
Assalamualaikum readers...
Happy weekend....
Semoga masih suka dengan ceritanya yaaa
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Tiba di hotel Bintang. Seorang pria paruh baya yang tak lain adalah pak Hadi, manager hotel, telah berdiri di depan pintu lobi untuk menyambut Kyara dan kedua orang tuanya.
"Selamat sore nona ! Selamat datang di hotel kami. Mari, saya antar menuju kamar !" sapanya.
Kyara mengangguk. Mereka pun mengikuti manager hotel tersebut.
Bu Ratna tercengang, melihat keadaan di ruangan hotel itu. Tak berapa lama, mereka tiba di salah satu kamar presidential suite room.
"Ini kamarnya nona. Silakan masuk !" pak Hadi membuka pintu kamarnya dan mempersilakan tamunya masuk.
Bu Ratna semakin tercengang dibuatnya. Sungguh, seumur hidupnya dia tidak pernah menyangka akan merasakan menginap di hotel mewah. Ya Gusti Allah, ngimpen naon kuring peting ! Bisa sare di hotel agreng kieu ! ( Ya Tuhan, mimpi apa saya semalam ! Sampai bisa tidur di hotel semewah ini ) batin bu Ratna.
"Maaf nona, ini untuk nona !" kata pak Hadi, menyerahkan paper bag berwarna biru.
"Apa ini pak ?" tanya Kyara, heran.
"Ini ponsel, dari nyonya Aini. Katanya, supaya lebih mudah berkomunikasi dengan anda." jawab pak Hadi.
Kyara kaget, "Tapi, ini tidak perlu pak !" tolak Kyara.
"Mohon diterima nona ! Ini demi kebaikan kita semua. Nyonya Aini sangat tidak suka dengan penolakan !" ujar pak Hadi.
"Ba... baiklah...! Terima kasih, pak !" ujar Kyara.
"Sama-sama. Saya sudah simpan nomor telpon keluarga tuan Mahesa. Barangkali suatu saat nanti, nona membutuhkannya. Kalau begitu, saya permisi dulu. Mari tuan, nyonya !" pamit pak Hadi.
Pak Ahmad dan istrinya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Setelah kepergian pak Hadi, Kyara pun menutup pintu kamarnya.
"Masya Allah neng, ibu tidak menyangka, ternyata Ajay itu anak orang kaya." ujar bu Ratna.
Kyara tersenyum, hatinya semakin miris. Justru karena dia kaya, dia bersikap semena-mena terhadapku. Seandainya dari awal aku tahu kalau dia anak orang kaya, aku tidak akan pernah mau membuka hatiku untuknya, bu... batin Kyara.
"Ayah harap, dia bisa bertanggungjawab. Tidak seperti kebanyakan orang kaya yang selalu bertindak seenaknya sendiri." ujar pak Ahmad.
"Ajay tidak seperti itu, yah ! ujar Kyara. Meski kata hatinya bertolak belakang dengan ucapannya. Ya ! Ajay sama saja dengan lelaki kaya lainnya, yang tidak ingin bertanggungjawab atas perbuatannya. Tapi tidak yah, maaf, aku tidak akan memberitahukan semua perbuatan Ajay padaku dulu. Aku tidak sanggup melihat kekecewaan di mata kalian lagi.... batin Kyara.
"Sudahlah pak, sebaiknya kita bersih-bersih. Sebentar lagi mau magrib, yuk !" ajak bu Ratna.
Pak Ahmad mengangguk, lalu pergi ke kamar mandi. Sedangkan Kyara dan ibunya segera menata pakaian mereka ke dalam lemari.
***
Di kediaman Ajay Sanjaya. Situasi semakin panas saja. Nyonya Diana bersikeras tidak mau menerima kenyataan jika anaknya berbuat salah
__ADS_1
"Pokoknya sampai kapanpun, mamih tidak akan izinkan Ajay untuk menikahi gadis kampung itu !" seru nyonya Diana.
"Cukup Diana ! Jangan keras kepala ! Ajay harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya !" bentak nyonya Aini.
"Ibu ! Gadis itu tidak hamil kan ? Jadi Ajay tidak punya kewajiban untuk menikahinya ! Mungkin saja, bukan hanya Ajay yang pernah tidur dengannya. Bisa jadi, Ajay cuma dijebak !" nyonya Diana tak kalah berteriak.
"Diana ! Jaga bicaramu ! Ibu bisa melihat kalau dia gadis baik-baik." bantah nyonya Aini.
"Ibu jangan tertipu ! Jika dia gadis baik-baik, dia tidak akan mungkin mau ditiduri begitu saja sama laki-laki !" nyonya Diana masih berusaha mengelak.
"Cukup mih...!" teriak Ajay, merasa tak terima dengan ucapan ibunya. "Aku yang lebih tahu tentang dia dibandingkan mamih, jadi cukup mih..., jangan bicara apapun lagi tentangnya !"
"Hey, Ajay...! Mamih sedang berusaha untuk membela kamu, kenapa kamu malah bentak mamih ?!" teriak nyonya Diana.
"Aarrgghh...., Ajay pusing..!!" Ajay beranjak dari kursinya, kemudian pergi ke kamarnya.
"Ajay, tunggu...! Kamu jangan terima keputusan eyangmu !" teriak nyonya Diana.
"Diana, kau...?! Ah, ibu tak habis pikir dengan pemikiranmu. Ibu rasa, sifat egois Ajay memang menurun darimu !" ujar nyonya Aini. "Ali ! Kau urus istrimu, nasihati dia ! Jangan sampai, kelak di akhirat kau menyesal karena memiliki istri yang keras hatinya !" ucap nyonya Aini seraya pergi ke kamar menyusul suaminya.
Tuan Ali hanya mampu diam melihat perdebatan ini. Jiwa dan raganya sudah benar-benar lelah. Sepulang kerja, beliau disuguhi permasalahan yang cukup pelik. Dia beranjak dari kursinya.
"Tunggu ! Papih mau kemana ?" tanya nyonya Diana.
"Rehat !" jawab tuan Ali. Dia pun berlalu meninggalkan istri dan anak bungsunya.
Nyonya Diana melirik anak bungsunya, "Kamu dukung mamih kan, Bim ? Kamu pasti nggak setuju jika kakakmu harus menikah muda ?" tanya nyonya Diana, mencari dukungan Bima.
"Ish, jawab yang benar !" ujar nyonya Diana.
"Mamih mau jawaban jujur atau bohong ?" tanya Bima.
"Ya jujurlah ! Apa kamu pikir, mamih suka kebohongan ?" ujar nyonya Diana.
"Kalau mau jawaban yang jujur, Bima nggak setuju sama sikap mamih yang selalu mendukung perbuatan salah kak Ajay. Mamih selalu menutupi setiap kesalahan kak Ajay. Jadi, inilah hasilnya mih...! Kak Ajay tumbuh menjadi laki-laki egois, pengecut dan tidak bertanggungjawab !" jawab Bima santai, meskipun dalam hatinya dia merasa cemas karena takut menyinggung perasaan ibunya.
"Kamu !!" nyonya Diana melempar bantal sofa ke arah Bima. "Pergi kamu dari hadapan mamih ! Bukannya dukung mamih, tapi kamu malah bikin tensi mamih naik ! Pergi...!!" usir nyonya Diana kepada Bima.
Bima tersenyum kecut. Ya ampun mamih..., kapan mamih bisa bersikap layaknya seorang ibu yang akan menjadi panutan anak-anaknya...? batin Bima seraya berlalu dari hadapan ibunya.
Tinggal nyonya Diana duduk sendirian di ruang tamu itu, dengan ekspresi marah yang tak bisa digambarkan.
***
Hari berganti hari. Ini sudah hari ketiga sejak Kyara datang membawa kebenaran ke rumah Ajay. Suasana di rumah pun terasa sangat suram. Tidak ada lagi kehangatan di rumah keluarga Sanjaya. Sarapan yang selalu diselingi senda gurau sang kakek bersama cucu-cucunya, kini tidak ada lagi. Tuan Mahesa lebih senang melakukan sarapan di kamarnya. Dia benar-benar lelah dengan keegoisan menantu dan cucunya itu. Begitu juga dengan nyonya Aini yang ikut menemani tuan Mahesa di kamarnya.
"Pokoknya, mamih tidak mau...!"
Tring....!
Nyonya Diana melempar sendoknya saat tuan Ali membujuknya untuk menyetujui keputusan ayahnya.
__ADS_1
"Hebat sekali kau Diana !" teriak tuan Mahesa yang tiba-tiba telah berdiri di belakang nyonya Diana.
Ya ! Tuan Mahesa hendak mengambil air minum ke dapur. Tanpa sengaja, dia mendengar perdebatan antara anak dan menantunya di meja makan.
"Ayah...!" gumam tuan Ali.
"Seperti ini wanita yang telah kau nikahi, Ali ! Tidak ada sopan santunnya terhadap suami !" bentak tuan Mahesa.
"Cukup ayah ! Ya...! Aku memang wanita yang tidak punya sopan santun ! Ayah puas...?!" teriak nyonya Diana, beranjak dari kursinya dan berlalu melewati tuan Mahesa begitu saja.
PLAKK....!
Nyonya Aini yang sudah berada di samping suaminya, benar-benar marah akan sikap nyonya Diana. Beliau menarik tangan nyonya Diana, kemudian menamparnya.
"Anak tidak tahu diri ! Berani kau berkata seperti itu pada mertuamu ! Pada orang yang telah mengangkat derajatmu ! Pada orang yang sudi mengakui keberadaan dan latar belakangmu ! Ya Tuhan, Diana..., aku benar-benar tidak menyangka jika status sosial yang mereka berikan padamu, justru malah membuatmu semakin besar kepala ! Apa kau lupa siapa dirimu ? Apa kau lupa, darimana kita berasal...? Ya Tuhan, bahkan sekarang aku mulai merasa malu menjadi bibimu...!" bentak nyonya Aini sambil berlinang air mata.
"Terserah...! Terserah kalian...! Aku tidak peduli ! Dan aku tidak pernah minta menjadi bagian dari keluarga yang terhormat ini...!" teriak nyonya Diana.
"Kau...!" nyonya Aini hendak mengangkat tangannya kembali, tapi tuan Mahesa menghentikannya.
"Biarkan dia ! Biarkan dia melakukan apapun yang dia suka ! Itu tidak akan berpengaruh pada keputusanku. Jangan kotori tanganmu lagi, Aini ! Kemewahan telah menggelapkan hatinya." cegah tuan Mahesa.
"Maafkan aku...! Maafkan aku yang tidak bisa mendidiknya !" ujar nyonya Aini dalam isak tangisnya.
Tuan Ali mendekati nyonya Aini, "Sudahlah ibu, ini bukan salah ibu ! Aku yang salah ! Aku yang selalu membiarkan dia bertindak sesuka hatinya ! Aku yang tidak bisa membimbingnya ! Aku terlalu mencintainya, sampai semua sikap buruknya selalu kuabaikan." ucap tuan Ali.
Nyonya Aini mengusap kepala anaknya, "Kau tahu nak Ali, mungkin kau tidak terlahir dari rahim ibu. Tapi ibu sangat menyayangimu. Maafkan ibu yang tak bisa mendidik Diana, sehingga dia menjadi istri yang berani melawan suaminya." ucap nyonya Aini.
"Tidak apa-apa bu. Aku pun sangat menyayangi ibu. Ibu yang merawatku dari kecil. Ayah, ibu, maafkan Diana yang telah berani bersikap kasar pada kalian !" ujar tuan Ali.
"Sudahlah !" jawab tuan Mahesa.
***
"Neng, ini sudah hampir seminggu. Apa sudah ada kabar dari tuan Mahesa ?" tanya pak Ahmad.
"Belum, ayah..." jawab Kyara, menunduk.
Pak Ahmad menghembuskan napasnya dengan kasar. Ada sedikit rasa kecewa di hatinya. "Apa mungkin, tuan Mahesa membohongi kita ?" gumamnya.
Kyara menggenggam tangan ayahnya, "Kita tunggu saja, yah ! Lagipula masih ada waktu dua hari lagi dari waktu yang telah dijanjikan eyang akung."
Pak Ahmad mengusap kepala putrinya, "Ya...! Kau benar, kita harus lebih bersabar lagi." ujarnya.
Kyara tersenyum, kemudian memeluk ayahnya, erat. Maafkan aku yah.... batinnya.
Bersambung....
Ditunggu like vote n komennya ya....
Makasih....ππ
__ADS_1