
Minggu yang cerah...
"Pagi...!"
Seorang gadis cantik berambut panjang, dengan postur tubuh yang tinggi semampai, berjalan berlenggak-lenggok memasuki kediaman keluarga Gunawan. Balutan pakaian atasnya yang sangat ketat, membuat lekukan tubuh atas terlihat dengan jelas.
"Ah..., pangeran berkuda putihku...!"
Teriak gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Rachella, begitu melihat Bagas yang baru saja keluar dari dapur.
"Hai..., apa kabar tampan !" sapanya seraya bergelayut manja melingkarkan tangannya di lengan Bagas.
Bagas bergidik ngeri melihat kelakuan gadis itu. Dia pun segera mengibaskan tangannya.
"Lepaskan !"
"Nggak...!"
"Lepaskan, atau...!"
Belum sempat Bagas menyelesaikan kalimatnya, Rachella sudah menyelaknya.
"Atau apa ? Atau kau akan marah dan bersikap kasar lagi seperti waktu itu ? Huh...! Coba aja kalau berani !"
Bagas mendengus kesal. Dia pun kembali mengibaskan lengannya dengan kuat, membuat Rachella terguncang dan kehilangan keseimbangannya.
"Aww...!" pekik Rachella yang jatuh terhempas ke lantai.
"Rok mini berbentuk memayung yang digunakannya pun tersingkap, sehingga menampakkan paha mulus Rachella.
Wajah Bagas memerah menahan malu dan amarahnya karena tanpa sengaja dia melihat pemandangan yang mengundang syahwatnya. Secepat kilat Bagas berlari menuju kamarnya.
Di tangga dia hampir saja bertubrukan dengan Gunawan yang baru keluar dari ruang kerjanya. Gunawan kaget melihat raut muka Bagas yang memerah menahan amarah.
"Kamu kenapa Gas !" tanya Gunawan.
"Tidak apa-apa, kak !" jawab Bagas.
"Hai tampan ! Jangan jadi seorang pengecut ! Kau harus menolongku karena telah membuatku jatuh !" teriak Rachella yang masih terduduk di lantai.
Bagas mendengus kesal. "Permisi, kak !"
Bagas pamit kepada Gunawan. Dia kembali ke kamarnya.
Mendengar teriakkan Rachella, Gunawan mendongakkan kepalanya, begitu juga dengan kak Indah yang langsung keluar dari kamarnya seraya menggendong baby Arum.
"Eh, ada tamu ! Loh, kenapa duduk di bawah !" ujar kak Indah yang sedikit tersenyum geli melihat Rachella yang tengah terduduk di bawah.
"Semua ini gara-gara cowok dingin itu ! Udah bikin aku jatuh, eh malah ngeloyor gitu aja ! Nggak mau bantuin aku berdiri lagi !" gerutu Rachella.
Gunawan dan kak Indah saling pandang mendengar gerutuan Rachella.
"Ngapain kamu ke sini ?" tanya Gunawan seraya menuruni tangga mendekati istrinya.
Kak Indah menyerahkan Arum begitu Gunawan mendekatinya. Dia kemudian menghampiri Rachella dan membantunya untuk berdiri.
"Ah kakak..., apa aku tidak boleh, main ke rumah kakakku sendiri !"
"Tumben kamu mau main kemari, Hel !"
"Kakak ipar..., jangan panggil aku Hel ! Kesannya kakak seperti sedang mengutukku !" gerutu Rachella.
"Maksud kamu ?" kak Indah mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti ucapan adik sepupunya Gunawan itu.
"Hel..., Hel...., Hel...! Hel itu neraka, jadi kesannya kak Indah seolah sedang mendo'akan aku untuk masuk neraka...!"
__ADS_1
Rachella kembali menggerutu.
"Kamu emang calon penghuni neraka !" celetuk Gunawan.
"Mas....!" bentak kak Indah.
"Kakak....!" rengek Rachella
"Huh...! Lihat saja pakaian yang kamu kenakan ! Masa iya pengen masuk syurga tapi mengumbar aurat ! Sudah sana pulang !" usir Gunawan.
"Kakak tega ngusir aku ?"
Rachella kembali merengek.
"Dengar ya Rachel, selama kamu belum bisa memakai pakaian yang pantas, kakak tidak akan izinkan kamu untuk datang kemari. Terlebih lagi di sini ada laki-laki yang bukan mahram kamu ! Pergilah ?"
"Huh...! Dasar pria kolot !"
Rachella mendengus kesal. Dengan menghentak-hentakan kakinya, dia pun pergi meninggalkan rumah sepupunya itu.
"Kenapa kamu usir dia mas ?" tanya kak Indah kembali mendekati suaminya.
"Dia kemari hanya untuk mencari perhatian Bagas. Kamu mau punya adik ipar seperti dia ?"
Kak Indah tersenyum, "Kenapa tidak mas ! Dia cantik !" ujar kak Indah.
"Ish, Khumaira...! Jangan hanya melihat kecantikan luarnya saja, tapi kamu juga harus melihat kecantikan dalamnya. Aku tidak akan membiarkan wanita liar seperti itu untuk mendampingi adik iparku !" gerutu Gunawan kesal.
"Ah mas..., tapi kan pelan-pelan kita bisa beritahu dia tentang agama !" protes kak Indah.
"Sudahlah ! Jangan urusi terlalu jauh privasi adikmu ! Lagipula, sepertinya adikmu tidak menyukai Rachella."
"Benarkah ? Dari mana mas tahu ?"
"Dari sikapnya ! Bagas selalu terlihat kesal jika Rachella mendekatinya."
"Iya...! Untuk urusan pasangan, kita serahkan saja sepenuhnya kepada Bagas. Kita nggak usah ikut campur terlalu jauh !"
Kak Indah mengangguk.
***
Waktu terus bergulir. Tanpa terasa, Kyara telah menyelesaikan kuliahnya di semester pertama. Kyara memang memiliki IQ di atas rata-rata, karena itu dia mendapatkan IP tertinggi di antara kawan-kawannya.
Liburan semester telah usai. Di semester kedua, Kyara mengambil SKS yang cukup banyak. Dia hendak mengikuti akselerasi agar bisa segera lulus dan mencari pekerjaan yang baik. Dia sadar, jika biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak panti dan juga ibunya, pastilah sangat besar. Kyara ingin segera mengganti biaya tersebut, meskipun pihak panti atau ibunya, sama-sama tidak menuntut hal itu.
"Kya, kamu dapat salam tuh dari Guntur !" ujar Nita, salah satu teman sekelasnya.
Kyara tidak menjawab ucapan Nita. Dia tetap fokus membaca bukunya.
"Kya, lo denger gue kan ?" kembali Nita merecokinya.
Kyara masih diam, tanpa menoleh sedikit pun ke arah teman sebangkunya.
"Ish, Kya...! Lo cuekin gue ? Tiap gue sampein salam dari cowok-cowok, lo selalu saja diem bae, lo kenapa sih ?"
"Hhhh....!"
Kyara menghela napasnya. Telinganya sudah merasa kepanasan mendengar ocehan Nita.
Bug...!!
Kyara menutup buku tebal yang sedang dibacanya dengan kasar. Dia segera mendorong kursi yang didudukinya ke belakang. Kyara berdiri, tanpa bicara dia pun pergi meninggalkan teman sebangkunya.
Nita hanya melongo menyaksikan tingkah Kyara.
__ADS_1
Kenapa setiap gue bahas soal cowok, sikapnya selalu dingin seperti itu ? Biasanya kan, cewek selalu merasa berbunga-bunga hatinya jika mendapatkan salam dari cowok. Terlebih lagi cowok sekaliber Guntur, yang secara dia adalah idol nya kampus ini...! batin Nita.
Di depan pintu, Kyara berpapasan dengan seorang lelaki yang bernama Guntur tadi. Memanglah benar apa kata Nita, Guntur memang seorang lelaki yang sangat tampan. Tingginya sekitar 190cm, berkulit putih, memiliki bola mata yang sedikit kebiruan dengan bulu matanya yang lentik melebihi bulu mata seorang wanita. Jika dilihat dari postur tubuh dan bentuk hidung dan warna bola matanya, terlihat sekali jika pria itu, blasteran Indo bule, tapi tak ada yang tahu dia keturunan dari negara mana.
"Hai Kya !" sapa Guntur.
Kyara mendongak, sedetik kemudian dia kembali menunduk dan berjalan kembali.
"Tunggu !"
Secara refleks, Guntur memegang tangan Kyara untuk menghentikan langkahnya.
Wajah Kyara telah berubah memerah menahan amarah. Sungguh dia tidak suka jika ada seorang lelaki yang menyentuhnya. Kyara memutar-mutar lengannya, berusaha melepaskan tangannya. Namun Guntur tak menghiraukannya.
Selama satu semester ini dia telah berusaha menahan keinginannya untuk mendekati Kyara. Tapi mulai hari ini, dia tidak ingin memendam rasa lagi. Dia sudah bertekad untuk menyatakan perasaannya kepada Kyara.
"Aku menyukaimu, Kya !"
Kalimat itu meluncur bebas begitu saja dari bibir lelaki blasteran itu. Tapi Kyara tetap tak bergeming mendengar.
Brugh...!!
Kyara menjatuhkan buku tebal yang sedari tadi dipegangnya dengan tangan kanannya. Setelah itu, dia mencengkeram tangan Guntur yang sedari tadi mencekal lengan kirinya. Kyara menarik tangan itu dengan kuat. Matanya terus menatap tajam ke arah Guntur. Kilatan kemarahan dan kebencian terlihat jelas di bola mata yang terlihat kecoklatan itu.
Guntur merasa bersalah, dia pun mulai melonggarkan cekalan tangannya.
"Maaf !" ujarnya.
Kyara menepiskan tangan Guntur dengan kasar. Dia kemudian jongkok untuk mengambil buku yang dijatuhkannya tadi. Setelah itu, dia pergi dari hadapan Guntur.
Guntur menghela napasnya.
"Lo nggak apa-apa ?" tanya Nita menghampiri Guntur.
"I'm fine !" jawab Guntur. "Nit, gue boleh nanya ?" lanjutnya.
Nita mengangguk.
"Kenapa Kyara terlihat sangat dingin sekali ?" tanya Guntur.
Nita menggedikkan bahunya.
"Entahlah...! Sejak awal kami bertemu, Kyara memang seorang gadis yang pendiam. Sebenarnya dia gadis yang ramah dan baik hati. Tapi sikapnya akan berubah menjadi dingin dan kaku jika dia sudah berhadapan dengan pria. Lo tahu sendiri kan, jika cowok-cowok di kampus ini memberikan gelar Ratu Es padanya...!"
Guntur tersenyum mendengar perkataan Nita. Jika boleh jujur, sebenarnya kata itu dulu terlontar begitu saja saat dia sedang berbincang-bincang di kantin bersama sahabat-sahabatnya. Saat itu, seorang temannya menggoda Kyara yang kebetulan lewat di depan meja mereka. Tapi Kyara tetap berjalan tanpa ekspresi, membuat teman Guntur mendengus kesal karena dicuekin.
"Ha...ha... ha... ! Emang enak dicuekin Ratu Es...!! ujar Guntur seraya tergelak.
Teman-temannya pun ikut tertawa.
Puk...!
Tepukan di bahunya menyadarkan Guntur dari lamunannya.
"Kenapa lo senyam-senyum gitu ?" tanya Nita, heran.
"Nggak apa-apa ! Gue balik dulu ke kelas, ya !" pamit Guntur dengan muka memerah menahan malu.
"Ok !"
Nita melihat Kyara yang mulai menjauh.
"Kya....!! Tunggu....!!
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya, meskipun author telat up....