
DEG....!
Ucapan Bagas tentang pertemuannya dengan ibunya, berhasil membuat Kyara menghentikan langkahnya.
Bagas kembali menghampiri Kyara. Dia memegang kedua bahu Kyara dan memapahnya ke tepi ranjang.
"Duduklah ! Akan aku ceritakan semua kisah 6 tahunku !" ujar Bagas kembali mendudukan Kyara di atas ranjangnya.
Kyara menurut. Dia pun memposisikan dirinya duduk bersila di tengah ranjang. Bagas merangkak mengikutinya, kemudian duduk berhadapan dengan Kyara.
"Kapan kau bertemu ibu ? Dan kenapa ibu tidak pernah bercerita padaku ? Apa kau sengaja melakukan semua ini untuk mengambil simpatiku ?" ujar Kyara ketus.
"Ah..., tidak ada untungnya aku mengarang cerita hanya untuk menarik simpatimu." ujar Bagas.
"Lalu ?"
"Dulu, sebelum berangkat ke kota ini. Aku pernah berlibur bersama keluargaku, maksudku kak Indah dan suaminya juga kedua adik angkatku, kau tahu kan siapa mereka ?" tanya Bagas.
"Wawan dan Agus ?"
Bagas mengangguk. "Ya mereka ! Aku pernah berlibur ke pantai Pangandaran bersama mereka. Cincin yang kau kenakan itu !" ujar Bagas seraya menunjuk cincin giok di jari manis Kyara melalui ujung matanya. "Itu pemberian dari kak Indah dan suaminya. Saat itu mereka bertemu dengan seorang gadis penjual manik-manik dan membeli cincin itu. Awalnya aku menolak untuk menerima cincin itu, namun saat kak Indah menyebutkan nama Aneng, tiba-tiba aku ingat jika orang-orang di desamu selalu memanggilmu Aneng, dan aku berharap gadis penjual manik-manik itu adalah kamu. Saat itu juga aku berlari untuk memcarimu. Aku kelilingi pasar itu berulang kali, tapi aku tidak menemukanmu. Karena hari itu rencananya aku akan pulang, akhirnya aku mengakhiri pemcarianku."
Tampak raut kesedihan di wajah Bagas ketika mengingat masa-masa dia dalam mencari keberadaan Kyara.
"Setahun berikutnya aku kembali ke pantai ini. Kembali mengelilingi pasar wisata hanya untuk mencarimu. Saat itulah aku bertemu dengan ibumu. Aku bertanya padanya tentang gadis penjual manik-manik yang bernama Aneng, namun dia tidak mengenal gadis itu. Saat aku ingin pergi, tiba-tiba dia memanggilku dan memintaku untuk memperlihatkan foto orang yang aku cari. Aku pun mengambil ponselku dan memperlihatkan foto mu kepadanya. Tapi saat itu, beliau bilang, beliau tidak mengenalmu. Kau tahu, saat kemarin ibu berbicara berdua denganku ?" tanya Bagas.
Kyara mengangguk.
"Saat itu ibu meminta maaf karena telah membohongiku tentang keberadaanmu. Ibu juga bertanya kenapa aku selalu mencarimu ? Akhirnya aku ceritakan semua perasaanku padamu kepada beliau, dan beliau memintaku untuk selalu menjagamu."
Kyara masih dalam mode diam mendengarkan semua cerita Bagas.
Jadi, pasangan muda itu, mereka adalah kakaknya kak Bagas, dan Arumi ? Kemungkinan Arumi adalah bayi yang pernah aku gendong dulu. Aaahh..., kenapa dunia ini begitu sempit..., lalu ibu...? Kenapa ibu tidak pernah bercerita tentang pertemuannya dengan laki-laki ini...
"Nona...! Kau melamun ??"
__ADS_1
"Ah tidak...! Lanjutkan !"
"Pencarian kedua pun tidak berhasil, aku semakin kecewa, namun tidak pernah putus asa. Aku yakin jika suatu hari nanti Tuhan akan memberiku jalan untuk menemukanmu. Hingga akhirnya aku memenangkan sebuah perlombaan design mobil yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat ku bekerja. Hadiah yang kupilih adalah beasiswa S2 di luar negeri. Hal itu juga bertepatan dengan keinginan keluarga om nya kakak iparku untuk menjodohkan aku dengan anaknya, tapi aku menolaknya. Karena itu aku memilih ke luar negeri dan menimba ilmu di sana."
"Kenapa kau menolak perjodohanmu ?"
"Karena aku masih memiliki keyakinan jika jodohku adalah kamu !" ujar Bagas tegas.
Kyara hanya bisa diam, meski hati kecilnya merasa senang mendengar kalimat yang diucapkan Bagas.
"Sebelum berangkat ke Jerman, aku kembali ke pantai Pangandaran untuk mencarimu. Itu adalah harapan terakhirku. Jika aku bertemu denganmu, sudah bisa ku pastikan aku akan memintamu untuk menemaniku di luar negeri. Tapi jika tidak bertemu, aku bertekad untuk melupakanmu dan melanjutkan hidupku di negeri orang. Dan ternyata, pilihan yang kedua yang harus aku ambil. Karena pencarian terakhirku tak membuahkan hasil."
"Lalu...?"
"Tahun pertama sekolah, aku dipercaya untuk menjadi asisten dosenku. Menginjak tahun kedua, beliau memberiku modal untuk merealisasikan projects keduaku. Alhamdulillah, projects B sangat diminati oleh para pengusaha di sana. Hasil dari projects itu aku gunakan untuk mengembalikan modal dan sisanya untuk membangun perusahaanku. Nasib baik mengiringi kehidupanku di negeri orang. Setiap bulannya, omset perusahaan semakin naik. Dan aku pun meminta asistenku untuk membuka cabang di negaraku."
Bagas menggeser tubuhnya, dia duduk menyandar di tepi ranjang. Dia kemudian meraih tangan Kyara. Entah kenapa Kyara seolah terhipnotis dengan perlakuan Bagas. Dia pun bergeser mengikuti gerakan Bagas, dan menyandarkan kepalanya di dada Bagas. Bagas menyelonjorkan kakinya, begitu juga dengan Kyara
"Apa kau tahu nona ? Orang bilang, selalu ada wanita yang berperan dibalik kesuksesan seorang pria. Itu memang benar. Meski kau tak berada secara nyata dalam kehidupanku, tapi kau selalu hadir dalam ingatanku. Kenanganmu adalah kekuatanku untuk mewujudkan impianku. Meski aku telah mengubur harapanku untuk memilikimu. Tapi kenangan kita tidak pernah hilang. Aku selalu membingkai dan menjaganya dalam hatiku. Karena aku percaya Tuhan akan memberiku jodoh dengan jalannya sendiri. Dan ternyata, kita memang berjodoh nona ! Tuhan memberikan jalan itu melalui Arumi. Saat kau menelponku dan mengatakan Arumi tidak baik-baik saja, aku pun memutuskan untuk kembali ke negaraku. Dan siapa sangka jika itu adalah awal pertemuan kita setelah 6 tahun aku hidup dalam bayanganmu. Aku senang nona, aku sangat bahagia. Sejak saat itu, aku yakin bahwa engkau akan menjadi pendamping hidupku untuk selama-lamanya." ujar Bagas.
"Tidak ada yang berarti dari kisah 6 tahunku !" ujar Kyara seraya bangkit.
"Mau kemana ?" ujar Bagas seraya menahan tangan Kyara.
"Aku lapar ! Aku ingin mencari sesuatu yang bisa ku makan di dapurmu !" ujar Kyara seraya menarik tangannya.
Bukannya melepaskan tangan Kyara, Bagas malah menariknya hingga Kyara jatuh ke dalam pelukan Bagas.
Bugh...!!
"Apa kau ingin memakanku, nona ?" bisik Bagas lembut.
Seketika wajah Kyara bersemu merah mendengar ucapan Bagas. Kyara memberontak, dan melepaskan dirinya dari pelukan Bagas.
"Jangan mimpi !" ujarnya sembari segera berlari keluar kamar.
__ADS_1
Bagas hanya tersenyum kecil melihat tingkah Kyara. Setelah Kyara menghilang, Bagas pun membuka sarungnya dan menggantinya dengan celana pendek. Setelah itu dia pergi keluar untuk menemui Kyara.
"Apa kau tidak punya bahan makanan ?" tanya Kyara.
Bagas menggelengkan kepalanya.
"Makanmu ?"
"Food online !"
"Ish, kenapa setelah menjadi CEO, kau malas sekali !"
"Aku tidak punya waktu nona. Setiap hari aku pulang ke apartemen lewat jam 10 malam."
"Kenapa kau tidak tinggal bersama kakakmu ? Jika kau tinggal di sana, pasti akan ada orang yang mengurusmu."
"Seseorang pernah mengatakan bahwa aku hanyalah benalu karena menumpang hidup di rumah kakakku. Jadi, semenjak aku pulang ke negaraku, aku memutuskan untuk membeli apartemen dan tinggal sendiri di sini."
Kyara terkejut mendengar ucapan Bagas. Sebenarnya dia penasaran sekali tentang orang yang menganggap suaminya benalu. Tapi dia tidak ingin bertanya lebih jauh.
Kyara melewati Bagas begitu saja. Dia kembali ke kamarnya dan meraih tasnya.
"Mau kemana ?" tanya Bagas begitu melihat istrinya menyelempangkan tas ke bahunya.
"Cari makan ! Aku bisa kelaparan kalau terus-terusan berada di sini ! ujar Kyara masih dengan nada kesalnya.
"Bersabarlah ! Sebentar lagi makanannya datang. Tadi aku sudah memesannya via online. Selepas magrib, kita keluar untuk berbelanja bahan makanan." ujar Bagas.
Kyara merenggut kesal karena Bagas melarangnya keluar. Padahal alasan Kyara keluar hanya untuk menghindari Bagas. Akhirnya Kyara pun kembali ke kamarnya.
Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Kyara.
Sabar Bagas...! 6 tahun kau bisa melewati semuanya dengan sabar, dan sekarang pun, kau pasti bisa bersabar menunggu dia mencintaimu ! Tinggal selangkah lagi, dan kebahagiaan pasti akan menyapamu...!
Ting tong....!?
__ADS_1
Bersambung