
Kembali lagi untuk akhir weekend nya ya readers...
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Ajay semakin hari semakin tak terkendali. Dia sudah jarang pulang ke rumah. Setiap kali dia tidak pulang, nyonya Diana selalu marah-marah dan bersikap memusuhi semua orang. Terutama suaminya, dia selalu menyalahkan suaminya yang tidak bisa menolak keputusan ayahnya.
"Semua ini salah kamu ! Kamu terlalu penurut menjadi seorang anak. Lihat ! Ini akibatnya ! Anak kita semakin menjauhi kita ! Dia semakin tidak nyaman tinggal di rumah ini. Semua ini gara-gara kamu !"
BRAKK....
Nyonya Diana membanting pintu kamarnya setelah meluapkan emosinya terhadap suaminya.
Tuan Ali hanya bisa menghela napasnya melihat sikap istrinya yang keras kepala. Percuma melawan setiap kata-kata istrinya, yang ada, pertengkaran hebat akan semakin terjadi. Tuan Ali selalu menghindari hal itu, terlebih lagi, saat ini kedua orang tuanya sedang berada di rumahnya.
Dengan langkah gontai, tuan Ali keluar kamar dan menuju ruang kerjanya. Dia kembali memfokuskan dirinya terhadap pekerjaannya. Berkutat dengan laptopnya, setidaknya bisa mengalihkan pikirannya dari masalah yang sedang dihadapinya.
Ceklek....
Pintu terbuka. Tuan Mahesa masuk, kemudian duduk berhadapan dengan anaknya.
"Anakmu tidak pulang lagi ?" tanya tuan Mahesa.
Tuan Ali mengangguk, dia menghentikan pekerjaannya, kemudian menyenderkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
"Ali tidak tahu lagi harus berbuat apa, yah ? Ali sudah coba membujuk Diana dan Ajay, tapi tidak berhasil. Ibu dan anak itu benar-benar memiliki sifat yang sama persis." ujar tuan Ali.
Tuan Mahesa diam sejenak, dia tampak berpikir keras. Tiba-tiba....
"Ayah tahu bagaimana caranya membuat mereka berubah pikiran." kata tuan Mahesa.
Tuan Ali menatap ayahnya dengan tatapan yang penuh pertanyaan. Mengerti arti tatapan anaknya, tuan Mahesa hanya tersenyum.
"Tenanglah Ali, ayah hanya butuh dukunganmu ! Lagipula, mau ditaruh dimana muka ayah jika sampai tak menepati janji." kata tuan Mahesa.
"Ali selalu mendukung apa yang dianggap baik oleh ayah. Ali sudah tidak bisa mengendalikan keegoisan mereka lagi. Ali mohon bantuan ayah !" ujar tuan Ali.
Tuan Mahesa menepuk tangan anaknya, "Tenanglah nak, semua pasti ada jalan keluarnya ! Sebaiknya, sekarang kamu tetap fokus sama urusan kantor. Biar anakmu, ayah yang urus !" perintah tuan Mahesa.
"Terima kasih, yah !" jawab tuan Ali.
"Sama-sama. Ayah pergi dulu, mau melihat perkembangan cabang hotel kita yang ada di kota J." kata tuan Mahesa.
"Baiklah. Hati-hati, yah...!" ujar tuan Ali.
Tuan Mahesa tersenyum, kemudian pergi meninggalkan anaknya.
***
Srekk....
Bagas menyingkap tirai jendela kamar yang berada di ruang kerjanya.
Seorang laki-laki mengerjapkan matanya karena merasa silau oleh cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela kamar.
"Aahhh... tutup Gas !" perintahnya dengan suara paraunya.
"Mau sampai kapan lo kayak gini terus, Jay ?" ujar Bagas.
Ya ! Laki-laki itu adalah Ajay. Sudah beberapa malam Ajay pulang ke bengkel milik Bagas dalam keadaan mabuk berat.
"Ayo bangun ! Bersih-bersih, sana...! Baju lo bau alkohol..!" perintah Bagas.
Walaupun Bagas tidak suka dengan sikap semena-mena Ajay terhadap Kyara, tapi bagaimanapun juga Ajay adalah sahabatnya sedari kecil. Bahkan hubungan mereka sudah seperti saudara. Ada banyak kebaikan yang Bagas terima dari keluarga Ajay. Terlebih lagi disaat kedua orang tuanya meninggal, eyang Mahesa dan tuan Ali lah yang selalu membantu memenuhi kebutuhan Bagas dan kakaknya.
"Malas gue...!" Ajay malah menarik selimutnya dan menutupi wajahnya.
"Dengar Ajay Sanjaya ! Lo bangun sekarang, atau gue siram pakai air seember !" ujar Bagas yang sudah kehilangan cara untuk membuat sahabatnya beranjak dari tempat tidur.
Ajay hanya sedikit bergerak, membenahi posisinya dan kembali tertidur. Bagas pergi ke kamar mandi, lalu...
Byuurrr....
__ADS_1
Mendaratlah seember penuh air di sekujur tubuh Ajay.
"Shit !! Apaan sih lo, Gas !" Ajay marah.
"Lo yang apaan ! Sudah tiga malam lo pulang ke bengkel gue dalam keadaan mabuk. Sore hari lo baru bangun terus kelayapan lagi. Dini hari lo baru balik, sampai gue sama Wawan nginep di sini karena khawatir sama keadaan lo ! Lo kenapa sih, Jay ? Kenapa lo nggak pulang ke rumah ? Dan, apa nyokap, bokap lo tahu, lo nginep di sini ?" tanya Bagas.
"Ah, bawel lo...! Bilang aja lo nggak ikhlas, gue nebeng tidur di bengkel lo ! Minggir...! Gue mau mandi...!" seru Ajay seraya mendorong bahu Bagas.
Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ajay. Gue nggak habis pikir, kok bisa-bisanya Kyara jatuh cinta sama cowok kayak lo...! batin Bagas.
20 menit kemudian, Ajay keluar dari kamar mandi. Dia sudah siap dengan pakaiannya yang rapi.
"Lo ngampus Jay ?" tanya Bagas.
"Malas !" jawab Ajay.
"Terus, lo mau kemana ?" tanya Bagas lagi.
"Bukan urusan lo !" jawab Ajay seraya mengambil kunci mobilnya.
"Lo kenapa sih Jay ? Kalau punya masalah, setidaknya lo cerita ke gue !" ujar Bagas.
"Gue udah bilang, bukan urusan lo ! Minggir !" jawab Ajay, kasar.
"Makan dulu ! Dari pagi lo belum makan." tawar Bagas.
"Gue nggak lapar, cepat minggir !" seru Ajay.
Bagas pun mengalah dan membiarkan Ajay pergi. Ada apa dengan anak itu... batinnya.
Ajay melajukan mobilnya hendak menuju sebuah Bar, tapi di tengah jalan, ponselnya tiba-tiba berdering. "Eyang.." gumamnya. Ajay kemudian mengangkat telpon dari eyangnya.
"Hallo...!" ( Ajay )
"Eyang nggak mau tahu, malam ini, lepas magrib, kamu harus sudah ada di rumah !" ( Tuan Mahesa )
Tut...tut...tut...
"Shit ! Selalu saja seenaknya memberi perintah !" Ajay melempar ponselnya ke atas dashboard. Dia kembali memutar arah, menuju rumahnya.
Tiba di rumah...
"Eyang mana, bik ?" tanya Ajay.
"Eyang akung sama eyang uti sedang pergi ke kota J, den !" jawab mbok Nah.
"Mamih ?"
"Nyonya sedang arisan di rumah temannya."
"Kalau papih ?"
"Kalau tuan, ada di ruang kerjanya den."
"Oh, oke..! Tolong antarkan makanan ke kamarku ya, bik ! Lapar..., he...he..." pinta Ajay.
"Baik den..." jawab mbok Nah.
Ajay pergi ke kamarnya. Gue harus siapin diri, buat denger ceramah eyang nanti malam... batinnya.
***
Menjelang sore, tuan Mahesa dan nyonya Aini baru kembali dari kota J. Setibanya di rumah, hanya tampak tuan Ali dan Bima sedang duduk di beranda rumah.
"Istri kamu belum pulang, nak ?" tanya nyonya Aini.
"Belum bu." jawab tuan Ali.
"Ya sudah, ayah sama ibu masuk dulu ya ?" ujar tuan Mahesa.
Mereka pun pergi meninggalkan tuan Ali dan anaknya yang masih merasa betah menikmati waktu senja.
__ADS_1
Sayup-sayup azan magrib mulai berkumandang. Tuan Ali dan anaknya, akhirnya masuk ke rumah. Tak berapa lama setelah mereka masuk, nyonya Diana pun pulang.
Seperti biasa, selepas solat magrib, keluarga Sanjaya akan berkumpul di meja makan untuk melaksanakan ritual makan malam bersama.
"Ajay sudah bangun, bik ?" tanya tuan Ali.
"Be...belum, tuan." jawab mbok Nah.
"Keterlaluan anak itu ! Bangunkan dia, bik !" tuan Mahesa merasa geram akan kelakuan cucunya.
"Biar aku saja yang membangunkannya !" ujar nyonya Diana. Dia pun beranjak dari kursinya dan segera pergi ke kamar Ajay.
"Sayang..., apa mamih boleh masuk ?"
Ceklek...
Pintu terbuka. Tampak Ajay masih terlelap. Nyonya Diana mendekati Ajay. "Kamu kemana saja nak ? Mamih sangat rindu, sudah beberapa hari ini kamu tidak pulang ke rumah.." gumam nyonya Diana seraya mengusap kepala Ajay.
Ajay mengerjapkan matanya, "Mamih.." ujarnya.
Nyonya Diana tersenyum, "Bangunlah ! Kita makan malam bersama. Semua orang sudah menunggumu di meja makan." ujar nyonya Diana.
"Malas ah mih...! Ajay malas ketemu eyang..!" tolak Ajay.
"Ayolah nak...!" bujuk nyonya Diana.
"Mih, eyang pasti mau ceramahi Ajay lagi. Ajay pusing dengernya...!"
"Mamih janji, mamih akan belain kamu kalau sampai eyang memojokkan kamu lagi. Ayo, cuci muka...! Mamih tunggu di bawah !"
Nyonya Diana keluar dari kamar Ajay, kemudian kembali ke meja makan. Tak berapa lama, Ajay pun tiba di ruang makan, dia duduk di samping ibunya.
Makan malam berjalan tanpa seorang pun yang berani membuka suaranya. Selang beberapa menit....
"Jadi bagaimana Ajay ? Apa kau sudah mengambil keputusan ?" tanya tuan Mahesa.
Semua orang langsung menghentikan suapannya. Begitu juga dengan Ajay. Ajay meletakkan sendoknya ke atas piring dengan kasar.
"Dia tidak hamil eyang, dan aku tidak akan menikahinya ! Kami melakukannya secara sadar, atas dasar suka sama suka !" jawab Ajay.
Bima mengepalkan tangannya di bawah meja. Andai dia bukan kakakku, rasanya ingin sekali aku menghajar mulutnya yang kotor itu ! batinnya.
Tuan Mahesa tersenyum tipis, "Apa kau yakin ?" tanyanya.
"Ya eyang..! Aku yakin dengan keputusanku !" jawab Ajay lantang.
"Baiklah ! Kalau begitu, bersiaplah untuk menjadi gelandangan !" ujar tuan Mahesa penuh ketegasan. Dia pun beranjak dari tempat duduknya.
"Maksud ayah ?" tanya nyonya Diana.
Tuan Mahesa tak menghiraukan pertanyaan menantunya. Dia tetap melangkah pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian, dia pun datang kembali dengan membawa map berwarna hijau di tangannya.
"Ini...!" tuan Mahesa melempar map itu ke arah Ajay.
Beberapa kertas jatuh berserakan di meja makan. Nyonya Diana mengambil salah satu kertas.
"Surat hak waris." gumamnya. "Apa maksudnya ini, ayah ?" tanya nyonya Diana.
"Kenapa ? Kau tidak bisa membaca, Diana ? Baiklah, biar ayah jelaskan ! Itu adalah surat pencabutan hak waris terhadap cucu pertama ayah. Mulai saat ini, Ajay tidak punya hak atas semua aset ayah jika dia masih bersikeras dengan keegoisannya. Maka dari itu, 70 persen aset ayah, akan ayah serahkan kepada Kyara Adistya, dan 30 persen lagi, ayah percayakan pada Bima untuk dikelolanya kelak setelah dia berusia 23 tahun. Satu lagi, surat pencabutan atas semua fasilitas yang dia dapatkan selama ini. Jadi, mulai besok semua fasilitas yang ayah kamu berikan, akan eyang cabut ! Jelas semuanya !"
"Tapi ini tidak adil ayah ! Apa ayah sedang mengancam cucu ayah sendiri ?" teriak nyonya Diana.
"Anggap saja seperti itu Diana ! Ayah hanya berusaha memberikan keadilan untuk gadis tak berdosa itu !" ujar tuan Mahesa seraya berlalu pergi dari ruang makan.
Bersambung...
Sesuai janji author ya...
Alhamdulillah, hari ini bisa up 2 episode...
Jangan lupa like vote n komennya...
__ADS_1
Makasih...πππ