
"Sayang, aku pinjam ponselnya ya ?" ujar Bagas menghampiri istrinya yang sedang nenyusui Elang.
"Di nakas, kang ! Ambil aja !" jawab Kyara.
Bagas pun mengambil ponselnya Kyara dan kembali ke ruang keluarga karena tidak ingin mengganggu tidurnya baby El. Tiba di ruang foto, Bagas segera menekan nomor asistennya yang berada di Jerman.
"Guntur ?" gumam Bagas.
Bagas mengernyitkan dahinya. Dia kemudian melihat nomor yang sudah sangat dihapalnya di luar kepala. "Nomornya benar, kok ! Tapi kenapa nama Guntur yang muncul ?" kembali Bagas bergumam.
Sekali lagi Bagas menekan nomor Gerald. Tapi id name yang muncul di ponselnya Kyara adalah Guntur. Karena penasaran, Bagas kembali ke kamarnya untuk menanyakan kepada Kyara.
Tiba di kamar, Elang tampak telah tertidur di atas kasur. Sementara Kyara sedang melipat dan merapikan baju Elang di lemari mini milik Elang.
Hup...!
Bagas memeluk Kyara yang tengah merapikan pakaian anaknya.
"Astaghfirullah kakang ! Bikin kaget aja !" ujar Kyara tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sayang, siapa Guntur ?" tanya Bagas tiba-tiba.
"Oh, dia orang yang hendak menggantikan posisi kamu sebagai suamiku." jawab Kyara lurus.
Seketika Bagas melepaskan pelukannya. Ish, apa-apaan ini ? Kenapa dia bisa menjawabnya sesantai itu ? Apa ada sesuatu yang aku lewatkan saat aku berada di Samarinda ? batin Bagas.
Bagas membalikkan tubuh Kyara hingga menghadapnya.
"Apa maksudnya, Kya ?"
Tak ada lagi embel-embel sayang ketika rasa cemburu telah mengalahkan pikirannya.
"Maksudnya apa ?" Kyara malah balik bertanya.
"Ucapanmu barusan ! Apa kau sadar dengan ucapanmu ?" tanya Bagas dingin.
"Kemarilah ! Duduklah dulu !"
Kyara menarik tangan Bagas untuk duduk di sofa.
"Apa kau masih ingat dengan pondasi rumah tangga kita ?" tanya Kyara.
"Tentu saja ?" jawab Bagas.
"Apa, coba ?" Kyara kembali bertanya.
"Kejujuran." jawab Bagas singkat.
"Baiklah, aku akan mengatakan sebuah kejujuran padamu. Guntur adalah teman masa kuliahku. Kami bertemu kembali di saat hari pemakamanmu. Melihat kebaikan Guntur yang selalu menemuiku dan menjagaku, kak Indah berniat menjodohkanku dengannya. Kak Indah memintaku untuk menikah dengan Guntur setelah bayimu lahir."
Deg....
Bagas benar-benar terkejut mendengar kenyataan selama dia pergi.
"Lalu ?"
"Ah kakang, kenapa masih belum memahami Kya juga ? Memangnya, sampai Kya bersembunyi di sini, itu karena apa ?"
Bagas tampak berpikir sejenak.
"Karena kamu menghindari perjodohan itu ?"
Kyara mengangguk. "Kya sangat mencintai kakang. Bahkan Kya sedang mengandung anak kakang. Sekalipun Kya memang harus kehilangan kakang, Kya tidak akan pernah membuka hati Kya untuk pria manapun lagi." jawab Kyara penuh kepastian.
"Kemarilah !" ujar Bagas seraya meraih pundak Kyara dan menyandarkan kepala Kyara di dada bidangnya.
"Maafkan aku !" ucap Bagas.
Kyara mendongakkan wajahnya serta memejamkan matanya. Bagas yang mengerti isyarat Kyara, segera memberikan kecupan hangat di Cherry milik Kyara. Puas mencumbu istrinya, Bagas kembali teringat tentang nomor Gerald yang dia masukkan tetapi malah muncul nama Guntur.
"Oh iya sayang, tadi aku mencoba memasukkan nomor asistenku, tapi kenapa muncul nama Guntur di ponselmu ?" tanya Bagas heran.
"Memang, nomor asisten mana yang kakang masukkan ?" Kyara malah balik bertanya.
__ADS_1
"Gerald ! Itu, asistenku yang berada di Jerman." jawab Bagas.
"He...he...he...!" Kyara tampak terkekeh seraya menutup mulutnya.
"Ish kenapa malah tertawa ?" Bagas merasa kesal dengan tingkah istrinya.
"Mmm, sebenarnya Guntur dan Gerald itu orang yang sama kakang."
"Maksudnya ?"
"Jadi nama lengkap asisten kakang itu, Guntur Geraldy Roeslan. Kalau tidak percaya, coba aja kakang tanya sendiri !"
"Benarkah ?" tanya Bagas seakan tak percaya.
"Iya !" jawab Kyara.
"Ish, kenapa jadi begini ? Apa kau tahu kalau dia sahabatku ?"
Kyara menganggukkan kepalanya.
Bagas mulai tampak cemas. Permasalahan kali ini semakin meyakinkan dirinya untuk segera memperkenalkan istrinya ke publik.
"Sayang, ayo kita bikin resepsi pernikahan ?" ajak Bagas kembali.
"Kakang, kita kan sudah membahasnya, kalau kita.."
"Tapi ini penting sayang ! Kakang tidak mau kesalahpahaman berujung maut akan menimpa keluarga kita lagi." ujar Bagas memotong kalimat istrinya.
Kyara membenarkan posisi duduknya dan berhadapan dengan Bagas.
"Kesalahpahaman berujung maut ? Maksud kakang ?" tanya Kyara seraya mengernyitkan dahinya.
"Kau masih ingat kecelakaan yang menimpa kakang ?" tanya Bagas.
"Iya, polisi bilang mobil kakang bertabrakan dengan salah satu mobil yang sedang balapan liar." jawab Kyara.
"Ya ! Mobil yang kakang tumpangi memang bertabrakan. Tapi tepatnya mobil itu memang sengaja hendak dilajukan menuju jurang." ujar Bagas lirih, mengingat tragedi yang hampir saja merenggut nyawanya.
"Ma... maksud kakang ?"
"Kakang ?" ujar Kyara melepaskan salah satu tangannya untuk menyeka air mata suaminya.
"Malam itu, kakang pergi karena kakang teringat akan dokumen penting yang tertinggal di apartemen. Namun karena hati kakang masih dikuasai amarah, kakang memutuskan untuk tidur di apartemen. Keesokan harinya kakang pergi ke Samarinda untuk melakukan pertemuan dengan klien kakang atas pembebasan lahan warga. Setelah tiba di Samarinda, kakang hendak menghubungi kamu, tapi ternyata HP kakang lowbat. Sore harinya, seorang sopir menjemput kakang. Kakang pikir dia adalah orang suruhan klien kakang. Tapi di tengah jalan sopir tersebut mengambil arah menuju perkebunan yang tidak kakang kenal. Saat melewati perkebunan, mobil kami berhenti terhalang pohon tumbang. Kakang pun keluar untuk menyingkirkan pohon yang menghalangi jalan tersebut. Tapi tiba-tiba, seseorang memukul tengkuk kakang dari arah belakang, hingga kakang tak sadarkan diri dan di sekap di sebuah gubuk."
"Apa ? Jadi kakang diculik ?" pekik Kyara kaget.
Bagas mengangguk.
"Astaghfirullah...! Ta...tapi kenapa ? Si.. siapa yang tega menculik kakang ? Apa mereka saingan bisnis kakang ?" tanya Kyara, beruntun.
"Jeje ! Sekretaris kakang ?"
"Apa ? Kok bisa ? Apa maksudnya ?"
"Hhhh..." Bagas menarik napasnya panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Ternyata, Jeje itu adalah kakaknya Rachella. Dia menyimpan dendam terhadap kakang. Rachella bunuh diri setelah mengetahui kakang menikahi kamu. Kepergian Rachella membuat tante Mona depresi berat. Jeje beranggapan penderitaan Rachella terjadi karena kamu telah merebut cinta kakang darinya. Karena itu dia bermaksud melenyapkan kakang supaya kamu mengalami penderitaan yang sama seperti Rachella. Pada akhirnya Jeje memaksa kakang untuk melakukan bunuh diri bersamanya. Dia mengikat kakang di mobilnya dan melajukan mobil tersebut menuju jurang. Tapi naasnya, saat mobil itu keluar dari hutan, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi menabrak mobil Jeje."
"Ya Allah, kakang...! Jadi semua ini karena Kya, karena Kya sudah hadir di kehidupan kakang, sehingga Kya telah merenggut nyawa Rachella. Dan...dan Kya hampir membuat ka...kang meninggal...!" ujar Kyara seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai terisak.
"Hei....sayang..., tidak seperti itu !" ujar Bagas seraya meraih kedua tangan Kyara. Bagas menyeka air mata Kyara.
"Sst..., tenanglah ! Semua ini bukan salah kamu ! Aku mencintaimu jauh sebelum aku dan Rachella berkenalan. Persoalan Rachella bunuh diri, itu karena dia tidak memiliki iman yang kuat. Dan Jeje, dia hanyalah korban dari keegoisan orang-orang berdarah biru."
"Ma... maksud kakang ?"
"Sebelum dia mengajakku untuk bunuh diri, dia bercerita tentang dirinya. Ternyata, sejak kecil Jeje memiliki kepribadian yang bertolak belakang sebagai mana mestinya. Dia seorang laki-laki, tapi dia sangat senang berpenampilan seperti seorang perempuan. Karena itulah, keluarga om Danu yang notabene berdarah biru, mereka mengucilkan om Danu. Hingga akhirnya om Danu tidak pernah pulang ke negaranya. Sejak kejadian itu, om Danu mulai membenci Jeje. Terlebih lagi, saat Jeje menginjak remaja, ternyata dia memiliki kelainan yaitu menyukai sesama jenis. Om Danu pun mengusirnya. Bagi Jeje, hanya ibu dan adiknya yang bisa menerima kehadirannya. Karena itu, di saat Jeje kehilangan Rachella, Jeje pun tidak memiliki semangat hidup lagi."
"La...lalu sekarang, di...di mana Jeje ? Dan, kenapa kakang tidak melaporkan dia ke polisi ? Apa karena dia saudaranya kak Gunawan ?"
"Apa polisi akan menangkap orang yang sudah meninggal ?"
"Ma... maksudnya ? Tidak ada orang yang bernama Jeje dalam korban kecelakaan itu, kang ?"
__ADS_1
"Jeje adalah Jeremy ?"
"Astaghfirullah...!! Ja...jadi jenazah itu adalah Jeje ? Apa kak Gun mengetahui tentang ini ?"
"Entahlah ! Tapi jujur saja, kakang tidak ingin tahu apa-apa lagi. Yang penting kakang sudah kembali kepada kalian."
"Tunggu ! Tapi kenapa jenazah itu atas nama kakang ? Dan bagaimana kakang bisa selamat dari kecelakaan itu ?"
"Kyara..., tidak usah dibahas lagi ya...?"
"Nggak..., nggak...! Kya pengen tahu yang sebenarnya.., please...!" rengek Kyara.
Kembali Bagas menghela napasnya.
"Untuk jenazah yang memiliki identitas kakang, kakang sendiri tidak pernah tahu kenapa itu bisa terjadi. Tapi bagaimana caranya kakang bisa selamat ? Hmm, itu karena pertolongan Tuhan melalui salah satu preman yang disewa Jeje. Saat mereka mengikat tubuh kakang di kursi depan. Tiba-tiba saja salah satu preman memukul kakang hingga tubuhnya terjatuh menimpa kakang. Tapi bersamaan dengan itu, dia pun menyelipkan sebuah pisau lipat di sela-sela jari kakang yang terikat ke belakang. Pada saat Jeje berputar-putar melajukan mobilnya di tengah hutan, kakang pun mengerat tali tersebut dengan pisau itu. Beruntungnya mobil yang dikendarai Jeje, itu adalah mobil buatan kakang. Dan kakang tahu tombol-tombol darurat yang bisa kita gunakan untuk menghindari kecelakaan. Saat kakang berhasil membuka ikatan tangan kakang, saat itu pula mobil yang lainnya menabrak kami. Namun, sebelum mobil itu jatuh ke dasar jurang, kakang berhasil menekan tombol safety chair. Tombol itu berfungsi untuk melepaskan kursi mobil dari penyangganya, hingga ketika terjadi kecelakaan, si pengemudi atau pun penumpang bisa keluar, melalui bagian atas mobil yang telah terbuka. Akhirnya kakang terlempar sejauh ratusan meter, dan beruntungnya kakang terjatuh di atas semak-semak yang sangat rimbun. Sehingga kakang hanya mengalami cedera di bagian kaki saja. Kakang sendiri tidak tahu berapa lama kakang tak sadarkan diri. Yang kakang tahu, begitu kakang sadar, ternyata kakang sudah berada di sebuah kamar kontrakan milik orang yang menemukan kakang."
"Masya Allah, kakang....! Terus setelah kakang sadar, kakang pasti hilang ingatan kan ? Karena itu kakang tidak segera pulang ? Lalu, bagaimana caranya kakang bisa mengembalikan ingatan kakang ?"
DEG....
Jantung Bagas hampir copot mendengar kepolosan istrinya. Rasa bersalah kembali menyeruak di hatinya. Dia tidak hilang ingatan, tapi dia sengaja ingin melepaskan Kyara demi sahabatnya. Karena Bagas yakin jika Kyara masih mencintai mantan tunangannya.
"Sayang, jika kakang berkata jujur dan kejujuran ini bisa melukai kamu, apa kamu akan memaafkan kakang ?" tanya Bagas pelan.
"Sepahit apapun, kejujuran akan jauh lebih berharga daripada kebohongan. Katakan saja, kang !"
"Saat kakang sadar. Hal yang pertama yang kakang ingat adalah fotomu yang sedang memeluk Ajay."
Kyara mengernyitkan dahinya. "Fotoku ? Tapi di mana ? Kapan aku memeluk Ajay ? Aku...aku merasa ti.. tidak pernah melakukan itu ?"
"Aku tahu ! Tante Diana mengirimkan sebuah foto saat kamu menemui Ajay di rumah sakit jiwa. Aku tahu, mungkin saat itu kamu hanya ingin menenangkan Ajay. Tapi karena hatiku dikuasai rasa cemburu, maka hanya amarah dan kekecewaan yang aku rasakan. Saat itu aku berpikir jika kau masih mencintai Ajay. Karena itu, aku memutuskan untuk memulai kehidupan baruku dan merelakanmu untuk bisa kembali kepada Ajay. Saat orang yang menolongku bertanya tentang siapa aku. Aku pun hanya mengatakan jika namaku adalah Adi, dan selebihnya, aku pun tidak tahu siapa aku sebenarnya. Karena itu dia menganggapku hilang ingatan. Sejak saat itu, dia mengangkat kakang sebagai adiknya."
"Kenapa kakang tega sekali melakukan ini pada Kya ? Apa kesalahan Kya sangat fatal, hingga kakang menghukum Kya hidup sendirian selama berbulan-bulan ? Apa kakang tahu, jika saja waktu itu Kya tidak mengandung, mungkin Kya sudah bunuh diri, kang ? Kya tidak sanggup kehilangan kakang...! Tapi syukurlah, kehadiran Elang di rahim Kya, membuat Kyara berusaha untuk tetap menjadi orang waras. Kya...,hiks.. Kya....hu...hu..."
Kyara tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Ada rasa sakit di dadanya karena keraguan yang dimiliki suaminya terhadap dirinya.
"Sayang..., aku tahu aku bodoh...! Aku sempat meragukan perasaanmu, aku mohon maafkan aku...!" ujar Bagas seraya meraih Kyara ke dalam dekapannya.
Kyara pun hanya bisa menangis dalam pelukan Bagas. Hatinya memang sakit, tapi akan lebih sakit lagi jika dia benar-benar kehilangan suaminya. Setelah merasa puas menumpahkan kesedihannya, Kyara pun melepaskan pelukannya. Dia menatap tajam ke arah suaminya.
"Lalu, apa yang membuat kakang memutuskan untuk kembali ?" tanya Kyara dingin.
"Orang yang menolong kakang, dia melihat berita tentang kakang. Dia mengetahui jati diri kakang. Setelah itu dia mengajak kakang untuk menemui keluarga kakang. Tapi kakang menolaknya. Penolakan kakang akhirnya membuat dia sadar jika selama ini kakang hanya berpura-pura hilang ingatan. Saat dia menanyakan alasan kakang yang tidak ingin kembali, kakang pun terpaksa menceritakan semuanya. Tapi semuanya di luar dugaan, ternyata dia malah memukuli kakang habis-habisan. Kalau saja kakak ipar tidak mencegahnya, mungkin kakang pulang hanya tinggal nama saja ?"
"Kakak ipar ? Jadi orang yang menolong kakang, sepasang suami istri ? Wajar dia memukulmu, kau memang pantas dipukuli !" ujar Kyara mengerucutkan bibirnya.
"Kau tahu, sayang ! Mungkin itu hukuman dari seorang kakak karena kakang telah membuat adiknya menderita." jawab Bagas, terkenang akan Jaka yang telah mengakui perasaannya terhadap Kyara kepada Bagas.
"Apa kau mengenal kak Jaka ?" lanjut Bagas.
"Jaka ? Jaka siapa ? Satu-satunya nama Jaka yang aku kenal, dia adalah kang Jaka. Teman masa kecilku saat di kampung dulu."
"Iya, Dia Jaka teman masa kecilmu. Dia menghajarku karena dia tidak terima dengan sikapku yang telah menyia-nyiakan dirimu. Dia bahkan mengakui jika dia dulu mencintaimu. Dia lah yang membuat kakang menyadari kesalahan kakang. Dia lah yang membuat kakang sadar, jika kemanapun kakang bersembunyi, kakang tidak akan pernah mampu melepaskan bayanganmu. Kakang mencintaimu, Kya ! Kakang tidak mau kehilangan kamu ! Terlebih lagi saat kakang tahu jika kamu tengah mengandung anak kita, kakang benar-benar menyesal telah meninggalkanmu ! Maafkan kakang, Kya ! Maaf !"
"Jadi, kang Jaka adalah orang yang menolong kakang ?" tanya Kyara.
Bagas mengangguk.
"Apa kakang tahu nomor kontak kang Jaka ?" tanya Kyara lagi.
"Ya, kakang masih mengingatnya. Apa kau ingin menghubungi dia ?"
"Ya, Kya ingin meminta dia datang kemari ?"
"Ah ya, benar ! Kakang baru ingat, dia meminta kakang untuk mengabarinya jika anak kita telah lahir. Ayo kita hubungi dia, Kya ! Kita kabari tentang kelahiran Elang. Kita akan mengirimkan tiket supaya dia bisa datang dan melihat Elang.
"Ide yang bagus ! Tapi Kya meminta dia datang untuk tujuan lain !" ujar Kyara ketus.
"Tujuan lain ? Tujuan apa, sayang !"
"Menghajar otak kosongmu, agar tidak dipenuhi pikiran buruk terhadap istrinya !" ujar Kyara ketus seraya meninggalkan Bagas karena mendengar Elang mulai merengek mencari ibunya.
"Ish..., sayang....!"
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏🤗