
Assalamualaikum readers...
Semoga masih setia menunggu episodenya ya...
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Assalamualaikum..." kata Aaron sambil membuka pintu.
Tapi Kyara tak menjawabnya. Dia hanya duduk menekuk lututnya dan menyender di tepi kasur. Tatapan matanya terlihat kosong, ada kebingungan di raut wajahnya. Ya... Kyara sudah sadar, dan dia sudah mendengar perbincangan dokter dan Aaron.
"Tidak.... tidak..." ucapnya lirih.... Dia mulai menggoyangkan tubuhnya. Hal itu selalu dia lakukan jika dia merasa tertekan. "Tidak mungkin aku hamil... tidak mungkin...." kembali dia bergumam lirih sambil terus menekuk lututnya dan menggoyangkan tubuhnya ke depan ke belakang.
Aaron merasa khawatir menyaksikan perubahan Kyara. Dia menghampiri Kyara. Sedangkan Bagas, dia hanya berdiri di ambang pintu, menyaksikan semuanya dari kejauhan.
"Kyara..." panggil Aaron menyentuh bahu Kyara.
Kyara yang merasa bahunya mendapatkan sentuhan, langsung mendongak dan menepiskan tangan Aaron. "Jangan sentuh aku...!!" teriak Kyara..."Pergi...!! Jangan sentuh aku...! Aku benci....! aku benci tubuhku...! aku benci anak ini.....pergi..! pergi...! Jangan sentuh aku....! aku kotor.....aaahhhh...." Kyara berteriak histeris memukul-mukul perutnya...
Aaron yang terkejut melihat reaksi Kyara, tanpa sadar langsung memeluk Kyara untuk menenangkannya.
"Aaaakkhhhh....tidak...pergi...! pergi...!!" Kyara masih tetap berteriak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Aaron.
"Sstttt.... tenanglah kya..... tenanglah... semuanya akan baik-baik saja....sssttt...tenanglah..." kata Aaron masih tetap berusaha menenangkan Kyara.
Kyara menangis sesenggukan dipelukan Aaron. Puas menangis, dia mencoba meronta, meminta Aaron untuk melepaskan pelukannya.
Aaron yang menyadari Kyara sudah mulai tenang, pada akhirnya melepaskan pelukannya. Aaron menatap Kyara, sedangkan Kyara hanya bisa tertunduk. Perasaan kesal, sedih, sakit dan malu mulai berkecamuk di dalam dada Kyara.
Sedangkan Bagas, hmmm... jangan ditanya. Pria kaku itu masih tetap sama ekspresinya, datar.... sepertinya tidak ada satupun kejadian yang bisa membuatnya bersedih ataupun gembira.
"Ah... drama apalagi ini...??" gumam Bagas dalam hatinya. Ya...! selalu dalam hati, karena Bagas bukan type pria yang mudah mengucapkan kata-kata.
__ADS_1
Untuk beberapa saat hanya keheningan yang tercipta di ruangan itu. Sampai akhirnya, karena rasa penasaran yang cukup kuat, Aaron pun mulai membuka pembicaraan. "Apa Ajay tahu tentang kehamilan ini ?" tanyanya hati-hati, takut menyinggung perasaan Kyara. Ya..! Aaron yakin kalau ayah biologis dari janin yang dikandung Kyara adalah Ajay.
Kyara menggelengkan kepalanya. "Jangan beritahu dia Ar.... aku mohon ?" pintanya pada Aaron.
"Kenapa Kya...? Dia berhak tahu, dan bukankah ini kabar yang baik. Dengan begini, Ajay tidak akan memutuskan hubungan kalian. Dia harus bertanggung jawab Kya. Dia harus menikahimu !" tegas Aaron.
Kyara tersenyum getir, "Dia sudah membuangku seperti sampah Ar....dan sampah tidak akan pernah dipungut kembali..!!" jawab Kyara sambil menatap sendu ke luar jendela.
Wajah Aaron tampak merah, merasakan amarah yang memuncak mengingat perlakuan Ajay terhadap Kyara. Rasanya dia ingin segera pergi menemui Ajay untuk menghajarnya dan memaksanya bertanggungjawab. Tapi nyatanya, Aaron tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sangat menghormati keputusan Kyara.
Aaron menepuk pundak Kyara dengan lembut. "Sudahlah.... tidak usah dipikirkan lagi..! Yang terpenting adalah kesehatanmu Kya. Kamu harus bisa menjaga kesehatanmu, karena sekarang ada kehidupan baru yang harus kamu lindungi..!" kata Aaron mencoba memberikan ketenangan pada Kyara.
Sepintas Kyara tersenyum mendengar nasihat Aaron, namun raut mukanya kembali murung mengingat nasibnya ke depannya. "Ar... haruskah aku melahirkan anak ini...?" tanya Kyara gusar.
Aaron menatapnya, diapun menganggukkan kepalanya. "Anak ini tidak berdosa Kya. Dia berhak memiliki kehidupan, dan kamu berkewajiban untuk memberikan kehidupan itu !" ucap Aaron bijak dan penuh penegasan.
Kyara diam, "Tapi Ar.... bagaimana nasibnya nanti, dia akan terlahir tanpa ayah. Sanggupkah aku melihat anakku dihina kelak...?" ucap Kyara.
"Sudahlah....!! Itu urusan nanti. Kita pikirkan solusinya nanti. Yang terpenting sekarang kamu harus banyak istirahat, biar cepat pulih. Kamu nggak sendirian Kya, masih ada aku yang siap 24 jam jagain bu boss...!" Aaron memberikan sedikit gurauan dalam ucapannya untuk lebih menenangkan Kyara. Dan itu berhasil, Kyara tersenyum mendengar gurauan Aaron.
Aaron kembali tersenyum, "Sudahlah, berbaringlah ! Jangan terlalu banyak pikiran, nanti cepet tua..." guraunya lagi.
"Tapi Ar..."
Aaron membaringkan Kyara, menarik selimut dan menutupi tubuh Kyara sampai ke lehernya, "Tidurlah Kya...!" ucapnya lembut.
Kyara tak bisa membantah lagi. Dan pada akhirnya, karena masih dalam pengaruh obat, dia pun mulai terlelap ke alam mimpinya.
Ketika dilihatnya Kyara mulai tertidur, Aaron menghampiri Bagas yang tengah duduk di sofa. " Gas.. kalau lo mau pulang, lo pulang aja...!" kata Aaron.
Bagas mengangguk, "Lo nggak apa-apa sendirian di sini?" tanya Bagas.
__ADS_1
Aaron mengangguk. "Tapi Gas, sebelum lo pulang, tolong bawain dulu motor gue ke rumah, terus lo bawain mobil gue ke sini ya..., takutnya besok Kyara pulang nggak ada kendaraan...!" pinta Aaron.
"Oke!" kata Bagas. Dan Aaron pun menyerahkan kunci motornya.
Keesokan harinya...
"Selamat pagi Bu Kyara..! Bagaimana keadaannya...?" tanya dokter yang hendak memeriksa Kyara.
"Baik dok..." jawab Kyara. "Apa saya boleh pulang hari ini ?" tanyanya.
"Sebentar, saya periksa dulu ya bu...?" sahut dokter.
"Klek" pintu kamar mandi terbuka. Dokter dan Kyara langsung menoleh ke arah sumber suara.
Aaron keluar dari kamar mandi. "Eh... selamat pagi dok..!" sapa Aaron sedikit terkejut melihat dokter yang sedang memeriksa Kyara. "Maaf, saya baru selesai mandi." lanjutnya.
"Tidak apa-apa Pak Aaron." jawab dokter. "Oh iya pak, alhamdulilah...istri bapak sudah boleh pulang hari ini." lanjutnya.
"Benarkah...?" tanya Aaron.
Dokter menganggukkan kepalanya, "Tapi ingat ya pak... jangan ditengok dulu dede bayinya, takut kenapa-kenapa...." gurau dokter.
Aaron hanya tersenyum mesem sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, sedangkan Kyara hanya menunduk sedih mendengar gurauan dokter.
"Baiklah... saya tinggal dulu. Jangan lupa obat sama vitaminnya diminum ya bu, dan jangan melakukan aktivitas terlalu berat. Bedrest dulu ya bu seminggu ini. Takutnya kembali terjatuh. Usia kandungan ibu masih sangat rawan, sedikit benturan saja bisa menyebabkan janin ibu tidak kuat bertahan."
Mendengar penjelasan dokter, tiba-tiba kyara ingat kalau dia tidak mengetahui usia kandungannya. "Maaf dok... kalau boleh tahu, berapa usia kehamilan saya ?" tanya Kyara.
"Sepertinya usia kehamilan ibu memasuki minggu kelima. Masa-masa yang paling rawan ya bu, karena itu, ibu harus lebih berhati-hati lagi." kata dokter
Kyara pun mengangguk.
__ADS_1
"Saya permisi ya pak...bu... semoga lekas sembuh. Jangan lupa, minggu depan kontrol ya, sebaiknya langsung ke dokter kandungan saja, biar lebih jelas." dan dokter pun meninggalkan ruangan Kyara.
Bersambung....