Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Sang Cassanova


__ADS_3

Cecilia terbangun. Ish..., kenapa badanku sakit semua...., batinnya. Dia pun mengerjapkan matanya, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Di mana aku...?


Cecilia bangkit, Ah... kepalaku berat sekali...! Cecilia memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Sontak saja, selimut yang menutupi tubuhnya tiba-tiba melorot ke bawah. Cecilia terkejut melihat tubuh bagian atasnya polos tanpa mengenakan sehelai benang pun. Dan dia lebih terkejut lagi ketika dia menyibakkan selimutnya. Ceceran darah tampak di atas seprei dan bagian pangkal pahanya. Segera Cecilia menutupi tubuhnya yang telanjang bulat.


Sejenak Cecilia termenung mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Aku mabuk rupanya, dan kulihat Ajay jongkok di hadapanku, aku menciumnya. Mungkinkah Ajay yang melakukan semua ini. Tapi, bukankah Ajay sedang berada di pesta. Ah, mungkin saja dia melihatku pergi dan mengejarku...


Cecilia tersenyum membayangkan kembali kegiatan panas mereka semalam. Cecilia berharap orang pertama yang telah merenggut kesuciannya adalah Ajay. Terlebih lagi, hanya Ajay yang mampu dia ingat saat itu.


Klek...


Pintu kamar mandi terbuka. Muncullah seorang pria tampan bertubuh atletis.


Cecilia menoleh. Pria tampan itu tersenyum. "Sudah bangun, nona...?" tanyanya.


Cecilia terkejut bukan main. Ternyata pria itu bukanlah orang yang diharapkannya.


"Si... siapa kau...?" tanya Cecilia.


"Aku Alvaro." jawab pria itu.


"Ke... kenapa kita berada di sini..?" Cecilia kembali bertanya.


"Semalam kamu terlalu mabuk nona, saat aku hendak mengantarmu pulang, kau malah menciumku...! Wow...! Ciuman yang sangat dahsyat nona ! Dari sekian banyak gadis yang pernah kucium, ternyata kamu lah yang paling dahsyat. Dan sepertinya aku mulai ketagihan dengan ciumanmu, nona..!" ujar Alvaro sambil mendekati wajah Cecilia untuk mencium bibir yang merekah itu.


Cecilia memalingkan wajahnya. Samar-samar dia mulai mengingat semuanya. ish...! Kenapa aku sebodoh ini...! Aku menyerahkan malam pertamaku pada orang yang tidak aku kenal ! rutuk Cecilia dalam hati. Dia pun bangkit untuk pergi membersihkan dirinya.


"Ish...!"


Cecilia mendesis merasakan perih di area sensitifnya.


Alvaro tersenyum. Siapa sangka, jika kedatangannya ke kota ini untuk menemui rekan bisnisnya, justru malah membawa dia pada nikmatnya surga dunia. Terlebih lagi gadis yang ditidurinya semalam, gadis yang masih perawan. Alvaro tersenyum puas membayangkan kegiatan panasnya semalam.


"Biar ku gendong, sayang..! Pasti rasanya sakit sekali, ya..!" Alvaro menawarkan dirinya untuk membantu Cecilia


"Ti... tidak usah...! Aku bisa sendiri..!" tolak Cecilia.


Dengan langkah tertatih karena merasakan sakit yang amat sangat di area sensitifnya, Cecilia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tiba di kamar mandi, Cecilia menatap bayangan dirinya di cermin. Hampir di sekujur tubuhnya terdapat tanda merah yang ditinggalkan pria itu.


"Ish..., banyak sekali...! Bagaimana aku menutupi semua ini...!" gumam Cecilia seraya menggosok-gosok tanda merah yang berada di sekitar lehernya.


Cecilia tertegun. Dia masih bisa merasakan kejantanan laki-laki itu ketika menggagahinya. Seandainya Cecilia belum bertemu Ajay, mungkin dia akan mudah jatuh cinta pada laki-laki itu. Tapi sekarang, hatinya telah menjadi milik Ajay. Terlebih lagi saat dia tahu jika Andin adalah kekasih Ajay, tekadnya semakin kuat untuk bisa memiliki Ajay.


Bagaimanapun caranya, aku harus memiliki Ajay...!

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian. Cecilia keluar dari kamar mandi. Dia masih mengenakan bathrobe, karena dia tidak membawa pakaiannya ke kamar mandi.


Alvaro tersenyum saat melihat Cecilia keluar dari kamar mandi. Dia menyerahkan paper bag kepada Cecilia.


"Apa ini...?" tanya Cecilia.


"Pakaian untukmu...! Pakailah...!" jawabnya.


"Tidak usah, aku bisa memakai pakaianku yang kemarin." Cecilia menolak halus.


"Pakaian itu tidak bisa kau gunakan lagi, nona !" jawab Alvaro, matanya menunjuk ke arah pakaian wanita yang tergeletak begitu saja di tepi ranjang.


Cecilia mengambil pakaiannya, ketika dia membentangkannya, terdapat beberapa bagian pakaian yang robek.


"Kenapa jadi begini ?" gumam Cecilia.


Alvaro mendekati Cecilia. Dia pun memeluk Cecilia dari arah belakang.


"Apa kau lupa, nona...! Bukankah, kau yang merobek pakaianmu sendiri ? Begitu juga dengan pakaianku, lihatlah...!" Alvaro menunjuk sebuah kemeja putih yang tergeletak di lantai.


Cecilia menatap kemeja itu, ya Tuhan...! seliar itukah aku ? Sampai-sampai aku mengoyakkan pakaian-pakaian itu...!


"Aaahhh.....!" Cecilia kembali mendesah saat merasakan tangan Alvaro menyusup di balik bathrobe nya.


Alvaro suka mendengar desahan itu. Dia pun semakin gencar bergerilya di beberapa bagian tubuh Cecilia.


Cecilia mengangguk.


"Kalau begitu, mari kita buat ini semakin sempurna." ujar Alvaro seraya mencium tengkuk Cecilia.


Tidak dapat dipungkiri kalau Cecilia pun menginginkannya. Hasratnya sudah memuncak. Laki-laki pertama yang telah merenggut kesuciannya, adalah laki-laki yang bisa menyempurnakan imajinasinya menjadi nyata.


Cecilia berbalik, menatap netra Alvaro. Mata berwarna biru, yang benar-benar mendambakan sesuatu.


Alvaro terus melangkah, hingga Cecilia terjebak di antara dinding dan dirinya. Tangan Alvaro yang tadi bergerilya, kemudian menyentuh lembut bibir Cecilia.


"Aku...,hhh... menginginkan bibir..hh..ini...! Bolehkah, nona...?" tanya Alvaro, napasnya semakin memburu.


Cecilia memegang telunjuk Alvaro, kemudian mengulumnya dengan lembut. "Katakan, siapa kau sebenarnya ?" ujar Cecilia lembut sambil memainkan ujung telunjuk Alvaro. "Jika jawabanmu bisa memuaskanku, maka bukan hanya bibir ini yang bisa kau sentuh. Kau bisa menyentuhku di sini..., di sini..., bahkan di sini...!" bisik Cecilia seraya mengarahkan telunjuk itu untuk menyentuh area-area sensitifnya.


Alvaro tersenyum. Dia pun menarik tangan Cecilia. "Kemarilah...!" ujarnya.


Cecilia mengikuti Alvaro. Mereka kemudian duduk berhadapan.


"Namaku Alvaro Adinata. Pemilik perusahaan Adinata grup yang bergerak di bidang otomotif.

__ADS_1


"A.. Adinata grup yang berasal dari kota J ?" tanya Cecilia.


"Benar nona, aku datang kesini untuk menemui rekan bisnisku." jawab Alvaro.


"Lalu, bagaimana kau bisa bertemu denganku ?" tanya Cecilia.


"Sudah jadi kebiasaanku untuk mengunjungi club malam selepas meeting dengan partner bisnisku. Ya..., hanya sekedar mencari hiburan dan melepaskan penatku. Tanpa sengaja, aku melihat kau duduk sendirian, apa kau sedang patah hati, nona ?" tanya Alvaro.


Cecilia mengernyitkan dahinya, "Aku.. aku tidak mengerti maksudmu...?"


"Semalam kau meracau, dan menyebutkan jika sahabatmu telah merebut pacarmu !" jawab Alvaro.


"Aahh..., aku pasti sudah sangat mabuk..! Sudahlah, lupakan saja ocehanku waktu itu..! Apa kau punya pacar ?"


"Ha...ha...ha...! Aku pria yang tidak pernah suka dengan kata ikatan...! Aku sangat menyukai kebebasan, nona..!" jawab Alvaro.


Cecilia sedikit terkejut, namun dia berusaha menutupi keterkejutannya dengan sebuah senyuman.


"Apa kau bermaksud mengikatku karena kejadian semalam ?" tanya Alvaro, ada rasa khawatir jika gadis yang ditidurinya meminta tanggung jawab, karena bagaimanapun juga, dialah yang telah merenggut kesuciannya.


"Aahh..., tidak...!" ujar Cecilia mengibaskan tangannya. "Anggap saja, apa yang terjadi pada kita semalam, adalah sebuah kesalahan...!" jawab Cecilia.


"Apa kau juga wanita penganut kebebasan ?" tanya Alvaro penuh selidik.


"Tidak..., bu..bukan begitu...! Aku hanya..., aku.., aku sudah mencintai seseorang..." ujar Cecilia terbata-bata.


"Baguslah...!" jawab Alvaro. "Lalu, apakah kita bisa mengulang kembali kesalahan semalam...?" ujarnya menyeringai.


"Aku rasa tidak ada salahnya..." jawab Cecilia.


Tanpa menunggu komando dari Cecilia. Alvaro pun melancarkan aksinya hingga membuat Cecilia kembali mendesah, mengerang dan terkulai. Alvaro sang cassanova selalu membuat takluk para wanita di atas ranjang.


***


Menjelang siang. Cecilia kembali ke apartemennya. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Permainan panasnya dengan sang cassanova telah membuat tubuhnya kehabisan tenaga.


Cecilia meraih ponselnya yang tergeletak di sampingnya. Jari jemarinya mulai menari di atas keypad.


' To Andin '


"Maaf, aku tidak jadi ikut liburan denganmu. Nenekku sakit, dan aku pulang untuk merawatnya..🙏🙏


-Cecillia


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dengan cara like vote n komen....


Makasih...🙏🙏


__ADS_2