
Jantung Bagas berdetak kencang melihat orang yang selama lebih dari 5 tahun selalu membayangi hidupnya. Sedangkan Kyara, saking kagetnya, tanpa sadar dia menjatuhkan buku besar yang sedang di dekapnya. Mulutnya bergetar memanggil nama laki-laki itu.
"Bu syantik.. !" seru Arumi seraya menghampiri Kyara.
Kyara tersadar dari rasa terkejutnya. Dia kemudian mengambil bukunya.
"Arumi, pergilah ke kelasmu ! Ada yang harus ibu bicarakan dengan abimu."
"Tapi bu, dia..."
"Jangan membantah, pergilah ! Atau kau mau, kembali tertinggal mata pelajaran !"
"Baik bu !" Arumi pun segera melangkahkan kakinya menuju kelasnya.
"Anda, pergilah ke ruangan konseling ! Tunggu saya di sana ! Saya hendak menyerahkan laporan ini dulu ke ruang kepala sekolah !" perintah Kyara.
Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Bagas pun mengikuti perintah Kyara. Entahlah, Bagas sudah tidak bisa berpikir panjang lagi. Hatinya berdebar-debar sekaligus senang bertemu kembali dengan Kyara.
Sementara itu, tiba di kantor kepala sekolah, Kyara segera menyerahkan laporannya. Karena khawatir tamunya menunggu terlalu lama, dia pun segera pamit untuk kembali ke kelasnya.
Di tengah jalan dia melihat pak Joko, guru olahraga sedang berdiri di lapangan basket. Kyara menghampirinya.
"Permisi pak Joko ! Apa bapak sedang ada jadwal ?" tanya Kyara.
Orang yang bernama Joko itu pun menoleh.
"Eh, bu Kya ! Tidak ada, bu. Memangnya kenapa ya ?" tanya balik pak Joko.
"Mmm, anu..., itu...saya boleh titip kelas saya dulu ya pak ? Kebetulan ada yang harus saya bicarakan dengan wali murid." ujar Kyara.
"Ah anak-anak nakal itu lagi !" dengus pak Joko kesal.
"Memangnya, kali ini, siapa yang berbuat ulah bu ?" tanya pak Joko.
"Ah tidak, ini hanya urusan prestasi belajar saja." jawab Kyara.
"Yang sabar ya bu ! Jadi guru BK memang begitu bu, pusing ngurusin masalah orang. Ya sudah, saya ke kelas ibu dulu ! Tapi jangan lama-lama ya, bu ! Bukannya apa-apa, anak-anak ibu kan, super semua ! Takut saya kewalahan nantinya, he...he...he..." ujar pak Joko seraya terkekeh.
"Iya, tidak akan lama kok ! Makasih ya, pak ! Kalau gitu, saya pamit dulu !"
Sepanjang berjalan di koridor sekolah. Otak Kyara tidak pernah berhenti memikirkan kejadian tadi.
Jadi, kak Bagas adalah ayahnya Arumi. Ish, kenapa dia bisa bersikap seperti itu. Padahal dulu dia orang yang selalu menghargai waktu. Apa kesibukan telah merubahnya. Dulu dia selalu rewel jika sedikit saja aku terlambat. Ah kak Bagas...!!
Kyara menghentikan langkahnya. Ada rasa sesak yang menyerang dadanya. Kyara pun berbelok ke arah toilet guru. Dia mengunci toilet tersebut. Air mata mulai menggenang di pipinya. Pertemuannya dengan Bagas kembali membuka luka lamanya.
Kenapa harus dia ayahnya Arumi. Kenapa Engkau harus mempertemukan aku dengan bagian masa laluku ?
Satu persatu, kenangan masa lalunya kembali terlintas di benak Kyara. Kyara menekan dadanya, merasakan sakit yang sulit di mengerti.
Sementara itu di waktu yang sama di ruang konseling. Bagas berkeliling mengamati ruangan itu. Hatinya benar-benar berbunga-bunga setelah bertemu dengan Kyara. Tanpa sadar dia mendaratkan bokongnya di atas kursi empuk milik Kyara.
Jadi ini ruang kerjanya. Ah nyaman sekali..., penataan ruangan yang sungguh bisa membuat orang betah berlama-lama tinggal di sini.
__ADS_1
Netra Bagas menyapu meja kerja Kyara. Pandangannya terkunci pada sebuah bingkai foto yang berdiri cantik di sebelah kiri sudut meja.
Itu pasti foto Kyara dengan ibunya...., pikir Bagas.
Bagas mengambil bingkai foto tersebut. Bola matanya membesar sempurna tat kala melihat wanita paruh baya yang sedang berdiri bersama Kyara dengan wajah yang sama persis.
Ini kan....! Ish, kenapa dulu ibu ini bilang tidak mengenal Aneng ? Jadi benar, jika Aneng yang kak Indah maksud, dia adalah Kyara, terus kenapa ibunya berpura-pura tidak mengenalnya saat kutunjukkan foto Kyara ?
Bagas mendengus kesal mengingat kejadian 4 tahun silam.
Ah ibu, seandainya dulu ibu bilang ibu mengenalnya, aku tidak akan menghabiskan waktuku selama ini untuk bertemu dengannya. Tapi tunggu dulu, apa sekarang dia sudah menikah ?
Tiba-tiba pikiran Bagas merasa tak tenang dengan kata batin terakhirnya.
Bagaimana jika dia sudah menikah ? Apa yang harus aku lakukan ? Apa aku bisa menerima kenyataan ini ?
"Aargghh...!"
Tanpa sadar Bagas menyugar kasar rambutnya. Dia kemudian menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi empuk itu. Bagas memejamkan matanya. Tangannya terus mendekap foto itu di dadanya. Rasa sesak kembali menghampirinya.
Ceklek !
Pintu ruangan konseling terbuka. Kyara menatap pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Tidak banyak yang berubah dari pria itu, hanya wajah dan kulitnya saja yang terlihat semakin putih.
"Ehm....ehm...!"
Dehaman seseorang mengejutkan Bagas. Dia kembali duduk tegak dan menatap orang yang tengah berdiri di depan pintu. Untuk beberapa detik netra mereka bertemu.
"Sudah puas duduk di kursi saya ?" tanya Kyara ketus.
Bagas melongo melihat sikap Kyara yang terkesan judes. Ah..., ternyata dia memang sudah berubah...
"Ah maaf...!" ujar Bagas seraya menggaruk bagian kepala belakangnya yang tak gatal.
Bagas bangkit dari tempat duduk Kyara. Dia pun segera berpindah ke kursi tamu. Sedangkan Kyara dengan segera dia melangkahkan kakinya kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Kita langsung saja ! Begini tuan,...."
Belum sempat Kyara menyelesaikan kalimatnya, Bagas sudah menyelaknya.
"Ah, nona...! Jangan terlalu formal, panggil saja saya seperti biasanya...!" ujar Bagas seraya menyandarkan punggungnya di kursi.
Ish..., kenapa orang ini semakin tidak sopan saja....!
Kyara menggerutu dalam hati.
"Tidak bisa begitu tuan ! Mohon maaf, ini lingkungan pekerjaan dan sudah kewajiban saya menghormati setiap tamu yang datang ke ruangan saya. Lagipula anda walinya murid saya, ayahnya Arumi. Jadi saya pun harus bisa....."
"Bhhuaaa....ha...ha...ha...!"
Kembali Bagas membuat Kyara harus memutuskan kalimatnya. Kali ini Bagas tertawa renyah sekali. Membuat Kyara sejenak terbuai mendengar tawa itu. Tawa yang pernah dirindukannya.
Namun sedetik kemudian, Kyara berdecak kesal melihat tawa Bagas yang seolah tidak ingin berhenti.
__ADS_1
"Ck..., aneh sekali !" dengus Kyara.
"Ha...ha...ha...! Ma..maaf nona...! Aku...aku benar-benar tidak tahan untuk tertawa...! Ha...ha...!" ujar Bagas seraya menyeka air mata yang keluar dari kedua sudut matanya.
"Mohon kerjasamanya tuan ! Ini demi kepentingan putri anda ! Demi masa depannya ! Apa tuan mau jika putri anda memiliki masa depan yang buruk karena trauma yang didapatkannya sejak kecil !" bentak Kyara yang sudah tidak tahan berlama-lama dengan pria di hadapannya.
"Trauma ? Jadi baby Arum memiliki trauma ?" tanya Bagas terkejut.
"Benar ! Putri anda..."
"Tunggu...!"
Bagas kembali menyelak pembicaraan Kyara. Membuat Kyara merasa frustasi dan langsung menghempaskan tubuhnya.
Ish, sejak kapan dia memiliki hobby membuat orang kesal..??
Kyara merenggut mengerucutkan bibirnya, membuat Bagas semakin gemas melihatnya.
"Tunggu sebentar nona, izinkan aku bicara sebelum kita lanjutkan ke permasalahan Arumi. Pertama, nona telah salah sangka, sebenarnya saya bukan abinya Arumi. Saya..."
"Apa....!"
Kyara terkejut, dia langsung berdiri tegak saking merasa terkejut.
"Ish, nona duduklah !" Bagas berdiri kemudian memapah Kyara yang masih shock untuk duduk di sofa.
"Kamu ini kebiasaan sekali kalau lagi terkejut, main berdiri saja ! Ayo duduklah !"
Mereka kemudian duduk berdampingan. Kembali pandangan mereka beradu. Gelanyar aneh yang sudah bisa diartikan oleh Bagas, kembali menjalari relung hatinya.
Perasaan yang masih sama seperti dahulu. Aku masih mencintainya, dan mungkin sangat mencintainya...
"Maksudnya ?" tanya Kyara setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.
"Arumi adalah keponakanku. Masih ingat kak Indah yang pernah aku ceritakan ?" tanya Bagas.
Kyara mengangguk.
"Nah, dia putri sulungnya kak Indah. Oh iya, ngomong-ngomong ada apa dengan Arumi ? Tadi kau bilang dia memiliki trauma, trauma apa ?" tanya Bagas.
"Sebenarnya Arumi...."
Tok... tok... tok...
"Maaf mengganggu bu Kya ! Tapi saya sudah benar-benar kewalahan dengan kelas anda ! Mereka hanya mau menuruti perintah ibu saja...! Satu lagi bu, Sani, tadi jatuh dari meja, kepalanya terluka dan sekarang sedang di bawa ke UKS.."
"Apa...!!"
Bersambung...
Makasih yang sudah mampir..
Mohon dukungannya ya...🙏
__ADS_1