
Assalamualaikum readers...
Terima kasih masih setia menunggu kelanjutan ceritanya...
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Mentari pagi mulai menyeruak dari peraduannya. Pancaran sinarnya menghangatkan setiap makhluk yang ada di muka bumi. Hari ini tampak cerah, ditambah kicauan burung yang bertengger di pepohonan rindang, menjadi energi positif untuk setiap insan yang berada di rumah sakit ini.
Tak terkecuali dengan Bagas. Indahnya suasana pagi membuat Bagas kembali menaruh harapan yang lebih baik lagi untuk kesembuhan Kyara. Terlebih lagi, sekarang dia memiliki sesuatu yang mungkin saja bisa menjadi barang bukti penyebab Kyara kehilangan janinnya.
Pagi ini, seperti biasanya, dua orang perawat datang ke kamar Kyara untuk memandikan Kyara. Dan pada saat itu, Bagas akan keluar untuk sekedar jogging atau duduk menghirup udara segar di taman rumah sakit. Setelah itu, dia akan pergi ke kantin untuk sarapan.
Namun entahlah...., hari ini rasanya Bagas ingin sekali pergi keluar rumah sakit. Mungkin karena terlalu penat dengan keadaan, hingga Bagas merasa perlu untuk merefresh dirinya.
"Sus, boleh saya titip dia dulu sebentar ? Saya ada urusan di luar." pinta Bagas pada kedua perawat yang hendak memandikan Kyara.
"Oh iya, tentu saja pak. Saya akan menjaga ibu dengan baik." jawab perawat itu.
"Baiklah, terima kasih sus."
Bagas pergi meninggalkan Kyara bersama kedua perawat itu. Kemudian dia melajukan motornya menuju sebuah taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
Tiba di taman, Bagas memarkirkan motornya, kemudian dia memilih sebuah kursi di sudut taman untuk melepaskan penatnya. Taman terlihat sepi, karena ini memang bukan hari libur. Sesekali tampak anak-anak berseragam yang hendak berangkat sekolah.
Bagas mengeluarkan ponselnya, ditatapnya foto Kyara di galeri album ponselnya. Ya ! Foto Kyara yang sedang tertidur, yang diambilnya secara diam-diam. Bagas menghela napasnya, sadarlah nona..., apa yang harus aku katakan pada Aaron jika keadaan nona masih terus seperti ini....
Cukup lama Bagas duduk di taman itu, sampai akhirnya perutnya meronta meminta jatah sarapan. Bagas melirik jam tangannya, sudah hampir jam 8 pagi. Dia pun pergi menuju sebuah warung nasi yang berada di ujung taman.
Selesai sarapan, Bagas hendak kembali ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan ke tempat parkir, dia melihat apel segar di sebuah kios buah. Bagas menghampiri kios buah tersebut, kemudian membeli beberapa jenis buah-buahan, termasuk apel merah itu.
"Jadi berapa semuanya, pak ?" tanya Bagas.
"150 ribu, den." jawab pedagang buah itu.
Bagas mengeluarkan 2 lembar uang seratus ribuan, kemudian menyerahkannya kepada pedagang buah itu. "Boleh saya pinjam pisau buahnya, pak ? Saya mau kupas buah apelnya di sini saja, takutnya di rumah sakit tidak ada pisau." pinta Bagas.
"Oh, ini den. Bawa saja, kebetulan saya ada dua kok... !" jawab pedagang buah.
"Beneran nih pak, nggak apa-apa saya bawa ? Atau saya beli saja ya, pak ?"
"Tidak usah, ambil saja den...!"
__ADS_1
"Oh, kalau begitu, terima kasih pak !"
"Sama-sama, den. Ini kembaliannya den !"
"Ambil saja, pak...!"
"Tapi....?"
"Alhamdulillah, rezeki bapak..."
"Alhamdulillah, terima kasih, den."
"Sama-sama, pak. Saya pamit dulu pak, mari...!" Bagas pun pamit dan kembali ke rumah sakit.
Tiba di ruang rawat Kyara, tampak seorang perawat sedang membersihkan mulut Kyara dengan tissue, sepertinya Kyara baru selesai makan.
"Makannya banyak, sus ?" tanya Bagas sambil meletakkan buah-buahan yang dibelinya tadi di atas nakas.
"Masih sama seperti kemarin, pak." jawab perawat. "Saya permisi dulu, pak !"
"Baiklah, terima kasih, sus...!"
"Sama-sama, pak."
Seperti biasa, Kyara hanya diam. Dia masih duduk menekuk lututnya.
Bagas mencuci apel tersebut, dan mulai mengupasnya. Tiba-tiba...
Drrt...drrt...drrt..., terdengar bunyi getaran ponsel Bagas di saku celananya. Segera Bagas menaruh apel dan pisaunya di atas nakas. Dia kemudian berdiri, merogoh ponselnya.
Ting...ting...ting..., botol-botol itu terjatuh pada saat Bagas mengeluarkan ponselnya. "Kak Indah.." gumamnya, Bagas sedikit menjauh untuk menerima telpon dari kakaknya.
Sementara itu, Kyara mengalihkan pandangannya saat mendengar bunyi dentingan di atas lantai. Kyara membelalakkan matanya melihat botol-botol kecil itu. Bayangan seringai Ajay melintas di ingatannya, "Pembunuh..." gumamnya. Pandangan Kyara terkunci pada sebuah pisau yang terletak di atas nakas. Diam-diam, Kyara mengambil pisau itu.
"Hallo, kak Indah..., apa kabar...?" Bagas menerima panggilan kakaknya tanpa menyadari pergerakan Kyara.
"PEMBUNUH KAMU...!!"
Kyara berteriak...., secepat kilat dia berlari ke arah Bagas dengan pisau di tangannya.
Bagas yang mendengar teriakkan Kyara, spontan membalikkan badannya, dan....
__ADS_1
Srett...!!
"Arrggh....!" Bagas berteriak, kaget. Pisau tersebut mengenai tangan Bagas yang sedang memegang ponsel...
"Hallo..., Gas...! Bagas....!" suara di seberang telpon terdengar memanggil Bagas.
Sesaat Bagas diam, karena terkesima melihat gerakan Kyara yang begitu cepat menghujamkan pisau ke arahnya. Namun panggilan kak Indah di telpon segera menyadarkannya. Tak ingin keributan ini terdengar oleh kakaknya, akhirnya Bagas mematikan sambungan telponnya.
Bagas berlari untuk menghindari tikaman pisau yang kembali di arahkan Kyara kepadanya.
"Pembunuh...! Dasar pembunuh...! Kembalikan anakku...! pembunuh kamu....!!" Kyara mengejar Bagas sambil terus meracau.
"Ada apa, pak...?!" seorang perawat pria membuka kamar Kyara. Dia tampak terkejut melihat Kyara mengejar Bagas dengan pisau di tangannya.
Kyara membalikkan badannya begitu mendengar suara perawat itu. Saat Kyara lengah, Bagas segera menyergap Kyara, berusaha merebut pisau yang di pegang Kyara. Untuk beberapa menit pergumulan pun terjadi.
Srett...!!
Kembali tangan Bagas terkena sabetan pisau saat merebut pisau tersebut dari tangan Kyara.
Tiba-tiba pergerakan Kyara mulai melemah. Ya...! Perawat pria tadi akhirnya kembali memberikan suntikan penenang kepada Kyara. Bagas menggendong Kyara dan meletakkannya di atas ranjang.
Saat Bagas hendak beranjak, sebuah botol yang berisi cairan pekat, lolos terjatuh dari genggaman tangan kiri Kyara.
Ini kan...., Bagas merogoh sakunya, tak ada satupun botol-botol kecil itu di dalam sakunya. Bagas menunduk, dan dia menemukan botol-botol itu di lantai. Mungkin benda-benda ini terjatuh tadi saat gue ambil ponsel...
Kembali Bagas memunguti botol-botol kecil itu.
Dalam ketidaksadarannya, Kyara terus meracau mengatakan "pembunuh"
Ya Tuhan..., ada apa ini...? Kenapa dia kembali histeris saat melihat botol-botol kecil itu ? Bahkan dia mengatakan pembunuh, apa botol-botol itu ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Kyara ?
Bagas semakin yakin bahwa botol-botol kecil itu ada hubungannya dengan penyebab Kyara kehilangan janinnya. Gue harus segera menemui mbak Risa untuk memperlihatkan benda-benda ini... batinnya.
"Mari saya obati lukanya, pak...!" tiba-tiba suara perawat pria tadi membuyarkan lamunan Bagas.
Bersambung...
Mohon maaf jika author tidak bisa up setiap hari...ππ
Semoga masih suka dengan ceritanya...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya...
Makasih...