Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Permintaan Kyara


__ADS_3

Ting tong !


Bunyi bel pintu apartemen Bagas memaksanya untuk mengurungkan niat Bagas menyusul Kyara ke kamarnya. Bagas berjalan menuju pintu dan membukanya. Tampak seorang kurir yang mengantarkan pesanannya.


"Jadi berapa mas ?" tanya Bagas


"350 ribu, pak !" ujar sang kurir.


Bagas mengeluarkan dompetnya. Dia mengambil 4 lembar uang seratus ribuan, kemudian menyerahkannya kepada kurir itu.


"Kembaliannya buat mas saja !" ujar Bagas.


"Waah...! Terima kasih pak ! Kalau begitu, saya permisi dulu ! Mari !" sang kurir pamit undur diri.


Bagas mengangguk, kemudian menutup pintu kembali. Setelah itu dia menuju meja makan untuk menata makanan tersebut ke dalam piringnya. Seperti biasa, Bagas menyediakan cumi saus tiram, yang menjadi makanan favorit Kyara.


Makanan telah tertata rapi di meja makan. Bagas kemudian pergi ke kamarnya.


Tok... tok...tok...!


"Nona, keluarlah ! Makanannya sudah datang, aku tunggu kau di meja makan !" ujar Bagas.


Kyara bangkit dari tidurnya. Dia membuka pintu dan melihatnya Bagas sedang berjalan menuju ruang makan. Tiba di sana, Kyara segera duduk. Matanya membulat sempurna saat dia melihat menu makanan di atas meja.


Cumi saus tiram....! Ah, ternyata dia masih ingat makanan kesukaanku..., batin Kyara.


"Aku ambilkan untukmu ya !" ujar Bagas seraya menyendok nasi dan lauknya.


Kyara hanya diam, tak mengiyakan namun juga tak menolak.


Setelah hidangannya tersaji. Mereka pun makan dengan khidmatnya.


***


Alarm jam meja Kyara berbunyi di pukul 05.00. Kyara mengerjapkan matanya. Dia sedikit kaget melihat isi kamarnya, namun sejurus kemudian dia mulai sadar bahwa sejak kemarin dia telah berpindah tempat.


"Aku harus mulai terbiasa dengan semua ini...!!" gumam Kyara.


Kyara menggeliat meregangkan otot-ototnya, dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selepas mandi dia kembali memakai pakaian tidurnya dan solat subuh.


Selesai solat, Kyara pergi ke dapur. Dia sedikit terkejut melihat Bagas di depan kompornya sedang memainkan spatulanya.


"Kau sedang apa ?" tanya Kyara tiba-tiba.


"Aish...! Kau mengagetkanku saja !" ujar Bagas menoleh ke arah Kyara.


"Aku sedang memasak omlett, dan sop ikan untuk kita sarapan." jawab Bagas. "Hei, kenapa kau belum mandi ? Kau tidak bekerja hari ini ?" lanjutnya.


"Aku sudah mandi, hanya saja aku kembali memakai baju tidurku !" ujar Kyara seraya menghampiri dispenser untuk menyeduh kantong teh nya


Bagas mengernyitkan dahinya.


"Supaya baju seragamku tidak bau asap nantinya !"

__ADS_1


"Ah, aku mengerti...! Tenanglah, mulai sekarang seragam sekolahmu tidak akan terkena asap karena aku yang akan memasak untukmu. Jadi setelah mandi, kau bisa langsung memakai seragam sekolahmu !" ujar Bagas


"Huh...!" Kyara hanya mendengus kesal mendengar omongan Bagas.


"Yeayyy..., sudah jadi...!" ujar Bagas seraya meletakkan omlett nya ke dalam piring.


Bagas menata mejanya dan mulai mengajak Kyara sarapan.


"Boleh aku meminta sesuatu ?" ujar Kyara.


Bagas mengangguk sebagai jawaban, karena saat itu mulutnya sedang dipenuhi makanan. Sangat tidak sopan jika Bagas harus menjawab pertanyaan Kyara dengan mulut yang terisi makanan.


"Bisakah kau rahasiakan pernikahan kita ?"


"Uhuk.... uhuk...!!"


Bagas tersedak begitu mendengar permintaan Kyara. Dia segera mengambil gelas dan mereguk isinya.


"Kenapa ? Apa kau malu karena telah menikah ? Atau kau malu karena mempunyai suami sepertiku ?" dengus Bagas merasa tak suka mendengar permintaan istrinya.


"Ya, aku malu !" ujar Kyara. "Aku malu karena aku bukan orang yang sepadan untukmu !" lanjutnya.


"Aku tidak suka pembicaraan ini !"


Bagas menghentikan makannya. Dengan raut wajah kesal dia berjalan menuju kamarnya. Dia mengambil pakaian kerjanya, setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Kyara segera membereskan meja makannya. Melihat kemarahan di wajah suaminya membuat dia kehilangan selera makannya. Dia kembali menutup makanannya dengan tudung saji. Kyara pun mencuci piring kotornya sambil menunggu Bagas keluar dari kamar mandinya.


Setelah selesai dengan pekerjaan dapurnya, Kyara pergi ke kamar. Tiba di sana, dia melihat Bagas sudah rapi memakai kemejanya. Kyara melihat dasi Bagas masih tersampir di kursi, dia pun segera mengambilnya dan menghampiri Bagas.


"Aku bisa jelaskan semuanya !" ujar Kyara lembut.


"Sudahlah nona, aku tidak ingin mendengar apa pun tentang permintaan konyolmu itu !" ujar Bagas kesal.


"Tapi ini buat kebaikanmu ! Apa kata orang jika mereka tahu seorang CEO muda sepertimu menikahi seorang guru yang derajatnya tidak sama dengan jabatanmu ? Aku takut semua ini akan berpengaruh pada bisnismu, apalagi jika tercium oleh media, semuanya pasti akan menghujatmu !" ujar Kyara berusaha untuk memberikan penjelasan.


Bagas menangkup kedua pipi istrinya.


"Aku tidak peduli nona ! Kau istriku, istri sahku dan aku bangga memilikimu. Aku siap dihujat untuk bisa bersamamu ! Aku sudah terbiasa dengan hujatan orang-orang yang tidak pernah menyukaiku." ujar Bagas.


"Tapi aku tidak terbiasa !" seru Kyara.


Kyara memegang kedua tangan Bagas.


"Maaf ! Tolong beri aku waktu ! Aku tidak terbiasa berhadapan dengan media. Aku sudah bisa membayangkan, jika mereka tahu aku adalah istri dari seorang pemilik perusahaan terbesar, paparazi itu pasti akan selalu mengikutiku. Para netizen pasti akan menghujatku, dan aku belum siap untuk itu." ujar Kyara lirih.


Bagas menarik napasnya panjang.


"Baiklah, akan aku turuti semua permintaanmu, tapi ada syaratnya." ujar Bagas tersenyum licik.


"Apa syaratnya ?" ujar Kyara ketus.


"Give me your lips !" ujar Bagas.

__ADS_1


Blush....


Seketika kedua pipi Kyara berubah warna. Dia benar-benar merasa malu dengan ucapan suaminya. Tapi Kyara tidak punya pilihan. Memenuhi permintaan Bagas mungkin jauh lebih baik daripada dia harus menjadi seorang selebriti karena menikahi CEO perusahaan otomotif terbesar kedua di Jerman.


Kyara memejamkan matanya. Dia pasrah menerima apa yang akan dilakukan suaminya, namun...


Cup....


Rasa hangat dari bibir suaminya dia rasakan di keningnya. Cukup lama dia merasakan bibir itu menyentuh keningnya. Setelah dirasa Bagas menyudahi aktivitasnya, Kyara pun membuka matanya. Tatapan mata mereka saling terkunci satu sama lain.


Bagas membelai lembut pipi istrinya dengan jari telunjuknya.


"Tenanglah nyonya Anggara, aku tidak akan meminta hakku sebelum kau memberikannya dengan ikhlas." ujar Bagas seraya tersenyum.


Kyara menundukkan wajahnya. Perasaan bersalah mulai terselip di hatinya.


Maaf.....!


Hanya itu yang mampu Kyara ucapkan dalam hati.


"Cepatlah ganti pakaianmu ! Aku akan menunggumu di luar !" ujar Bagas seraya mengambil jas nya yang tergantung di lemarinya.


Kyara mengangguk. Setelah Bagas pergi, dia pun mulai berganti pakaian dengan seragam dinasnya.


***


Pukul 07.15, Kyara tiba di sekolah.


"Bu Kyaaaa.....!!" teriak seorang anak laki-laki yang berlari kencang ke arahnya.


Kyara membalikkan badannya. Dia melihat anak didiknya berlari ke arahnya. Kyara pun berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.


Bugh....!!


Anak itu menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Kyara. Tak lama kemudian, murid yang lainnya pun berlomba berlarian untuk memeluk Kyara.


"Hore, bu Kya sudah pulang...!"


"Asyik, kita belajarnya sama bu Kya lagi kan...!"


"Bu Kya, Sani rindu ibu !"


"Ibu jangan lama-lama ya perginya...?"


"Ibu bawa oleh-oleh nggak buat kita...!!"


Berbagai macam sambutan anak didiknya membuat Kyara tergelak, tertawa hangat seraya memeluk anak didiknya satu persatu.


Bagas tersenyum melihat sikap hangat Kyara terhadap murid-muridnya.


Kau memang pantas untuk selalu dirindukan, istriku....!


Bersambung...

__ADS_1


Semoga masih suka dengan ceritanya....


Jangan lupa like vote n komen ya....🙏🤭


__ADS_2