
Matahari mulai beranjak semakin tinggi. Gunawan segera mengajak istrinya untuk kembali ke hotel. Arumi sudah terlihat kelelahan. Matanya pun sudah sangat mengantuk.
Tiba di hotel, kak Indah segera membersihkan Arumi. Setelah itu, dia menyusuinya hingga terlelap.
Melihat anaknya tengah tertidur, Gunawan mendekati istrinya. Dia membisikkan sesuatu di telinga istrinya. Setelah mendapatkan persetujuan dari istrinya, Gunawan segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
Kegiatan saling memandikan pun berakhir panas...
***
Bagas dan kedua adiknya terlihat sangat kelelahan dengan kegiatan bersenang-senang mereka.
"Kita pesan es kelapa muda dulu ya, sebelum kembali ke hotel !" ujar Bagas.
"Wah, mantap tuh bang.. !" sambut Wawan.
"Ya udah, siapa yang mau beli nih.. ?" tanya Bagas kembali.
"Biar Agus aja bang ! Sekalian mau ke WC, kebelet pipis !" ujar Agus.
"Kenapa tadi gak pipis di Banana boat aja, Gus ?" gurau Wawan menjahili Agus.
"Ish bang Wawan...! Jorok !!" dengus Agus kesal.
"Ya sudah..., cepetan pesan gih....!! Abang haus banget !" perintah Bagas.
Agus pun segera pergi memesan es kelapa muda. Setelah itu dia lari terbirit-birit karena sudah tidak tahan ingin segera pergi ke kamar mandi.
Brakkk....!!
Karena terburu-buru Agus tanpa sengaja menabrak seorang penjual asongan.
"Aduh..., maaf mbak...! Saya nggak sengaja !" ujar Agus masih memegangi celana di bagian area sensitifnya.
"Tidak apa-apa, mas !"
Gadis itu menjawab sambil menunduk karena memunguti barang dagangannya yang jatuh berserakan.
Suara itu....!!
Agus mencoba memperhatikan wajah gadis pedagang asongan yang tertutupi rambut sebahunya. Tapi karena rasa kebeletnya yang semakin menjadi, membuat Agus segera menepis dugaannya.
Aish...., tidak mungkin dia kak Kya...! Sudah jelas-jelas rambutnya berbeda. Hanya suaranya saja yang hampir mirip...! Ish...., gue mesti cepet-cepet ke WC nih...!!
"Maaf mbak, saya nggak bisa bantuin sekarang. Saya kebelet mau ke kamar mandi, tapi saya janji, begitu balik dari kamar mandi, saya akan balik buat bantuin mbak !"
"Iya mas.., nggak apa-apa !"
Gadis pedagang asongan itu menjawab tanpa melihat Agus. Akhirnya Agus hanya membungkukkan badannya dan segera pergi ke kamar mandi.
15 menit kemudian, Agus telah keluar dari kamar mandi. Saat dia kembali ke tempat dia menabrak penjual asongan tadi, di sana sudah tidak terlihat gadis itu lagi.
"Ah, mungkin dia sudah pergi. Ya sudahlah...!" guman Agus.
Agus pun kembali menuju tempat duduk dan ikut bergabung bersama kedua abangnya.
"Bentar lagi dzuhur, balik hotel yuk ! Kita rehat dulu sebelum pulang !" ujar Bagas.
"Emang, kapan kita pulang bang ?" tanya Wawan.
"Kak Indah bilang sih, nanti sore. Soalnya besok kak Gun harus segera ke Solo, untuk mengevaluasi anak perusahaannya yang ada di sana." jawab Bagas.
__ADS_1
"Oh, gitu ya..! Ya udah, yuk kita balik ke hotel, yuk !" ajak Agus.
Mereka pun berjalan beriringan sambil mengobrol kecil dan terkadang tertawa suka cita di kala topik yang mereka bicarakan dianggap menarik.
Tiba di hotel, Bagas, Wawan dan Agus segera membersihkan dirinya. Setelah melaksanakan salat dzuhurnya, mereka pun turun ke restoran hotel untuk makan siang.
"Kak Indah mana, bang ?" tanya Wawan.
"Tadi sih bilangnya udah di resto...! Kita cari aja yuk..!" ajak Bagas.
Saat mereka memasuki restoran, kak Indah melambaikan tangannya dan berteriak kecil memanggil Bagas.
"Hai...., Gas...! Sini...!"
Bagas, Wawan dan Agus segera berlari kecil menghampiri meja kak Indah di sudut kanan.
"Hallo...., baby Alum, keponakan uncle...!" ujar Bagas cadel seraya mengambil baby Arum dari gendongan kakaknya.
Baby Arum terlihat senang melihat Bagas.
"Na...na...na..." celoteh baby Arum seraya menggapai wajah tampan Bagas.
Tiba-tiba netra Bagas menatap sesuatu yang menurutnya menarik di tangan keponakannya.
"Eh..., apaan nih...? Wah..., baby Alum punya gelang yaa..! Bagus banget gelangnya...!" ujar Bagas dengan mimik wajah yang semakin membuat baby Arum tergelak melihatnya.
"Na...na...na...!" celoteh Arumi.
"Iya donk...! Kalungnya juga ada..! Gimana uncle, Alum cantik kan...!!" gurau kak Indah seraya memperlihatkan kalung yang dipakai anaknya.
"Waaahhh...! Baby alum tambah cantik ya, pakai perhiasan manik-manik...!"
"Pastinya...! Tuh lihat..., umi juga cantik kan pakai cincin ini...!" tunjuk kak Indah dengan gaya absurd nya.
Gunawan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku istrinya yang sedang memamerkan cincin giok yang tadi pagi dibelinya.
"Dih..., kak Indah apaan sih...! Kayak AbG aja, pakai gituan..!" gerutu Bagas mengejek kakaknya.
"Eits..., jangan salah ! Mas Gun juga pakai, iya kan mas ?" tanya Indah pada suaminya.
Gunawan mengangguk, membenarkan perkataan istrinya.
"Alaah..., itu karena kak Indah yang maksa kak Gunawan buat pakai gituan ! Bagas yakin, dalam hatinya, kak Gun pasti nolak tuh buat pakai cincin mainan.
"Sembarangan...! Ini bukan cincin mainan ya...? Ini cincin giok. Dan mas Gun sendiri yang mau memakai cincin itu. Bahkan dia juga menyarankan kakak untuk membeli lagi sepasang, buat kamu...!!"
"Idih..., apaan sih kak...?? Norak banget..! Hei, baby Alum, uncle balu tau kalo umi nya baby Alum, nolak banget ya..!!" ujar Bagas semakin dicadel-cadelin bicaranya.
Mendengar Bagas yang berbicara dengan suara lucu, baby Arum semakin tergelak. Seolah sedang menertawakan ibunya.
"Haiss..., kamu ini ! Ini ambil...! Sengaja kakak belikan buat kamu sama pacar kamu !" dengus kak Indah kesal.
"Pacar ?" ulang Bagas dengan keheranan.
"Iya pacar ! Kemarin, mas Gun lihat kamu tertawa sendiri waktu gendong Arumi di mobil. Jadi mas Gun pikir, kamu pasti sedang jatuh cinta, makanya dia sengaja beli itu buat kamu !"
"Apa hubungannya ? Lagian, siapa yang punya pacar !" sanggah Bagas.
"Bodo ah...! Simpan saja, nanti jika sudah ada ceweknya, kamu langsung berikan saja ! Soalnya gadis itu bilang, eh siapa namanya mas...??"
"Emh..., siapa ya..., tadi aku dengar sih, A... Aneng ya, Khumaira...!" ujar Gunawan sambil mengernyitkan dahinya mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Ah iya, mas benar, Aneng...! Tadi Aneng bilang, katanya cincin giok putih itu melambangkan cinta, ketulusan dan kesetiaan. Satu lagi, tidak sembarang orang yang bisa menerima ataupun memberikan cincin giok putih ini. Karena cincin ini biasanya hanya akan dipersembahkan kepada pasangan yang sudah terikat pernikahan atau yang akan mengikat sebuah hubungan yang serius. Gitu katanya, Gas...!"
Deg... deg...deg...
Jantung Bagas tiba-tiba berdegup kencang. Bukan karena cincin itu yang menjadi alasan Bagas untuk fokus mendengarkan kakaknya berbicara, namun ada satu kata yang menarik perhatiannya.
"Aneng...!!" gumam Bagas.
Aku rasanya seperti pernah mendengar nama itu, tapi di mana...? Aneng...., Aneng...! Ah... mang Tatang...! Aku ingat, saat aku menanyakan Kyara putrinya pak Ahmad, mang Tatang langsung berkata, Aneng...! Ya Aneng...! Jangan-jangan..., Aneng yang dibicarakan kakak, adalah Aneng yang sama...! Ya mungkin saja...!"
"Di mana kakak bertemu gadis itu ?" tanya Bagas, gusar.
"Gadis mana ?" kak Indah merasa heran dengan pertanyaan adiknya.
"Aneng...! Di mana kakak bertemu Aneng ?" Bagas bertanya dengan nada yang semakin cepat.
"Oh gadis penjual manik-manik itu ? Memangnya kamu kenal dia ?"
"Ish..., kakak cukup jawab saja..!"
"Tadi sih di tepi pantai. Tempat kalian bermain Banana boat. Tapi waktu kakak sudah membayar cincinnya, gadis itu langsung pergi."
"Pergi ke mana ?"
"Mana kakak tahu, tiba-tiba saja, seorang ibu paruh baya memanggilnya dan mengajaknya ke...." kak Indah tampak berpikir.
"Emh...., kalau tidak salah, ibu itu bilang ki...kios...! Ah, ya benar, dia mengajaknya kembali ke kios karena hari sudah semakin siang."
"Kios mana ?"
"Ish, Gas...! Kakak nggak tahu, mungkin saja kios tempat berjualan pernak pernik. Gadis itu kan menjual perhiasan dari manik-manik.
Bagas segera mengembalikan Arumi ke pangkuan kakaknya. Dengan cepat, dia menyambar cincin giok yang berada di tangan kakaknya. Dia pun berlari ke luar restoran.
"Permisi...! Di mana kios yang menjual pernak-pernik ?"
Bagas bertanya pada orang yang tengah menjajakan ikan asin di bakulnya.
"Oh, akang dari sini, terus lurus, nanti akang bertemu pertigaan. Setelah itu akang belok kanan, di sana nanti ada papan bertuliskan "Pasar wisata". ujar seorang wanita paruh baya penjual ikan asin tersebut.
"Baiklah, terima kasih bu...!"
Bagas terus berlari menuju tempat yang telah ditunjukkan ibu penjual ikan asin tadi. Dalam waktu 15 menit, Bagas tiba di pasar wisata. Dia berlari kecil menyusuri jalan setapak yang di sisi kanan kirinya berjejer kios-kios pernak-pernik.
Netra Bagas terus melihat ke kiri dan ke kanan, mencari sosok wanita yang bernama Aneng. Sejenak Bagas menghentikan langkahnya. Dia merasa, dia pernah berada di posisi seperti ini. Tapi kapan dan di mana ? Bagas sendiri tidak mengerti.
Kembali Bagas melangkahkan kakinya. Setelah hampir 3 putaran Bagas mengelilingi pasar wisata, akhirnya dia pun menyerah. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya.
"Permisi...! Apa anda mengenal penjual perhiasan manik-manik yang bernama Aneng ?
Brakk....!!!
Bersambung....
Mohon maaf telat banget up...
Author benar-benar sibuk mingu" ini...
Semoga para readers tidak kecewa ya..
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗
__ADS_1