
"Sudah siang nona, ayo kita pulang !" ajak Bagas.
Namun Kyara masih diam tak bergeming. Akhirnya Bagas pun mengalah dan ikut berjongkok. Hening...., hanya itu yang terjadi untuk beberapa menit.
"Aneng pergi dulu ya bu ! Aneng janji, besok Aneng akan kembali menjenguk ibu. Ibu yang tenang di sana ya ! Tidak usah khawatir, Aneng pasti baik-baik saja !" ujarnya seraya mengelus batu besar yang dijadikan nisan sementara.
Kyara bangkit. Entah sadar atau tidak, namun dia hanya berjalan melewati Bagas tanpa mengajaknya pulang. Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Kyara.
Bagas masih setia mengekori Kyara di belakang. Dia takut jika Kyara akan kembali limbung dan hendak jatuh. Namun sepertinya Kyara sudah cukup kuat untuk berjalan. Itu terbukti jika Kyara tiba di rumah dengan selamat.
Di rumah Kyara, masih banyak tamu yang berdatangan. Melihat Kyara, tamu-tamu itu langsung menyalaminya dan mengucapkan belasungkawa.
"Yang sabar ya neng, Insyaallah ibumu akan mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Gusti Allah." ucap tamu yang ternyata teman ibunya di pasar wisata.
"Insyaallah, bu. Aamiin !" ucap Kyara
Sebisa mungkin Kyara menemani tamu-tamu yang datang silih berganti. Namun karena rasa perih di lambung menyerangnya, akhirnya Kyara pamit undur diri.
Bagas memperhatikan Kyara yang memegang ulu hatinya. Karena merasa cemas, dia pun ikut pamit undur diri dari hadapan tamu-tamu itu. Setelah itu, dia mengikuti istrinya ke kamarnya.
Tok... tok... tok...
Bagas mengetuk pintu kamar. Namun Aneng tidak menjawabnya.
Tok... tok... tok...
Kembali Bagas mengetuk pintu, bukannya jawaban yang dia dapatkan, tetapi malah suara rintihan yang terdengar dari dalam. Pikiran buruk pun mulai menyerang Bagas.
Bagas segera membuka pintu kamar. Dia melihat Kyara tidur meringkuk seperti anak kecil sambil memegangi perutnya.
"Ishh...." rintih Kyara.
"Ada apa nona ? Apa yang terjadi denganmu ?" tanya Bagas cemas.
"Aaahhh....issshh....!"
Bukannya menjawab, Kyara malah terus meringis. Tiba-tiba Mia datang ke kamar Kyara.
"Teteh kenapa a ?" tanya Mia yang melihat kakak sepupunya meringis kesakitan.
"Aku tidak tahu ?" jawab Bagas.
Mia segera berlari keluar.
"Mah...! Maaahhh...!" teriak Mia.
Bi Irah datang dari arah dapur.
"Kamu teh kunaon atuh Mia ? Teriak-teriak gitu, kayak di hutan aja !" ujar bi Irah pada anaknya.
"Itu mah, teh Aneng sakit perutnya.. !" ujar Mia.
"Aah, pasti maag na kambuh. Sok atuh ambil obatna dina laci. Mamah ke dapur dulu mau ngambil makanan buat teh Aneng !" perintah bi Irah.
"Muhun, mah...!"
Mia pergi ke rumahnya untuk mengambil obat maag milik ibunya. Sementara itu, bi Irah pergi ke dapur untuk membuat makanan. Tak lama kemudian, Bagas tiba di dapur.
__ADS_1
"Ada jahe bi ?" tanya Bagas.
"Buat apa cep ?" bi Irah malah balik bertanya.
"Ini, mau bikin teh jahe buat Kyara."
"Sini, biar bibi yang buatkan. Kamu ke kamar saja, suapi istrimu ! Sepertinya maag nya kambuh. Mungkin karena telat makan."
Astaghfirullah..., aku baru ingat bahwa kami memang belum makan sejak semalam..., ah bodoh kamu Gas !
Bagas merutuki dirinya dalam hati karena tidak menyadari jika dari semalam Kyara belum menyentuh makanan apa pun. Bagas meraih makanan dan segelas air minum yang disodorkan bi Irah, kemudian dia kembali ke kamarnya.
Tiba di kamar Bagas mendapati Mia yang sedang duduk di tepi ranjang sambil membujuk Kyara.
"Sok atuh dimakan obatnya teh, biar cepet sembuh !" ujar Mia sambil menyerahkan sebutir obat tablet ke arah Kyara.
"Ishh dek, tapi kan nggak enak obatnya !" bagai anak kecil, Kyara menolak untuk meminum obat.
Bagas terkejut ketika menyadari sikap istrinya yang merengek karena tidak mau minum obat.
"Ih teteh, ini mah kecil atuh..., sok dimakan, da nggak pahit !" bujuk Mia.
"Biar aku saja !" tiba-tiba Bagas menengahi percakapan mereka.
Kyara dan Mia menoleh berbarengan. Mia sangat senang karena merasa tertolong dari situasi yang menyulitkan untuk membujuk kakak sepupunya minum obat. Lain lagi dengan Kyara, yang spontan mengerucutkan bibirnya karena tidak suka dengan sikap Bagas.
Bagas tersenyum kecil melihat ekspresi istrinya. Dia segera meletakkan piring dan gelas yang dibawanya di atas nakas. Kemudian dia meraih obat yang Mia sodorkan.
"Tolong ambilkan piring kecil dan sendok ya, dek !" ujar Bagas.
"Terima kasih, adik kecil !" ujar Bagas seraya mengusap lembut rambut Mia.
Bagas meletakkan piring kecil itu di atas kasur, kemudian dia menaruh obat Kyara di dalam piring kecil itu. Dengan menggunakan sendok, Bagas menekan obat itu hingga hancur menjadi serbuk. Setelah itu dia menaruh obat tersebut di sendok, kemudian memberikan sedikit air, agar Kyara tidak kesulitan untuk menelan serbuknya.
"Aaa....!" ujar Bagas seraya menyodorkan sendok yang berisi cairan obat itu dekat ke bibir Kyara.
Kyara hanya diam sambil merapatkan bibirnya.
"Kya..., jangan seperti anak kecil. Ayo buka mulutnya ?" bujuk Bagas.
"Tapi itu kan pahit, aku tidak suka. Caramu itu malah membuat obatnya semakin terasa pahit !" bentak Kyara.
"Hei..., sejak kapan ada obat maag pahit ? Sudah jangan terlalu banyak alasan, buku mulutnya atau aku cium sekarang juga di depan Mia !" ancam Bagas.
Seketika mulut Kyara terbuka begitu mendengar kata cium keluar dari bibir Bagas.
"Emmpphh...., huupph...!"
Kyara menutup mulutnya karena merasa tak nyaman dengan obat yang baru saja masuk ke mulutnya.
Bagas segera memberinya minum, agar Kyara tidak memuntahkan obatnya. Setelah itu dia mengambil makanan yang tadi dia letakkan.
"Sekarang kamu makan ya ? Dari semalam kamu belum makan apa-apa. Pantas saja jika penyakitmu kambuh."
"Aku tidak lapar !" tolak Kyara.
"Mungkin kau tidak lapar, tapi tubuhmu butuh nutrisi. Atau bagaimana kalau aku panggilkan dokter saja. Biar dia memberikan cairan infus padamu. Jadi, meskipun kamu tidak makan, kamu tetap akan mendapatkan nutrisi dari cairan infus itu. Aku pintar kan ?" ujar Bagas seraya mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
"Kau mau apa ?" tanya Kyara ketus.
"Menghubungi dokter Imron untuk meminta salah satu perawat dari rumah sakitnya agar memasang selang infus padamu." jawab Bagas santai.
"Kau...!!"
Kyara mulai berteriak kesal. Dengan cepat, dia mengambil piring yang berisi makanan itu dari atas ranjangnya. Dia pun mulai memasukkan makanannya sesendok demi sesendok ke mulutnya.
Bagas hanya tersenyum kecil melihat tingkah Kyara. Sekarang dia sudah tahu kelemahan Kyara. Hanya dengan gertakan saja, Kyara mau menurut.
Tok... tok...tok ..
Seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Masuklah !" ujar Bagas.
Ceklek !
Pintu terbuka, mang Jajang mendekat ke arah Kyara dengan raut wajah yang sulit digambarkan.
"Maag mu kambuh lagi, neng ?" tanya mang Jajang.
Kyara mengangguk.
"Sekarang masih sakit ?"
"Sudah mendingan mang. Mamang tidak usah khawatir begitu !"
"Syukurlah kalau begitu. Nak Bagas, boleh mamang minta tolong ?" tanya mang Jajang pada Bagas.
"Tentu saja mang, ada apa ?" Bagas balik bertanya.
"Tolong temani Mia untuk mengambil barang-barang di pasar, buat acara tahlilan hari pertama. Kebetulan motor mamang sedang dibawa sama Marwan, anak laki-laki mamang." ujar mang Jajang.
"Oh tentu saja mang, kapan berangkatnya nih adik kecil ?" tanya Bagas kepada Mia
"Terserah aa saja !" ucap Mia yang merasa gembira karena memiliki kesempatan untuk naik mobil mewah milik kakak iparnya.
"Nanti sehabis kak Kya makan aja ya ?" ujar Bagas.
Kyara mengernyitkan dahinya.
"Kenapa harus menungguku, aku kan tidak ikut dengan kalian." ujar kyara masih terkesan judes.
"Ah nona, siapa juga yang mau mengajak nona ! Bukankah kamu sedang sakit ? Aku hanya ingin memastikan kau menghabiskan makananmu. Setelah itu baru aku pergi." jawab Bagas.
"Kau....!!"
Kyara tak mampu lagi berkata-kata. Rasa sakit yang belum mereda di ulu hatinya, memaksa dia untuk melanjutkan makannya dengan mata yang menatap horor ke arah Bagas.
Bersambung....
Mohon maaf author telat up. Kemarin author fokus dulu membuat karya ilmiah.
Insyaallah, ke depannya author coba up tiap hari lagi.
Makasih untuk yang selalu mendukung karya in
__ADS_1