Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Menerima Penawaran Bu Hana


__ADS_3

Kyara kembali ke kamarnya dengan wajahnya yang ditekuk. Dia merasa kesal atas perbuatan Anti. Ya, setelah melihat tayangan televisi di ruang tengah tadi, Kyara yakin jika yang memutuskan kabel sambungan televisi di kamarnya, pastilah Anti.


Setelah menyimpan tekonya di atas nakas, Kyara menghampiri Anti yang sudah memejamkan matanya.


"Mbak..., bangun mbak ! Kya mau bicara !" ujarnya seraya mengguncang pelan bahu Anti.


Anti yang memang hanya berpura-pura tidur, langsung mengerjapkan matanya.


"Kenapa mbak harus melakukan ini ?" tanya Kyara memasang wajah cemberutnya.


"Hoammm...!" Anti menguap, sejenak dia memasang muka ketidakmengertiannya, "Melakukan apa ?"


"Ish, udah deh...! Nggak usah bohong ! Mbak Anti kan, yang memutus kabel TV itu ?" Kyara menyudutkan Anti.


"Hhhh....!" Anti menghela napasnya. "Maaf Kya, aku cuma takut kamu ngerasa sedih lagi melihat semua itu !"


Kyara tersenyum...


"Sudahlah, lupakan saja ! Ayo kita tidur !"


Anti merasa tidak enak dengan sikap Kyara.


"Kya..., apa kau baik-baik saja...!"


"Hmm..."


Hanya dehaman yang keluar dari mulut Kyara, membuat Anti tidak berani bertanya lebih jauh lagi.


***


Keesokan harinya, bu Ratna mengunjungi Kyara di tempat kerjanya. Selain karena rindu terhadap putri semata wayangnya, bu Ratna pun hendak membicarakan sesuatu yang menurutnya penting untuk didiskusikan dengan putrinya.


"Aneng tidak setuju bu...!" ujar Kyara.


"Tapi hanya ini satu-satunya jalan yang bisa ibu lakukan untuk memperbaiki nasib kamu, nak !" jawab bu Ratna yang keukeuh dengan keinginannya.


Sejak semalam, bu Ratna telah memikirkan semuanya dengan matang. Hari ini, dia sengaja menemui anaknya untuk membicarakan keinginannya menjual rumah yang ditempatinya.


Bu Ratna ingin Kyara memiliki masa depan yang lebih baik. Dia nekad hendak menjual rumahnya untuk membiayai pendidikan Kyara ke jenjang yang lebih tinggi.


"Kamu ngerti kan, neng...! Ibu hanya ingin kamu memiliki kehidupan yang lebih baik ! Ibumu ini orang miskin, neng ! Ibu tidak punya harta untuk diwariskan padamu !"


Kyara menggenggam tangan ibunya.


"Tapi rumah itu satu-satunya harta yang kita miliki bu ! Rumah itu peninggalan almarhum ayah, terlalu banyak kenangan yang kita lewati di rumah itu, bu !"


"Justru itu, neng ! Justru karena kenangan itu, ibu merasa tidak kuat untuk menempati rumah itu sendirian. Biarkan ibu menjualnya neng ! Dengan begitu, ibu bisa membiayai pendidikan kamu ! Setidaknya dengan uang hasil penjualannya, ibu bisa mewariskan ilmu pada kamu, nak...!"


"Lalu ibu akan tinggal di mana ?" tanya Kyara.


"Kamu tidak usah khawatir, ibu masih memiliki sepetak tanah peninggalan almarhum orang tua ibu di kampung, nak. Lagipula, ibu sudah tidak tahan mendengar gunjingan tetangga tentang dirimu. Dan yang membuat ibu lebih sakit hati, tak ada satu pun kerabat ayahmu yang bisa membela keberadaan kita di sana ! Ibu inginkan suasana baru, neng ! Suasana yang lebih tenang dan damai. Ibu yakin, paman dan bibimu di kampung, bisa menerima kita apa adanya !" ujar bu Ratna berusaha membujuk Kyara.


"Baiklah..., jika keputusan ibu sudah bulat, Aneng tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi izinkan Aneng untuk menganggap semua ini sebagai hutang Aneng, bu ! Aneng janji, jika Aneng sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, Aneng akan mengganti rumah ibu !" jawabnya.

__ADS_1


Bu Ratna tersenyum seraya membelai lembut wajah putrinya.


"Meski ibu tidak membutuhkan semua itu, tapi ibu hargai keputusanmu nak !"


"Terima kasih, bu !" ujar Kyara seraya memeluk ibunya.


"Sama-sama, nak ! Hari ini juga, ibu akan meminta kang Subro untuk menjual rumah itu. Untuk barang-barangnya, akan ibu suruh pamanmu mengambilnya esok."


"Apa itu artinya, ibu akan pergi ke kampung hari ini ?"


Bu Ratna mengangguk.


"Kenapa mendadak sekali, bu..! Baiklah, sekarang juga Aneng minta izin bu Hana untuk mengantarkan ibu ke kampung !"


Kyara terkejut mendengar keputusan ibunya pulang kampung yang sangat mendadak.


"Tidak usah, neng ! Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu ! Lagipula, ibu hendak ke rumah kang Subro dulu untuk menitipkan kunci rumah."


"Tapi bu...!"


"Sudahlah, ibu tidak apa-apa pulang sendirian neng ! Lebih baik, sekarang kamu temui bu Hana untuk menanyakan penawarannya dulu ! Mudah-mudahan tawaran itu masih berlaku ya, neng !"


"Insyaallah masih berlaku bu, bu Hana orang baik. Dia pasti akan sangat mendukung keputusan Aneng."


Bu Ratna tersenyum. Setelah itu dia pun pamit pulang.


Kyara hanya bisa mengantar ibunya sampai jalan raya. Dia menatap nanar punggung ibunya yang mulai menghilang karena telah menaiki angkot yang hendak membawanya pulang kampung.


Setelah ibunya pergi, Kyara segera menemui bu Hana di ruangannya.


"Assalamualaikum, bu...! Apa Kyara boleh masuk ?"


"Masuk, nak !"


Kyara membuka pintu ruangan bu Hana.


"Ah Kya sayang, duduklah nak !"


"Terima kasih, bu !"


"Ada apa nak Kya datang ke ruangan ibu ?"


"Ma..maaf bu. Kya.. Kya mau bertanya, apa penawaran ibu masih berlaku ?"


Bu Hana mengerutkan keningnya.


Kyara yang melihat kebingungan di wajah bu Hana mencoba mengurai kalimat lebih jelas lagi.


"Maksud Kya, penawaran ibu tentang kuliah Kya bu."


"Ah iya, tentang melanjutkan pendidikan itu ya, nak ! Memangnya ada apa, nak ?"


"Apa penawaran itu masih berlaku, bu ?"

__ADS_1


"Apa kamu mau menerima penawaran itu ?"


"I..iya bu..! Ji.. jika penawarannya masih berlaku, Kya.. Kya mau melanjutkan pendidikan Kya !" ucapnya terbata.


Bu Hana beranjak dari kursinya. Dia pun menghampiri Kyara dan membelai lembut rambut Kyara.


"Tentu saja, nak ! Tentu saja penawaran itu masih berlaku !"


Bu Hana merasa senang dengan keputusan Kyara yang menerima tawarannya untuk melanjutkan pendidikannya. Sekarang, dia tidak harus merasa cemas lagi memikirkan siapa yang akan menggantikannya kelak. Baginya, Kyara adalah orang yang tepat untuk bisa menggantikan posisinya.


"Terima kasih, bu...!"


"Sama-sama, nak ! Besok ibu akan bicarakan hal ini dengan bagian pengawas, supaya kamu bisa segera mendaftarkan dirimu di tahun ini ! Oh iya, kira-kira kamu akan mengambil jurusan apa ?"


"Kya ingin mendalami dunia anak bu. Mungkin Kya akan mengambil jurusan psikologi anak !"


"Ide yang bagus, nak ! Segeralah kau cari kampus yang memiliki fakultas itu !"


Kyara mengangguk. Setelah pembicaraannya selesai, dia pun pamit untuk kembali bekerja.


***


"Baiklah, Gas ! Kapan kamu menerima secara resmi perusahaan peninggalan ayahmu ?" tanya tuan Ali.


Seminggu setelah pernikahan anaknya, tuan Ali memanggil Bagas untuk membicarakan peralihan perusahaan yang dikuasakan padanya dulu.


Bagas hanya diam mendengar pertanyaan tuan Ali. Jujur hatinya belum siap untuk menerima perusahaan ayahnya yang bertolak belakang dengan latar belakang pendidikannya.


Perusahaan peninggalan ayahnya bergerak di bidang ekspor impor barang-barang furniture antik berbahan kayu jati. Berbeda sekali dengan latar belakang pendidikannya yang mengambil fakultas otomotif. Bagas hanya bisa menghela napasnya. Menatap bingung ke arah tuan Ali.


"Maaf om, Bagas belum siap !" jawab Bagas lemah.


"Tapi kenapa, Gas ? Bukankah pendidikanmu telah selesai ?" tanya tuan Ali, heran.


Bagas mengangguk.


"Tapi Bagas belum wisuda, om !"


"Ah Bagas, wisuda kan hanya perayaannya saja ! Kamu bisa mengelolanya sambil menunggu wisudamu, nak !"


Bagas tampak berpikir sejenak, meski dia telah tahu jawabannya. Bagas kembali menggeleng lemah.


"Maaf om, nanti saja ! Setelah Bagas wisuda !" ucapnya pasti.


"Baiklah, om hargai keputusanmu, nak ! Om akan menunggu waktu yang tepat, hingga kamu benar-benar siap menjalankan perusahaan ayahmu."


Bagas mengangguk. Setelah dirasa pembicaraannya telah selesai, Bagas pun pamit pulang.


Bersambung...


Hai readers...


Semoga masih suka ya sama ceritanya...

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2