
Assalamualaikum readers...
Mohon maaf author telat banget up, itu dikarenakan author sibuk ngurusin dulu suami yang reaktif...
Alhamdulillah sekarang sudah semakin membaik kondisinya, jadi author coba up kembali ya..ππ
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Ting tong.....
Kyara menekan bel pintu.
Mbok Nah tergopoh-gopoh berlari menuju pintu utama saat mendengar suara bel berbunyi. Mbok Nah membukakan pintu. "Non Kya ?" gumamnya kaget mendapati tamu yang berdiri di hadapannya.
Kyara tersenyum, "Apa kabar mbok !" sapa Kyara.
"Baik non." jawab mbok Nah, masih tak percaya melihat Kyara berdiri di hadapannya, setelah sekian lama Kyara tak pernah berkunjung lagi.
"Om sama tante ada, mbok ?" tanya Kyara.
"A...ada non. Silakan masuk !" jawab mbok Nah.
Bu Ratna semakin tercengang melihat keadaan rumah Ajay. Sedangkan pak Ahmad, ada rasa ragu dalam hatinya untuk mendesak Ajay bertanggungjawab. Mengingat keadaan yang tampak, sudah bisa dipastikan jika orang tua Ajay pasti bukan orang sembarangan.
Tapi keadilan harus ditegakkan. Tak peduli keadaannya, aku harus bisa memberikan keadilan untuk putriku... batin pak Ahmad.
"Siapa Nah ?" tanya nyonya Diana seraya menuruni anak tangga.
"Ini nyonya, ada non Kyara." jawab mbok Nah.
Nyonya Diana mengernyitkan dahinya, Kyara... Kyara...? Ah ya... Kyara temannya Ajay yang dari kampung itu... batinnya.
"Oh, Kyara teman sekolah Ajay kan...? Ayo silakan duduk !" ujar nyonya Diana.
Kyara dan kedua orang tuanya pun duduk.
"Nah...! Bawakan minuman sama camilannya ya..!" teriak nyonya Diana.
"Baik nyonya...!" jawab mbok Nah.
"Apa kabar Kyara ?" tanya nyonya Diana.
"Baik tante. Kabar tante sendiri ?" Kyara balik bertanya.
"Ah, tante selalu baik kok...!" jawab nyonya Diana. "Kyara mau ketemu Ajay ?" tanya nyonya Diana lagi.
"Mm.. sebenarnya... Kya..."
Drrt....drrt...
Ponsel nyonya Diana bergetar.
"Sebentar ya..!" ujar nyonya Diana. Dia berdiri meninggalkan tamunya. "Ya hallo...! Hai jeng, apa kabar..."
Bu Ratna tersenyum miris melihat kelakuan tuan rumah.
Tiba-tiba mbok Nah datang membawakan minuman dan beberapa toples camilan. "Silakan diminum non, tuan dan nyonya...!" ujarnya.
"Terima kasih, bu." ujar bu Ratna, tersenyum.
"Sama-sama, permisi...!" ujar mbok Nah seraya pergi kembali ke dapur
Tak lama kemudian, nyonya Diana kembali ke ruang tamu. "Maaf ya...!" ujarnya merasa menyesal.
"Iya, tidak apa-apa tante..." jawab Kyara tersenyum kaku.
"Tadi, kenapa Kya ?" tanya nyony Diana lagi
"Begini tan..."
__ADS_1
Drrt...drrt...
Kembali ponsel nyonya Diana bergetar. "Andin.." gumamnya. "Sebentar ya Kya ! Penting !" ujar nyonya Diana, berlalu pergi meninggalkan kembali tamunya.
Masya Allah..., jadi begini kelakuan calon mertua Aneng, jika dia berjodoh dengan Ajay. Apa Aneng akan tahan ? batin bu Ratna.
Pak Ahmad menghembuskan napasnya, kasar. Benar-benar tidak ada sopan santunnya.. gerutu pak Ahmad dalam hati.
Cukup lama mereka menunggu.
Ceklek..
Tiba-tiba pintu utama terbuka. Muncullah seorang pemuda tampan berseragam sekolah. Ya ! Dia adalah Bima, satu-satunya adik Ajay.
"Eh, ada tamu...!" sapa Bima, sopan.
Kyara dan kedua orang tuanya tersenyum.
"Mau ketemu siapa, mbak ?" tanya Bima.
"Perkenalkan, nama saya Kyara, temannya Ajay. Mereka kedua orang tua saya." jawab Kyara.
"Oh, temannya kak Ajay waktu sekolah asrama ya ?" Bima kembali bertanya. "Kenalin, nama saya Bima, adiknya kak Ajay.." Bima menyalami Kyara dan kedua orang tuanya dengan sopan. "Sudah ketemu sama kak Ajay ?" tanyanya kembali.
Kyara menggelengkan kepalanya.
"Oh, sebentar..., Bima panggil mamih dulu deh. Mamih ada kok di rumah." ujar Bima
"Nggak usah Bim, tadi kita sudah ketemu sama mamih kamu, kok..!" cegah Kyara.
"Sekarang mamihnya kemana, mbak ?" tanya Bima.
"Mamih kamu lagi terima telpon." jawab Kyara.
"Ish, mamih nih kebiasaan, kalau sudah terima telpon, pasti lama. Bima masuk dulu ya mbak, panggil dulu mamih.." pamit Bima.
"Nggak usah Bim, mungkin memang penting.." kembali Kyara mencegah maksud Bima.
Bima masuk ke dalam untuk memanggil mamihnya. Tak lama kemudian, dia datang kembali bersama nyonya Diana.
"Maaf...maaf ya...!" nyonya Diana, kembali meminta maaf.
Kyara kembali tersenyum. Sabar...sabar Kya... batinnya.
"Tante kalau sudah terima telpon, suka keasyikan..he..he.., maaf ya Kya." ujar nyonya Diana.
"Tidak apa-apa tante.." jawab Kyara.
"Ajaynya belum pulang, apa kamu ingin menunggunya ?" tanya nyonya Diana.
Kyara menunduk.
"Ada perlu apa kamu mencari anak tante ?" nyonya Diana kembali bertanya. Ada sedikit rasa tidak suka dari nada bicaranya.
"Sebenarnya..."
Baru saja Kyara hendak berbicara, ponsel nyonya Diana kembali bergetar. Nyonya Diana melirik ponselnya. Saat dia hendak mengangkat sambungan telponnya...
"Hallo..." nyonya Diana beranjak dari kursinya.
"Putra anda telah menodai putri saya !" tiba-tiba pak Ahmad berkata sedikit berteriak, karena merasa kesal dengan kelakuan nyonya Diana yang seenaknya.
"Apa !!" teriak Bima.
PRANG...!!
Terdengar suara benda jatuh dari arah kamar utama. Semua orang yang berada di ruang tamu menoleh, kecuali nyonya Diana yang merasa syok dengan ucapan pak Ahmad yang baru didengarnya.
Tampak seorang lelaki tua berdiri di ambang pintu kamar. Cangkir kopi yang dipegangnya, terjatuh dan pecahan belingnya berserakan di atas lantai. Ya ! Dia adalah tuan Mahesa Sanjaya. Kakek dari Ajay Sanjaya. Dengan langkah tegapnya, tuan Mahesa menghampiri tamu nyonya Diana.
__ADS_1
"Tidak mungkin !" ujar nyonya Diana, terduduk lemas.
"Hallo...hallo...mih...". ( Ajay )
Ternyata panggilan yang masuk di ponsel nyonya Diana, merupakan panggilan dari anaknya, Ajay.
"Ha...hallo... Jay.." ( Nyonya Diana )
Tuan Mahesa langsung menyambar ponsel menantunya, setelah mengetahui Ajay lah yang menelpon nyonya Diana.
"Ajay ! Pulang sekarang ! Eyang tunggu di rumah !" ( tuan Mahesa )
Tut...
Tuan Mahesa menutup panggilan telponnya.
"Ayah..." gumam nyonya Diana.
Tuan Mahesa duduk. Menatap tajam ke arah pak Ahmad. "Benarkah yang anda katakan ?" tanya tuan Mahesa.
Pak Ahmad menatap tuan Mahesa tanpa ragu. "Ya.." jawab pak Ahmad, tegas.
Tuan Mahesa menatap Kyara, dari mulai ujung rambut hingga ujung kakinya. Gadis yang polos, dan entah kenapa, aku merasa dia gadis baik-baik... batinnya.
"Katakan nak !" perintah tuan Mahesa kepada Kyara.
"Ma... maaf...tu... tuan..." Kyara tergagap, "Mak... maksud tuan ?" tanya Kyara tak mengerti.
"Panggil saya eyang akung ! Saya kakeknya Ajay. Katakanlah tentang hubunganmu dengan cucu kakek ! Ungkapkan kebenarannya, dan kakek harap, jangan ada yang ditutupi !" perintah tuan Mahesa, lembut.
"Sa... saya dan Ajay...mm..ka...kami..." sulit bagi Kyara untuk bercerita, mengingat kembali semua penderitaan yang dialaminya.
Tiba-tiba, datang seorang wanita tua yang masih nampak kecantikannya. Dia menghampiri Kyara, kemudian duduk di samping Kyara. Menatap Kyara dan menggenggam tangan Kyara. Kyara melirik pada wanita itu. Wanita tua itu mengangguk.
"Jangan takut, bicaralah !" ujar eyang uti, yang tak lain adalah istri dari tuan Mahesa.
Kyara mengangguk.
"Saya... saya mengenal Ajay saat kami sama-sama bersekolah di sekolah asrama. Awalnya, hubungan kami baik-baik saja. Kami saling mencintai, dan saya percaya sama Ajay. Ajay berjanji akan menikahi saya, sampai akhirnya saya pun rela menyerahkan diri saya seutuhnya kepada Ajay. Hubungan kami sudah sangat jauh. Sampai, tiba-tiba saja..." Kyara menunduk.
Eyang uti semakin kuat menggenggam tangan Kyara, mencoba memberikan kekuatan agar Kyara kembali melanjutkan ceritanya.
Kyara menghela napasnya. "Beberapa bulan yang lalu, Ajay memutuskan hubungan kami dengan alasan kedua orang tuanya tidak pernah menyukai saya. Sampai akhirnya, sa... saya mendapati Ajay berjalan dengan gadis lain. Namanya Andin. Gadis itu bilang kalau dia adalah kekasih Ajay. Demi gadis itu, akhirnya Ajay memutuskan hubungan kami.."
Air mata Kyara mulai mengalir di pipinya. Begitu juga dengan bu Ratna dan eyang uti yang merasa pilu akan nasib Kyara.
"Jelas kan ? Mereka melakukannya karena kecerobohan mereka sendiri. Jadi, ini bukan hanya salah Ajay ! Lalu untuk apa kalian datang kemari ? Kalian mau uang ? Berapa ? Sebutkan jumlah yang kalian inginkan, saya akan memberikannya ! Setelah itu, kalian pergi dari rumah saya...!" teriak nyonya Diana, tidak terima tentang kebenaran yang diungkapkan Kyara.
"Kau...!" ujar pak Ahmad sambil memegang dadanya yang mulai terasa sakit.
"Cukup Diana ! Diam !" teriak tuan Mahesa.
Tiba-tiba pintu utama terbuka...
"Aku pulang...!" seorang pria tampan masuk.
Tuan Mahesa berdiri, dia mendekati pria itu yang tak lain adalah Ajay Sanjaya.
PLAKK....!!!
Bersambung....
Terima kasih yang masih setia dengan cerita author ini...
Author tahu, banyak kekurangan dari karya ini dibandingkan dengan karya" penulis yang lainnya. Namun percayalah, author akan berusaha untuk memberikan yang terbaik...
Semoga karya ini bisa menghibur readers semua
Terima kasih yang sudah mendukung karya ini..
__ADS_1
Ditunggu like vote n komennya...
πππ