
POV Kyara
Saat aku melangkahkan kakiku keluar untuk pergi ke kantin. Tiba-tiba penjaga keamanan memberitahu jika ada seseorang yang ingin bertemu denganku dan sedang menunggu di ruanganku. Saat aku memasuki ruanganku, seorang laki-laki tampak berdiri di depan lemari penghargaanku.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu !"
Laki-laki itu membalikkan tubuhnya ke arahku. Untuk sejenak kami saling pandang, dan aku merasa aku pernah melihatnya, tapi aku lupa.
"Apa kita pernah bertemu ?" tanya nya padaku.
"Entahlah, tapi wajah anda seperti tidak asing bagiku." jawabku.
"Perkenalkan, saya Gunawan abinya Arumi." ujar laki-laki itu seraya menyodorkan tangannya.
Aku terkejut, jika dia abinya Arumi, tentu saja dia adalah kakak iparnya kak Bagas.
"Silakan duduk, tuan !" ucapku seraya mengatur ritme jantungku yang berdetak hebat.
"Apa ada masalah dengan Arumi ?" tanyaku.
"Ini bukan tentang Arumi, ini tentang adikku, suamimu...!" ujarnya.
Deg...deg...deg ...
Aku merasakan debaran jantungku semakin cepat. Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Apa dia akan memarahiku dan memintaku untuk meninggalkan kak Bagas ? Aku hanya bisa diam, sungguh, aku bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba laki-laki itu menyerahkan ponselnya padaku.
"Dengarlah !" ujarnya seraya memutar rekaman percakapan antara dirinya, suamiku dan orang lain. Durasi pembicaraan itu cukup panjang, namun intinya aku bisa merasakan dilema suamiku antara menjaga perasaanku dan menjaga kesejahteraan ratusan karyawannya.
"Gadis itu sepupuku. Namanya Rachella Ambarwati. Fall in love at the first sight, mungkin itu yang dia rasakan. Tapi Bagas tidak pernah menanggapinya. Hingga akhirnya dia meminta bantuan kedua orang tuanya untuk menjodohkan dirinya dengan Bagas."
Tanpa diminta, laki-laki itu mulai menceritakan masa lalu suamiku.
"Ibunya pernah datang ke rumah kami, dia juga pernah memintaku untuk membantunya dalam mewujudkan perjodohan itu. Tapi aku menolaknya. Imbas dari penolakanku adalah penghinaan yang dia lontarkan untuk Bagas. Dia mengatakan jika Bagas hanyalah benalu di rumah kami, hal itu membuat kakaknya Bagas marah dan mengusir mereka dari rumah. Karena itulah, sampai saat ini Bagas menolak untuk tinggal di rumah kami."
"Tentang kehadirannya di kantor Bagas, semua ini murni kesalahan kami sebagai walinya Bagas. Saat Bagas pergi, ada beberapa perusahaan yang menolak pemunduran jadwal meeting. Doni, asistennya Bagas merasa kewalahan ketika sekretaris Bagas mengundurkan diri karena hendak menikah. Dia tidak bisa menghubungi Bagas karena dia tahu Bagas sedang menemani istrinya yang tengah berduka. Karena itu Doni meminta bantuanku untuk mencarikan seorang sekretaris yang sudah berkompeten. Awalnya aku ingin merekomendasikan sekretaris temanku, yang memang sudah sangat ahli menjadi sekretaris perusahaan otomotif, tapi kakaknya Bagas memintaku untuk menempatkan Rachella sebagai sekretaris Bagas."
"Dia merasa jika sudah saatnya Bagas memiliki pendamping. Rachella sangat mencintai Bagas, dia yakin jika intensitas waktu bertemu mereka semakin tinggi, maka perlahan Bagas akan membuka hatinya untuk Rachella. Awalnya aku tidak setuju, namun suami mana yang bisa bertahan dengan rengekan istrinya. Karena rasa sayangku terhadap istriku, akhirnya aku pun menyetujui rencana istriku."
"Tapi saat itu, kami benar-benar tidak tahu jika kalian sudah menikah. Maafkan kecerobohan kami, nona !"
Aku melihat ada penyesalan yang tersirat di matanya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk tiba-tiba hadir di tengah-tengah hubungan kak Bagas dengan gadis itu. Semalam aku sudah bilang, jika dia ingin menceraikan aku, akan aku tandatangani semuanya. Aku tidak ingin menjalani ikatan yang akan saling menyakiti. Sekali lagi, tuan bisa menyampaikan hal itu kepada kak Bagas !" ujarku.
__ADS_1
Perih...., hanya ada keperihan yang aku rasakan saat aku dengan tidak tahu malu mengatakan semua itu kepada kakak iparnya suamiku.
Cerai....!! Perbuatan yang ingin kuhindari, tapi apa aku sanggup jika harus melihat kebersamaan suamiku dengan wanita lain ?
Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Aku takut, aku sangat takut jika tak mampu berdiri saat aku harus terjatuh di lubang yang sama untuk yang kedua kalinya. Lebih baik aku mengakhiri hubungan ini sebelum aku benar-benar terjebak oleh perasaanku sendiri.
"Tapi dia sangat mencintaimu, nona ! Jangan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Kau dengar tadi, demi mempertahankan pernikahannya, dia rela jika perusahaannya mengalami kebangkrutan. Tapi apa kau tega, melihat ratusan karyawan yang terkena imbasnya hanya karena keegoisan dia. Aku tahu dia sangat menghormati pernikahannya, tapi dia juga harus berpikir realistis. Akan ada banyak istri dan anak yang terlantar akibat suaminya menjadi pengangguran."
"Aku mohon nona, berikan dia sedikit kepercayaanmu ! Dukung dia dalam mengembangkan perusahaanya ! Izinkan Rachella menjadi sekretarisnya, hanya untuk beberapa bulan saja, sampai proyek ini terealisasi. Kau juga bisa menjadikan masalah ini untuk menguji pembuktian cintanya. Aku yakin Bagas sangat mencintaimu, dan aku yakin dia bisa menjaga kesucian cintanya."
"Tapi aku ragu, kak !"
Akhirnya kata itu berhasil lolos dari mulutku. Aku sudah tidak bisa menahan isi hatiku lagi.
"Aku ragu jika wanita itu tidak akan bisa menjaga sikapnya. Katakanlah aku percaya dengan suamiku, tapi bisakah ada jaminan jika suamiku tidak akan tergoda ketika wanita itu terus mendekatinya ? Aku takut kak, aku takut kak Bagas meninggalkanku demi wanita lain. Aku bukanlah wanita sempurna, akan ada waktunya kak Bagas menyadari semua itu dan meninggalkanku kembali." ujarku lirih.
Entah kenapa...., entah kenapa aku seberani itu mengeluarkan rasa takut kehilanganku di depan laki-laki yang baru aku kenal. Laki-laki itu tersenyum, dia kemudian menggenggam tanganku.
"Dia Bagas, bukan Ajay !"
Deg....!
Aku kembali dibuat terkejut oleh ucapannya. Apa ini artinya, dia tahu masa laluku ?
"Adik ipar, sudah saatnya kamu keluar dari penjara yang kau buat sendiri ! Biarkan Bagas memasuki hatimu, Belajarlah untuk membuka kembali rasa cintamu. Aku rasa, akan sangat bodoh jika Bagas tertarik dengan wanita lain setelah 6 tahun dia menunggumu ! Berikan Bagas sedikit kepercayaanmu untuk bisa membuktikan menjadi seorang suami yang bertanggungjawab !"
"Baiklah adik ipar, aku permisi dulu ! Tolong pikirkan kembali ucapanku tadi ! Satu lagi, sekarang aku ingat siapa dirimu. Bukankah kau yang pernah menjual cincin giok kepada kami ?"
"Ba... bagaimana kakak bisa tahu ?"
"Cincinmu yang memberitahuku !" ujar laki-laki itu seraya menunjuk cincin giok yang aku kenakan.
"Kau tahu, cincin itu bisa menjadi salah satu bukti cinta Bagas selama ini padamu. Dia benar-benar menyimpannya untuk diberikan kepada orang spesial yang akan mendampingi hidupnya. Tolong buang keraguanmu terhadapnya, adik ! Atau kau bisa menyesal jika sampai terlambat menyadari perasaanmu sendiri. Permisi, assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam...!"
Entahlah, aku sudah tidak bisa berpikir lagi saat dia telah menghilang dari pandanganku.
Setelah jam istirahat selesai, aku kembali ke kelas untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajarku. Tapi saat itu konsentrasiku benar-benar pecah. Aku teringat kebersamaanku dengan kak Bagas dulu. Entah kenapa aku ingin segera bertemu dengannya. Rasanya tak sabar menunggu jam kepulanganku.
Menunggu itu sesuatu yang sangat membosankan. Akhirnya, bel sekolah pun berbunyi. Setelah anak-anak pulang, aku pun segera solat ashar. Aku tidak ingin membuat kak Bagas menungguku terlalu lama. Selepas solat, aku berjalan menuju gerbang. Saat aku melihatnya, hatiku mulai senang. Baiklah kak, jika kau membicarakan masalahmu saat ini, maka akan ku berikan semua kepercayaanku untukmu. Akan aku biarkan Rachella menjadi sekretarismu. Kak Gunawan benar, anggap saja ini untuk menguji kesetiaanmu padaku...
***
__ADS_1
"Kita mampir dulu di restoran ya, kang ?"
Ciiiiiitttt....!!
Tiba-tiba saja Bagas mengerem mobilnya.
"Ish..., kakang...! Hati-hati...! Kau ingin membuat kita celaka !" Kyara menggerutu kesal karena perbuatan suaminya.
"Apa yang barusan kau bilang, nona ? Tolong katakan sekali lagi !" ujar Bagas berkaca-kaca.
"Bilang apa ? Aku tidak bilang apa-apa !" elak Kyara.
"Ish, nona...! Pendengaranku masih sangat baik ya ! Coba katakan, kau memanggilku apa tadi ?"
"Panggil apa ? Ayo cepetan jalan lagi, keburu sore !" ujar Kyara sinis.
"Nona, aku mohon !"
"Baiklah kakang, ayo kita jalan lagi ya, istrimu ini sudah sangat kelaparan.. !"
"Kakang...?"
"Iya, itu adalah panggilan istri kepada suaminya di tempat tinggalku !"
Kyara memberikan penjelasan tentang panggilan barunya untuk suaminya.
"Kakang...! Hmm, tidak buruk juga !" ujar Bagas menggoda Kyara.
"Kau...!! Baiklah, akan ku panggil kau kakak lagi !" rengut Kyara
"Ish jangan nona, aku suamimu, bukan kakakmu ! Aku lebih senang dipanggil kakang olehmu. Coba tolong katakan lagi !" kembali Bagas menggoda istrinya.
"Kakang, tolong jalankan kembali mobilnya, oke !"
"Sesuai dengan perintahmu, nyonya Anggara !"
Bagas kembali melajukan mobilnya. Hatinya benar-benar terasa hangat mendengar panggilan baru dari istrinya.
Ya Tuhan...., semoga ini menjadi awal yang baik bagi hubungan kami...
Bersambung....
Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏🤗
__ADS_1