
Ciiittt.....
Kyara menghadang mobil Bagas yang baru keluar dari pintu pagarnya.
"Astaghfirullah...!! Apa-apaan ini...!" gumam Bagas yang terpaksa mengerem mendadak.
Untung saja Bagas masih bisa konsentrasi, meski kabar Andin membuat dia sedikit kurang fokus. Pikirannya terus melayang, membayangkan sesuatu yang buruk yang akan menimpa teman masa kecilnya.
Ya ! Bagas, Ajay dan Andin merupakan teman masa kecil. Ayah mereka bersahabat. Karena intensitas pertemuan yang cukup sering ayah mereka lakukan, akhirnya membuat mereka pun menjalin pertemanan sedari kecil.
"Kamu mau mati...!" teriak Bagas mendongakkan kepalanya melalui jendela mobil yang terbuka.
Kyara membungkuk, setelah itu dia menghampiri Bagas.
"Boleh aku ikut...!" ujarnya memelas.
"Tidak usah..!" jawab Bagas, tegas.
Bagas tidak ingin kekacauan akan semakin terjadi jika dia membawa Kyara dan bertemu dengan Andin. Menurutnya, Andin dan Kyara adalah dua orang yang tidak seharusnya bertemu.
"Aku mohon, kak...! Aku tidak ingin mbak Andin berbuat nekad..!" Kyara memohon.
"Lalu apa yang bisa kau lakukan...?" tanya Bagas.
"Aku...aku tidak tahu...! Tapi..., aku mohon.., izinkan aku ikut..! Siapa tahu aku bisa membantu kakak untuk membujuk mbak Andin..!" ujar Kyara sembari memutari mobil dan membuka pintu mobil samping depan.
Bagas hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Kyara. Aaron memang benar..., ternyata gadis ini memang sangat keras kepala..! batin Bagas.
Setelah Kyara duduk. Bagas pun melajukan mobilnya dengan kencang. Dia tidak ingin membuang waktu lagi.
"Semoga saja dia tidak berbuat nekad..!" gumamnya.
Gumaman Bagas cukup terdengar oleh Kyara. Dia pun melirik ke arah Bagas. Tampak kecemasan di raut mukanya Bagas.
Hmm...tegang sekali...! Mungkin kak Bagas menyukai mbak Andin, karena itu dia tampak cemas begitu mendengar kabar ini..., batin Kyara.
Tanpa sadar Kyara menyentuh bahu Bagas. Kyara menepuknya pelan.
"Tenanglah, kak...! Aku yakin dia tidak akan berbuat sesuatu yang konyol...!" ujar Kyara mencoba menenangkan pikiran Bagas.
Bagas hanya bisa diam. Kamu tidak tahu senekad apa Andin, Kya...! Dia bahkan bisa menyakiti dirinya hanya untuk mendapatkan keinginannya...! batin Bagas.
Dengan kecepatan di atas rata-rata, akhirnya tanpa memakan waktu yang lama, mobil Bagas pun tiba di Danau Tirta.
__ADS_1
Bagas segera memarkirkan mobilnya. Dia dan Kyara turun dan berlari berkeliling mencari keberadaan Andin.
Langkah kaki Bagas sangat lebar, membuat Kyara merasa kesulitan untuk mengimbanginya. Tapi Bagas tidak peduli. Yang terpenting saat ini, dia harus segera menemukan Andin. Bagas tidak ingin terlambat, dan menyesali semuanya. Dia tahu sifat Andin yang keras, dan Andin tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.
"Andin...! Andin...!" teriakan Bagas cukup menggema di tengah rimbunnya pepohonan dan suasana sekitar danau yang sepi.
Bagas terus berlari. Setiap arah mata angin dia susuri, tapi matanya tak melihat bayangan Andin. Sejenak Bagas berhenti untuk mengatur napasnya yang mulai tersengal. Samar-samar dia mendengar suara orang yang sedang bertengkar dari balik pohon rindang di sebelah utara.
Bukankah tempat itu merupakan bagian danau yang cukup dalam. Ya Tuhan...! Jangan-jangan....
Bagas kembali berlari.
"Aku mohon, Ndin...! Percayalah padaku...!" teriak Ajay.
Bagas terkesima begitu tiba di tempat itu. Netranya menangkap bayangan Ajay yang sedang berlutut memohon di hadapan Andin. Bagas memutuskan untuk menunggu, dia tidak mau mencampuri urusan mereka. Hanya saja, dia tetap harus waspada jika sesuatu yang tidak diinginkan sampai terjadi.
Ya...! Andin tampak berdiri di tepi danau, seolah sedang mengambil ancang-ancang untuk menceburkan dirinya. Bagas takut Andin berbuat nekad. Dia pun harus bersiap diri. Melihat emosi yang terjadi pada diri Andin, kemungkinan yang buruk pun bisa terjadi.
"Cukup...!" teriak Andin. "Menjauh dariku..! Kalau tidak, aku pastikan kamu hanya akan membawa mayatku dari sini..!"
"Jangan sayang...! Aku mohon, jangan lakukan itu..! Aku mencintaimu..!" Ajay mencoba membujuk Andin dengan kata cintanya.
"Bohong....! Dasar pembohong...!" Andin semakin berteriak histeris.
Andin menangis, "Pembohong....! Dasar pembohong..! Jika kamu mencintaiku, kenapa kamu tega mengkhianatiku..." ucap Andin lirih.
Hup...!
Ajay menangkap Andin yang mulai lengah karena menangis.
"Lepaskan aku...! Lepaskan..! Dasar pembohong, kamu bilang mencintaiku, tapi kenapa kamu malah bertunangan dengan gadis itu..? Dasar brengsek..!" teriak Andin, memberontak.
Bagas pun melihat hal itu. Ah... syukurlah..! Ajay sudah berhasil menangkapnya. Aku tidak perlu lagi mengawasinya, biar mereka menyelesaikan urusannya sendiri..., batin Bagas. Dia pun hendak membalikkan badannya, namun...
"Aku terpaksa...!" teriak Ajay.
Kalimat itu berhasil menghentikan niat Bagas. Terpaksa...? Apa maksudnya terpaksa..? Bagas pun mengurungkan niatnya. Sungguh dia merasa penasaran dengan apa yang hendak Ajay ucapkan selanjutnya.
"Maafkan aku...! Aku terpaksa melakukan semua itu..! Eyang yang memaksaku bertunangan dengannya...! Aku mohon..., mengertilah...!" ucap Ajay seraya terus memeluk Andin.
"Kamu yang harus mengerti aku...! Aku mencintaimu..! Tapi kenapa kamu malah mempermainkan perasaanku..!" Andin kembali berteriak, dia memukul dada bidangnya Ajay bertubi-tubi.
"Aku tidak pernah mempermainkan perasaanmu...!" jawab Ajay tak kalah lantang berteriak.
__ADS_1
"Bohong, lalu kenapa kamu mau menerima keputusan eyang jika kamu memang mencintaiku, kenapa..hah..?!"
teriak Andin dengan berlinang air mata.
"KARENA EYANG MENGANCAMKU AKAN MENCORET NAMAKU SEBAGAI AHLI WARIS...!!"
Deg....
Bagas terhenyak mendengar pernyataan Ajay. Apa maksudnya ini...??
Andin menghentikan tangisnya. Dia menatap Ajay tajam. Matanya menyiratkan jika dia sedang meminta jawaban dan kejujuran Ajay.
"Eyang mengancamku, jika aku tidak menikahi gadis itu, maka dia akan mencoret hak warisku. Tidak sampai di situ, dia juga berniat menyerahkan 70 persen semua kekayaannya kepada Kyara. Katakan...? Aku bisa apa...? Aku mencintaimu, tapi aku juga tidak siap untuk jatuh miskin...! Aku mohon mengertilah...!" ujar Ajay.
Ya Tuhan....! Jadi inilah kebenaran di balik pertunangan mereka...! batin Bagas. Gadis itu...! Ya Tuhan...! Jangan sampai dia mendengar hal ini...! Aku harus segera mengajaknya pergi dari sini...! Aku akan mencarinya dan mengajak dia pulang...
Bagas berbalik...
Deg...deg..deg...
Jantungnya berdegup kencang saat mendapati Kyara telah berdiri tak jauh dari hadapannya. Apa... apa dia telah mendengar semuanya...??
Kyara berdiri menatap ke arah Ajay dan Andin. Dia tidak pernah menyangka jika kekhawatirannya tadi mendapat balasan yang menyakiti hatinya. pernyataan cinta Ajay kepada Andin, kembali mengoyakkan perasaannya. Terlebih lagi kebenaran yang dia dengar tentang alasan pertunangan yang terasa hambar dulu, semakin membuat perasaannya tercabik-cabik.
Kekuatannya mulai goyah. Kakinya gemetar, seolah tak mampu lagi menopang tubuhnya. Kyara merasa dunianya berputar. Dengan cepat dia memegang batang pohon yang berada di sampingnya.
Aku harus kuat...! Aku harus kuat..! kata hatinya mencoba menghibur dirinya sendiri.
Kyara mengalihkan pandangannya kepada Bagas. Tatapan mata Bagas menyadarkan dirinya dari bayangan keperihan yang menghampirinya.
Sejenak dia memejamkan matanya. Berharap jika ini hanyalah sebuah mimpi. Namun, saat dia kembali membuka matanya, bayangan Ajay yang masih memeluk Andin, terlihat nyata di depan matanya.
Dengan perasaan kacau, Kyara membalikkan tubuhnya. Perlahan, dia mulai melangkah dengan gontai. Semakin cepat dia melangkah, kembali melangkah, terus melangkah dan pada akhirnya Kyara berlari karena dia sudah tidak bisa menahan air mata yang semakin deras menyusuri pipinya.
"Tunggu...!" Bagas berteriak, memanggilnya.
Kyara tak menghiraukan panggilan Bagas. Kini hatinya sedang berperang dengan kenyataan yang ada.
Bagas berlari mengejar Kyara. Tanpa dia sadari. Sepasang mata terus memantaunya dengan senyum kemenangan yang terukir di sudut bibirnya.
Bersambung...
Malam semuanya...
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya...🙏🙏