
"Sudahlah...! Ayo temani gue keluar...!" ajak Andin seraya menarik tangan kedua sahabatnya.
Meskipun kebingungan dengan sikap Andin, namun Mita dan Laura tetap mengikuti ajakan Andin.
"Sebenarnya kita mau kemana sih, Ndin ?" tanya Mita penasaran.
"Ada deh...!" jawab Andin berteka-teki.
Mita menatap Laura, dan Laura hanya bisa menggedikkan bahunya. Isyarat matanya seolah mengatakan, sudahlah..., ikuti saja...!
Jalanan cukup padat, karena itu, mobil yang mereka naiki hanya bisa berjalan merayap. Berkali-kali Andin memukul stir mobilnya karena merasa kesal dengan kondisi jalanan yang macet.
"Sabar, Ndin !" ujar Laura melirik Andin yang mulai terbawa emosi karena kemacetan yang cukup padat.
Andin tersenyum kecut. Setelah hampir dua jam berjibaku dengan kendaraan lainnya di jalanan, akhirnya Andin tiba di sebuah bengkel.
"Loh, bukannya ini bengkel Bagas ya, Ndin ?" tanya Laura.
Andin mengangguk, "Turun yuk !" ajaknya.
Mereka berdua pun turun dari mobil. Di sudut kanan bengkel, tampak seorang laki-laki tampan yang sedang memperbaiki sebuah motor. Andin dan teman-temannya menghampiri laki-laki itu yang tak lain adalah Bagas.
"Hai, Gas...!" sapa Andin.
Bagas mendongak, dia heran melihat kedatangan Andin bersama kedua temannya ke bengkelnya. Bagas segera berdiri.
"Ada apa, Ndin ?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Aku..., aku mau bicara sama kamu. Boleh ?" tanya Andin
"Bicaralah !" perintah Bagas.
"Tapi ini rahasia, Gas...!" ujar Andin setengah berbisik.
Bagas mengedarkan pandangannya, matanya tertuju pada dua karyawannya yang sedang memperhatikan mereka. Terlebih lagi Wawan. Sorot matanya terlihat tajam menyelidik ke arah ketiga wanita yang mendatangi Bagas.
Bagas segera mencuci tangannya. Setelah itu dia menggantungkan pakaian kerjanya.
"Ikut aku..!" perintahnya singkat.
Andin dan kedua sahabatnya pun mengikuti Bagas ke dalam kantornya.
Tiba di sana, Laura cukup terkejut dengan penataan ruangan yang sangat maskulin, seolah menggambarkan jiwa Bagas yang sebenarnya.
Bagas duduk di kursi kebesarannya, membuat Laura semakin terpesona. Gue baru sadar jika Bagas benar-benar cowok yang cool, ganteng, keren, pekerja keras...batin Laura seraya senyam-senyum sendiri. Mita yang melihat gelagat aneh Laura, langsung menyenggol tangan Laura. Laura pun tersadar dari lamunannya tentang Bagas. Ish..., kenapa aku punya pikiran seperti ini ya...? batinnya lagi.
"Jadi, apa tujuanmu datang kemari ?" tanya Bagas, dingin.
"Aku..., aku... ingin...mmm..sebenarya aku ingin bertemu gadis itu." jawab Andin terbata-bata.
Bagas mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Kyara....! Aku ingin bertemu Kyara..!" ujar Andin memberikan penegasan pada saat dia melihat kebingungan di wajah Bagas.
Bagas tersentak kaget mendengar penuturan Andin yang ingin bertemu Kyara. Tiba-tiba pikiran buruk melintas di benaknya.
"Maaf Ndin, aku tidak tahu di mana dia. Pulanglah !" jawab Bagas masih dengan nada dinginnya.
"Gas, aku mohon. Aku benar-benar harus bertemu dengannya. Ada satu hal yang ingin aku sampaikan, please..!" Andin memohon.
"Untuk apa ? Untuk menghinanya kembali ! Cukup Ndin, kamu sahabatku, dan asal kau tahu, dia calon adik iparku ! Jangan paksa aku untuk memilih di antara kalian ! Aku menghormati persahabatan kita, tapi aku juga tidak mau dia terus-terusan tersakiti. Selama ini dia sudah sangat menderita. Jadi aku mohon, hentikan semuanya !"
Andin tertunduk lesu. Apa yang dikatakan Bagas, semuanya benar. Selama ini dia sudah begitu banyak membuat gadis itu menderita.
"Aku...aku.. hanya... ingin meminta maaf..!" ujar Andin lirih.
Bagas menatap mata Andin yang mulai berlinang air mata. Dia melihat kesungguhan di mata itu.
"Hhhh...."
Bagas menghela napasnya.
"Apa yang membuatmu berubah pikiran seperti itu ? Aku tahu, sesuatu pasti telah terjadi padamu. Katakanlah..! Yakinkan aku dan berikan aku satu alasan yang masuk akal, kenapa aku harus mengatakan keberadaan gadis itu padamu !" ujarnya penuh penegasan.
"Aku....aku..." Andin memainkan ujung bajunya, lidahnya terasa kelu jika harus menceritakan apa yang telah menimpanya. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Bagaimanapun juga, dia harus bertemu dengan Kyara.
Pada akhirnya, Andin pun menceritakan semua kepahitan yang dia alami.
Brakk....
Aku benar-benar tidak mengerti nona, kenapa cobaanmu begitu berat. Aku tidak bisa membayangkan reaksimu nanti jika mendengar kabar ini. Aku benar-benar prihatin akan nasibmu. Ya Tuhan..., kenapa semuanya harus seperti ini ? Berapa banyak lagi rasa sakit yang harus dia tanggung karena laki-laki bejad itu..?
Bagas menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya dengan kasar. Dia kembali membalikkan badannya dan menghampiri Andin.
"Jujur aku tidak tahu di mana keberadaan gadis itu." jawab Bagas, datar.
"Tapi, Gas...!"
Bagas mengambil ballpoint dan secarik kertas. Dia kemudian menuliskan sesuatu, dan menyerahkannya kepada Andin.
"Ini nomor telponnya. Tapi, jika sampai aku tahu kamu hanya akan menyakitinya lagi. Aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan denganmu !" ancamnya.
Andin tersenyum, "Tenanglah, Gas ! Aku sudah berubah !" jawab Andin. "Terima kasih atas bantuannya, aku permisi dulu !" pamit Andin.
***
Kyara tiba-tiba melempar ponselnya ke atas kasur.
"Kamu kenapa sih, Kya..?" seru Anti yang melihat sikap Kyara membanting telponnya.
"Itu tuh mbak..,! Dari tadi sore banyak pesan yang nggak jelas masuk ke nomor Kya..!"
"Dari siapa ?"
__ADS_1
"Nggak tahu ! Pesan tak bertuan..!"
Anti mengernyitkan dahinya, "Maksudmu ?"
"Iya, nomornya nggak ada di list kontak ponsel Kya."
"Kenapa kamu nggak telpon balik aja ?"
"Sudah, tapi nggak diangkat-angkat.."
"Hmm..., aneh ya...! Emang isi pesannya apa ?" Anti mulai menyelidik.
"Nggak jelas gitu, dia cuma minta maaf, dia menyesal, dia kembali lagi minta maaf. Pokoknya nggak jelas gitu deh...!" jawab Kyara kesal.
Anti mengusap-usap dagunya, seperti sedang berpikir keras untuk memecahkan teka-teki pesan tak bertuan itu.
"Apa kamu punya musuh ?" tanya Anti.
"Ish.., apaan sih mbak. Kya nggak pernah berseteru dengan siapa pun." ujarnya.
"Yaa.., siapa tahu pesan itu datang dari musuhmu yang sudah bertobat, he...he..he..." gurau Anti.
"Ih kok mbak malah makin ngelantur sih..!" ujar Kyara, kesal.
"Ya, gimana nggak mau ngelantur jika ngelihat sikap kamu yang uring-uringan begitu. Sudah abaikan saja, nanti juga bosan sendiri. Sekarang, ayo kita tidur ! Besok kita harus kerja ekstra buat acara milad panti." perintah Anti.
"Ya, mbak benar. Mudah-mudahan si empunya pesan bisa segera sadar dan menghentikan terornya. Jujur, Kya risih dengan pesan-pesannya. Kok, kesannya dia seolah berdosa banget terhadap Kya. Kya jadi nggak enak, siapa ya dia..??"
"Sudah..., sudah...jangan mulai berpikir lagi..! Tidurlah !"
Klik...!
Anti pun memadamkan lampu kamarnya. Berharap dengan seperti itu, temannya akan segera pergi ke alam mimpi.
"Selamat malam Kya ! Selamat tidur, mimpi yang indah, ya..!"
"Malam juga mbak...!"
Sementara di kota B, di waktu yang sama. Tampak Andin menatap ponselnya. Beberapa panggilan tak terjawab yang diabaikannya, masih tampak jelas di ponselnya. Dia menatap foto profil WhatsApp Kyara, kemudian mengusapnya.
"Maafkan aku Kyara ! Aku belum siap berbicara langsung denganmu !" gumamnya lirih.
Bersambung...
Untuk para readers yang menanyakan PU pria dalam cerita ini, mohon bersabar ya...! Insyaallah setelah beberapa part lagi, readers bisa menarik kesimpulan sendiri, siapa sebenarnya PU pria dalam cerita Perjuangan CEO Muda....
Ikuti terus kelanjutannya...
Terima kasih atas dukungannya...
Selalu ditunggu like, vote n komennya 🙏🤗🙏
__ADS_1