Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Restu Jaka


__ADS_3

Assalamualaikum....


Semoga masih suka sama ceritanya yaaa...


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Akhirnya acara pertunangan Kyara selesai juga. Keluarga besar Ajay telah kembali ke kota B. Beberapa kerabat Kyara yang dari luar kota pun, telah pulang. Kini rumah Kyara tampak sepi kembali. Hanya beberapa tetangga terdekat yang masih ada untuk membantu Kyara dan bu Ratna membereskan rumah.


Tok...tok...tok...


"Assalamualaikum..." sapa seorang lelaki yang bertamu ke rumah Kyara.


"Waalaikumsalam." Kyara segera ke ruang tamu untuk membukakan pintu. "Kang Jaka ?" ujar Kyara terkejut melihat Jaka tengah berdiri di hadapannya.


Ya ! Siang tadi, Jaka hendak ke rumah Kyara, namun saat Jaka mendapati rumah Kyara terlihat ramai, Jaka pun mengurungkan niatnya. Pada akhirnya, Jaka menyaksikan pertunangan Kyara dari kejauhan.


"Apa kabar, neng ?" sapa Jaka, canggung.


"Ba...baik kang." Kyara pun menjawab tak kalah canggungnya.


"Siapa yang datang neng ?" tanya bu Ratna menghampiri Kyara di ruang tamu. "Eh, nak Jaka..! Mari masuk, nak !" ajak bu Ratna.


"Iya, terima kasih bu." jawab Jaka.


Jaka pun masuk diikuti oleh Kyara dari belakang.


"Ayo, silakan duduk nak ! Maaf, ini masih berantakan, bekas acara An..."


"Ibu...!" Kyara menyenggol bu Ratna, memberikan isyarat agar bu Ratna tidak melanjutkan perkataannya.


"Eh, ma... maaf...!" ujar bu Ratna.


"Tidak apa-apa bu, Jaka sudah melihatnya kok..!"


"Apa..!!" seru bu Ratna dan Kyara, kaget.


"Maaf ya nak Jaka, ibu..., aduh..., ibu jadi bingung harus bilang apa ! Ibu benar-benar minta maaf, nak...!" ujar bu Ratna, memelas.


Bu Ratna merasa tidak enak kepada Jaka atas kejadian lamaran Jaka yang ditolak Kyara dulu, dan juga atas pertunangan Kyara yang serba mendadak. Sedangkan Kyara hanya bisa menundukkan kepalanya. Rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya.


"Sudahlah bu, tidak ada yang perlu dimaafkan. Saya dan Kyara hanya tidak berjodoh saja. Oh iya bu, apa pak Ahmad ada ?" tanya Jaka.


"Oh, nak Jaka ada perlu sama bapak ? Ada, sebentar ya, ibu panggilkan dulu !" bu Ratna segera pergi ke kamarnya untuk memanggil suaminya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, pak Ahmad datang. "Ah, nak Jaka ! Apa kabar, nak !" sapa pak Ahmad.


"Baik pak." ujar Jaka seraya berdiri untuk bersalaman dengan pak Ahmad.


"Syukurlah ! Ayo..., ayo.. silakan duduk, nak !" pak Ahmad mempersilakan Jaka untuk duduk kembali. "Ngomong-ngomong, ada apa nak Jaka kemari ?" tanya pak Ahmad.


"Begini pak, Jaka mau pamit sama bapak, sekalian sama ibu dan juga Aneng." ujar Jaka.


"Pamit ?! Memangnya nak Jaka mau kemana ?" tanya bu Ratna sambil menyodorkan air minum dan cemilannya.


"Jaka mau merantau ke Kalimantan, bu." jawab Jaka.


"Apa ! Itu jauh sekali, nak !" ujar pak Ahmad.


"Iya pak." jawab Jaka.


"Nak, mohon maaf jika bapak lancang. Apa kepergianmu ada hubungannya dengan sikap anak bapak ?" tanya pak Ahmad.


Jaka menghela napasnya, "Tidak pak ! Jaka sudah melupakan kejadian itu. Kebetulan ada teman Jaka yang menawarkan pekerjaan di sana, dan Jaka ingin mencobanya." jawab Jaka.


"Syukurlah, bapak benar-benar minta maaf jika sikap Aneng telah menyakiti hati nak Jaka dan juga ibunya." ujar pak Ahmad. "Lalu bagaimana dengan ibumu, apa dia ikut ?" tanya pak Ahmad kembali.


"Tidak pak. Ibu sudah saya ajak, tapi beliau tidak mau ikut." jawab Jaka.


"Kebetulan rumah bi Rahmi dekat, bu. Jadi, ibu saya titipkan ke bi Rahmi, adiknya ibu." jawab Jaka.


"Oh ya sudah, kalau begitu bapak sama ibu do'akan, semoga apa yang kamu cita-citakan bisa terwujud di sana." ujar pak Ahmad.


"Aamiin..., terima kasih pak. Sekalian saya mau minta izin untuk mengajak Aneng keluar sebentar. Apa boleh, pa ?" tanya Jaka.


Pak Ahmad menatap Kyara. Kyara pun mengangguk.


"Baiklah, silakan nak !" jawab pak Ahmad.


"Yah, bu..., Aneng pergi dulu ya..! Assalamualaikum..!" pamit Kyara.


"Waalaikumsalam, hati-hati ya, neng..!" jawab bu Ratna. Pak Ahmad hanya tersenyum.


Jaka dan Kyara pun pergi.


"Kita mau kemana, kang ?" tanya Kyara.


"Kita ke sawah saja, neng ! Sekalian lihat pemandangan langit di sore hari. Kebetulan ada yang mau akang bicarakan." jawab Jaka.

__ADS_1


"Baiklah..." kata Aneng.


Dengan mengendarai motor, akhirnya mereka pun pergi ke area persawahan.


Tiba di sana, setelah memarkirkan motornya, mereka duduk di tepi sawah.


"Ah..., sejuk sekali udaranya..." ujar Jaka


"Iya kang..." jawab Kyara. "Akang mau bicara apa ?" tanya Kyara lagi.


"Jadi ini alasan Aneng menolak lamaran akang ?" tanya Jaka, langsung pada intinya.


Kyara hanya bisa menunduk, "Maaf..!" ucap Kyara, pelan.


Jaka menarik napasnya, panjang. "Kenapa kamu tidak pernah cerita jika kamu punya pacar ?" tanya Jaka. "Seandainya kamu cerita, mungkin aku tidak akan membiarkan hatiku terlalu jauh mencintaimu ?" ujar Jaka. Ada rasa kecewa dari nada bicaranya.


"Se.... sekali lagi, Aneng minta maaf, kang..! Aneng..., Aneng tidak bermaksud mempermainkan perasaan akang..." jawab Kyara lirih.


"Sudahlah neng..! Nasi sudah menjadi bubur. Di sini ( Jaka menunjuk dadanya ) sudah ada luka, tapi akang akan berusaha untuk menyembuhkannya. Akang tanya neng, apa kamu mencintainya ?" lanjut Jaka.


Kyara diam...


Aku tidak tahu kang...! Aku tidak tahu apa aku masih mencintainya ? Yang aku tahu, aku hanya berusaha untuk tidak membuat ayah dan ibu kecewa lagi terhadap ku.


"Kya...?!" tanya Jaka lagi, membuyarkan lamunan Kyara.


"I... iya, kang ! Kya... Kyara mencintainya.." jawab Kyara terbata.


Jaka tersenyum, "Jika kau mencintainya, akang akan berhenti mengharapkanmu. Akang hanya bisa memberikan restu dan mendo'akan mu, semoga kalian hidup bahagia, di dunia maupun di akhirat.


"Aamiin..., terima kasih kang...! Sekali lagi, maafkan Aneng.." jawab Kyara.


"Sudahlah...! Sudah terlalu sore. Ayo...! Akang antar kamu pulang !" ajak Jaka


Kyara mengangguk, mereka pun pergi bersama menghilangnya senja.


Bersambung...


Alhamdulillah, malam ini author bisa up ya... meskipun cuma sedikit...


Insyaallah ke depannya akan coba author perbaiki..


Jangan lupa like vote n komennya...

__ADS_1


Terima kasih...πŸ™πŸ™


__ADS_2