang tidak terduga dari sikap Ajay.
Bugh...
Ajay memutar tubuh Kyara, mendorongnya dengan kuat, hingga punggung Kyara menyentuh kasar pintu belakang mobil. Tangannya mencengkram kuat rahang Kyara.
"Jangan coba-coba bersikap baik kepadaku ! Dasar wanita munafik..!" ujar Ajay, geram.
Gemeletuk giginya jelas terdengar saat ajay menyebut kata munafik. Dia benar-benar muak melihat sikap Kyara yang dianggapnya hanya untuk mengambil simpati eyangnya.
"Le... lepaskan... Han...! Ka...kamu menyakitiku..!" ujar Kyara tergagap menahan rasa sakit di kedua rahangnya.
"Ishh...." Kyara meringis perih...
"CUKUP...!!" teriak Bagas.
Ya...! Pagi itu, di waktu yang sama, Bagas sedang menikmati udara pagi di balkon depan rumahnya. Halaman rumah Ajay terlihat tampak jelas dari balkon atas. Bagas melihat Kyara berlari terburu-buru mengejar Ajay. Sejenak kemudian, tampak Kyara menyerahkan sesuatu ke arah Ajay. Ajay menerima barang itu namun melemparnya dengan sangat kuat.
Bagas terhenyak kaget melihat sikap kasar Ajay. Tapi Bagas masih tetap bertahan. Dia tidak ingin ikut campur urusan mereka. Bagaimanapun juga, mereka adalah sepasang kekasih yang telah terikat. Bagas tidak punya wewenang untuk masuk dalam kehidupan mereka, meskipun hanya untuk sekedar menengahi pertengkaran mereka. Pada akhirnya, Bagas masih tetap menahan diri dan hanya menjadi seorang penonton.
Namun pertahanan Bagas runtuh saat melihat Ajay menarik tangan Kyara hingga kepala Kyara terbentur pintu mobil. Bagas melihat Kyara tampak meringis sambil memegangi pelipisnya. Dia pun akhirnya turun, secepat kilat dia berlari menghampiri rumah Ajay.
Saat Bagas tiba di halaman rumah Ajay. Dia semakin dibuat terkejut oleh sikap Ajay yang mencengkram rahang Kyara sehingga membuat gadis itu tampak meringis kesakitan.
"Shitt...!" dengus Ajay sambil mendorong tubuh Kyara menjauhi mobilnya.
Kyara terhuyung-huyung, namun Bagas berhasil menangkapnya.
Ajay memasuki mobilnya. Setelah itu dia melajukan mobilnya dengan kencang.
"Kamu tidak apa-apa...!" ujar Bagas melonggarkan pelukannya.
Kyara menggelengkan kepalanya. "Te...terima... kasih...!" ujar Kyara seraya menundukkan wajahnya. Bibirnya masih terasa bergetar, menahan rasa perih.
Bagas meraih wajah Kyara. "Kamu terluka, ayo aku obati..!" ajak Bagas.
"Ti... tidak usah, kak..! Aku...aku baik-baik saja.." jawab Kyara.
__ADS_1
Namun Bagas tidak menghiraukan ucapan Kyara. Dia terus menarik tangan Kyara memasuki rumah Ajay.
"Tunggulah di sini..! Aku bawakan kotak obatnya dulu !" ujar Bagas seraya pergi ke ruang keluarga untuk mengambil kotak P3K.
Selang beberapa menit kemudian, Bagas kembali ke ruang tamu. Dia mulai mengompres pelipis Kyara yang tampak lebam.
"Ishh...!" Kyara kembali meringis.
"Tahanlah...!" ujar Bagas.
"Kakak...! Apa yang terjadi denganmu..?" seru Bima, kaget.
Bima hendak berangkat sekolah. Begitu melewati ruang tamu, dia tampak terkejut melihat kondisi Kyara yang terluka dan sedang diobati oleh Bagas.
"Dia..." belum sempat Bagas menyelesaikan kalimatnya, Kyara sudah menyelaknya.
"Jatuh...! Aku tadi jatuh dan membentur tembok...He...he.." jawab Kyara mencoba menutupi sikap Ajay.
"Ish kakak ini...! Ceroboh sekali..., sampai benjol begitu..!" ujar Bima yang menyangka Bagas sedang mengompres benjolan di dahi Kyara karena terbentur tembok.
Kyara tersenyum mesem. "Sudah...! Berangkat sana...! Nanti kamu terlambat..!" perintah Kyara.
"Oke...! Cepat sembuh ya, kak...! love you... mmmuuaah..!" ujar Bima.
Kyara tersenyum lebar. "Love you too my little bro..!"
Bagas hanya menggelengkan kepala melihat interaksi Kyara dan Bima.
"Kenapa kau berbohong..?" tanya Bagas, masih mengompres pelipis Kyara.
"Aku...aku hanya mau menjaga reputasi calon suamiku." jawab Kyara.
"Ah...ya...! Calon suami...! Calon suami yang bersikap kasar...!" ujar Bagas penuh penekanan.
"Suami macam apa yang sanggup memberikan tanda di kedua pipi calon istrinya..!" ujar Bagas kembali menyindir sikap Ajay.
Kyara semakin menundukkan kepalanya saat mendengar ucapan Bagas.
"Kau ini..! Jangan tundukkan wajahmu ! Aku tidak bisa mengobatinya.., tatap aku...!" perintah Bagas.
Kyara mengangkat wajahnya. Bagas mengoleskan salep pada luka bekas tancapan kuku ajay di kedua pipi Kyara.
"Ish...!" Kyara kembali meringis merasakan perih di kedua pipinya.
"Sakit...?" tanya Bagas.
Kyara mengangguk.
Bagas pun meniupi kedua pipi Kyara secara bergantian. Berharap dengan cara itu bisa meredakan rasa sakitnya.
Netra mereka beradu. Bagas melihat keteduhan dalam pandangan Kyara. Sedangkan Kyara hanya melihat kecemasan di dalam tatapannya Bagas.
Bersambung...
Terima kasih atas kunjungannya ke novel ini..
kritik dan sarannya author tunggu untuk bisa lebih baik lagi dalam berkarya...
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya...
🙏🙏🙏