Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Tentang Bagas


__ADS_3

Beberapa menit sebelumnya, di ruang dapur.


"Pak, apa kamu dengar sesuatu ?" tanya bi Irah pada suaminya.


Subuh itu, selepas solat subuh bi Irah langsung pergi ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangganya. Sedangkan suaminya pergi ke masjid untuk solat subuh berjamaah. Pulang dari masjid, mang Jajang membantu istrinya memasak di dapur. Mata pencaharian mang Jajang adalah pedagang. Seperti kakaknya, mang Jajang juga berniaga di pasar wisata. Hanya saja, barang yang mang Jajang jual adalah hasil kerajinan tangan khas daerahnya, seperti tas anyaman, tirai kerang, frame yang terbuat dari kolase berbagai jenis kerang.


Samar-samar, bi Irah seperti mendengar suara keributan kecil. Dia pun bertanya pada suaminya.


Sejenak mang Jajang diam, untuk memastikan pendengarannya.


"Iya mah...! Seperti orang yang sedang bertengkar." ujar mang Jajang.


"Haiss..., nggak ada kerjaan pisan atuh. Pagi-pagi sudah bertengkar.


"Mah, sepertinya suaranya dari kamar eceu !"


"Astaghfirullah...! Jangan-jangan, Aneng...!"


"Kunaon Aneng ?"


Mang Jajang penasaran karena dia memang tidak tahu jika Aneng tidur di kamar ibunya.


"Semalam Aneng...."


Belum selesai bi Irah menjelaskan, tiba-tiba...


BUGH....!!


"Astaghfirullah hal adzim...!"


Bi Irah mematikan kompornya, dia segera berlari kecil menuju kamar yang sedang ditempati pasangan pengantin baru itu. Pikiran bi Irah sudah berkelana membayangkan sesuatu yang buruk menimpa pasangan itu setelah mendengar keributan mereka.


Jangan-jangan, mereka sedang bertengkar...?? batin bi Irah seraya membuka pintu kamar.


Ceklek...!


Bi Irah tampak terkejut melihat Bagas dan Kyara yang bergelung selimut di lantai. Sementara mang Jajang segera masuk ke dalam untuk melihat keributan yang terjadi.


"Ada apa pagi-pagi kalian sudah heboh ?" tanya mang Jajang begitu melihat pemandangan yang berada di atas lantai.


"Ah kalian ini...! Kenapa harus bermesraan di lantai segala ? Apa kasurnya tidak cukup untuk saling bertempur...he...he...he..." lanjut mang Jajang menggoda pasangan muda itu.


"Huss...! Ssstt...!" bi Irah memukul pelan bahu suaminya dan mendekatkan telunjuknya di bibirnya, agar suaminya menutup mulutnya.


Kyara segera bangkit, karena selimutnya masih melilit di tubuhnya, akhirnya kembali Kyara dan Bagas saling bertabrakan, kali ini kening Kyara yang mendarat mulus di bibirnya Bagas.


"Aaaahhh, manis sekali...!!" ucap bi Irah begitu melihat real movie di hadapannya.


"Maaf mang, bi...! Ini tidak seperti yang kalian kira !" ujar Kyara.


"Ah Aneng, kalaupun benar seperti yang kami kira, lalu apa salahnya ? Bukankah kalian sudah resmi menjadi suami istri, benar kan cep Bagas ?" ujar mang Jajang.


Wajah Bagas memerah mendengar perkataan mang Jajang.


"Sudah-sudah, jangan ribut lagi. Ini masih terlalu pagi. Apa kalian sudah solat subuh ?" tanya bi Irah.


"Belum bi...!" ujar Kyara dan Bagas berbarengan.


"Aih..., aih... sudah jam 5 dan kalian belum solat ? Ish, cepatlah mandi junub, abis itu segera solat !"


"Mandinya barengan aja cep Bagas, biar cepat selesai !"


Kembali mang Jajang menggoda pasangan muda itu.


"Bapak ah...! Jangan goda mereka lagi ! Ayo kita ke dapur lagi !" jawab bi Irah.

__ADS_1


Selepas paman dan bibinya meninggalkan mereka, Kyara hanya bisa diam mendengar perintah bi Irah mandi junub.


Ish bi Irah..., omongannya bener-bener nggak bisa dijaga. Mandi junub ? Emang Kya abis ngapain..., bikin malu saja..


"Kenapa nona ? Apa kau mau mandi bersamaku ?" goda Bagas sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Kyara hanya mengerucutkan bibirnya. Dia kemudian pergi meninggalkan Bagas.


Selepas solat, Kyara ikut membantu bibinya di dapur. Sementara Bagas dengan ditemani Mia, dia melakukan OKK (Olahraga Kebugaran Kaki) yang memang rutin dia lakukan sebelum berangkat kerja.


"Aaahhh..., udara di sini benar-benar segar ya dek ?" ujar Bagas.


"Iya a ! Di sini emang jarang ada kendaraan yang lewat, jadi udaranya masih bersih." jawab Mia.


"Mia...!!" teriak gadis yang seumuran dengannya.


"Eh, hai Ratih...!!" Mia pun turut berteriak menjawab panggilan temannya.


"Siapa dek ?" tanya Bagas.


"Itu a, teman sekolahnya Mia." jawab Mia.


"Kalian nggak pada sekolah ?" tanya Bagas lagi.


"Hari ini sekolahnya diliburkan dulu a. Guru-gurunya ada rapat di kecamatan." jawab Mia.


"Oh..!"


Ratih menghampiri Mia dan Bagas.


"Kamu ngapain ke sini, Mi ? Eh dia siapa ? Cakep banget Mi !" ujar Ratih terang-terangan.


"Eh kenalin nih, suamina teh Aneng, namanya a Bagas." jawab Mia.


Ratih pun menjabat tangan Bagas.


"Salah lihat pasti kamu mah ! Orang a Bagas baru pertama kali ke rumahnya teh Aneng." ujar Mia.


"Ih, sanes di rumah teh Aneng Mi ! Di mana ya...?"


Ratih mengerutkan keningnya, mencoba mengingat sesuatu.


"Aah iya...! Di majalah Mi ! Itu, majalah otomotif nu kita bikin makalah tea ! Sok coba perhatikan sama kamu, wajahnya mirip sama Bagas Anggara kan, itu pendiri perusahaan BA Group di Jerman tea, yang sudah berhasil menciptakan mobil ramah lingkungan projects A dan projects B tea !" ujar Ratih lancar sekali menjelaskan tentang Bagas Anggara.


Bagas hanya tercengang mendengarnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan dikenal oleh anak seusia mereka.


"Dek, aa pulang duluan ya...!"


Waah..., bisa repot nih urusannya...! batin Bagas.


"Eh, tunggu atuh a...! Ratih boleh selfie dulu ya sama aa ! Mau Ratih tunjukkan ke teman-teman kelas nanti, ya kan Mi ?"


Bukannya menjawab, Mia malah bengong mendengar omongan Ratih tadi.


Benarkah dia Bagas Anggara, pemilik perusahaan otomotif kedua terbesar di Jerman ? Jika memang benar, waah beruntung sekali atuh, dia bisa menjadi bagian dari keluarga Mia..., batin Mia.


"Mi...! Hei...! Ish, kok malah bengong."


"Eh iya, kenapa Rat ?"


"Tolong foto aku sama a Bagas ya..!" ujar Ratih seraya menyerahkan ponselnya ke Mia.


Ratih pun segera mendekati Bagas dan berpose dengan berbagai macam gaya absurd nya !"


Bagas hanya tersenyum tipis melihat kecentilan bocah remaja itu.

__ADS_1


"Sudah siang dek ! Kita pulang yuk !" ajak Bagas.


Mia segera mengembalikan ponsel temannya.


"Aku pulang dulu ya, Rat !" pamitnya.


"Iya Mi, makasih ya a fotonya..!" ujar Ratih seraya membungkukkan badannya.


Bagas tersenyum kemudian berlalu dari hadapan remaja yang masih tampak tersenyum mengamati foto-foto yang baru saja diambilnya.


Tiba di rumah, Bagas segera membersihkan dirinya dan ikut bergabung bersama anggota keluarga lainnya untuk sarapan.


Di meja makan.


"Pak, tahu tidak, sebenarnya a Bagas ini orang hebat loh pak !" ujar Mia penuh kebanggaan.


Ish, kau racuni apa otak sepupuku, sampai-sampai memujamu seperti itu..., gumam kesal Kyara dalam hatinya.


"Uhuk... uhuk...!"


Sementara Bagas langsung tersedak begitu mendengar ucapan Mia.


Please jangan bongkar semuanya, dek...!


Bagas menatap Mia dengan tatapan memohon, tapi sepertinya percuma, karena Mia tidak mengerti arti tatapan Bagas.


"Maksud kamu orang hebat ?" tanya bi Irah.


"Jadi a Bagas ini, dia adalah Bagas Anggara, seorang pengusaha muda, pemilik perusahaan yang bergerak di bidang otomotif. Dan a Bagas juga pendiri perusahaan BA Group, perusahaan otomotif terbesar kedua di Jerman. Bahkan sekarang BA Group sedang membuat cabangnya di kota J. A Bagas ini orang yang mendesain mobil ramah lingkungan pertama di negara kita yang diluncurkan oleh perusahaan Adinata Group. Nama produk itu projects A. Sedangkan mobil yang diluncurkan oleh perusahaannya sendiri di Jerman, diberi nama projects B."


Semua orang tercengang mendengar ucapan Mia. Begitu juga dengan Kyara. Jujur saja, sebenarnya dia tidak tahu tentang apa dan siapa Bagas saat pertama kali mereka dipertemukan kembali. Yang Kyara tahu, Bagas adalah pamannya Arumi, dan memang seorang pengusaha. Tapi dia tidak pernah menyangka tentang keberhasilan Bagas sebagai seorang eksekutif muda.


"Ish, kamu tahu dari mana dek ? Kamu pasti salah orang !" ujar Kyara masih berusaha menyangkal kebenaran yang baru saja didengarnya.


"Apa ! Jadi teh Aneng tidak tahu siapa suami teh Aneng ? Ish, emang kalian nggak pacaran ya ? Sampai tidak mengenali seperti apa suaminya !" dengus Mia kesal, karena kakak sepupunya tidak mempercayai ucapannya.


"Huss, Mia ! Bicara yang sopan sama kakakmu !" ujar mang Jajang.


"Maaf ! Oke, akan Mia buktikan ! Kalian tunggu di sini !"


Mia kemudian pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian, dia kembali ke meja makan seraya menyerahkan sebuah makalah kepada ayahnya.


Mang Jajang terlihat membolak-balikkan halaman demi halaman dari makalah itu. Sejenak dia menatap Bagas, kemudian kembali melihat lembaran makalah Mia. Hal itu mang Jajang lakukan berulang-ulang. Dengan cermat dia membaca berita yang tercantum dalam makalah itu. Hingga di lembaran terakhir yang menceritakan tentang biografi sang pengusaha, mata mang Jajang membulat sempurna.


Di halaman terakhir itu, tampak Bagas dengan pakaian kerjanya sedang berdiri menyandar pada sebuah mobil sport berwarna hitam. Mobil yang digunakannya saat ini.


"Subhanallah..., jadi encep teh...! Eh, maaf atuh tuan...! Duh maafkan kecerobohan kami yang tidak bisa menghormati tuan di rumah ini...! Se.. seharusnya tuan mendapatkan tempat yang layak, bukan di gubuk seperti ini ! Kalau begitu, nanti saya pesankan hotel berbintang untuk tuan menginap ya...!"


Melihat tingkah dan ekspresi pamannya seperti itu, Kyara segera menyambar makalah adeknya.


Benar saja. Perjalanan karir Bagas tergambar jelas di sana. Kyara hanya bisa menutup mulutnya tak percaya jika selama ini orang yang diabaikannya adalah seorang pengusaha sukses di dunia.


Sementara Bagas merasa canggung mendapat perlakuan berlebihan dari pamannya Kyara.


Bagas menggeser kursinya, dia kemudian berdiri dan mendekati pamannya Kyara. Bagas berjongkok di hadapan Paman Kyara.


"Jangan seperti ini mang ! Saya bukanlah orang yang hebat seperti apa yang mereka bicarakan. Mungkin memang benar, saya telah berhasil dalam dunia kerja. Tapi saya masih tetap orang yang sama. Orang yang sangat mencintai keponakan paman dari dulu sampai sekarang. Jangan panggil saya tuan, karena saya bukan tuannya mamang ! Saya hanyalah seorang pemuda yatim piatu yang sangat beruntung bisa menikahi putri mamang dan bisa diterima dengan hangat di keluarga ini. Panggil saya Bagas, dan anggaplah saya anak mamang, seperti mamang menganggap Kyara putri mamang sendiri." ujar Bagas.


Semua orang terharu menyaksikan kerendahan hati sang pengusaha.


Dia masih Bagas yang sama, Bagas yang tidak pernah ingin dipuji. Seorang Bagas yang tidak pernah malu untuk menunduk di hadapan orang tua... Ya Allah..., sanggupkah hamba menerima kenyataan yang ada...??


Bersambung...


Lanjut nanti ya gaiss...

__ADS_1


Lembur dulu...


Jangan lupa like vote n komen 🙏


__ADS_2