Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Berdamai...


__ADS_3

Setelah mengambil air wudhu, Kyara pun kembali ke ruangan Bagas.


"Pssstt...! Kak..., mukenanya mana...?" tanya Kyara setengah berbisik.


Bagas menoleh, gadis imut itu tampak berdiri di ambang pintu kamarnya. Raut wajahnya terlihat segar setelah berwudhu.


"Di atas sofa kamar, di paper bag berwarna kuning." jawab Bagas.


"Oke...!"


"Asal kau tahu nona, mukena itu milikmu ! Tadi aku menyuruh Wawan membelinya untukmu !" teriak Bagas.


Kyara mendongakkan kepalanya di ambang pintu kamar.


"So sweet...! Makasih kakakku yang baik dan ganteng...! Kya, saaayaaanggg kakak...!"


Blush....


Seketika wajah Bagas memerah bagaikan buah tomat mendengar pujian dari Kyara. Entah itu serius atau hanya sekedar bercanda, tapi Bagas merasa senang ketika pujian itu terlontar dari gadis seimut Kyara. Untuk menutupi rasa malunya, segera Bagas pergi ke dapur untuk menyimpan piring kotor bekas mie gorengnya.


Sedangkan Kyara hanya tersenyum ketika mendapati raut wajah kikuknya Bagas. Setelah itu, dia kembali ke kamarnya untuk melaksanakan solat.


Selesai solat dan bermunajat pada Sang Pemilik kehidupannya, Kyara pun kembali membaringkan dirinya di atas kasur. Hatinya berkata jika dia akan berdamai dengan semua deritanya. Kyara memejamkan matanya, tak berapa lama, dia pun mulai kembali ke alam mimpinya.


Bagas membuka pintu kamar dan mendapati Kyara telah tertidur pulas. Dia menghampirinya dan membenarkan selimut Kyara hingga menutupi dadanya.


"Selamat tidur gadis imut. Mimpi yang indah !" gumam Bagas seraya mengusap rambut Kyara. Setelah itu dia pun kembali ke ruangannya dan segera menyusul Kyara ke alam mimpinya.


***


Azan subuh mulai berkumandang. Bagas mengerjapkan matanya. Sejenak dia diam untuk mengumpulkan kesadarannya. Dia bangkit setelah merasakan tubuhnya sudah sedikit lebih segar karena udara subuh yang masuk melalui ventilasi jendela ruangannya.


Bagas membuka pintu kamarnya dan mendapati Kyara masih tertidur pulas. Segera dia mendekati Kyara untuk membangunkannya.


"Nona...! Apa kau mau solat subuh berjamaah denganku ?" ucapnya pelan seraya mengguncang bahu Kyara dengan sangat hati-hati.


Kyara menggeliat dan menganggukkan kepalanya, membuat Bagas tersenyum kecil melihat tingkahnya.


Kyara kemudian mengerjapkan matanya. Netranya langsung melihat wajah tampan Bagas yang sedang berdiri menatapnya. Kyara mengedarkan pandangannya.


"Sudah subuh ya, kak ?" tanyanya.


Bagas mengangguk.


"Bangun dan berwudhulah ! Kita solat subuh berjamaah !" perintah Bagas.


Kyara mengangguk dan segera pergi ke kamar mandi. Setelah itu, meraka pun menunaikan kewajibannya secara berjamaah. Pemandangan yang tampak syahdu. Membuat para jomblowan jomblowati menjerit melihat keserasian mereka....🤭


Lepas berjamaah, Kyara pun segera pergi ke dapur untuk memasak dan menyiapkan sarapan. Bagas mengikutinya setelah membereskan ruangannya.


"Kau masak apa ?" tanya Bagas.


"Aku akan membuat omlet dan sayur sop, karena hanya bahan-bahan itu yang kudapat dari dalam kulkasmu." jawab Kyara.


"Oh, Wawan pasti lupa belanja." jawab Bagas.

__ADS_1


"Wawan ?" ujar Kyara seraya membalikkan badannya.


"Dia asistenku di bengkel ini. Sudah kuanggap seperti adikku sendiri." jawab Bagas.


"Oh...! Memangnya ada berapa orang di bengkel ini ?" tanya Kyara seraya mengaduk sayur sop yang sedang dimasaknya.


"Dua orang, Wawan dan temannya, namanya Agus. Mereka anak-anak yang baik, kau pasti akan menyukainya." jawab Bagas. "Ada yang bisa aku bantu ?" tanya Bagas.


"Tidak usah, ini sudah hampir selesai kok...!" jawab Kyara.


"Baiklah..! Kalau begitu, aku akan membuka bengkelnya dulu." ujar Bagas.


"Oke...!" jawab Kyara.


Bagas pun pergi ke depan untuk membuka bengkelnya. Bagas membuka pintu rolling door, betapa terkejutnya dia, saat mendapati Andin telah berdiri di depan bengkelnya.


"Andin...?? Sejak kapan kamu berdiri di sini ?" tanya Bagas seraya menghampiri Andin.


"Ma... maafkan aku, Gas ! Tapi aku benar-benar tidak bisa tidur semalam. Karena itu aku memutuskan untuk segera kemari menemui Kyara." jawab Andin.


"Sepagi ini ?" tanya Bagas.


"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Gas !" jawab Andin.


"Pagi bang...!"


Sapa Wawan dan Agus berbarengan saat mereka tiba di bengkel untuk bekerja.


"Pagi !" jawab Bagas. "Eh, kalian sudah sarapan ?" tanya Bagas.


"Belum bang, ini mau simpan tasnya dulu, abis itu mau ke depan beli nasi uduk." jawab Wawan.


"Kak Kya.. ? Bidadari cantik itu namanya kak Kya ya, bang....! Ah, senangnya punya kakak ipar, jadi kita nggak bakalan kelaparan lagi, Gus...!" ujar Wawan.


"Huss...! Jangan ngawur kamu.. ! Dia bukan pacar abang..!" bentak Bagas.


"Idiiih....ge er...! Lagian siapa yang bilang, kalau bidadari itu pacarnya abang...! Ngarep ya bang..., he...he...he...!"


Wuss...


Bagas terjebak oleh kata-katanya sendiri...


Sialan nih bocah..., rutuk Bagas dalam hati.


Tiba-tiba...


"Ayo semuanya..., makanan sudah siap, kita makan dulu yuk...!" ajak Kyara.


"Kau...??" lanjutnya.


Kyara terkejut saat mendapati Andin tengah ngobrol dengan Bagas sepagi ini.


Andin segera menghampiri Kyara. Kembali dia bersimpuh di kaki Kyara.


"Aku mohon maafkan aku, Kya !" ujarnya memelas.

__ADS_1


Kyara yang merasa risih akan sikap Andin, segera berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya.


"Kita sarapan dulu, mbak ! Setelah itu baru kita bicara !" jawab Kyara tegas.


Andin menganggukkan kepalanya. Akhirnya mereka pun pergi ke dapur untuk sarapan.


Sarapan yang dibayangkan Wawan dan Agus akan terasa hangat, justru malah sebaliknya. Kehadiran Andin di tengah-tengah mereka, membuat Kyara merasa canggung dan hanya bisa menikmati sarapannya dalam diam.


Selesai sarapan, seperti biasa, Kyara membereskan piring-piring kotornya dan segera mencucinya. Wawan dan Agus kembali ke depan untuk mulai bekerja. Sedangkan Bagas dan Andin pergi ke ruang kerja Bagas untuk menunggu Kyara.


Setelah urusan pekerjaan di dapur selesai, Kyara pun masuk ke ruang kerja Bagas. Dia duduk berhadapan dengan Andin di sofa, sedangkan Bagas mengawasi mereka dari kursi kebesarannya.


"Ky...kya..., aku...aku datang ke sini untuk meminta maaf...! Aku benar-benar tidak bisa tenang, sebelum aku mendapat maafmu...! Aku mohon, ma... maafkan semua kesalahanku...!" pinta Andin.


Kyara menarik napasnya, kemudian menghembuskannya dengan perlahan.


"Aku sudah memaafkan mbak." jawabnya.


"Be... benarkah...? A.. apa kau tidak membenciku ?" tanya Andin lagi.


"Tidak ada untungnya aku membencimu !" jawab Kyara, datar.


Andin bangkit dari duduknya. Dia menghampiri Kyara, kemudian menggenggam tangan Kyara.


"Terima kasih, Kya !" ujarnya.


Kyara tersenyum, "Sudahlah mbak, kita lupakan saja semuanya !" jawab Kyara.


"A... apa kau mau berteman denganku ?" tanya Andin ragu.


"Apa seorang putri cantik nan kaya raya masih mau berteman dengan seorang upik abu sepertiku ? He...he...he...!" tanya Kyara sedikit bergurau.


Tapi entah kenapa, gurauan Kyara sedikit menyinggung perasaan Andin. Dulu Andin pernah menghina Kyara dengan menyebutnya upik abu.


"Apa kau sedang menyindirku, Kya ?" ujar Andin memasang muka cemberut.


"Hei..., aku tidak menyangka jika teman baruku ini sangat baperan sekali...!!" jawab Kyara seraya mencubit kecil dagu Andin.


Ah tatapan yang sangat hangat. Andin benar-benar merasa beruntung mendapatkan maaf dari Kyara.


Pantas jika Ajay sangat mencintaimu Kya..., kau memang gadis yang sangat baik. Pancaran matamu penuh ketulusan. Aku beruntung bisa berteman denganmu...., batin Andin.


"Boleh aku memelukmu ?" tanya Andin penuh harap.


Kyara merentangkan kedua tangannya. Andin pun menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Kyara yang terasa hangat.


"Terima kasih, Kya.. !" bisik Andin.


Kyara tersenyum seraya mengusap-usap punggung Andin.


Bagas tersenyum kecil melihat kedua gadis yang telah berdamai itu.


Bersambung....


Kembali lagi ya readers...

__ADS_1


Semoga masih suka ceritanya...


Ditunggu like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2