Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Tenggelam dalam Khayalan


__ADS_3

"Ah Khumaira...! Kenapa kau harus merusak suasana...??"


Gunawan menggerutu kesal saat istrinya merusak moment berharganya.


"Uduh...uduh..., maaf sayang...! Jangan marah ya...! Emmuuaah....!!"


Kak Indah mencium pipi suaminya sangat dalam, membuat senyum indah kembali bersinar di wajah Gunawan yang tampan.


"Ya Khumaira...! Bolehkah...?"


Kak Indah menatap lembut suaminya. Ini yang selalu membuat kak Indah semakin mencintai suaminya. Sudah hampir 4 tahun berumah tangga, tetapi Gunawan selalu meminta izin untuk menggaulinya. Dengan malu-malu, kak Indah pun mengangguk.


Gunawan mengecup kening kak Indah, kemudian turun mengecup kedua mata kak Indah, bergantian.


Hawa panas mulai terasa di kedua kelopak mata kak Indah. Selalu ada perasaan terharu yang kak Indah rasakan saat suaminya melakukan hal itu. Kak Indah merasa dihargai sebagai seorang wanita. Kak Indah merasa terharu atas kelembutan Gunawan dan rasa cinta Gunawan pada dirinya yang hanya seorang gadis yatim piatu. Dan kak Indah pun berharap, jika kelak Bagas pun bisa mendapatkan pendamping yang akan menerima statusnya yang juga seorang pemuda yatim piatu.


Kini kecupan hangat mulai singgah di kedua pipi kak Indah. Terlihat kak Indah memejamkan matanya dengan pasrah, dan itu yang membuat Gunawan semakin merasa dibutuhkan.


"Bismillahirrahmanirrahim..." gumam Gunawan seraya mengecup lembut bibir istrinya.


Kecupan hangat yang semakin dalam semakin menuntut, membuat kak Indah perlahan membalasnya. Setelah cukup lama kecupan itu bermuara di bibir istrinya, bibir Gunawan beralih menyusuri leher putih bersih istrinya seraya tangannya bergerilya membuka kancing piyama kak Indah satu persatu.


Gunawan terpana melihat pemandangan gunung kembar di hadapannya. Sejenak Gunawan menelan salivanya. Bentuk tubuh yang Tuhan berikan untuk istrinya, begitu sangat sempurna, cukup lama Gunawan memandang keindahan fisik yang tergambar pada istrinya, membuat kak Indah semakin tersipu malu.


Wajah kak Indah mulai merona ketika mendapati tatapan penuh cinta dari suaminya. Perlahan, tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Sstt...., Khumaira, biarkan dulu seperti itu !" bisik Gunawan.


"Tapi aku malu mas..!" jawab kak Indah sambil berbisik pula.


Gunawan tersenyum.


"Biar aku yang menyelimutimu, ya Khumaira...! Bismillahirrahmanirrahim...., Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."


Setelah mengucap do'a, Gunawan pun melakukan penyerangan yang cukup hati-hati, agar istrinya tidak merasa kesakitan atas perbuatannya. Tiba di ujung penyatuannya, tiba-tiba....


"Huaaaaa......hu...hu....huaaaaa....!!"


Tangis Arumi yang mungkin sedang bermimpi buruk, memecah keheningan malam, dan membuat Gunawan dan kak Indah tersentak kaget.


"Mas, Arum menangis...!"


"Sebentar sayang, sedikit lagi...!"


"Tapi mas, tangisnya kenceng banget, nanti mengundang perhatian Bagas dan adik-adik yang lainnya.


"Tidak akan, ini sudah sangat malam, mereka pasti sedang asyik bermimpi.


"Huuuaaaa....haaaa....huaaaaa...."


Arumi kembali menangis, bahkan kali ini badan gembulnya mulai bergulingan ke kanan dan ke kiri, membuat box baby nya bergerak.


"Mas, kita sudahi dulu ya...! Aku mau menyusui Arumi dulu...!"


"Sebentar Khumaira, ini tanggung, mas sebentar lagi keluar nih !"


"Ya Allah...! Kok lama banget sih mas, tumben !"


"Khumaira diamlah sebentar ! Mas gak bisa konsen kalau Khumaira bicara terus. Sekarang diam dan nikmati saja, biar mas cepet keluar, oke !"


Gunawan mengecup kening istrinya sambil terus bergerak. Di samping mereka Arumi semakin kencang menangis, dan....

__ADS_1


Dugh....dugh...dugh...!!


"Kak....., buka pintunya...., Arumi nangis tuh...!! Apa kalian ada di dalam...?"


Gedoran pintu kamarnya, membuat Gunawan lemas seketika.....


Sabar ya mas Gun....🤭


***


Keesokan harinya.


Suasana pagi di rumah Bagas tampak ramai. Kak Indah sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk warga rumah. Arumi masih terlelap di box baby nya, setelah semalaman ngambek dan tak mau kembali tidur karena telat disusui.


Wawan dan Agus sibuk membersihkan kedua mobil milik abangnya. Sedangkan Bagas dan Gunawan terlihat duduk di beranda depan sambil menikmati kopinya.


"Semalam kakakmu bilang, katanya kamu pengen pindah ke kota J, benarkah ?"


Bagas meletakkan kembali cangkir kopinya.


"Iya, kak ! Bagas lihat, peluang kerja di kota itu terlihat sangat besar dibandingkan di sini."


"Lalu, apa keputusan untuk menjual perusahaan peninggalan ayah sudah final ? Sebaiknya dipikirkan lagi, Gas ! Agar tidak menyesal di kemudian hari."


Saran Gunawan kepada adik iparnya.


"Apa kak Gun mau mengelola perusahaan itu ?"


Gunawan menghela napasnya.


Jangankan mengurus perusahaan di luar jalur perusahaan kakak, Gas ! Mengurus anak perusahaan yang berada di beberapa wilayah pun, kakak sudah sangat kerepotan. Kakak tidak ingin waktu kakak untuk keluarga, lebih banyak tersita lagi. Kasihan kakak dan keponakanmu."


"Bagas ingin seperti kak Gun. Memiliki perusahaan yang dibangun dari nol. Terlebih lagi, Bagas tidak punya keahlian di bidang perusahaan yang ayah bangun, kak. Basic pendidikan Bagas, otomotif, jadi Bagas ingin punya perusahaan di bidang itu."


Kembali Gunawan menghela napasnya.


"Baiklah kalau begitu. Secepatnya kau urus saja penjualan perusahaannya, agar kau bisa segera tinggal bersama kami. Tapi untuk pekerjaan, kakak tidak akan mengizinkan secepat itu kau memutuskan untuk membuat perusahaan sendiri. Kakak akan meminta Alvaro untuk memasukkanmu di perusahaannya. Di sana, kau bisa bekerja sambil belajar bagaimana cara membangun dan memimpin sebuah perusahaan yang bergerak di bidang otomotif. Kakak yakin, suatu hari nanti, kamu akan menjadi seseorang yang sukses."


Gunawan menepuk pundak adik iparnya dengan penuh kasih sayang.


Bagas sangat bersyukur sekali, kakaknya bisa mendapatkan seorang pria sejati seperti Gunawan. Meski Gunawan terlahir dari keturunan darah biru ( ningrat ) tapi dia mampu bekerja keras tanpa mengandalkan kekayaan orang tuanya. Beruntungnya lagi, kedua orang tua Gunawan tidak terlalu mengekang Gunawan untuk melakukan kebiasaan turun temurun tradisi kebangsawanannya. Mereka sangat demokratis. Yang terpenting, Gunawan senang dan bisa bertanggungjawab atas pilihannya, termasuk dalam memilih jodoh. Meskipun Gunawan satu-satunya keturunan lelaki di keluarganya.


"Ayo...! Sarapannya sudah siap, masuk yuk..!"


Kak Indah tiba-tiba datang dan mengajak mereka masuk untuk sarapan.


Setelah membersihkan kedua tangannya, Wawan dan Agus ikut bergabung dengan Bagas dan Gunawan yang sudah duduk manis di depan meja makan. Mereka pun membantu kak Indah menghidangkan makanan tersebut di atas meja makan.


"Oh iya kak, semalam, kak Indah kemana ? Arumi nangis kenceng banget, kedengeran loh sampai ke atas, iya kan Gus ?"


Agus mengangguk membenarkan ucapan Wawan. Tinggal kak Indah dan Gunawan saling pandang penuh arti.


Bagas yang melihat itu hanya bisa tersenyum.


"Anak kecil dilarang kepo...!" tegur Bagas yang disambut gelakan tawa Gunawan.


Wawan mengerucutkan bibirnya.


"Sudah-sudah...! Ayo makan...! Nanti kita kesiangan, keburu jalanan tambah macet !"


"Loh, emangnya kita mau kemana, kak ?"

__ADS_1


Bagas mengernyitkan dahinya, karena hari ini dia merasa tidak memiliki jadwal acara apa pun.


"Hari ini kita akan berlibur ke pantai, yeayyy...!!" ujar kak Indah kegirangan.


"Wah asyik tuh...! Liburan kita, Gus...!" ujar Wawan seraya menepuk pundak Agus.


"Uhuk...uhuk...uhuk...!!"


Agus yang sedang memasukkan nasi ke mulutnya, langsung tersedak mendapatkan tepukan keras dari temannya.


"Ish Wawan ! Hati-hati donk, kasian tuh Agus, sampai tersedak begitu !" ujar kak Indah seraya menyodorkan air minum kepada Agus.


Sekali lagi, Bagas dan Gunawan tergelak melihat kekonyolan Wawan.


Setelah acara sarapan selesai, Arumi terbangun. Kak Indah segera menggendong untuk memandikan anaknya. Sedangkan Gunawan mengemasi barang-barangnya yang akan dibawanya berlibur.


Bagas, Wawan dan Agus segera membereskan meja makan, setelah itu mereka mengemasi barangnya masing-masing.


Satu jam kemudian mereka berangkat dengan menggunakan mobil masing-masing. Bagas semobil dengan kakak dan kakak iparnya. Sedangkan mobil Bagas dibawa oleh Wawan yang beberapa bulan yang lalu telah lulus tes mengemudi dan mendapatkan SIM-nya.


Sepanjang perjalanan, Bagas duduk di kursi belakang bersama Arumi keponakannya yang sedang belajar berceloteh. Terkadang jika sudah terlihat mengantuk, Bagas segera menggendong Arumi. Saat menggendongnya, Bagas kembali teringat pada Kyara.


Ah nona...! Jika kau ada di sini, pasti keluarga ini akan sangat sempurna. Kita akan bisa saling melengkapi untuk menata kehidupan yang lebih baik lagi..., gumam Bagas, seraya tersenyum.


Senyuman seorang pria yang terkesan dingin itu mengundang Gunawan sang kakak ipar meliriknya dari kaca spion depan. Apa yang dipikirkan bocah itu..? Apa dia sedang jatuh cinta...? gumam Gunawan.


Tanpa sadar Gunawan terkekeh, membuat istrinya melirik ke arahnya.


"Kenapa mas ?"


"Lihatlah ke belakang ?"


Kak Indah melihat ke kursi belakang dan mendapati Bagas yang sedang tersenyum sambil memandangi Arumi yang sedang terlelap dalam pangkuannya.


"Dia kenapa ?"


Gunawan hanya menggedikkan bahunya menanggapi pertanyaan istrinya.


"Ish..., Aneh...!"


"Sudahlah, Khumaira...! Memangnya kau tak pernah merasakannya. Mungkin dia sedang jatuh cinta. Bukankah orang yang jatuh cinta suka bersikap tak wajar ?"


"Maksud kamu tak wajar ? Hais..., apa kamu pikir adikku gila...!"


Kak Indah merasa gemas dan memukul pelan suaminya.


"Ya Khumaira...! Kenapa perkataanku selalu salah kau tanggapi !" ujar Gunawan sambil memegang dan meraih tangan istrinya.


"Maksudku, mungkin dia sedang jatuh cinta dan mengkhayalkan jika nanti dia menikah dan memiliki anak seperti Arumi...!" ujar Gunawan seraya mengecup jari jemari istrinya yang digenggamnya erat.


Sekali lagi kak Indah menengok ke belakang dan masih tetap melihat Bagas sedang intens memperhatikan Arumi.


Saking asyik dengan khayalannya, dia pun tidak menyadari pembicaraan kami. Ah wanita seperti apa yang telah berhasil menyita perhatiannya, sehingga dia mampu tenggelam dalam khayalan. Semoga kamu bisa mendapatkan kekasih impianmu, adik kecilku...!


Bersambung...


Up di sela-sela istirahat mengawas ujian...


Semoga masih suka ceritanya yaaa...


Terima kasih untuk like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2