
Hai readers, jumpa lagi di hari Minggu ya...
Semoga cerita ini bisa menghibur hari libur readers..
Makasih ya untuk yang sudah meluangkan waktunya membaca cerita ini.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Kyara segera pergi ke kamar untuk menyimpan barang-barangnya. Setelah itu, dia pergi ke ruang bermain untuk menemui Kiki.
"Assalamualaikum...!" sapa Kyara.
Bu Nining menoleh, "Eh, nak Kya ! Syukurlah..., kamu sudah kembali, nak !" ujar bu Nining
"Iya, bu. Maaf, Kya terlalu lama mengambil cuti. Ada urusan yang harus Kya selesaikan dulu." ujar Kyara.
"Ya sudah, tidak apa-apa." jawab bu Nining.
Kyara mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Kiki, tapi tidak ada. "Kiki dimana, bu ?" tanyanya kepada bu Nining.
"Kiki tadi dibawa ke taman bermain sama nak Anti. Semenjak kamu tidak ada, dia rewel terus dan selalu menanyakan kapan kamu kembali..." kata bu Nining.
"Iya bu, tadi bu Hana juga bilang seperti itu. Ini, Kya langsung kemari untuk menemui Kiki." jawab Kyara.
"Oh, ya sudah..., kamu temui saja di taman bermain, nak ! Dia pasti senang lihat kamu sudah kembali.." ujar bu Nining.
"Baik bu. Kalau begitu, Kya ke taman bermain dulu, bu ! Assalamualaikum..!" pamit Kyara.
"Waalaikumsalam.." jawab bu Nining.
Tiba di taman bermain, Kyara melihat Kiki sedang bermain perosotan sendirian. Astaghfirullah..., mbak Anti kemana..? Kenapa dia membiarkan Kiki bermain sendiri...? Ish.., kalau jatuh, gimana...? Bahaya kan...? Eh...
"Awas...!!" teriak Kyara.
Bugh...
Kiki hendak menaiki tangga perosotan saat Kyara tiba di taman bermain. Namun, karena pegangan tangannya tidak seimbang, akhirnya Kiki terjengkang dan jatuh ke belakang. Kepalanya membentur tanah.
Kyara segera menghampiri Kiki, "Innalilahi... Ki, kamu nggak apa-apa, sayang...?" tanya Kyara.
"Hu...hu...hu..., caakiit..." tangis Kiki.
Kyara segera menggendong Kiki. Sadar yang menggendongnya adalah orang yang dirindukannya, Kiki pun semakin keras menangis.
"Hu...hu...buna jahat..! Buna tinggalin Titi...hiks... hiks..., Titi cedih...hiks..., buna jahat... Titi cendilian...hu..hu.." tangis Kiki semakin menjadi-jadi.
Entah kenapa, hati Kyara sangat pedih mendengar ratapan Kiki.
__ADS_1
"Maafkan bunda sayang...! Ssst..., Kiki tenanglah...! Bunda tidak akan meninggalkan Kiki lagi !" ujar Kyara seraya menyeka air mata Kiki.
"Benalkah...? Buna nggak mau pelgi lagi ?" tanya Kiki.
Kyara mengangguk, "Benar sayang, bunda akan selalu jagain Kiki." jawab Kyara.
"Hole... Titi puna buna lagi...hole..." teriak Kiki.
Kyara tersenyum bahagia melihat tingkah Kiki. "Oh iya Ki, kenapa main sendiri ? Bahaya loh, nak..!" ujar Kyara.
"Titi nggak cendili buna. Titi ditemani cama tata Anti." jawab Kiki.
"Sekarang, kak Anti nya dimana ?" tanya Kyara.
"Tuh..!" jawab Kiki, telunjuk mungilnya menunjuk ke arah Anti yang sedang duduk melamun di sebuah bangku di bawah pohon beringin.
Kyara menghampiri Anti, "Mbak An...! Kenapa mbak membiarkan Kiki bermain seorang diri di perosotan ? Kasihan..., dia baru saja terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangannya." kata Kyara.
Anti menoleh, dia menatap tajam ke arah Kyara. Anti bangkit, berdiri kemudian berjalan ke arah Kyara. Lalu..
Plakk...!!
Anti menampar pipi Kyara.
"Mbak..! Ke... kenapa mbak tampar saya ?" tanya Kyara, kaget. Sedangkan Kiki yang berada dalam gendongan Kyara, semakin keras menangis.
"Ren...!" Kyara memanggil salah seorang anak panti yang sudah agak besar.
Rendi, bocah laki-laki berusia sekitar 11 tahun kebetulan lewat di depan Kyara. Dia pun menghampiri Kyara, "Ada apa, kak ?" tanyanya.
"Tolong bawa Kiki ke ruang bermain dulu, ya !" pinta Kyara kepada Rendi. "Kiki ikut kak Rendi dulu, ya ! Nanti bunda nyusul Kiki ke ruang bermain." ujar Kyara.
Kiki pun mengangguk.
"Ada apa ini, kak ?" tanya Kyara kepada Anti begitu Rendi dan Kiki pergi.
"Semua ini gara-gara kamu !" teriak Anti penuh emosi. Sorot matanya mengungkapkan kebencian yang teramat dalam kepada Kyara.
Kyara semakin tak mengerti, "Mbak Anti kenapa ?" tanya Kyara lagi.
Anti lebih mendekati Kyara. Kedua tangannya mencengkram bahu Kyara, kemudian dia mengguncang-guncangkan tubuh Kyara.
"Kenapa Kya ? Kenapa kamu menyakitinya ? Kenapa ? Padahal kamu tahu bagaimana perasaannya !" teriak Anti penuh amarah, kebencian dan kekecewaan.
"A... apa maksud mbak ? Menyakiti siapa ?" tanya Kyara berusaha melepaskan cengkraman tangan Anti di kedua bahunya.
Anti mendorong tubuh Kyara hingga Kyara mundur beberapa langkah untuk menjaga keseimbangan. Sejenak dia menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya dengan kasar.
__ADS_1
"Kang Jaka ! Kenapa kamu tega menyakiti perasaan kang Jaka ? Kenapa kamu tega menolaknya ?" ujar Anti penuh penekanan.
Deg....!
Jantung Kyara berpacu cepat, "Jadi, mbak Anti tahu ?" tanya Kyara, lirih.
Dengan langkah gontai, Anti kembali ke bangku yang berada di bawah pohon beringin. Dia pun kembali duduk. Kyara mengikutinya dari belakang. Dia pun duduk berdampingan dengan Anti.
"Maafkan Kya, mbak ? Kya..., kya.. tidak bermaksud menyakiti perasaan mbak !" ujar Kyara, pelan.
"Kenapa kamu tolak lamaran kang Jaka ? Apa kamu menolaknya karena aku ?" tanya Anti.
Kyara diam.
"Jadi benar, kamu menolaknya karena aku ?" ujar Anti. "Kenapa Kya ? Apa kamu pikir, aku wanita yang lemah, sehingga pantas kamu kasihani ? Apa kamu pikir, aku akan terpuruk jika melihat kang Jaka bersamamu ? Apa kamu pikir...."
"Bukan, mbak...! Bukan seperti itu..! Aku menolaknya bukan karena mbak, tapi karena orang lain." jawab Kyara, memotong kalimat Anti.
Anti tersenyum sinis, "Apa orang itu, adalah tunanganmu ? Yang bahkan di hari pertunangan kalian pun, dia tidak datang !" lanjut Anti.
Deg...!
untuk yang kedua kalinya jantung Kyara berpacu lebih cepat lagi. Kenapa berita ini bisa sampai ke Anti ? batin Kyara.
"Terserah..! Aku tidak peduli dengan pemikiran mbak Anti kepadaku ! Tapi yang jelas, aku tegaskan sekali lagi, aku menolak kang Jaka karena aku tidak pernah mencintainya !" tegas Kyara.
Anti kembali menghela napasnya, "Harusnya kamu bisa mencintainya Kya, supaya dia tidak pernah pergi. Seandainya kamu tidak egois dan bisa sedikit saja mencintainya, dia pasti tidak akan pergi ke Kalimantan. Dan aku..., aku masih bisa melihatnya dari jauh. Aku akan merelakan dia hidup bahagia denganmu, asalkan aku masih bisa melihatnya...hiks...hiks..." Anti mulai terisak, air matanya mulai mengalir di pipinya. Ada banyak kesedihan yang terlihat di matanya.
Kyara menggenggam tangan Anti, "Aku mohon, jangan seperti ini, mbak ! Bagaimana mungkin aku bisa bahagia di atas penderitaan orang lain ? Dan bagaimana mungkin aku bisa berpura-pura mencintai kang Jaka ?"
"Tapi..., se... setidaknya.. dia.. dia tidak akan pergi, Kya..!" ujar Anti.
Kyara memeluk Anti. "Sudahlah mbak..! Ikhlaskan dia pergi, bukankah mbak pernah bilang, jika kalian berjodoh, Tuhan pasti akan memberikan kemudahan untuk kalian bersatu. Ku mohon mbak, jangan seperti ini..!"
Anti semakin larut dalam kesedihannya. Tubuhnya semakin berguncang.
"Menangislah mbak...! Jangan pernah ditahan lagi semua kesedihanmu, mbak...!" ujar Kyara, mendekap erat tubuh Anti.
Anti pun semakin terisak dalam pelukan Kyara.
Bersambung...
Terima kasih yang sudah like vote n komen novel ini..
Jangan pernah bosan untuk selalu mendukung cerita ini ya...
Hatur nuhun...πππ
__ADS_1