Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Gadis Penjual Manik-manik ( Part 2 )


__ADS_3

"Jangan dipasang, tuan...!!"


Cegah gadis itu kepada Gunawan yang hendak memasang cincin di jari mungilnya Arum.


"Tapi kenapa nona ?" Gunawan bertanya seraya mengernyitkan dahinya.


"Nanti bisa tertelan." jawab sang gadis.


Gunawan semakin mengernyitkan dahinya. Bahkan kali ini, kak Indah pun ikut memperhatikan obrolan mereka.


"Anda terlalu berlebihan, nona ! Bagaimana mungkin anak sekecil Arum bisa menelan benda ini." ujar Gunawan.


"Mohon maaf, tuan ! Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan anda. Saya tahu anda sangat menyayangi putri anda. Tapi ada baiknya jika anak seumuran putri anda tidak dipakaikan dulu cincin, tuan !"


"Tapi kenapa, nona ?"


Kali ini kak Indah ikut nimbrung pembicaraan suaminya dan gadis penjual manik-manik itu.


"Anak seusia putri kalian ini, lagi senang-senangnya memasukkan tangannya ke mulutnya. Jika tuan memakaikan cincin di jarinya, tidak menutup kemungkinan saat dia mengulum jari jemarinya, cincinnya ikut longgar dan tertelan. Terkecuali jika tuan dan nyonya bisa memperhatikannya secara maksimal. Tapi, sejeli apa pun orang tua menjaga anaknya, selalu saja ada lengahnya. Mohon maaf tuan, nyonya, saya tidak bermaksud menggurui kalian."


"Ah..., tidak apa-apa ! Malahan, saya sangat berterima kasih karena anda telah memberikan kami pengertian. Mungkin karena kami terlalu sayang, jadi terkadang sikap kami berlebihan. Maklum, ini anak pertama kami, jadi kami selalu ingin memberikan yang terbaik."


"Saya mengerti, tuan."


"Oh iya, apa kamu sudah punya anak ?"


Kak Indah yang sedari tadi ikut menyimak penjelasan gadis itu, semakin merasa tertarik untuk mengenal lebih jauh gadis itu.


Mendapati pertanyaan yang dilontarkan pembelinya, bukannya menjawab, gadis itu malah kembali melamun. Bayangan seorang anak kecil kembali melintas di benaknya. Terlebih lagi saat dia melihat baby Arum yang sedang berceloteh dalam pangkuannya, hatinya semakin teriris. Tatapan sendu mulai terlihat dari matanya.


"Nona...?"


Kak Indah menyentuh bahu sang gadis karena merasa heran dengan perubahan raut wajahnya.


"Ti... tidak nyonya. Saya belum menikah, jadi saya tidak punya anak." jawab sang gadis.


"Tapi kenapa kau tahu banyak tentang anak kecil ?" sepertinya kak Indah semakin penasaran.


"Kebetulan, saya bekerja di sebuah panti asuhan." jawab sang gadis.


"Oh, begitu ya...!"


"Ya Khumaira, apa kau sudah memilih perhiasannya ? Sebentar lagi, matahari akan segera naik. Kasian Arumi jika harus kepanasan." tegur Gunawan.


"Ah..., maaf mas...! Habisnya bingung, semuanya bagus-bagus !" jawab kak Indah sambil kembali fokus ke kotak asongan si penjual.


"Boleh saya bantu ?"


Gadis penjual manik-manik itu menawarkan dirinya untuk membantu kak Indah memilih perhiasannya.


"Ah tentu saja...!" jawab kak Indah senang.


"Perhiasan seperti apa yang nyonya inginkan ?" tanya sang gadis.


"Sebenarnya aku tidak terlalu suka memakai kalung ataupun gelang. Tapi aku suka mengenakan cincin, dan aku senang mengoleksi berbagai macam cincin dengan bentuk dan model yang unik." jawab kak Indah memberikan penjelasan.


"Apa nyonya sudah memiliki cincin giok ?" tanya sang gadis.

__ADS_1


"Cincin giok ?" tanya kak Indah keheranan. "Sepertinya aku belum memiliki cincin yang seperti itu ?" lanjutnya.


Sang gadis kemudian mengeluarkan kotak kecil yang berisikan cincin giok berwarna-warni.


"Seperti ini bentuk cincin giok nyonya. Cincin ini terbuat dari batu giok. Saat ini, popularitas batu giok sedang naik daun. Konon katanya, batu ini memiliki simbol cinta, kekuatan, kesucian, ketulusan, kecantikan, kebijaksanaan, ketenangan dan kesetiaan. Bagi sebagian orang cincin ini dianggap sebagai sebuah keberuntungan, karena memang terbuat dari batu mulia. Tapi tentunya itu tidak berlaku bagi umat muslim nyonya, karena itu bisa membuat si pemakainya menjadi musyrik jika mempercayai hal tersebut.


"Ah ya..., kamu benar ! Terkadang manusia memang suka sekali menuhankan benda, sehingga tanpa sadar mereka pun telah mendzolimi dirinya sendiri. Ngomong-ngomong, cantik sekali cincin-cincinnya !"


Sang gadis tersenyum.


"Yang couple juga ada, nyonya ? Apa nyonya ingin melihatnya ?" tawar sang gadis.


"Benarkah ? Boleh, tentu saja saya mau melihatnya !"


Sang gadis mengeluarkan satu kotak kecil lagi. Ketika dia membukanya, mata kak Indah semakin membulat sempurna karena merasa takjub akan batu berwarna-warni itu.


"Biasanya, batu giok tidak diberikan ke sembarang orang, nyonya. Batu ini akan diberikan kepada orang yang memang sudah atau akan menjadi bagian dalam hidupnya."


Kembali gadis itu memberikan penjelasan tentang barang dagangannya. Gunawan yang awalnya hanya menyimak sepintas percakapan yang tak dianggapnya penting, kini mulai tertarik dengan penjelasan sang gadis.


"Menurutmu, warna apa yang pantas untuk kami, nona ?"


"Menurut legenda, warna putih sangat dianjurkan untuk dimiliki oleh para pasangan. Karena warna putih dapat melambangkan cinta, ketulusan dan kesetiaan."


"Benarkah ? Ya sudah, kalau begitu kami pilih yang warna putih saja ! Mas mau kan memakainya ?"


Binar mata kak Indah kembali menatap suaminya penuh pengharapan.


"Ish Khumaira...! Kau selalu saja bisa meluluhkan hatiku !" dengus Gunawan merasa kesal namun penuh kasih sayang melihat tatapan maut istrinya.


Kak Indah kembali fokus memilih cincin giok putih yang berpasangan. Beberapa kali dia memakaikan cincin itu ke jari manis suaminya untuk mencari ukuran yang pas.


"Berapa semuanya, nona ?" tanya kak Indah.


"Sepasang 300 ribu, nyonya."


"Eh, Khumaira...! Kita belikan juga untuk adikmu !"


Tiba-tiba, Gunawan teringat akan Bagas yang kemarin dia perhatikan selalu senyam-senyum sendiri. Gunawan berpikir, mungkin saja Bagas sedang jatuh cinta, karena itu, dia hendak memberikan cincin giok berpasangan itu, agar Bagas bisa memberikannya kepada gadis pujaannya.


"Tapi dia kan belum punya pasangan ?"


"Ish..., siapa tahu dia sedang dekat dengan seorang wanita, tapi belum berani bercerita kepada kita. Apa kamu tidak sadar reaksi dia kemarin saat menggendong Arum ?"


"Ah mas..., mungkin saja dia hanya melihat kelucuan Arum, karena itu dia senyam-senyum sendiri."


"Tidak apa-apa Khumaira, sedang atau tidaknya dia jatuh cinta saat ini, tapi kan kelak dia akan memiliki pasangan. Kita belikan saja untuk dia, anggap saja itu sebagai hadiah dan harapan kita agar dia segera memikirkan dirinya sendiri. Bukankah dia sudah lulus kuliah, jadi tidak ada salahnya kita meminta dia untuk segera memiliki pendamping."


"Mas benar ! Terima kasih sudah sangat perhatian pada adikku..!"


"Ah Khumaira..., jangan lupa.., dia juga adikku !"


Kak Indah merasa terharu dengan ucapan suaminya yang sangat perhatian kepada Bagas.


"Nona, tolong pilihkan satu untuk adikku ya..!" pinta kak Indah.


"Apa nyonya tahu ukurannya ?" tanya sang gadis.

__ADS_1


Kak Indah dan Gunawan saling pandang.


"Sepertinya untuk ukuran adikku, sama dengan suamiku. Tapi untuk ukuran perempuannya..., emmm...aku sih tidak yakin..., menurut kamu gimana, mas...?"


"Pakai ukuran kamu saja !"


Gunawan terlihat tidak mau ambil pusing dengan pemikiran istrinya. Dia hanya ingin segera membawa anaknya kembali ke hotel, karena hari sudah semakin siang, dan udaranya mulai terasa panas.


"Ish.., kalau perempuannya tidak seukuran denganku gimana ?" gerutu kak Indah.


"Mmm..., pakai ukuran anda saja, nona !" perintah kak Indah.


"Tapi, nyonya...!"


"Aneng....!! Apa kau sudah selesai ? Hari sudah semakin siang, kita harus segera kembali ke kios !"


Tiba-tiba seorang ibu paruh baya memanggil gadis itu dan melambaikan tangannya.


"Iya bu...! Sebentar lagi...!" jawab sang gadis.


"Bagaimana nyonya ?"


"Ya sudah, pakai saja ukuran jari manismu !"


"Baiklah...!"


Gadis itu pun mencoba salah satu cincin giok putih di jari manisnya. Setelah dirasa cukup, dia pun menyerahkan cincin itu kepada pembelinya.


Kak Indah sangat bersuka cita melihat sepasang cincin giok putih tersebut.


"Jadi berapa semuanya, nona ?" tanya kak Indah.


"600 ribu, nyonya."


Gunawan mengeluarkan dompetnya, dia pun memberikan 6 lembar uang seratus ribuan kepada gadis penjual manik-manik tersebut.


Sang gadis tersenyum lebar karena hari ini dia berhasil menjual barang dagangannya. Setelah itu dia pun pamit untuk menyusul ibunya yang sudah pergi ke kios.


"Terima kasih tuan, nyonya ! Semoga ikatan pernikahan kalian, langgeng sampai akhir hayat. Dan semoga adik anda berbahagia dengan wanita pujaannya. Permisi, assalamualaikum...!"


"Waalaikumsalam...! Aamin...!"


Ucap Gunawan dan kak Indah berbarengan. Saat gadis itu mulai hilang dari pandangannya, tiba-tiba kak Indah ingat, jika dia belum tahu identitas gadis itu.


"Hei...!! Tunggu...! Siapa namamu...?" teriak kak Indah.


Namun, karena jarak mereka sudah jauh. Gadis itu pun hanya menoleh dan mengangguk tersenyum sebagai tanda terima kasih kepada pembelinya.


Ya...! Gadis itu adalah Kyara. Dia sedang menggunakan waktu libur untuk mengunjungi ibunya di kampung halamannya. Dengan sisa penjualan rumahnya, bu Ratna membeli kios di kawasan pasar wisata pantai Pangandaran. Dia mencoba menjalani kehidupan barunya di sini.


Bersambung....


Terima kasih atas dukungannya...


Sekali lagi, mohon maaf jika author telat up episode-episode selanjutnya.


Jangan lupa untuk like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2