Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Amarah Sang Kakak


__ADS_3

"Kamu kenapa, Adi ?"


Adi kembali membalikkan badannya saat mendapati pertanyaan kakaknya.


"Tidak kak, aku baik-baik saja !"


"Baik-baik bagaimana, itu, matamu merah seperti itu ! Apa kamu menangis ? Apa kamu bisa mengingat sesuatu ?"


Adi menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, tidurlah ! Besok kita harus kembali kerja !"


Adi mengangguk, dia kemudian menarik selimutnya untuk menutupi badannya. Udara malam ini memang cukup dingin.


***


"Laporan seperti apa ini, bu Kya ? Kenapa semuanya acak-acakan begini !" teriak bapak kepala sekolah.


"Maaf, pak ! Saya akan memperbaikinya kembali !" jawab Kyara gugup.


"Dengar bu Kya ! Jika anda memang sudah merasa tidak mampu, sebaiknya anda bilang saja ! Saya bisa menyuruh orang lain untuk mengerjakannya. Saya tahu kinerja ibu sangat bagus. Tapi untuk membuat sebuah laporan SPJ, itu bukan hal main-main, bu ! Begini saja, saya sarankan ibu segera mengambil cuti melahirkan dulu ! Biar ibu fokus dulu dengan kehamilan ibu, bukankah saat ini usia kandungan ibu sudah memasuki usia 7 bulan ?" tanya pak Budi.


"I...iya, pak !" jawab Kyara.


"Ya sudah ! Ibu ajukan cuti ke bagian kurikulum, agar mereka bisa mengatur jadwal infal bagi guru yang akan menggantikan ibu selama masa cuti ibu." perintah pak Budi.


"Ba..., baik pak ! Untuk laporannya, biar saya kerjakan ulang, pak !" jawab Kyara.


"Tidak usah, biar nanti saya minta bu Rani untuk mengerjakannya kembali."


"Baik, pak ! Kalau begitu, saya permisi !"


Kyara pun keluar dari ruang kepala sekolahnya. Tiba di ruang guru.


"Pak Budi marah-marah lagi ?" tanya bu Rani saat dia melihat Kyara keluar dengan wajah yang sedih.


Kyara mengangguk seraya duduk perlahan di kursinya.


"Heran, dari minggu kemarin dia tuh hobinya marah-marah mulu, kenapa ya ?" tanya bu Rani.


"Ketahuan selingkuh kali !" timpal pak Joko.


"Atau lagi PMS !"


Salah satu guru olahraga yang paling muda ikut menyahuti pembicaraan mereka.


"Sudah-sudah, tidak usah diperpanjang lagi ! Lagian ini kesalahan saya juga." ujar Kyara.


"Terus, pak Budi bilang apa ?" tanya Rani.


"Beliau akan menyuruh bu Rani memperbaikinya. Maaf ya bu, saya jadi nggak enak karena harus merepotkan ibu !" ujar Kyara penuh sesal.


"Tidak apa-apa, Kya ! Kita kan rekan kerja, jadi harus saling membantu. Eh, ngomong-ngomong, kamu belum mengajukan cuti melahirkan, bukankah usia kehamilan kamu sudah memasuki 7 bulan ?" ujar bu Rani.


"Tadi juga pak Budi menyarankan seperti itu, tapi entahlah, aku masih ragu bu ?"


"Kamu kenapa ? Sepertinya ada sesuatu yang menggangu pikiranmu."


"Tidak apa-apa, bu Rani ! Kalau begitu, saya permisi ke ruangan saya dulu. Mari, semuanya !"


Kyara pamit dan meninggalkan ruang guru. Tanpa dia sadari jika Rani mengikutinya dari belakang.


Puk..!


Rani menepuk pundak Kyara. "Ada apa Kya ? Tidak biasanya kamu seperti ini." tanya Rani.


"Aku ceritakan di ruanganku, Ran !" jawab Kyara.


Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang konseling Kyara. Tiba di sana, Rani dan Kyara duduk berhadapan.


"Katakanlah !"


"Aku benar-benar sudah tidak tahan tinggal di sini, Ran ! Aku benar-benar sesak dengan semua ini. Aku sudah tidak kuat lagi, Ran !" Kyara mulai terisak.


"Kamu sabar, Kya ! Aku tahu semua ini tidak mudah, tapi kamu harus bisa bertahan demi anakmu."


"Tapi aku tidak menginginkan semua ini, Ran ! Aku tidak pernah ingin menikah lagi ! Aku hanya ingin fokus mengurus anakku. Tapi kakak iparku memaksaku untuk menikah dengan Guntur, sedangkan aku masih yakin jika suamiku masih hidup. Aku benar-benar frustasi, Ran ! Tak seorang pun mempercayaiku jika kakang masih hidup. Bahkan saat aku mengajukan tes DNA atas jenazah yang mereka kuburkan, kak Indah malah mengancamku akan memisahkan aku dan anakku. Mereka pikir aku tidak waras. Aku bingung Ran !" ujar Kyara menangkup wajahnya.


Rani hanya mampu mengusap punggung Kyara untuk menenangkannya.


"Sebaiknya, kau ambil cutimu dulu, setelah itu baru kita pikirkan rencana selanjutnya." ujar Rani.


"Aku tidak akan mengambil cuti, Ran. Aku ingin pensiun saja dari pekerjaan ini." ujar Kyara.

__ADS_1


"Ish, jangan terburu-buru Kya ! Kau tidak bisa mengajukan pensiun dini, masa kerja kamu belum memadai !"


"Aku tahu Ran, karena itu aku ingin mengundurkan diri saja."


"Dengar Kya, lebih baik kamu ambil cuti saja dulu ! Tenangkan dulu pikiranmu, oke ! Di zaman sekarang ini, sangat sulit sekali untuk menjadi seorang PNS. Jadi aku mohon, jangan sia-siakan kesempatan yang sudah kamu raih !"


Kyara hanya bisa diam.


***


2 bulan kemudian


"Ar, aku mohon, kita harus bantu Kyara ! Setidaknya, jika semuanya terbongkar, hidup Kyara akan jauh lebih tenang !"


"Tapi Sil, pengajuan pembongkaran makam untuk keperluan tes DNA, itu sepenuhnya wewenang keluarganya. Kita tidak bisa mengajukan seenaknya saja."


"Ish, Kyara kan istrinya, jadi dia berhak untuk mengajukan. Kamu kan pengacara Ar, tolong Kya untuk bisa mengajukan hal itu. Setidaknya ini cara kita untuk membalas semua kebaikannya. Kamu nggak nyadar apa, kebersamaan kita sekarang, itu tak lepas dari semua nasihatnya Kyara.." rajuk Sisil kepada suaminya.


"Iya-iya, nanti aku pikirkan caranya. Kamu fokus saja ngurusin anak kita ya ! Lusa, aku harus ke Kalimantan untuk mengurus perusahaan yang sedang bermasalah. Nanti pulang dari Kalimantan, akan aku pikirkan cara untuk membantu Kyara, oke ?"


"Makasih ya, Ar !" ujar Sisil memeluk suaminya.


***


Perkebunan sawit


"Bang Jack, sini !" panggil Tania, putri pemilik perkebunan sawit.


"Adi, mana ?" tanyanya lagi.


"Hari ini sakit kepalanya kambuh lagi, non. Jadi, Adi tidak bisa masuk kerja."


"Eh bang Jack.."


"Maaf, non. Nama saya Jaka, bukan Jack !"


"Aku tahu, tapi aku lebih suka manggil bang Jack, he...he..he..."


"Ah, non Tania ini, ada-ada saja ! Oh iya, tadi kenapa menanyakan Adi ?"


"Begini, bang. Sebenarnya abang nemuin Adi, di mana sih ?"


"Maksud, nona Tania ?"


Jaka terkejut melihat semua itu. Dia pun segera pamit undur diri untuk memberitahukan jati diri Adi yang sebenarnya.


"Non, boleh abang pinjam dulu korannya ? Abang mau tunjukkan kepada Adi, siapa tahu Adi bisa langsung ingat setelah melihat semua ini." pinta Jaka.


"Iya, silakan bang !"


"Terima kasih, non ! Permisi !"


Jaka segera berlari menuju rumah kontrakannya. Dia sudah tidak sabar untuk memberi tahu Adi tentang siapa dirinya yang sebenarnya.


Tiba di rumah kontrakannya. Jaka segera berlari ke dalam rumahnya untuk menemui Adi.


"Di...! Adi...!" panggil Jaka penuh semangat.


"Iya, kak ! Adi di dapur !" jawab Adi.


Jaka segera berlari ke arah dapur. Tiba di sana dia melihat Adi sedang makan siang. Jaka pun segera menghampirinya.


"Coba tebak, Adi ! Kakak punya kabar baik buat kamu." ujarnya.


Adi menghentikan kunyahannya. "Maksud kakak ?"


"Lihatlah !" Jaka menyodorkan koran dan beberapa artikel tentang Bagas Anggara.


Adi terkejut melihat berita-berita itu. Terlebih lagi saat dia membaca berita tentang kematiannya.


"Da... darimana kakak mendapatkan semua ini ?"


"Itu tidak penting ! Yang terpenting saat ini, kita sudah tahu siapa kamu sebenarnya. Ayo, bersiaplah ! Sekarang juga kakak akan mengantarmu kembali ke keluargamu !"


Adi diam. Dia tak bereaksi apa pun.


"Ada apa Adi ? Kenapa diam ? Tidak usah cemas, kakak akan ceritakan semuanya tentang kamu yang kehilangan ingatan akibat kecelakaan itu." ujar Jaka.


"Adi..., Adi tidak mau pulang, kak !" ujar Adi seraya pergi ke kamarnya.


"A... apa maksudmu, Adi ?"


"Kakak, Adi mohon, biarkan Adi tetap di sini ! Biarkan Adi tetap menjadi adiknya kakak ! Adi tidak mau kemana-mana, Adi ingin tinggal sama kakak !"

__ADS_1


"Ish Adi, tidak boleh seperti itu ! Dengar, meskipun kamu telah kembali ke keluargamu, tapi bagi kakak, kamu tetap adik kakak."


"Jika aku adalah adikmu, maka izinkanlah aku tetap tinggal di sini ! Aku tidak mau kembali ke keluargaku !"


"Tapi kenapa, Di ? Mereka berhak tahu jika kamu masih hidup."


"Sudahlah, kak ! Aku Adi ataupun Bagas, semuanya sudah tidak ada artinya lagi. Aku hanya berharap, mereka bisa hidup bahagia tanpa aku."


"Tunggu ! Jangan-jangan, kamu memang telah mengetahui siapa dirimu ? Jangan-jangan, selama ini kamu tidak hilang ingatan ? Jawab kakak Adi, jawab !" teriak Jaka seraya memegang kerah baju adiknya.


"Iya...! Aku Bagas ! Aku Bagas Anggara ! Aku memang tidak pernah hilang ingatan, meskipun aku sangat menginginkan kehilangan ingatanku agar aku tidak selalu memikirkannya ! Aku berharap ingatanku hilang, agar aku menghapus semua kenanganku bersamanya ! Aku ingin ingatanku hilang kakak, agar hatiku tidak merasa terluka atas keputusan yang dia ambil !" ujar Adi seraya menjatuhkan dirinya di atas lantai.


Jaka berjongkok di hadapan Adi. "Apa maksudmu Adi ? Apa ini tentang perempuan ? Pacarmu ?"


"Kakak, aku mencintainya ! Aku sangat mencintainya. Aku bahagia karena akhirnya dia juga membalas cintaku. Kami...kami.. sangat bahagia dengan rumah tangga kami."


"Ru... rumah tangga ? Itu artinya, kamu telah menikah ?"


Jaka cukup terkejut mendengar pengakuan Adi atau Bagas.


Bagas menganggukkan kepalanya. "Selama 6 tahun kami berpisah. Selama 6 tahun aku mencari dan menunggunya. Hingga akhirnya takdir mempertemukan kami kembali. Kami menikah atas permintaan ibunya, aku tahu saat itu istriku tidak mencintaiku, tapi aku tetap bertahan, karena aku mencintainya. Hingga lambat laun, dia mulai menerimaku. Aku bahagia kak, aku sangat bahagia. Tapi kebahagiaanku tidak bertahan lama. Tiba-tiba saja, laki-laki di masa lalu istriku datang dalam kondisi yang cukup mengenaskan. Keluarganya memintaku untuk mencarikan Kyara agar Kyara bisa menyadarkan Ajay dari depresinya. Sebenarnya aku tidak merasa keberatan jika Kyara ingin membantu menyembuhkan mantan tunangannya. Tapi ternyata, dia mengambil tindakan di luar batasannya. Dia mengunjungi Ajay tanpa memberitaku. Aku merasa, harga diriku terluka sebagai seorang suami. Dari sanalah aku yakin jika dia masih mencintai mantan tunangannya itu. Aku tidak sanggup, kak ! Aku tidak sanggup melihat semua itu ! Aku ingin Kyara bahagia, kak ! Jadi aku mohon, jangan paksa aku pulang !"


"Kyara...? Ajay...?" guman Jaka.


Jaka mengeluarkan dompetnya. Dia kemudian mengambil sebuah foto yang ada di dompetnya.


"Apa gadis ini orang yang kamu maksud ?" ujar Jaka seraya menyerahkan foto Kyara yang selalu tersimpan rapi di dompetnya.


Bagas mengambil foto itu. Dia terkejut begitu melihat wajah Kyara.


"Da... darimana kakak da... dapatkan foto istriku ?"


BUGH...!


Bukannya menjawab, Jaka malah melayangkan tinjunya di rahang kanan Bagas.


"Tega kamu Adi ! Tega kamu, sudah berpikiran picik tentang istri kamu ! Dasar pengecut ! Aku benar-benar menyesal telah menyayangi laki-laki pengecut seperti kamu !" ujar Jaka penuh amarah.


"Ka... kakak...! Ke... kenapa kakak bilang begitu ? Kenapa kakak memukulku ?" tanya Bagas, heran.


BUGH....!


"Ini, untuk kebohonganmu tentang amnesia mu !


BUGH....!


"Ini, untuk pikiran picikmu terhadap istrimu !


BUGH....!


"Ini, untuk tangis istrimu karena berita kematianmu !


BUGH....!


"Dan ini, untuk sikap pengecutmu sebagai seorang suami !"


Hah....hah...hah ..." napas Jaka tersengal-sengal setelah meluapkan amarahnya terhadap Bagas.


Tubuh Jaka seketika lemas setelah menghajar Bagas hingga terkapar di sudut kamarnya. Perlahan Jaka menarik tubuh Bagas agar bisa kembali duduk.


"Kamu tahu siapa gadis ini ? Dia adalah Kyara Adistya, teman masa kecilku, cinta pertamaku ! Aku mengenalnya dengan sangat baik, dek ! Aku mencintainya dan aku sempat melamarnya. Tapi saat itu, dia telah memiliki seseorang di hatinya, yaitu Ajay. Akhirnya aku menyerah, karena aku tahu bagaimana sifat Kyara. Jika dia sudah mencintai seseorang dengan tulus, maka selamanya dia akan menjaga rasa cintanya."


Jaka diam sejenak untuk mengatur napasnya.


"Dek, Kyara itu bukan perempuan yang mudah tergoda. Mungkin memang benar, dia mudah merasa iba terhadap orang lain, tapi dia bukan tipe gadis yang bisa melabuhkan hatinya ke sembarang pria. Jika dia sudah mencintaimu, itu berlaku untuk selamanya, dek ! Jangan terlalu picik memandang masa lalu seseorang. Temui dia ! Temui sebelum semuanya terlambat ! Kakak tahu, air matanya pasti tidak akan pernah berhenti saat mengingat berita kematianmu ! Jangan biarkan dia menangis lagi, dek ! Jika kamu memang menganggapku sebagai kakakmu, tolong jangan biarkan adik iparku menangis lagi !" pinta Jaka.


"Kakak....!" ucap Bagas lirih seraya menatap kakaknya.


Jaka menatap lekat orang yang beberapa bulan ini melewati waktu bersamanya. Dia terlahir sebagai anak tunggal, karena itu dia sangat menyayangi Adi seperti saudaranya.


"Ma... maafkan aku, kak...! Maaf...!" ujar Bagas seraya memeluk erat Jaka.


"Pergilah !" ujarnya seraya menepuk pundak Bagas.


"Ta.... tapi...!"


"Ayo Adi, biar aku antar kamu ke bandara !"


"TANIA....!"


Bersambung....


Jangan lupa like vote n komennya....🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2