Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Dilema


__ADS_3

"Apa....!!"


Suara cempreng istrinya kembali memekakkan gendang telinga Aaron.


"Ish Sil, bisa nggak sih, kalo ngomong tuh nggak usah teriak-teriak !"


"Nggak bisa ! Gue emang udah dari sononya kayak gini !"


"Ish...! Lama-lama bisa budeg kuping gue kalo tiap hari mesti denger suara cempreng lo !


"Ish lo ini ! Siapa suruh lo nikahin gue !"


"Eit dah, gue juga nggak bakalan nikahin lo kalo lo nggak bunting !"


DEG....


Jantung Sisil terasa berhenti berdetak. Ya ! Meskipun mereka sering bertengkar, dan sering saling melemparkan kata makian, tapi baru kali ini Sisil merasa tersinggung dengan ucapan Aaron.


"Jadi, kalo gue nggak hamil, lo nggak bakalan nikahin gue !"


"Eh....!" Aaron terkejut dan mulai menyadari kesalahannya. "Bu... bukan begitu Sil...! Ish...! Jangan salah paham dulu ! Sudahlah, kita akhiri saja pembicaraan ini, ya ! Sekarang kita makan yuk !"


"Lo emang jahat, Ar ! Lo emang nggak niat nikahin gue ! Bilang aja lo nyesel ! Lo nggak usah khawatir, begitu anak ini lahir, gue bakalan pergi dari hidup lo !"


BRAKK....!


Sisil merasa kecewa, dia pun pergi dan membanting pintunya, meninggalkan Aaron sendirian di kamarnya.


"Ish, nih cewek....!" gumam Aaron kesal.


***


"Kakang, bangun ! Sudah jam 6 pagi, aku bisa terlambat pergi ke sekolah...!" ujar Kyara seraya mengguncang pelan bahu suaminya.


"Lima menit lagi ya, yang...! Aku benar-benar ngantuk nih, malam aku baru bisa tidur jam 3 dini hari. Boleh ya, yang !"


"Ish, kamu ini ! Emang kamu nggak ngantor ?"


"Malas yang ..!"


"Astaghfirullah hal adzim...! Kok kamu jadi pemalas gitu sih ? Gimana mau punya uang kalau nggak kerja ?"


Kyara merasa kesal dengan sikap suaminya hari ini. Sudah kemarin dia telat pulang, eh sekarang malah malas-malasan.


"Tenang yang, uangku masih banyak untuk mencukupi kebutuhan kita.. !" Bagas masih menjawab pertanyaan istrinya sembari memejamkan matanya.


"Haisss, sombong sekali ! Aku nggak suka kalau kamu bersikap seperti ini, kang ! Kamu sudah berubah, kamu seperti bukan seorang Bagas yang aku kenal dulu. Apa setiap manusia akan berubah setelah mereka memiliki kekayaan ? Seandainya aku boleh memilih, aku pengen kita seperti dulu, kang ! Meskipun hidup tanpa gelimang harta, tapi kamu selalu ada untuk aku ! Aku ingat saat aku pernah menginap di bengkelmu dulu ! Entah kenapa, aku merasa lebih hangat tinggal di bengkel itu daripada di apartemen kamu yang mewah ini." ucap Kyara lirih.


Jleb....!


Semua perkataan yang mampu menembus jantung Bagas, sehingga membuat dia seketika membuka matanya. Dia sadar dia telah melakukan kesalahan karena pergi tanpa memberi kabar kepada istrinya.


Dia pun memeluk Kyara dari arah belakang.


"Maafkan aku sayang ! Sungguh, aku tidak pernah berniat mengesampingkan keberadaanmu. Kemarin memang ada urusan yang sangat mendesak. Dan batrei ponselku benar-benar habis, aku lupa membawa charger. Aku mohon yang, jangan bandingkan aku yang sekarang dengan aku yang dulu. Aku masih tetap Bagas yang sama, yang sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu...!"


Bagas melingkarkan tangannya di perut Kyara. Dia mulai menopangkan dagunya di pundak Kyara.


Kyara tersenyum.


"Semoga kamu tidak pernah berubah, kang !" ujar Kyara seraya mengusap pipi suaminya.


"Kemarilah !" ujar Bagas seraya membalikkan tubuh istrinya agar menghadapnya.


"Apa pun yang terjadi pada kehidupan kita ke depannya, aku tidak akan pernah berubah ! Aku mencintaimu ! Aku sangat mencintaimu, dan aku berharap kau pun bisa mencintaiku, sehingga tidak akan ada orang lain yang bisa menggoyahkan cinta kita !"


Kyara tersenyum, "Kamu ini bicara apa, kakang ! Aku juga sangat mencintaimu, dan aku berjanji ! Tidak akan ada orang lain yang bisa menggoyahkan ikatan suci di antara kita !"


Bagas mendekatkan wajahnya ke arah Kyara hingga membuat Kyara bisa merasakan hembusan napas suaminya. Bagas mulai mendekatkan bibirnya dan menghisap pelan bibir mungil istrinya. Kyara kembali terbuai dalam setiap sentuhan suaminya. Dia membuka sedikit celah agar lidah suaminya bisa bermain-main di rongga mulutnya.


"aaahhh...."


Kyara mulai mendesah saat tangan suaminya memainkan benda kecil di atas kedua bukit kembarnya.


Desahan yang selalu membuat Bagas kehilangan akalnya. Perlahan Bagas pun mulai membaringkan tubuh istrinya. Kabut gairah telah menyelimuti matanya. Bagas mulai membuka satu persatu helaian kain yang melekat di tubuh istrinya. Tanpa banyak pemanasan, dia pun mulai melakukan gerakan lembut yang bisa membuat Kyara melayang tanpa batas.


"Aargghh.... Ky... Kya..., Kyara Adistya.... milik...ku...!" ucap Bagas dalam erangannya yang membuat jiwanya membuncah melepaskan hasrat....


Untuk sesaat mereka pun saling menatap penuh cinta setelah melakukan pelepasan yang sempurna.


"Kya...?" panggil Bagas seraya mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar.


"Hem...!" jawab Kyara terasa begitu lembut.


"Maukah kau mengandung anakku ?" tanya Bagas seraya mengelu-elus perut Kyara yang tampak datar.


Hening.....


***

__ADS_1


Selepas makan siang, Bagas benar-benar tidak bisa kembali berkonsentrasi bekerja. Berkas yang sedari tadi diserahkan oleh sekretarisnya, dia biarkan menumpuk begitu saja di atas meja. Pikirannya benar-benar kacau setelah mendapatkan telpon dari Aaron yang mengatakan jika Ajay kembali histeris.


Ini kabar ketiga yang Bagas terima setelah seminggu yang lalu dia menengok Ajay di rumah sakit. Bagas menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Dia mengusap kasar wajahnya.


"Aaargghhh....! Apa yang harus aku lakukan ?" teriaknya.


Sementara itu di kota B


"Mamih mohon pih, tolong cari Kyara ! Apa papih tega membiarkan Ajay seperti itu ?" rengek nyonya Diana.


"Kita sudah bahas semua ini, mih. Jangan paksa papih untuk berbuat sesuatu di luar kemampuan papih !"


"Papih bukan tidak mampu, tapi papih tidak mau berusaha !"


"Mih, papih mohon mengertilah ! Kesalahan anak kita sudah terlalu besar, dan kalaupun papih bisa menemukan Kyara, papih rasa Kyara tidak akan pernah mau untuk membantu kita. Jangankan membantu, untuk melihat Ajay pun mungkin dia tidak akan pernah sudi !"


"Jangan terlalu menghakimi, pih ! Kita belum mencobanya. Dan kalau pun itu sampai terjadi, mamih yang akan memohon pada Kyara. Tugas papih cuma satu, cukup temukan Kyara ! Selanjutnya biar mamih yang bicara, bila perlu mamih akan berlutut memohon supaya Kyara mau kembali lagi pada Ajay !"


"Jangan ngomong sembarangan kamu ! Kita tidak tahu keadaan Kyara sekarang, mungkin saja dia sudah menikah !"


"Mamih tidak peduli ! Bila perlu mamih akan memohon pada suaminya supaya mengizinkan Kyara merawat Ajay sampai anak kita sembuh !"


"Astaghfirullah, sadar Di !" tuan Ajay berteriak keras kepada istrinya. "Ibu memang benar, ternyata Ajay sangat mewarisi sifatmu, kamu tahu kenapa Ajay seperti ini ? Itu karena didikanmu yang selalu memanjakannya sehingga dia tidak memiliki rasa tanggung jawabmu !"


"Aku tidak peduli ! Dia anakku dan aku akan menggunakan cara apa pun untuk bisa menyembuhkan anakku. Sekalipun aku harus memisahkan Kyara dengan suaminya, jika memang benar dia telah menikah !"


BRAKK....


Kembali nyonya Diana membanting pintu kamarnya dan membiarkan suaminya seorang diri dengan semua rasa frustasinya atas sikap egois istrinya.


Drrtt.... drrt...


"Rumah sakit ?" gumam tuan Ali.


"Ya, hallo...!


"............."


"Astaghfirullah hal adzim...!" tuan Ali mengusap wajahnya kasar. "Baiklah, sebentar lagi aku ke sana !"


Tuan Ali segera mengambil kunci mobilnya di atas nakas. Tak lama kemudian dia pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Tiba di rumah sakit, tuan Ali segera menuju ruangan dokter Firman.


"Bagaimana keadaan Ajay, nak !"


Tuan Ali menggelengkan kepalanya lemah.


"Om sudah menghentikan pencarian om terhadap gadis itu. Kesalahan Ajay terlalu besar, om sudah tidak punya muka untuk menghadapi gadis itu."


Dokter Firman menggenggam tangan tuan Ali.


"Firman mohon om, Firman memang tidak tahu ada kejadian apa di masa lalu Ajay. Tapi dia pasien Firman om, Firman akan mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhannya. Firman mohon, tolong bantu Firman untuk menemukan gadis itu, semua ini demi kebaikan Ajay. Kalau tidak...."


Dokter Firman menggantungkan kalimatnya. Dia benar-benar tidak kuasa untuk mengatakan kemungkinan yang akan terjadi jika Ajay tidak segera dipertemukan dengan orang yang hadir dalam ingatannya.


"Kalau tidak..., kalau tidak, apa ?"


"Kalau tidak, Firman terpaksa merujuk dia ke rumah sakit jiwa, om. Supaya Ajay mendapatkan perawatan yang seharusnya." ujar dokter Firman lirih.


"Astaghfirullah...! Apa separah itu nak ? Lalu, bagaimana dengan dokter psikiater temanmu itu ? Bukankah kau bilang dia psikiater yang hebat ? Apa Ajay bisa disembuhkan jika om bawa dia ke sana ?"


"Om, psikiater manapun tidak akan bisa menyembuhkan Ajay jika Ajay sendiri tidak memiliki kemauan untuk sembuh. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa jika pasien dalam kondisi berhalusinasi seperti itu. Ajay sudah menolak kenyataan, om ! Dia sudah terpenjara di dunianya sendiri, dam hanya orang yang bernama Kya, yang selalu dia gumamkan, yang hanya bisa menarik dirinya dari dunia yang telah dibangun Ajay saat ini.


Dokter Firman berusaha memberikan penjelasan kepada tuan Ali.


Tuan Ali hanya bisa diam. Hatinya benar-benar hancur mendengar semua penjelasan dokter Firman.


***


"Kakang, telponnya berbunyi !" bisik Kyara lembut saat Bagas sedang mencumbunya.


"Biarkan saja, yang...! Tanggung...!" jawab Bagas seraya terus menciumi ceruk leher Kyara yang menjadi hobi barunya di waktu senggang.


"Ish...kakang, tidak bisakah kau hentikan dulu kegilaanmu ini...!" ujar Kyara menggeliat karena merasa geli saat hembusan napas suaminya terasa di telinganya.


"Maaf sayang, tapi aku tidak bisa menghentikannya. Kau sudah seperti candu bagiku. Aku ingin selalu merasaimu, mengecapmu, menikmatimu, menggilaimu. Ah sayang...., aku benar-benar tergila-gila oleh semua pesona yang ada di dirimu, tubuhmu, jiwamu, hatimu. Aku mencintaimu nyonya Anggara."


"Kakang, sepertinya semenjak menikah julukan si tuan minim kosakata, sudah tak layak lagi untukmu !" ujar Kyara menghadapkan tubuhnya dan mulai bergelayut manja di pangkuan suaminya.


"Benarkah ?"


"Hem-emh...!" Kyara mengangguk-anggukan kepalanya seperti seorang anak kecil.


"Lalu julukan apa yang pantas untukku ?" tanya Bagas sembari menciumi pipi istrinya.


"CEO Raja Mesum....! He...he..." Kyara terkekeh.


"Ish kau ini ! Kenapa julukannya merusak image ku ?" Bagas merengut manja.

__ADS_1


"Abisnya, nggak di dapur, nggak di ruang kerja, nggak di ruang tv, apalagi di kamar, liat Kyara dikit langsung nyosor ngajakin tempur, apalagi kalau bukan namanya mesum..."


"Ish, mesum sama istri sendiri itu ibadah, sayang...! Ke kamar mandi yuk...!" bisik Bagas.


"Ngapain...?"


"Aku mau mandiin kamu...!"


"Ish..., nggak.. , nggak...! Kya udah mandi tadi. Kakang aja yang mandi ! Udah ah, Kya mo masak buat makan malam dulu. Tuh angkat ponsel kakang, dari tadi bunyi terus...!" ujar Kyara segera melepaskan diri dari pelukan suaminya


"He...he...he..."


Bagas tergelak melihat sikap Kyara, dia merasa senang melihat raut wajah istrinya yang bersemu merah karena menahan malu.


Bagas meraih telponnya yang sedari tadi dia diamkan.


"Om...!"


Raut wajah Bagas terlihat tak senang mendapati nama orang yang menghubunginya. Bagas segera berjalan menuju balkon, dia tidak ingin Kyara tiba-tiba datang dan mendengar pembicaraannya dengan orang yang menghubunginya.


"Assalamualaikum om !" (Bagas)


"Waalaikumsalam. Apa kabar, nak ?" (tuan Ali)


"Alhamdulillah, kabar Bagas baik. Om sendiri ?" (Bagas)


"Sangat tidak baik, nak. Sejak Ajay masuk rumah sakit, om benar-benar merasa tidak baik. Om telah gagal menjaga anak om, nak." (tuan Ali)


Bagas diam.


"Nak, selama ini om tidak pernah meminta sesuatu padamu. Tapi sekarang, bisakah om meminta bantuanmu ?" (tuan Ali)


Deg...


Bagas terkejut mendengar ucapan tuan Ali.


Apa ini ada hubungannya dengan Kyara ? batin Bagas.


"Ba... bantuan a..apa, om ?" (Bagas)


"Bisakah kau menyuruh orangmu untuk mencari Kyara ?" (tuan Ali)


Sudah kuduga....


"Om tahu, semua ini terdengar begitu ironis. Gadis itu sudah banyak menderita karena perbuatan anak om, tapi dengan tidak tahu malunya om mencarinya untuk memohon bantuannya menyembuhkan Ajay. Apa kau tahu nak ? Tadi dokter Firman bilang, jika Ajay sampai tidak bisa keluar dari dunia khayalnya, maka dengan sangat terpaksa, dokter Firman akan merujuknya ke rumah sakit jiwa."


DEG....


Jantung Bagas seolah berhenti berdetak mendengar ucapan tuan Ali.


Seburuk itukah kondisi Ajay ?!


"Hallo...! Nak..., apa kau masih mendengar suara om ? Hallo...!" (Tuan Ali)


"Iya om, Bagas masih bisa mendengar suara om. Insyaallah, besok Bagas hubungi anak buah Bagas untuk mencari Kyara." (Bagas)


"Alhamdulillah...! Terima kasih nak ! Terima kasih karena sudah membantu om. Kalau begitu om tutup telponnya ! Assalamualaikum...!" (tuan Ali)


"Waalaikumsalam..." (Bagas)


Bagas diam. Dadanya bergemuruh menahan emosi. Hatinya merasa sesak melihat kenyataan yang ada di hadapannya.


Aku tahu, selama ini om Ali sudah sangat baik mengurus aku dan kak Indah. Semenjak ayah dan ibu meninggal, om Ali dan eyang Mahesa yang selalu bersamaku, mendukungku, menjadi ayah bagiku, hingga aku merasa tidak pernah kehilangan kasih sayang seorang ayah. Tapi Kyara...? Sekarang dia adalah istriku, istri sahku ! Adilkah jika aku meminta Kyara menemui Ajay ? Bagaimana dengan perasaan Kyara sendiri ? Apa Kyara tidak akan merasa tersakiti jika aku menyuruhnya menemui Ajay ? Bagaimanapun juga, Ajay lah orang yang membuat Kyara mengalami trauma selama 6 tahun lalu.


Bagas mengusap wajahnya kasar. Hatinya benar-benar dilema. Di satu sisi, mungkin ini saatnya dia membalas semua kebaikan tuan Ali. Tapi di sisi lain, bagas tidak mungkin mengorbankan perasaan istrinya. Ini benar-benar seperti buah simalakama. Tak ada satupun kebaikan yang bisa dia lihat dari permasalahan ini.


Bagas pergi ke kamar mandinya untuk mendinginkan kepalanya yang mulai bergejolak.


BUGH....!


Tiba di sana, kembali dia memukul dinding kamar mandi untuk melampiaskan emosinya.


"Aaargghhh....!"


Tanpa sadar Bagas berteriak kencang, membuat Kyara mematung di pintu kamar mandi.


Kyara membuka pintu kamar untuk memanggil suaminya. Namun, saat dia masuk, dia mendengar suara berdebuk dari kamar mandi. Awalnya dia ingin mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan ada orang di dalam. Namun saat dia mendengar teriakkan suaminya yang begitu menggema, dia hanya bisa berdiri mematung di depan pintu kamar mandi seraya memegang dadanya.


Dengan tangan yang masih bergetar karena rasa terkejutnya, Kyara membuka pintu kamar mandi.


Ceklek....


"Ka....kang....!!


Bersambung....


Insyaallah lanjut nanti malam ya...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2