
Bismillah....
Mulai up lagi yaaa readersku...
Semoga masih suka dengan ceritanya...
Mohon maaf jika up nya terlalu sedikit, karena author harus membagi waktu dengan tugas yang lain....
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Keesokan harinya, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, akhirnya Kyara bersama kedua orang tuanya berangkat ke kota B. Kota yang sebenarnya tidak ingin Kyara injak lagi. Namun Kyara juga tidak bisa mencegah keinginan ayahnya untuk bertemu dengan Ajay. Entah apa yang diharapkan ayahnya dari pertemuan nanti. Kyara tidak ingin bermimpi terlalu jauh.
Perjalanan dari desa ke kota B memakan waktu sekitar 5 jam. Waktu yang Kyara rasakan sangat lama sekali. Semakin jauh jarak yang telah ditempuhnya, semakin bertambah pula rasa sesak di dada Kyara.
Kembali memorinya memutar kejadian demi kejadian yang dialaminya di kota B. Kyara memejamkan matanya. Hatinya menjerit mengingat semua kesakitan yang pernah terjadi di hidupnya. Kyara berusaha sekuat tenaga untuk tidak menampakkan air matanya. Kyara tidak mau orang tuanya melihat semua kesedihan yang dia rasakan.
Tepat pukul 12 siang, mereka tiba di terminal utama kota B. Terminal yang sangat luas dan megah. Kyara dan kedua orang tuanya segera turun dari bus. Sebelum mereka melanjutkan perjalanan, mereka singgah dulu di sebuah warung nasi untuk makan siang. Selepas makan, mereka pun menuju sebuah masjid terdekat untuk menunaikan salat zuhur.
Kyara termenung di depan masjid, sambil menunggu kedua orang tuanya yang belum selesai salat. Aku tidak pernah menyangka, aku kembali lagi ke kota ini. Apa kabar Sisil dan bu Rena ? Aku benar-benar merindukan mereka. Rasanya ingin sekali aku pergi menemui mereka, tapi aku tidak punya keberanian. Aku terlalu malu untuk bertemu lagi dengan mereka. Lalu Ajay ? Bagaimana reaksi dia nanti saat melihat kedatanganku bersama orang tuaku ? Apa dia akan marah dan semakin membenciku ? Ah...., ya Tuhan..., kenapa semuanya jadi rumit seperti ini.... batin Kyara.
"Ayo neng !" ajakan ibunya membuyarkan lamunan Kyara.
"Eh, iya bu. Ayo...!" jawab Kyara.
Akhirnya, mereka bertiga pun menaiki angkot yang akan membawanya ke tempat Ajay.
Perjalanan dari terminal ke tempat Ajay cukup jauh. Sepanjang perjalanan, hati Kyara semakin terasa gundah. Tampak kecemasan tergambar di raut wajahnya. Bagaimana jika Ajay tidak mau mengakui semua perbuatannya ? Bagaimana jika dia berbohong ? Batin Kyara.
__ADS_1
Kyara meringis memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Masih sanggupkah aku berdiri jika Ajay menolak semua kebenarannya ? Ya..! Aku harus sanggup ! Aku harus kuat dan tegar ! Akan aku ungkap semua kebenaran ini meskipun Ajay tidak mau mengakuinya... Tekad Kyara.
Jalanan cukup macet. Bunyi klakson yang saling bersahutan, membuat kebisingan terjadi di jalan raya. Kyara melirik ke arah kaca spion yang berada di depan. Tanpa sengaja, dia melihat sosok yang tidak asing lagi. "Kak Bagas..." gumamnya.
Ya ! Laki-laki itu tampak mengendarai motor di belakang angkot yang dinaiki Kyara. Sosok laki-laki yang mengingatkannya pada masa-masa tersulitnya. Ada rasa aneh berkecamuk di hati Kyara. Perasaan senang karena bisa melihat kembali laki-laki itu, juga perasaan takut untuk bertemu kembali dengan laki-laki itu.
Kyara teringat kembali tentang jaket Bagas yang telah diambilnya. Bagaimana reaksi dia saat mengetahui jaketnya hilang karena aku ambil ? Apa dia marah ? Batin Kyara.
Sepintas Kyara melihat Bagas menatap angkot yang dinaikinya. Segera Kyara menundukkan wajahnya. Dia tidak mau jika Bagas sampai melihatnya. Dia tidak ingin Bagas mengetahui keberadaannya.
Perlahan, angkot mulai melaju. Hingga akhirnya angkot itu sampai di sebuah perumahan elite. Kyara dan kedua orang tuanya segera turun dari angkot.
Bu Ratna yang baru pertama kali menginjakkan kaki di perumahan elite itu, tercengang. Dia tidak menyangka kalau Ajay yang dikenalnya dulu sebagai sosok pribadi yang sederhana, ternyata terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya. Setelah semua ini, bu Ratna pun merasa ragu jika Ajay benar-benar tulus mencintai Kyara. Mengingat perbedaan di antara mereka, ibarat bumi dan langit.
Kyara menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah yang sangat megah. Hatinya benar-benar kacau harus menginjakkan kakinya kembali ke rumah ini. Tapi Kyara tak punya pilihan lain.
Kyara mengangguk.
Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba seorang penjaga keamanan menghampiri mereka.
"Maaf, cari siapa ya ?" tegur mang Ujang.
Kyara menoleh...
"Eh, non Kyara...! Apa kabar ?" sapa mang Ujang yang merasa terkejut saat mendapati orang yang berdiri di depan pintu gerbang adalah teman majikannya.
Kyara tersenyum, "Kabar saya baik, mang. Apa Ajay ada ?" tanya Kyara.
__ADS_1
"Waduh...! Den Ajay sedang kuliah non..." jawab mang Ujang.
"Pulangnya jam berapa, mang ?" tanya Kyara lagi.
"Kalau tidak ada acara, biasanya jam 5 sore juga sudah ada di rumah, non." jawab mang Ujang.
"Apa orang tua Ajay ada di rumah ?" tiba-tiba pak Ahmad menyelak pembicaraan Kyara dan mang Ujang dengan wajah datarnya.
"Eh, anu...me... mereka ada di dalam, pak." jawab mang Ujang tergagap. Dia merasa kaget mendengar suara pak Ahmad yang menggelegar.
"Kenalin, mereka orang tua Kyara, mang !" ujar Kyara. "Kami ingin bertemu dengan om dan tanpa, boleh mang ?" tanya Kyara.
"Oh iya, silakan masuk non !" mang Ujang membuka gerbang dan mempersilakan Kyara dan kedua orang tuanya masuk.
Kaki Kyara gemetar saat memasuki halaman rumah Ajay. Ya Tuhan..., aku kembali lagi ke rumah ini. Beri aku kekuatan Tuhan... Tampakkanlah semua kebenarannya...
Bersambung....
Mohon maaf ya bilang episodenya terlalu nanggung...
Ini author sengaja dibuat 2 episode, karena author harus berbagi waktu dengan pekerjaan...
Semoga masih suka ceritanya...
Ditunggu boomlike nya yaaa...
Makasih....
__ADS_1