Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Bu Syantik


__ADS_3

"Hai...! Kenapa tidak bermain dengan yang lainnya, anak cantik !"


Sapa seorang guru berambut panjang bergelombang yang terikat rapi ke atas.


Bocah kecil berusia 8 tahun itu menoleh ke arah gurunya, namun sejurus kemudian dia menundukkan kepalanya sambil memainkan kakinya lagi di atas tanah, membentuk lingkaran-lingkaran besar menggunakan kakinya.


"Namaku ibu Kyara ? Kalau nama gadis kecil ini siapa ya ?" tanya guru cantik yang ternyata Kyara itu.


Kyara lulus kuliah bertepatan dengan permintaan bu Hani terhadap saudara kembarnya untuk dicarikan seorang guru yang berkompeten di bidang bimbingan konseling. Meskipun basic Kyara bukan seorang pendidik, namun profesinya yang memang seorang psikolog anak, membuat bu Hana memutuskan untuk mengirim Kyara bekerja di salah satu sekolah yang didirikan oleh keluarganya. Awalnya Kyara menolak, namun karena sekolah itu masih di bawah naungan yayasan yang didirikan oleh keluarga besar bu Hana, pada akhirnya Kyara pun menerima pekerjaan barunya.


Sekolah itu merupakan SD inklusif. Di mana, sekolah itu tidak hanya memberikan pelayanan pendidikan terhadap putra putri yang normal, namun juga di sekolah itu terdapat kelas yang khusus untuk menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).


Sudah dua tahun Kyara bekerja di SD Mutiara Bangsa. Dia ditempatkan sebagai guru yang menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut. Untunglah Kyara telah terlatih menangani dunia anak yang butuh ekstra kesabaran. Karena itu Kyara sangat menikmati perannya.


"Kok anak cantik ini tidak menjawab pertanyaan ibu, namanya siapa sayang ?"


Kembali gadis itu menoleh ke arah gurunya. Dia melihat senyum ketulusan di kedua sudut bibir gurunya. Tatapan penuh kelembutan terpancar jelas di sinar matanya. Dia pun mulai terhanyut dalam kelembutan yang disuguhkan oleh gurunya, seolah dia kembali menemukan kasih sayang yang dianggapnya hilang dari kedua orang tuanya.


"Namaku Arumi, bu !" jawab gadis kecil itu.


Dia adalah Arumi Larasati. Putra sulung pasangan Gunawan dan kak Indah.


"Arumi ya.. ? Ah, nama yang cantik, secantik wajah orangnya." puji Kyara.


Arumi tersenyum mendengar pujian dari gurunya.


"Kenapa Arumi duduk sendirian di sini ? Arumi tidak ikut main sama teman-temannya.


Arumi menggelengkan kepalanya lemah menjawab pertanyaan gurunya.


"Mau coklat ?" tawar Kyara seraya mengeluarkan beberapa coklat koin dari kantong blazernya.


Sejenak mata Arumi berbinar melihat makanan kesukaannya. Namun saat dia teringat akan pesan ayahnya, dia pun mengurungkan niatnya untuk mengambil coklat tersebut. Arumi hanya kembali menggelengkan kepalanya.


Kembali Kyara memasukkan coklat koin itu ke dalam saku blazernya.


"Bu Kya ! Sudah dipanggil oleh kepala sekolah untuk rapat awal bulan !" panggil seseorang.


Kyara menoleh, kemudian tersenyum ke arah teman kerjanya.


"Baiklah bu, sebentar lagi aku ke sana !" jawabnya.

__ADS_1


Kyara menatap Arumi.


"Nak, ibu hendak rapat dulu di kantor. Kamu tidak apa-apa, ibu tinggal sendirian ?" tanya Kyara yang tiba-tiba merasa cemas mendapati kesedihan di raut wajah Arumi.


Kembali Arumi hanya mampu menggelengkan kepalanya.


Kyara tersenyum seraya mengusap pucuk kepala Arumi. Saat dia melangkahkan kakinya menuju ruang rapat, tiba-tiba


"Bu syantik...!" seru Arumi.


Kyara membalikkan badannya seraya mengernyitkan dahinya, merasa aneh dengan panggilan Arumi.


"Bolehkah aku memelukmu ?" cicit Arumi pelan, namun masih terdengar oleh Kyara.


Kyara tersenyum, dia berjongkok kemudian merentangkan kedua tangannya.


Arumi segera berlari ke arah Kyara dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat yang dirasakannya.


Sejenak Kyara memeluk Arumi dengan erat.


Sepertinya, anak ini memiliki masalah. Aku harus mencari tahu tentang anak ini. Hmm, sebaiknya, setelah rapat selesai, aku temui wali kelasnya saja...


"Bu Kya ! Ayo !"


Kembali panggilan itu menyadarkan dua wanita berbeda generasi untuk saling melepaskan pelukannya.


"Makasih bu syantik !" ucap Arumi.


"Hei, nama ibu Kyara. Kamu boleh panggil, ibu Kya." jawab Kyara.


"Tidak, aku akan selalu memanggilmu ibu syantik !" tukas Arumi.


"Kenapa ?" tanya Kyara.


"Karena ibu memang sangat cantik." jawab Arumi polos.


Kembali Kyara tersenyum. Dia pun akhirnya kembali meninggalkan Arumi.


***


Danisa tumbuh mewarisi sifat ayah biologisnya yang ceria tanpa beban. Bahkan di usianya yang hampir menginjak 6 tahun, Danisa sudah bisa membedakan mana teman laki-laki yang dia sukai dan tidak dia sukai. Umumnya Danisa hanya akan berteman dengan anak laki-laki yang terlihat bersih, namun dia akan menjauhi anak laki-laki yang terlihat memakai pakaian lusuh ataupun ingusan.

__ADS_1


Sekarang Danisa sekolah di salah satu TK Swasta terbaik di kota B. Limpahan kasih sayang yang dicurahkan oleh ayah, dan oma opanya, terkadang membuat Danisa tumbuh menjadi anak yang sangat manja. Setiap keinginan harus segera diwujudkannya oleh orang tuanya. Jika telat, maka dia akan ngambek dan berlari ke rumah oma dan opanya. Namun demikian, Ajay sangat mencintainya.


Bukan tidak ada alasan yang membuat Ajay lebih memperhatikan Danisa ketimbang Cecilia, istrinya. Selain alasan karena Danisa adalah anak kandungnya dan masih kecil sehingga sangat butuh banyak kasih sayang dan perhatian. Alasan yang kedua, dia masih mengingat anaknya dari Kyara yang tak pernah terlahir ke dunia. Dengan memberikan perhatian lebih kepada Danisa, Ajay mencoba menghapus rasa bersalahnya.


***


"Benarkah seperti itu ?" tanya Kyara terkejut mendengarnya.


Bu Rani mengangguk.


"Baiklah bu, aku akan mencoba mendekatinya. Mudah-mudahan Arumi bisa kembali seperti dulu.


Kyara kembali ke kelasnya. Sepanjang dia berjalan di koridor. Dia melamun mengingat kembali perkataan bu Rani, wali kelasnya Arumi.


Dulu, Arumi adalah gadis kecil yang sangat ceria. Karena kebetulan sekolah ini merupakan sekolah satu atap yang tentunya memiliki tingkatan sekolah di mulai dari TK hingga tingkatan SMK, jadi bu Rani sangat mengenal bagaimana watak Arumi sejak bersekolah di tingkat TK.


Menginjak usia SD, Arumi masih terlihat gembira setiap kali memasuki sekolahnya. Bahkan dia menjadi anak yang berprestasi di kelasnya. Namun prestasi di kelas 2 menurun drastis. Tidak hanya dalam prestasi, dalam interaksi dengan guru dan teman sebayanya pun berubah.


Saat istirahat tiba, Arumi terlihat duduk menyendiri di sudut taman sekolah. Konsentrasi belajarnya pun terlihat berkurang. Hal itu bu Rina ketahui dari setiap hasil tes harian yang dilakukan di setiap akhir pembelajaran, nilai Arumi kurang memenuhi KKM.


Setiap kali bu Rina menanyakan alasannya, Arumi hanya meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya. Bu Rina sudah memanggil kedua orang tuanya Arumi. Namun sampai sekarang, baik ayah dan ibunya Arumi belum juga hadir. Mereka beralasan jika mereka belum punya waktu.


Ish..., orang tua macam apa yang tidak bisa menyempatkan waktunya untuk mengetahui perkembangan anaknya di sekolah !


Kyara merasa geram ketika mengingat kembali omongan bu Rani tentang kedua orang tua Arumi.


"Bu syantik !" teriak Arumi.


Panggilan bocah kecil yang sudah menarik di hatinya, segera membuyarkan lamunan Kyara.


Arumi berlari kecil menuju Kyara.


"Apa yang kamu lakukan di sini ?"


Bersambung....


Mohon maaf baru bisa up kembali...


Semoga masih suka ceritanya.


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak...🙏🤭

__ADS_1


__ADS_2