
Tak terasa, sudah hampir sepekan Kyara dan Bagas tinggal di kampung halaman Kyara. Kyara memang sudah meminta izin untuk tidak masuk kerja sampai hari terakhir tahlilan ibunya. Begitu juga dengan Bagas yang telah memundurkan semua jadwal meeting nya selama sepekan. Bagas tak pernah menghitung kerugian yang ditimbulkan karena pengunduran jadwal itu. Baginya, menemani istrinya di saat-saat tersulitnya adalah waktu yang sangat berharga. Dan waktu itu tidak akan pernah kembali. Bagas ingin, dia menjadi orang yang pertama untuk selalu berbagi dalam setiap suka dan dukanya Kyara
"Jadi, kapan rencananya kalian kembali ke kota J ?" tanya mang Jajang saat mereka sedang berkumpul di dapur untuk mempersiapkan acara terakhir tahlilan ibunya Kyara
"Rencananya besok, mang ! Soalnya Aneng cuma minta izin seminggu ke sekolahnya." jawab Kyara sambil mengupas kentang.
Bagas tiba-tiba muncul dengan membawa barang belanjaan dari pasar.
"Ini disimpan di mana, bi ?" tanya Bagas sambil membawa beberapa dus mie instan.
"Taruh di ruang tengah aja cep ! Nanti akan ada tetangga untuk membungkusnya." jawab bi Irah.
Bagas pun meletakkan semua barang belanjaannya. Sudah menjadi tradisi di kampung Kyara, jika di hari terakhir acara tahlilan, keluarga yang ditinggalkan akan berbagi sedekah dengan tamu pengajian dan tetangga sekitar.
Setelah semua barang diletakkan di ruang tamu, bi Irah pun keluar untuk memanggil beberapa orang tetangga dekatnya. Tak lama kemudian mereka pun berdatangan.
Kyara menghampiri suaminya. Dia pun membuka satu persatu kemasan dus yang dibawa Bagas. Ada mie instan, terigu, gula pasir, minyak goreng, kecap, sarden, abon dan berbagai sembako lainnya. Kyara mengeluarkan satu persatu isi dari dus-dus tersebut. Dia kemudian menyusunnya menjadi sebuah parsel yang sangat cantik.
"Nanti, penataannya seperti ini ya, ibu-ibu !' ujar Kyara seraya menunjukkan hasil karyanya.
Semua ibu-ibu tersebut tampak mengerti dan mereka pun memulai pekerjaannya untuk membuat parcel. Tangan Kyara terlihat terampil sekali membuat parcel-parcel itu, membuat Bagas merasa tertarik untuk mencobanya.
"Aku bantu ya ?" ujar Bagas seraya mengambil beberapa barang yang hendak di susunnya.
Sejenak Bagas memperhatikan gerakan tangan Kyara, kemudian dia mulai mempraktikkannya dengan barang-barangnya sendiri. Namun ternyata, tidak semudah yang Bagas lihat.
Berulang kali Bagas kembali membongkar parcelnya yang hampir jadi. Bulir keringat besar mulai bercucuran di sekitar dahi dan pelipisnya.
"Ish, kenapa susah sekali ?" gumam Bagas seraya membongkar parcelnya.
Bagas menghembuskan napasnya kasar, dia menyeka bulir keringatnya yang bercucuran. Bibirnya terlihat mengerucut, merasa kesal dengan hasil karyanya yang tak kunjung jadi. Seandainya Bagas boleh memilih, akan jauh lebih baik membuat desain mobil daripada menyusun barang-barang sembako ini.
"Huffss.. !"
Bagas menghela napasnya. Sepertinya dia sudah menyerah.
"Sudahlah tuan muda, lebih baik kau packing saja barang bawaan untuk besok. Di sini kau hanya bisa menghancurkan bahan-bahan sembakonya !" ujar Kyara yang merasa kesal karena ada beberapa bahan yang isinya berceceran karena terus dibolak-balik penataannya oleh suaminya.
"Huh, merepotkan sekali !" dengus Bagas kesal. "Kenapa sedekahnya tidak berupa uang saja, nona ? Bukankah itu lebih mudah dan praktis ?" lanjut Bagas.
"Tidak semuanya bisa dinilai dengan uang. Sudah sana pergi ! Bereskan semua pakaian kita, karena besok subuh kita harus berangkat." ujar Kyara.
Bagas tersenyum mendengar perintah Kyara.
__ADS_1
Apa...? Kita...? Barusan dia bilang kita, kan...? Ah senang sekali aku mendengarnya, katakan sekali lagi nona ! Aku ingin mendengarnya lagi..., batin Bagas seraya menatap Kyara penuh harap.
Eit dah ni bocah, kok malah bengong ! Kesambet setan pasar kali...!
Kyara mendengus kesal melihat sikap Bagas yang masih terus menatapnya.
"Hei...! Hei...! Kak Bagasss...!" Kyara setengah berteriak untuk menyadarkan Bagas.
"Eh iya, kenapa sayang ?" ujar Bagas menggoda istrinya, membuat para ibu-ibu yang berada di ruangan itu tersenyum melihat tingkah mereka.
"Cepat kemasi barang-barangnya !" bisik Kyara karena merasa malu dengan tatapan yang diperlihatkan ibu-ibu tetangganya.
"Siap laksanakan, ratuku !" ujar Bagas yang berhasil membuat para ibu-ibu berdecak kagum melihat pasangan yang tampak serasi itu.
Bagas pergi ke kamar Kyara dan mulai mengemasi barang-barang yang memang sudah diletakkan Kyara di atas ranjangnya.
Setengah jam kemudian, Kyara datang ke kamarnya. Dia sedikit tersenyum melihat suaminya sedikit kesulitan meresletingkan kopernya. Tanpa berbicara, Kyara mengambil alih pekerjaan suaminya, membuat Bagas berdecak kesal.
Bagas kemudian berdiri. Dia melangkahkan kakinya menuju jaket yang tergantung di samping lemarinya.
"Hei nona ! Bukankah ini jaketku ?" ujar Bagas pura-pura terkejut di depan Kyara. Padahal sejak pertama kali Bagas masuk kamar Kyara, dia sudah tahu jika jaketnya tergantung di sana.
Kyara mendongak.
Ish, ceroboh sekali ! Kenapa aku lupa menyimpannya ke dalam lemari. Hmm, bisa besar kepala dia nanti...! gumam Kyara dalam hati.
Blush....!!!
Seketika, pipi Kyara bersemu merah mendengar omongan Bagas.
"Jangan terlalu kepede-an ! Jaket itu masih tergantung karena aku belum sempat membuangnya !" ujar Kyara asal.
"Ya sudah, sekarang biar kubuang saja ! Lagipula, kau kan sudah memiliki si pemilik jaket ini." ujar Bagas seraya mengambil ancang-ancang untuk membuang jaket itu ke tong sampah di sudut kamar.
"Kau !"
Kyara bangkit dan segera menyambar jaket itu. Dia kemudian memasukkan jaket itu ke dalam koper satunya lagi.
Bagas tersenyum tipis melihat tingkah Kyara. Dia semakin yakin jika Kyara masih mengingat semua kenangannya.
Hanya tinggal menunggu waktu ! Bersabarlah, Gas ! ujarnya dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.
***
__ADS_1
Seminggu hampir berlalu. Masih belum ada perkembangan yang lebih baik dari Ajay. Setiap hari, adik dan kedua orang tuanya bergiliran untuk menjaganya.
Beberapa hari yang lalu, kondisi Ajay sempat menurun drastis saat nyonya Diana menceritakan tentang meninggalnya Danisa yang kehilangan banyak darah. Melihat hal itu, dokter yang menangani Ajay semakin yakin jika Ajay bisa merespon setiap perkataan meski dalam keadaan tak sadar. Dokter pun menyarankan agar anggota keluarganya selalu mengajak pasien berbicara agar pasien bisa segera keluar dari alam bawah sadarnya.
***
Selepas magrib, acara tahlilan hari ketujuh pun di mulai. Seperti biasanya, banyak lantunan do'a yang terucap dari para tamu pengajian. Selain pengajian, di hari terakhir ini juga diadakan sedikit tausiyah dari pak ustadz yang membahas tentang kematian dan keabadian di hari akhir. Semua orang tampak antusias mendengarkan, begitu juga dengan Bagas. Rasa syukurnya semakin bertambah dengan apa yang dicapainya. Bagas berencana untuk membuat panti asuhan untuk anak yatim-piatu, setelah dia mendengar pencerahan dari ustadz tentang ibadah seperti apa yang pahalanya akan terus mengalir meski orang itu telah tiada.
Keesokan paginya. Sebelum kembali ke kota J, Kyara dan Bagas menyempatkan diri untuk nyekar ke makam ibunya. Air mata Kyara tak mampu dibendungnya saat mereka tiba di sana. Bagas merangkul istrinya, mencoba memberikan kekuatan kepada istrinya.
"Sst..., sudah Kya, jangan nangis lagi ! Ibu pasti akan kecewa melihatmu seperti ini " ujar Bagas seraya mengecup pucuk kepala istrinya.
Kyara mengangguk.
"Aneng pergi dulu ya bu ! Jangan khawatir bu, Aneng pasti baik-baik saja." ujar Kyara seraya mengusap pusara ibunya.
"Sudah hampir jam 7, kita berangkat sekarang ?" tanya Bagas.
Kyara mengangguk, dia pun menyeka air matanya. Setelah itu mereka berjalan menuruni bukit yang sedikit terjal itu. Tiba di rumah, Kyara segera berpamitan kepada paman dan bibinya.
"Aneng pamit dulu ya, bi, mang ! Jaga kesehatan kalian. Insyaallah, liburan semester nanti, Aneng akan mengunjungi kalian." ujarnya seraya memeluk paman dan bibinya.
"Iya neng, bibi tunggu ! Hati-hati di jalan ya, jaga diri baik-baik. Ingat, apa pun yang terjadi, kalian harus tetap rukun ya ! Binalah rumah tangga yang sesuai dengan syariat Islam ! Jika ada masalah, bicarakan baik-baik. Kata orang jaman dulu mah, rumah tangga itu harus repok, yang satu repeh yang satu pok ! Ngerti kan maksud bibi ?"
Kyara mengangguk, tinggal Bagas yang menggaruk tengkuknya mendengar kata asing yang diucapkan bibinya Kyara.
"Mungkin bibi bukanlah ibu kandungmu. Tapi bibi sangat menyayangimu. Setiap ibu pasti akan berusaha untuk memberikan wejangan yang baik bagi pernikahan putrinya. Begitu juga dengan bibi. Bibi harap kamu harus selalu ingat nasihat bibi ya nak ! Dan kamu, nak Bagas, Repeh rapihlah berdampingan dengan istrimu, nak ! Karena sejak kamu mengucapkan ijab kabul, sejak itu pula kamu telah mengambil alih tanggung jawab kami atas diri putri kami." lanjut bi Irah.
Air mata sudah mulai menggenang kembali di kedua sudut mata Kyara saat mendengar wejangan bibinya. Kyara sangat beruntung, meski ibunya telah meninggal, namun dia tidak pernah merasa kehilangan kasih sayang seorang ibu. Bi Irah tak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya terhadap dirinya dan kedua anak kandungnya.
"Iya bi, Bagas akan selalu ingat nasihat bibi." ujar Bagas seraya memeluk bibinya.
Kyara mendekati pamannya, dia pun memeluknya erat.
"Sst... , jangan sedih lagi ! Pergilah, nanti keburu siang ! Perjalanan kalian masih jauh !" ujar mang Jajang seraya mengusap punggung Kyara.
"Aneng pamit mang ! Assalamualaikum !" ucap Kyara seraya mencium punggung tangan pamannya.
Pun dengan Bagas yang melakukan hal yang sama.
"Titip Kyara ya cep ! Tegur dia jika berbuat salah, tapi mamang mohon, jangan bentak dia ! Jika kau merasa sudah tidak bisa mendidiknya, jangan pernah menyakiti hatinya, cukup kembalikan dia kepada kami !" ujar mang Jajang penuh ketegasan.
Bulu kuduk Bagas berdiri saat mendengar nasihat lembut namun penuh ketegasan.
__ADS_1
"Bagas tidak akan pernah menyakiti Kyara, karena Bagas tidak mau mengembalikan Kyara pada mamang ! Bagas akan selalu menjaganya. Mamang tidak usah khawatir, Bagas pasti bisa mendidik Kyara menjadi seorang istri yang solehah." janji Bagas kepada pamannya Kyara.
Akhirnya setelah memberikan berbagai wejangan dalam membina rumah tangga, mang Jajang dan bi Irah pun melepaskan Kyara untuk menjadi istri seutuhnya bagi Bagas