
"APA....!"
Teriak Kyara dan Bagas berbarengan. Mereka kemudian saling pandang. Kyara menatap sinis ke arah Bagas. Sedangkan Bagas yang mendapat tatapan horor, hanya bisa menggedikkan bahunya.
"Iya nak...! Malam ini ibu ingin kalian menikah di sini. Mau kan ?" pinta bu Ratna.
"Baiklah, Aneng akan turuti permintaan ibu. Aneng akan menikah, tapi nanti ya bu ! Sekarang ibu fokus dulu sama kesehatan ibu. Supaya ibu bisa menyaksikan pernikahan Aneng nanti."
"Kenapa harus nanti, neng ? Jika kamu ingin ibu melihatmu menikah, kamu harus menikah malam ini juga. Supaya ibu bisa menyaksikannya." bu Ratna tetap keukeh pada pendiriannya.
"Tapi tidak harus dengan kak Bagas juga bu. Dia...."
"Dia kenapa, neng ? Apa kau tidak mencintainya ?"
"Ah, ibu... sudahlah...! Ibu lebih tahu kan alasan Aneng."
"Nak Bagas sangat baik neng, ibu percaya dia bisa menerima mu apa adanya.
"Ibu....!" rengek Kyara.
"Maaf ibu, sebentar ! Boleh saya bicara berdua dengan Kyara ?" pinta Bagas.
Bu Ratna mengangguk lemah.
Bagas pun mengajak Kyara ke sudut kamar untuk berdiskusi.
"Sudahlah Kya, kita turuti saja permintaan ibumu !" ujar Bagas setengah berbisik di telinga Kyara.
Kyara membulatkan matanya sempurna. Konyol...! Benar-benar permintaan yang konyol.
Melihat ekspresi Kyara, Bagas pun mengerti.
"Dengar, aku punya rencana yang bagus. Kita turuti kemauan ibumu. Lalu setelah kita menikah, kita boyong ibumu ke kota J untuk diberikan perawatan yang terbaik. Aku yakin jika kita sudah menikah, ibu pasti tidak akan menolak untuk diobati di sana." usul Kyara.
"Aku akan membujuk ibu untuk mau pergi ke kota J. Tapi tidak dengan cara seperti itu !" ujar Kyara masih ketus.
"Apa kau memang tidak pernah mencintaiku ?" tanya Bagas lirih.
"Kak Bagas....??"
Ah, akhirnya panggilan yang selama ini Bagas rindukan, terucap juga dari bibir mungil itu.
Bagas lebih mendekat ke arah Kyara. Dia mencondongkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga Kyara.
"Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku. Tapi kita juga tidak boleh mengabaikan perasaan ibumu. Mungkin hanya dengan melihatmu menikah, itu akan menjadi obat bagi ibumu. Satu yang dia harapkan, ada orang yang bisa menjagamu saat dia harus pergi nanti. Setidaknya itu yang beliau katakan padaku tadi. Dengar Kya, aku akan selalu menjagamu walau kita tidak terikat pernikahan. Sekarang, katakan ! Lelaki mana yang kau cintai ? Aku akan segera membawanya kemari, supaya ibu bisa melihat putri satu-satunya menikah dan hidup bahagia."
Perkataan Bagas di telinganya semakin mengiris hati Kyara. Air mata sudah tidak bisa dibendungnya lagi. Tanpa sadar dia pun menyandarkan kepalanya di dada bidangnya Bagas. Kyara menggelengkan kepalanya lemah.
"A...aku tidak ingin me... menikah kak..! A...ku tidak mau menjadi beban bagi siapa pun...! Aku hanya ingin hidup sendiri...! Aku benci pernikahan kak...! Aku...aku tidak mau menikah...!" ucap Kyara lemah.
Ah nona..., sudah enam tahun ! Tapi kau masih tidak bisa melupakan semua kejadian pahit itu...! Hiduplah bersamaku, dan aku akan berusaha untuk menghilangkan trauma mu terhadap cinta..
"Sst, sudahlah ! Kita tidak perlu menikah ! Kita tolak saja permintaan ibumu. Supaya beliau tidak berharap lebih pada hubungan kita." ujar Bagas tegas.
Kyara mendongak, dia menatap tajam ke arah Bagas.
"Ish kau ini ! Apa kau mau membunuh ibuku !" bisik Kyara
"Terus, apa kita punya cara lain ?" tanya Bagas polos.
__ADS_1
"Baiklah ! Kita akan turuti permintaan ibu. Tapi kau jangan berharap lebih ! Aku sudah tidak memiliki cinta untuk lelaki manapun, dan jangan pernah memintaku untuk mencintaimu. Mengerti ! Ayo...!"
Kyara menarik tangan Bagas untuk kembali menghadap ibunya.
"Baiklah bu, Aneng setuju untuk menikah dengan kak Bagas malam ini !" jawab Kyara yang disambut senyum mengembangnya bu Ratna.
"Terima kasih, nak !"
Kyara kembali memeluk ibunya.
***
Di kota B.
PLAKK....!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Cecilia.
Sebelumnya, di ruang transfusi....
Perawat itu nampak tertegun melihat hasil tes darah Ajay.
"Maaf,pak ! Apa...mmm.... apa Danisa bukan putri kandung bapak ?" tanya perawat itu hati-hati.
"He...he...! Apa yang kau bicarakan ? Tentu saja dia putri kandungku. Sudahlah, cepat ambil darahku sebanyak yang kalian mau ! Anakku sangat membutuhkannya." perintah Ajay.
"Ta... tapi itu tidak mungkin, pak !"
Ajay mengernyitkan dahinya.
"Apa maksudmu, sus ? Apanya yang tidak mungkin ?" tanya Ajay penuh selidik.
"Tidak mungkin, pasti terjadi kesalahan pada alat itu !" ujar Ajay tidak percaya.
Tidak mungkin alat ini salah ! Aku bahkan sampai 2 kali mengecek kesamaan golongan darah anda dengan putri anda. Untuk lebih jelasnya, anda bisa melakukan tes DNA nanti. Sekarang saya permisi dulu untuk mengecek ketersediaan darah yang sesuai dengan golongan darah putri anda di rumah sakit ini." ujar perawat itu seraya pergi meninggalkan Ajay yang masih tidak percaya dengan kenyataan yang dia dengar.
Sebelum perawat itu keluar dari balik pintu, Ajay masih bisa mendengar dia menggerutu kesal.
"Huh ! Buang-buang waktu saja ! Kenapa dia tidak bilang jika dia bukan ayah kandungnya. Jadi waktuku tidak akan terbuang percuma. Apa mereka tidak sadar jika nyawa anak itu diambang kematian..!!" gerutu sang perawat.
Ajay segera keluar dari ruangan itu. Dengan penuh amarah, dia menghampiri Cecilia yang berdiri di samping kedua orang tuanya. Ajay menghampirinya, dan....
Ajay menampar Cecilia dengan sangat keras.
"Ajay ...!!"
Semua orang terkejut dan berteriak melihat perbuatan Ajay.
"Apa-apaan kamu ! Kenapa kamu tampar anakku !" teriak tuan Guna, merasa marah melihat perbuatan Ajay.
"Anda tanya saja pada putri anda ! Kesalahan apa yang sudah dia perbuat !" teriak Ajay.
"Sa...sayang, aku...aku minta maaf karena sudah lalai menjaga putri kita ! Aku mohon, maafkan aku !"
"Apa...! Putri kita...? Dia putrimu....! Dia hanya putrimu...!"
"A.. apa yang kau bicarakan, nak Ajay ?" ujar ibunya Cecilia lembut.
"Ibu tanya saja pada putri ibu yang sok polos itu !" ujar ajay semakin berteriak.
__ADS_1
"Mas, aku benar-benar tidak mengerti !" ujar Cecilia seraya memegang tangan suaminya.
Ajay segera menepis tangan Cecilia dengan kuat.
"Kenapa kau lakukan semua ini padaku. Apa kau tahu, karena perbuatanmu, Kyara meninggalkanku ! Kanapa, hah ?"
"Oh, jadi semua ini karena gadis itu ? Kamu menampar putriku karena gadis itu ? Dengar Ajay Sanjaya, jika kamu ingin bersama dengan gadis itu, pergilah ! Aku akan membawa putriku, dan satu hal lagi, kau tidak perlu bersusah payah untuk bertanggungjawab terhadap anakmu, aku masih sanggup mengurus mereka berdua tanpa bantuanmu !" teriak tuan Guna yang merasa tidak terima putrinya diperlukan tidak adil oleh menantunya.
"Bagus ! Karena aku memang tidak punya kewajiban untuk bertanggungjawab pada anak itu !"
Ajay semakin menggila saat tuan Guna menyinggung anak dan tanggung jawab. Dia benar-benar sudah tidak bisa menguasai emosinya.
"Tenanglah Ajay ! Ini di rumah sakit, jangan buat keributan ! Cucuku sedang berjuang melawan maut di dalam. Kemarilah, duduk bersama kami !" ujar tuan Ali mencoba menenangkan anaknya.
Ajay memberontak.
"Dia bukan cucumu, pih !" teriak Ajay.
DEG...!!
Cecilia mulai limbung mendengar ucapan Ajay.
Ja...jadi..., dia sudah tahu semuanya..., batin Cecilia.
Tuan Ali menatap tajam ke arah anaknya.
"Apa maksudmu, nak ?" tanyanya dengan bibir yang bergetar.
"Dia bukan anakku, pih ! Dia bukan darah dagingku !" teriak Ajay
"Katakan, siapa ayahnya ?" teriak Ajay seraya mencengkeram kedua rahang istrinya.
Cecilia menggelengkan kepalanya.
"Di...dia anakmu, mas ! Ke... kenapa kamu tega tidak mengakuinya !" ujar Cecilia masih terus berbohong.
"CUKUP...!"
Ajay melepaskan tangannya dari rahang Cecilia. Dia pun berlari keluar dari rumah sakit. Tiba di tempat parkir, Ajay segera masuk ke mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Satu hal yang ada dalam pikiran Ajay. Dia harus menemukan Kyara dan mengatakan semua kebenaran ini. Dia berharap Kyara mau memaafkannya, karena tidak bisa dipungkiri Ajay masih sangat mencintai Kyara.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Kyara Adistya binti Ahmad Hidayat dengan maskawin seperangkat alat salat, dibayar tunai !"
Bertepatan dengan ijab qobul yang telah terucap dari bibir Bagas. Di kota B
BRAKKK....!
Sebuah mobil sport berwarna silver melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Tiba-tiba, sebuah truk besar melintas di hadapannya. Akhirnya tabrakan hebat pun tak terelakkan.
Di malam yang sama, di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda, telah terjadi dua takdir yang berbeda pula.
Hidup memang penuh misteri.
Bersambung...
Lanjut nanti ya gaiss...
Jangan lupa like vote n komennya 🙏
__ADS_1