Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Aku Menyerah !


__ADS_3

"Kak...!" panggil Kyara kepada Bagas yang sedang asyik mengerjakan tugas skripsinya.


"Hmm..." jawab Bagas yang masih menatap tajam laptopnya.


"Besok, bisakah kau antarkan aku pulang ?" tanya Kyara ragu-ragu.


Bagas menoleh ke arah Kyara, "Memangnya kau sudah merasa baikan ?" Bagas malah balik bertanya.


"Aku rasa, aku sudah baik-baik saja." jawab Kyara.


"Yakin ?" kembali Bagas bertanya


"Yakin kak ! Lagipula, Kya sudah kangen sama eyang uti." jawab Kyara memberi alasan.


"Kangen eyang uti apa kangen tunanganmu ?" Bagas menggoda Kyara.


"Ish...! Nggak lucu ya, becandanya !" jawab Kyara merengut, membuat Bagas tergelak melihatnya.


"Tapi benar kan, dia tunanganmu..!" tanya Bagas lagi.


"Tunangan di atas kesepakatan..!" jawab Kyara memperjelas statusnya.


Bagas menghela napasnya, dia menghentikan aktivitas mengetiknya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Kyara.


"Eyang sudah meninggal. Lalu, kapan kalian akan menikah ?" tanya Bagas.


"Mungkin tahun depan !" jawab Kyara asal.


"Kenapa harus menunggu tahun depan ? Bukankah beberapa bulan lagi Ajay lulus kuliah ?" kembali Bagas bertanya.


"Kesepakatannya kan 2 tahun, kak ! Sekarang kan baru tahun pertama, jadi masih ada tahun berikutnya." jawab Kyara.


"Apa kamu tidak takut jika Ajay berpindah ke lain hati ?" tanya Bagas.


"Hhhh...., bukankah sekarang juga dia sudah pindah ke lain hati ?" Kyara menjawab dengan perasaan yang hampa.


Bagas terkejut. Dia menatap tajam ke arah Kyara. "Darimana kamu tahu semua itu ?" tanyanya.


"Sudah malam, aku tidur dulu kak, assalamualaikum !" ujar Kyara terburu-buru.


Kyara segera pamit tidur untuk menghindari pertanyaan Bagas.


"Waalaikumsalam...! Eh, Kya...!" panggil Bagas


"Ya...!" Kyara membalikkan badannya.


"Besok,nggak apa-apa kalau kita pulang ba'da dzuhur ? Aku harus menyerahkan revisi skripsiku ke kampus."


"Oke !"


"Ya sudah, tidurlah...!"


***


Keesokan harinya, Bagas telah bersiap untuk pergi ke kampusnya. Saat dia keluar ruangan, dia merasa heran ketika melihat Kyara masih menggunakan apron di dapur.


"Loh, kenapa kamu belum bersiap-siap ?" tanya Bagas.


"Memangnya kita mau kemana ?" Kyara malah balik bertanya.


"Bukankah kita mau pulang ?" tanya Bagas lagi.


"Tapi, semalam kata kak Bagas, kita pulangnya lepas dzuhur. Bukankah kakak mau ke kampus dulu ?"


"Iya, aku bilang mau ke kampus dulu, tapi bukan berarti kau harus menunggu di bengkel. Cepat bersiaplah ! Kau ikut ke kampus denganku, sekarang !"


"Tapi, kak...!"

__ADS_1


"Ingat Kya, aku tidak suka...."


"Iya...., iya..., aku ambil tas dulu ! Sebentar kak...!"


Tak lama kemudian, Kyara telah berdiri di hadapan Bagas. Setelah pamit kepada Wawan dan Agus, mereka pun segera pergi ke kampus.


Tiba di kampus, Bagas segera memarkirkan mobilnya. Dia mengajak Kyara untuk masuk ke area kampusnya.


Awalnya, Kyara merasa ragu. Tapi setelah dibujuk, dia pun mau mengikuti Bagas memasuki area kampus tersebut.


Di taman kampus, Bagas melihat Andin yang tengah duduk bersama kedua sahabatnya. Bagas segera mengajak Kyara menghampiri Andin.


"Hai Ndin !" sapa Bagas.


"Eh, hai Bagas, Kya ! Apa kabar ?" tanya Andin seraya memeluk Kyara.


"Aku baik-baik saja, Ndin. Oh iya, kau ada kelas ?" tanya Bagas.


"Hari ini sih, aku off. Aku ke sini hanya untuk menyerahkan laporan magangku saja."


"Oh, begitu ya...! Aku boleh titip Kyara bentar, aku mau menemui pak Bekti dulu untuk bimbingan skripsiku !" pinta Bagas.


"Tentu, kemarilah Kya, akan kukenalkan kau pada kedua temanku !" ajak Andin.


Kyara tersenyum dan ikut bergabung bersama Andin dan kedua temannya.


***


Di waktu yang sama, di kediaman Ajay.


Cecilia datang bersama ayahnya untuk meminta pertanggungjawaban Ajay atas kehamilannya. Maksud dan kedatangan mereka membuat nyonya Diana panik. Dia pun segera menghubungi suaminya. Selang satu jam, tuan Ali tiba di rumah.


"Jadi bagaimana ? Kapan kamu akan menikahi anakku ?" tanya tuan Guna penuh penekanan.


Ajay hanya mampu diam. Pikirannya benar-benar kalut. Dia sendiri tidak yakin akan perasaannya terhadap Cecilia. Namun dia tidak bisa mengelak jika bayi yang dikandungnya adalah anaknya.


"JAWAB...!!!"


Tuan Guna menggebrak meja karena merasa geram dengan kediaman Ajay.


Semua orang tampak terkejut melihat kemarahan tuan Guna.


Di sudut ruangan, tampak nyonya Aini duduk di sofa dengan berlinang air mata. Hatinya sakit melihat kejadian yang terjadi di hadapannya sekarang.


Bagaimana ini...? Ajay menghamili gadis lain ? Lalu, bagaimana dengan nasib pertunangannya dengan Kyara ? Ah benar-benar malang nasib Kyara. Apa yang harus aku lakukan sekarang, suamiku ? batin nyonya Aini.


Tuan Ali menghela napasnya berat.


"Saya benar-benar minta maaf atas tindakan putra saya. Jika tuan tidak keberatan, saya minta waktu untuk mendiskusikan masalah ini secara intern. Bagaimanapun juga, Ajay telah memiliki tunangan, dan dia harus membicarakan permasalahan ini dengan tunangannya." jawab tuan Ali mencoba meredam kemarahan tamunya.


"Apa...! Dia telah bertunangan...? Apa-apaan ini Cecilia...? Kenapa kau harus terlibat dengan laki-laki yang telah bertunangan...?? Kau hendak mempermalukan keluargamu...!!" tuan Guna bertambah marah mendengar kenyataan yang ada.


Cecilia hanya menundukkan kepalanya. Tiba-tiba...


"Ada apa ini ?" tanya Kyara.


***Satu jam yang lalu...


Bagas telah selesai dengan urusannya. Dia pun mengajak Kyara untuk segera pulang. Tiba di halaman rumah,


"Mobil siapa itu, kak ?" tanya Kyara yang merasa heran melihat mobil mewah terparkir di halaman rumah tuan Ali.


"Entahlah, mungkin koleganya om Ali, karena mobil om Ali juga ada di sana. Tumben jam segini om Ali sudah pulang, apa mungkin ada meeting lagi di rumahnya ?"


Kyara menggedikkan bahunya.


"Ayo, turun !" ajak Bagas.

__ADS_1


Kyara turun dari mobil. Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam. Tiba di pintu depan, mereka mendengar suara gebrakan dan teriakan berat seseorang. Segera mereka masuk, dan menyaksikan ketegangan yang terjadi di ruang tamu.


Karena merasa penasaran, akhirnya Kyara pun bertanya....***


Semua orang memandang ke arah Kyara. Namun, tanpa diduga, Cecilia segera menghambur ke arah Kyara. Dia pun duduk bersimpuh memegang kedua kaki Kyara.


"A...aku mohon nona..., le... lepaskan Ajay...! Bi... biarkan Ajay menikahiku...hiks...hiks...! A...aku... tidak mau... anak... anakku tidak hiks...tidak memiliki ayah...! Aku mohon, kasihani anakku, nona...!" racau Cecilia dalam Isak tangisnya.


"Anak...!" gumam Kyara.


Sedetik kemudian, kakinya gemetar. Tubuhnya terasa lemas ketika mendengar gadis itu mengatakan soal anak. Kyara mencari pegangan untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Segera Bagas menangkap Kyara yang mulai tidak bisa berdiri seimbang.


"CUKUP CECILIA...!! tuan Guna kembali berteriak.


"Lebih baik kau bunuh papamu ini daripada harus menanggung malu seperti ini ! Dengar, jika laki-laki itu tidak mau bertanggungjawab, sekarang juga kamu ikut papa ke rumah sakit. Kita gugurkan anak itu ! Ayo !"


Tuan Guna menghampiri Cecilia. Dia memegang tangan Cecilia dan menyeretnya untuk pulang.


"Tidak papa.. ! Aku tidak mau menggugurkan anakku...! Aku mohon papa, beri Ajay waktu, aku yakin Ajay mau bertanggungjawab..., aku mohon..!" teriak Cecilia.


Bayi...? Gugurkan...? Tidak..., dia tidak bersalah..., anak itu tidak bersalah..., batin Kyara.


"Tunggu...!" teriak Kyara.


Kyara menghampiri tuan Guna.


"Tolong jangan bertindak gegabah, tuan ! Bayi itu tidak bersalah. Jangan hukum dia atas kesalahan kedua orang tuanya !" ujar Kyara dingin.


"Lalu apa yang harus aku lakukan ? Apa aku harus membiarkan anakku mengandung tanpa suami ? Mau ditaruh di mana harga diri keluarga kami ?" tuan Guna masih berteriak dengan geramnya.


"Tidak usah khawatir tuan, akan kupastikan jika ayahnya akan bertanggungjawab terhadap anakmu !"


"KYA...!!"


Semua orang terkejut dan memanggil nama Kyara serentak.


Ajay menghampiri Kyara. Dia kemudian memegang tangan Kyara.


"Apa yang kamu lakukan Kya ? Bagaimana mungkin kamu pertaruhkan hubungan kita ? Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku, pendapatku ?" seru Ajay.


Kyara tersenyum sinis. "Lalu, apa kau juga pernah memikirkan perasaanku saat memutuskan tidur dengannya ? Apa kau juga meminta pendapatku saat memutuskan memiliki hubungan dengannya ?"


Ajay diam. Dia memang bersalah. Dia tidak pernah berpikir jauh dalam mengambil tindakan. Dan sekarang, dia mulai menyesali semua perbuatannya.


"Kyara..., cucu mantuku...! Jangan mengambil keputusan ketika hatimu dikuasai amarah, nak.. ! Pikirkanlah...! Bicarakanlah semuanya secara baik-baik dengan tunanganmu ! Jangan gegabah, sayang ! Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari, nak.. !" ujar nyonya Aini, mencoba membujuk Kyara.


Kyara menghampiri nyonya Aini. Dia kemudian bersimpuh di kedua kaki nyonya Aini.


"Maafkan Kya, eyang ! Kyara lelah berjuang sendirian ! Selama ini, hanya Kya yang bertahan, hanya Kya yang bersabar, hanya Kya yang dituntut untuk selalu memahami sikapnya. Tapi hari ini, kekuatan Kyara sudah benar-benar mencapai batasnya. Kya menyerah, eyang..! Kya benar-benar menyerah !"


Hati nyonya Aini merasa pilu mendengar ucapan Kyara.


"Tapi, nak...!"


Kyara menggenggam tangan nyonya Aini.


"Kya mohon eyang, jangan paksa Kya lagi. Kya permisi...!" ujar Kyara seraya bangkit dan pergi ke kamarnya.


Di kamar, Kyara segera mengemasi pakaiannya. Setelah dirasa semuanya telah dimasukkan ke kopernya, dia pun segera turun ke bawah.


Ya...! Hari ini juga, Kyara memutuskan untuk pulang.


Aku menyerah Tuhan ! Aku menyerah demi anak itu ! Aku tidak akan membiarkan anak yang tak berdosa harus menanggung akibat dari perbuatan orang tuanya !


Bersambung....


Makasih atas dukungannya terhadap Karya ini...

__ADS_1


Semoga masih suka ceritanya..


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗🤗


__ADS_2