
"Apa kamu mau kakak antar ke rumah ?" tanya Bagas begitu mereka sampai di gapura perumahan elite.
"Bima nginep di rumah kak Bagas saja, boleh kan ?" pinta Bima.
"Tentu saja boleh !" ujar Bagas seraya mengacak-acak rambut Bima dengan tangan kirinya.
Tiba di depan rumahnya, Bagas segera turun dari mobil dan membuka gerbang rumahnya. Setelah itu dia kembali ke mobil dan melajukan mobilnya memasuki halaman rumahnya.
Bagas memarkirkan mobilnya. Mereka pun segera keluar dan memasuki rumah.
"Salat dulu, Bim !" perintah Bagas.
"Iya kak !" jawab Bima.
Tiba di kamar Bima segera menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya kembali berkelana pada kejadian tadi siang. Bima sungguh tidak menyangka jika hari-hari yang dilalui Kyara, sangatlah susah.
Semua ini gara-gara kak Ajay ! Aku benci kak Ajay !
Sementara itu di kamar satunya lagi. Tampak Bagas sedang menunaikan salat isya. Selepas salat, dia pun pergi menuju balkon. Bagas berdiri di tepi balkon. Pandangannya menatap ke arah kolam renang milik Ajay. Bayangan Kyara yang sedang berselfie ria di tepi kolam itu, kembali melintas dalam benak Bagas. Tanpa sadar, seulas senyum tipis, terukir di wajah Bagas.
Sejenak Bagas memejamkan matanya, mencoba mencari kesempurnaan wajah indah Kyara yang sedang tertawa dalam kegelapan yang dia ciptakan. Bagas membuka matanya dan menengadahkan wajahnya ke atas. Perkataan mang Tatang, kang Subro dan ibu pemilik panti tentang hari-hari berat yang harus dilewati Kyara dan ibunya, kembali terngiang di telinganya. Tanpa sadar, air mata mulai menggenang di kedua sudut matanya.
Sakit...! Ya, hanya rasa sakit yang sangat menyesakkan dadanya yang bisa Bagas rasakan saat ini. Hatinya merasa sakit mendengar semua penderitaan Kyara. Bagas kembali merutuki dirinya yang tidak pernah ada setiap kali Kyara membutuhkannya.
"Seandainya hari itu aku menemaninya pulang ? Mungkin ceritanya akan berbeda...!" gumam Bagas.
Cukup lama Bagas berdiam diri di balkon itu. Hingga malam semakin larut dan hawa dingin mulai menusuk kulitnya. Bagas pun kembali ke kamarnya, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Berharap pagi akan segera menghampirinya, hingga dia bisa melupakan semua rasa sakitnya.
***
Hari terus berlanjut. Tanpa terasa hampir seminggu Bima menginap di rumah Bagas. Sesekali nyonya Diana datang untuk menemui Bima, tapi Bima tak pernah mau bertemu dengan ibunya itu.
"Pulanglah, Bim !" ujar Bagas seraya mengusap rambut Bima.
"Kak Bagas ngusir Bima !" jawabnya seraya menatap tajam ke arah Bagas.
"Ish...! Jangan salah sangka seperti itu ! Kakak senang kamu berada di sini. Mau selamanya kamu tinggal di sini, kak Bagas tidak keberatan. Tapi kamu harus temui dulu orang tuamu, minta izin pada mereka dengan benar. Kalau begini caranya, itu sama saja kamu kabur dari rumah " Bagas berusaha memberikan pengertian kepada Bima.
"Tapi, Bima malas ketemu mereka, kak ! Bima masih kesal dengan sikap mereka yang selalu menyepelekan setiap permasalahan. Gara-gara mereka, hidup kak Kyara menderita !"
"Sudahlah ! Tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang telah terjadi. Mungkin memang semua ini sudah garis takdirnya Kyara ! Kita hanya bisa mendo'akannya, semoga Kyara baik-baik saja. Lagipula, Kya orang yang sangat tegar. Dia pasti bisa kuat menerima takdirnya."
Bima mengangguk.
"Sore ini Bima mau pulang, kak !"
"Mau kak Bagas temani ?"
"Boleh !"
***
"Bagaimana Kya ? Kapan mulai kuliah ?" tanya Anti saat mereka sedang makan siang di dapur.
"Belum tahu sih, mbak. Katanya nanti akan diberi tahu lewat WA grup." jawab Kyara.
"Eh Kya, tadi pak Dul bilang, katanya beberapa hari yang lalu ada 2 pemuda dari kota cariin kamu. Kalau nggak salah, namanya Bima sama Bagas."
"Uhuk... uhuk...!!"
Kyara langsung tersedak saat Anti menyebutkan nama Bima dan Bagas.
"Aish..., hati-hati Kya...!"
__ADS_1
Anti menepuk punggung Kyara pelan.
"Su..sudah, makasih mbak !"
"Kenapa Kya ? Kamu kaget ? Apa kamu kenal mereka ?"
Kyara mengangguk.
"Apa mereka ada hubungannya dengan mantan tunanganmu ?"
"Bima adalah adik dari Ajay, sedangkan kak Bagas, dia sahabatnya Ajay."
"Huh..., untunglah...!"
"Maksud mbak ?"
"Saat pak Dul bilang bahwa mereka datang dari kota B, bu Hana sepertinya punya firasat jika salah satu dari mereka adalah mantan tunanganmu. Karena itu, bu Hana bilang ke mereka jika kamu sudah tidak bekerja di sini lagi."
"Hhhh..., syukurlah...!"
"Tenanglah Kya, mulai sekarang, tidak akan ada yang bisa mengganggumu lagi !" ucap Anti seraya memegang tangan Kyara.
Kyara tersenyum dan mengangguk.
***
Sore harinya, diantar Bagas, Bima pun kembali ke rumahnya. Tiba di beranda depan, dia melihat keluarganya tengah berkumpul dan bercengkrama. Terlihat rona kebahagiaan di wajah ibu dan kakak ipar yang tak pernah diakuinya. Tanpa mengucapkan salam, Bima terus melangkah memasuki rumahnya.
"Haiss..! Kalau masuk tuh ucap salam dulu, Bim !" tegur nyonya Diana.
Bima menghentikan langkahnya sejenak, dia menatap ibunya dengan pandangan yang sulit diartikan. Selang beberapa detik, dia kembali melanjutkan langkahnya.
"Bima...! Kamu nggak dengar mamih ngomong apa !" seru nyonya Diana.
"Tau tuh, Bima..! Kayak kadal aja, yang suka lewat tanpa permisi...! He...he...he...!"
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Ajay yang hanya sekedar bergurau mengejek sikap adiknya, malah mendapat pukulan yang membabi buta dari Bima.
"Shit...! Lo apaan sih, Bim...! Come on...! I'm just kidding !" seru Ajay seraya menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Bercanda...! Lo bilang cuma bercanda...! Apa Lo juga bercanda saat membuat hidup orang hancur ! Apa lo juga bercanda saat perbuatan lo telah merenggut nyawa seseorang...! Apa semua hidup lo hanya untuk sebuah lelucon...!"
"Hei..., bocah kecil...! Kenapa lo segitu sewotnya sama gue !"
"Lo...! Lo benar-benar brengsek ! Lo bajingan Jay !"
Bugh....
Bugh...
Kembali Bima melayangkan bogem mentahnya ke arah Ajay.
Bagas menarik tangan Bima untuk melerai perkelahian antara kakak adik itu.
"Lepasin Bima, kak ! Biar Bima hajar bajingan itu !" teriak Bima.
"Cukup Bima ! Apa-apaan sih kamu ! Kamu kesurupan setan mana, sampai bisa bersikap brutal kayak gitu !" teriak nyonya Diana histeris melihat sikap kurang ajarnya Bima kepada kakaknya.
__ADS_1
"Kesurupan setan seperti kalian !" Bima tak kalah keras berteriak kepada semua orang yang ada di sana.
Plak...!
Tiba-tiba tuan Ali menampar Bima dengan keras.
"Jangan kurang ajar kamu, Bima ! Dia ibu kamu ! Bersikap sopanlah pada orang tua !"
"Sopan...? Papih meminta Bima untuk bersikap sopan pada orang yang tidak pernah mengajarkan sopan santun pada anaknya !"
"Bima...!!"
Tuan Ali kembali membentak Bima. Dia benar-benar tidak pernah menyangka jika anaknya berubah menjadi orang yang kasar. Terlebih lagi terhadap ibu kandungnya sendiri.
"Apa...! Papih marah ? Memang benar kan, kalau istri papih, nyonya Diana yang terhormat ini tidak pernah mengajari anak-anaknya sopan santun, sampai laki-laki bajingan itu tega membuat hancur kehidupan seorang wanita !"
Bima masih berteriak dan kembali menyudutkan ibunya.
"Jaga ucapan kamu Bima ! Dia ibu kamu, hormati dia !" tegur Bagas.
"Jangan ikut campur kak ! Satu-satunya hal yang kusesali dalam hidupku adalah terlahir dari rahim seorang ibu seperti dia !"
Plak....!
Kali ini nyonya Diana yang menampar Bima.
"Kamu...!!" ujarnya geram.
"Kenapa ? Tidak terima ? Ayo tampar lagi Bima, tampar sampai puas, bila perlu bunuh Bima sekalian, agar Bima tidak harus menanggung malu atas perbuatan hina kalian !"
"Kamu kenapa Bim ? Jika ada masalah dengan mamih, kamu bisa bicarakan baik-baik !"
Kali ini, Cecilia ikut buka suara karena merasa sikap Bima terhadap ibunya sudah sangat keterlaluan.
"Diam ! Aku tidak butuh nasihatmu ! Dasar pelakor !"
"Bima...! Jaga ucapanmu ! Dia kakak iparmu !" teriak Ajay yang tidak terima istrinya dihina.
"Dia bukan kakak iparku ! Dia hanya istrimu ! Bagiku, dia hanya wanita yang melakukan hal licik untuk mendapatkan seorang suami !"
Bugh...!
Kali ini Ajay yang balas memukul Bima, sehingga membuat Bima terhuyung. Bagas segera menahan tubuh Bima agar tidak jatuh
"Cukup Jay !"
"Lepaskan dia, Gas ! Anak ini sudah kelewatan, dia harus diberi pelajaran !"
Bagas menarik Bima ke arah belakangnya. Dia memasang badan untuk melindungi Bima.
"Menyingkir dari hadapanku !" teriak Ajay.
"Seujung kuku kau menyentuhnya, aku yang akan menyeretmu, Jay !" jawab Bagas geram.
"Bagas...! Jangan bela anak kurang ajar itu !" teriak nyonya Diana.
"Bima punya alasan melakukan semua ini tante ! Bima sangat punya alasan untuk bersikap kasar terhadap kalian semua !" ujar Bagas masih berusaha menahan kesabarannya.
"Apa maksudmu Bagas ?" tanya tuan Ali.
"Maaf om, maafkan sikap Bima yang seperti ini ! Bima hanya merasa kesal dengan sikap orang tua dan kakaknya yang tidak bisa bertanggungjawab terhadap kehidupan seseorang yang disayanginya."
"Jangan berbelit-belit, Gas ! Katakan !"
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗