Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Rencana Perjodohan


__ADS_3

Hari ini Bagas kembali ke kota J. Cuti telah berakhir, dan besok dia harus kembali bekerja. Tahun ini, dia masih belum berhasil menemukan Kyara. Dan dia pun masih belum bisa memikirkan wanita lain, sekalipun itu adalah Rachella, gadis yang sangat terobsesi dengannya.


Tiba di rumah kak Indah. Bagas mendapati seorang ibu paruh baya tengah duduk di ruang tamu. Penampilannya sangat elegan. Dilihat dari ciri-ciri fisiknya, sudah bisa dipastikan jika dia bukan keturunan orang Indonesia.


"Assalamualaikum...!" sapa Bagas.


Sang ibu paruh baya pun menoleh ke arah suara. Matanya terlihat berbinar melihat sosok Bagas.


Tampan sekali ! Persis seperti apa yang dikatakan Rachel...! batinnya.


"Ah calon mantu mommy...! Kemarilah..!" ujarnya seraya melambaikan tangannya ke arah Bagas.


Bagas hanya mampu diam terpaku mendengar ucapan wanita itu.


Calon mantu ? Siapa ?


Batin Bagas seraya melirik ke kiri dan ke kanan. Menyadari hanya dia dan ibu itu yang berada di sana, Bagas pun menunjuk ke arah dirinya sendiri.


Sang ibu mengangguk, mengiyakan isyarat Bagas.


Bagas semakin terkejut, "Maaf tante, mungkin tante salah orang ! Bagas permisi dulu !" ucapnya sambil melangkahkan kakinya menuju tangga.


"Tunggu ! Tante tidak mungkin salah orang ! Kamu persis sekali dengan apa yang telah dideskripsikan anak tante. Bukankah nama kamu Bagas ?" tanyanya.


Bagas menghentikan langkahnya, dia kembali membalikkan badannya agar bisa saling berhadapan dengan ibu paruh baya tersebut. Bagas semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan ibu itu. Tapi Bagas tidak bisa memungkiri satu fakta, bagaimana ibu paruh baya itu bisa tahu namanya ?


Tiba-tiba...


"Ah, pangeran berkuda putih sudah pulang, ya.. !"


Teriakkan seorang gadis dengan suara yang melengking memenuhi ruang tamu kak Indah. Bagas sampai menutup telinganya untuk menghindari lengkingan suara yang bisa memekakkan telinga.


"Bagaimana, mom ? He is so handsome alright ?" lanjutnya.


"Yes you're right my sweety ! You never wrong with your choice !" jawab ibu paruh baya itu.


Bagas semakin merasa pusing dengan pembicaraan mereka, sedangkan kak Indah hanya mampu tersenyum.


Kak Indah menepuk bahu Bagas.


"Masuklah ke kamarmu, kemudian mandi ! Biar kakak jelaskan semuanya nanti !"


Bagas mengangguk, dia pun segera pergi ke kamarnya. Meninggalkan Rachella dan ibu paruh baya yang saling pandang dengan senyum yang penuh arti.


30 menit berlalu. Setelah membersihkan dirinya, Bagas membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Pencariannya yang tak membuahkan hasil, membuat Bagas benar-benar merasa kelelahan. Bagas mengeluarkan kotak jam tangan itu dari laci nakas. Kembali dia menatap lekat ke arah jam tangan mungil itu


Apa benda ini akan sampai ke pemiliknya ? Apa gadis itu yang akan memiliki benda ini ? Atau akan ada gadis lain di suatu tempat yang sedang menunggu takdir untuk berjodoh denganku ? Tapi kenapa sampai detik ini aku tidak bisa melupakan bayanganmu, nona ?


Bagas kembali memejamkan matanya untuk membayangkan kebersamaan yang pernah dilaluinya bersama gadis itu.


Tok....tok...tok...!


"Boleh kakak masuk ?"

__ADS_1


Suara ketukan pintu kamarnya dan pertanyaan kak Indah membuyarkan lamunan Bagas.


"Masuk, kak !"


Ceklek...!


Pintu terbuka, kak Indah berjalan mendekati adiknya. Dia duduk di tepi kasur.


Bagas yang melihat kak Indah duduk di kasurnya, segera merubah posisinya. Dia pun duduk saling berhadapan dengan kakaknya.


"Bagaimana liburanmu ?" tanya kak Indah membuka pembicaraan.


"Baik."


Seperti biasa, Bagas selalu irit jika bicara.


"Apa kau tidak ingin tahu tentang tamunya kakak ?"


"Itu bukan urusan Bagas !"


Kak Indah menarik napasnya, berat.


"Dia adalah tante Monalisa, ibunya Rachella."


"Oh."


Hanya itu yang keluar dari mulut Bagas. Bagas memang bukan orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Dia terlihat masa bodoh dengan kehadiran tamunya kak Indah.


Kak Indah menggantungkan kalimatnya.


"Dan...??" ujar Bagas.


"Dan kedatangan dia kali ini, pasti merupakan hal yang penting bagi keluarganya."


"Bagas tidak mengerti, kak !"


"Hhhh....!"


Kembali kak Indah menghela napasnya.


"Beberapa hari yang lalu, om Danu menghubungi kakak iparmu. Awalnya dia membicarakan tentang bisnis dan pekerjaan kakak iparmu. Namun, di akhir pembicaraan, dia menanyakan secara detail tentang dirimu." lanjut kak Indah.


Bagas mengernyitkan dahinya.


"Lalu...?" tanyanya.


"Kakak cuma takut kalau kedatangan tante Monalisa hari ini, ada hubungannya dengan pertanyaan om Danu tempo hari !" jawab kak Indah.


"Pertanyaan apa ?"


"Om Danu bertanya kepada mas Gun, apakah kamu telah memiliki calon pendamping, dan saat itu mas Gun bilang, jika selama ini dia tidak pernah melihat kamu membawa seorang perempuan ke rumah. Kakak takut jika om Danu menyalahartikan jawaban mas Gun."


"Tenanglah kak, jangan berpikir terlalu jauh. Mungkin saja tantenya kak Gun datang karena memang ingin bersilaturahmi. Jangan terlalu berprasangka buruk terhadap orang lain !" jawab Bagas.

__ADS_1


Kembali kak Indah menghela napasnya. "Semoga kemungkinan yang kau bicarakan itu benar, Gas ! Karena jika dugaan kakak benar, kakak takut Gas ! Mereka orang-orang yang berwatak keras. Kakak takut jika mereka memaksakan kehendaknya."


"Tidak akan terjadi apa-apa, kak ! Percayalah sama Bagas ! Lagipula, Bagas yakin jika kak Gun tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa keluarga ini."


Kak Indah tersenyum. "Semoga saja. Ya sudah, sebentar lagi mas Gun pulang, kakak ke bawah dulu ya ! Istirahatlah !"


Setelah menyuruh adiknya beristirahat, kak Indah pun kembali ke bawah.


***


Di tempat lain, Kyara memutuskan untuk menerima tawaran temannya bu Hana. Dia mulai bekerja di kantor perlindungan hak asasi anak dan perempuan di wilayah kota T. Setiap harinya, selalu saja ada laporan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap istrinya. Hal itu membuat Kyara semakin membenci kaum Adam.


Seperti yang terjadi hari ini. Team gabung lawyer perempuan yang dipimpin oleh bu Siska, pendiri LBH tersebut tengah menangani sebuah kasus kekerasan terhadap seorang istri di depan anaknya yang berusia sekitar 7 tahun. Sehingga menyebabkan sang anak trauma atas apa yang telah dilihatnya. Ibunya menderita kelumpuhan permanen setelah mendapatkan kekerasan secara fisik di depannya.


Hal itu membuat Kyara harus bekerja ekstra untuk menyembuhkan rasa trauma di dalam diri anak itu. Terlebih lagi dia adalah seorang anak laki-laki, yang jika dibiarkan, tidak menutup kemungkinan kelak dia pun akan berbuat hal yang sama, atau sebaliknya.


Dengan berbagai cara, Kyara mulai mendekati anak itu. Dia berharap, dia bisa memberikan rasa aman dan nyaman, sehingga lambat laun anak itu bisa melupakan traumanya. Benar-benar kasus yang sangat menguras tenaga dan pikiran.


***


Makan malam sebagai jamuan untuk menyambut kedatangan tante Monalisa sedang berlangsung. Seperti biasa, tak ada yang berani berbicara saat makan malam berlangsung. Gunawan menerapkan sikap disiplin etika makan yang dianut keluarga kerajaan kepada anak istri dan adik iparnya.


Setelah makan malam berakhir, tante Monalisa meminta izin kepada Gunawan untuk membicarakan sesuatu. Gunawan pun mengajak tante Monalisa ke ruang kerjanya.


Kini mereka tengah berada di ruang kerja Gunawan.


"Baiklah, apa yang mau tante bicarakan sama Gun ?" ujarnya memulai pembicaraan.


"Begini nak Gun, kamu tahu kan bagaimana sifat sepupumu Rachella. Dia meminta daddy nya untuk menjodohkannya dengan adik iparmu. Dia sangat mencintai Bagas adik istrimu itu. Dan karena pemuda itu sudah yatim piatu, maka kami berinisiatif untuk membicarakan perjodohan ini denganmu, sebagai walinya." ujar tante Monalisa panjang lebar.


Gunawan tersenyum tipis.


Sudah kuduga ini akan terjadi ! Mereka tidak akan pernah mau berkunjung jika tidak memiliki maksud tertentu.


"Maaf tante, meskipun Gunawan adalah walinya Bagas, tapi kini Bagas telah dewasa. Dia berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, begitu juga dengan pasangannya. Gunawan tidak mau mengikat Bagas dengan sebuah perjodohan yang tidak diinginkannya. Lagipula, Gunawan sendiri tidak tahu, mungkin saja Bagas sudah punya kekasih, namun dia belum mau mengenalkannya kepada kami. Intinya, Gunawan tidak bisa mengikuti rencana tante dan om Danu untuk menjodohkan Rachella dengan Bagas !" jawab Gunawan tegas.


"Kau...!"


Tante Monalisa terlihat sangat marah melihat kenyataan jika Gunawan tidak mendukung rencananya.


"Baiklah ! Biar tante tanyakan langsung ke Bagas ! Tante yakin, Bagas mencintai anak tante. Lelaki mana yang tidak bisa menolak gadis secantik Rachella. Sudah cantik, berkelas, dan keturunan keluarga kerajaan. Tante yakin, Bagas yang hanya pemuda yatim piatu itu pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan seorang keturunan bangsawan."


Gunawan mengepalkan tangannya mendengar kesombongan tantenya. Tapi dia berusaha menahan dirinya. Gunawan kembali tersenyum.


"Silakan, Gun tidak akan menghalangi niat tante ! Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, tante bisa keluar dari ruangan ini.


"Huh...! Sombong sekali ! Awas kamu, Gun ! Akan aku adukan sikap tidak sopanmu ini kepada om mu !" ancamnya seraya membanting pintu.


Gunawan hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap tante Monalisa.


Bersambung...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2