Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Pertemuan dengan Bima


__ADS_3

"Neng Kya, ini pintunya kebuka ! Apa neng Kya ada di dalam ?"


Teriakan seorang wanita tua, membuat tubuh Bagas seketika terkulai....


Bagas segera turun dari ranjang dan mulai membenahi pakaiannya. Begitu juga dengan Kyara. Setelah itu, Kyara keluar dari kamarnya. Dia mendapati nenek Siti tengah memasuki ruang tamunya.


"Ini kenapa pintunya dibiarkan terbuka, neng ?"


"Iya nek, Kya lupa menguncinya."


"Tapi kamu nggak apa-apa kan ? Tadi si Arif bilang, dia lihat seorang pemuda masuk ke rumah ini. Makanya nenek datang kesini untuk melihat keadaan kamu. Nenek takut kamu diapa-apain."


"Oh..., eh...itu...! Anu nek..., emmh...itu suami Kya...!" jawab Kyara tergagap.


"Ya Allah...! Jadi neng Kya sudah menikah ? Kapan ? Kok nenek nggak diundang ?"


"Heee..., sudah mau setengah tahun sih nek, maaf, pernikahannya cuma di KUA saja, jadi nggak ngundang siapa pun, kecuali kerabat dekat."


"Oh gitu ya..., terus suami kamu mana ?"


"Suami Kya ada di kamar, nek ! Sebentar, Kya panggilkan dulu !"


"Ah tidak usah, suami kamu pasti kelelahan karena seharian abis kerja. Sudah jangan diganggu ! Biarkan dia istirahat ! Kalau gitu, nenek permisi dulu !" pamit nek Siti


"Iya, nek !"


Setelah kepergian nek Siti. Kyara pun kembali ke kamarnya. Dia melihat suaminya tengah terpejam di ranjangnya. Kyara mendekati Bagas dan menatapnya penuh cinta. Bagaimana mungkin aku menduakanmu kakang, jika selama ini kamulah penyelamat hidupku.


Kyara mulai merangkak di atas kasur. Kemudian dia menyusupkan kepalanya di dada suaminya dan ikut terlelap. Dia benar-benar lelah dengan semua kejadian hari ini.


Bagas membuka matanya saat mendengar dengkuran halus istrinya. Dia tersenyum melihat istrinya tertidur meringkuk dalam pelukannya. Istri mungilku, aku akan selalu menjagamu sayang. Terima kasih sudah datang dalam hidupku..., batinnya. Bagas mulai mengeratkan pelukannya dan kembali terpejam.


***


"Tidak....! Tidak....! Aargghh....!"


Seketika Bima mengerjapkan matanya. Keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya. Dia bermimpi buruk tentang kakaknya yang kembali berbuat nekat tanpa bisa diselamatkan.


"Ya Tuhan..., jadi ini cuma mimpi. Kenapa seolah terasa nyata ? Apa yang harus aku lakukan, Tuhan ?" gumam Bima.


Bima turun dari atas ranjangnya. Waktu baru menunjukkan pukul 02.00. Akhirnya Bima pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu dia pun menjalankan sholat tahajud. Dalam do'anya, Bima memohon untuk diberikan petunjuk untuk bisa membantu kesembuhan kakaknya.


***


Pagi pun datang. Sinar mentari mulai menyeruak melalui tirai jendela kamar kontrakan Kyara. Ya ! Semalam dia memutuskan untuk menginap di kontrakannya Kyara. Kyara merasa rindu dengan suasana kontrakan yang selalu hangat.


"Astaghfirullah hal adzim...! Sudah siang ! Ish, kenapa aku bisa terlambat bangun begini !" gumam Kyara.


"Mungkin karena kau kelelahan setelah pergulatan kita semalam." ujar Bagas yang ternyata mendengar gumaman Bagas.


"Ish, kau ini. Ayo bangun ! Kita udah kesiangan untuk solat subuh nih..."


"Iya...iya...., nyonya Anggara yang bawel dan cerewet...!"


Akhirnya Bagas dan Kyara bangun dan bergantian untuk membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelah itu mereka melakukan solat berjamaah, meskipun matahari mulai nampak di ufuk timur.


Teng....teng....teng....


Suara dentingan mangkuk yang dipukul kecil terdengar dari luar. Seketika terdengar ribut orang-orang berkumpul di depan rumah Kyara. Bagas mengernyitkan dahinya saat mendengar suara itu, berbeda dengan Kyara yang langsung tersenyum ceria mendengar suara dentingan itu.


"Aaah...., mang Engkus...! Aku meridukannya...!" ujar Kyara segera membuka mukenanya lalu pergi meninggalkan Bagas dalam ketidakmengertiannya.


"Mang Engkus ?" gumamnya.


Bagas segera keluar dari kamarnya. Karena penasaran, dia mengintip dari celah jendela. Terdapat sebuah roda yang sedang dikerubungi oleh ibu-ibu dan anak-anak. Dengan sabarnya mereka mengantri agar dapat kebagian jatah. Di roda tersebut terdapat tulisan "Bubur Ayam Mang Engkus". Oh ternyata mang Engkus itu seorang tukang bubur ayam toh.


Tak berapa lama, Kyara masuk dengan membawa 2 mangkuk bubur ayam. Dia pun berteriak memanggil suaminya.


"Kakang...! Sarapannya sudah datang !"


"Iya sebentar lagi, yang !" jawab Bagas dari arah kamar.


Tak lama kemudian, Bagas pun tiba di ruang makan.


"Kamu nggak masak ?"


Kyara menggelengkan kepalanya.


"Hari ini Kya pengen nikmati buburnya mang Engkus. Ayo cobain kang ! Enak loh...!"


Bagas pun mulai menyendok buburnya.


"Emmh...., lumayan....!" ujarnya.


Mereka akhirnya melahap habis bubur ayam itu sambil sesekali saling melemparkan senyuman.


Selesai sarapan Bagas mengantarkan istrinya bekerja. Setelah itu dia pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian.


***

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 11.00. Bima terlihat mondar-mandir di kamar kostnya. Dia berencana untuk menemui Kyara di tempat kerjanya, meskipun dia masih merasa ragu apakah tindakannya itu bisa dibenarkan atau tidak.


Akhirnya dengan tekad yang kuat, Bima pun melajukan kendaraannya menuju SD Mutiara Bangsa.


"Permisi pak ! Saya ingin bertemu dengan ibu Kyara Adistya, apa beliau ada ?" tanya Bima kepada penjaga keamanan di sekolah itu.


Penjaga keamanan melirik jam tangannya pukul 12.15, sudah jadwal istirahat kedua.


"Sebenarnya sekarang waktunya jam istirahat kedua, tapi bu Kya biasanya menghabiskan waktu makan siangnya di luar. Sebentar ya, saya cek dulu ke ruangannya !" jawab penjaga keamanan itu.


Bima mengangguk. Setelah menunggu sekitar 5 menit, akhirnya Bima dipersilakan memasuki halaman sekolah dan disuruh untuk menunggunya di ruangan Kyara.


15 menit berlalu. Setelah menunaikan solat dzuhur nya, Kyara segera pergi ke ruangannya karena mendapatkan kabar jika ada tamu yang sedang menunggu di sana.


Ceklek....


Kyara membuka pintu ruangannya. Dia tampak terkejut mendapati Bima sedang duduk di sofa seraya memejamkan matanya.


"Bim.... Bima...!" ujar Kyara lirih.


Merasa ada yang memanggil namanya, Bima pun segera membuka matanya. Menatap sejenak orang yang sangat dirindukannya, sejurus kemudian Bima melangkah dan memeluk Kyara seraya menangis.


"Maafin Bima, kak....! Bi... Bima tidak bisa mem... membela kakak dulu...!" ujar Bima terbata-bata.


Kyara memejamkan matanya, tidak bisa dipungkiri jika hatinya merasa sakit mengingat masa lalunya. Namun sekilas bayangan suaminya melintas di benaknya. Kyara mencoba untuk tersenyum, dirinya sekarang berdiri sebagai nyonya Anggara. Tidak boleh ada lagi kesedihan dan air mata.


"Sudahlah, Bim ! Semuanya sudah berlalu. Jika kamu masih menganggap kakak ini sebagai kakakmu, tolong jangan pernah membahas lagi masa lalu." ujar Kyara.


Bima melepaskan pelukannya.


"Apa kakak bahagia bersama kak Bagas ?"


DEG.....


Kyara terkejut mendapati pertanyaan Bima.


"Duduklah dulu, sebentar kakak ambilkan minum ya...!"


Kyara melangkah menuju dispenser, kemudian mengambil segelas air putih untuk Bima. Setelah itu dia duduk berhadapan dengan orang yang telah dianggapnya adik.


"Bima, apa kabar ?" tanya Kyara berbasa-basi.


"Kabar Bima baik, kak !" jawab Bima.


"Eyang uti, sama orang tua Bima, semuanya sehat ?" kembali Kyara bertanya.


"Alhamdulillah, kak. Semuanya sehat. Kakak sendiri, apa kakak baik-baik saja ?"


"Dari kak Doni, asistennya kak Bagas." jawab Bima seraya menundukkan kepalanya. "Apa kakak tidak ingin mengetahui kabar kak Ajay ?" lanjut Bima.


"Hhhh...." Kyara menghela napasnya.


"Bisakah kita tidak membicarakan kakakmu ? Hubungan kami telah lama berlalu, dan sekarang kami sudah memiliki kehidupan masing-masing." jawab Kyara.


Hening sejenak.


"Kak, Bima mau minta maaf sama kak Bagas, kemarin Bima sudah menuduh kak Bagas yang nggak-nggak. Bima pikir kak Bagas sengaja menyembunyikan kakak karena kak Bagas membenci kak Ajay, tapi...."


Bima menggantungkan kalimatnya.


Kyara menyentuh lembut punggung tangan adiknya.


"Sudahlah, tidak usah dipikirkan ! Kak Bagas bukan orang yang pendendam. Nanti kakak akan coba bicara dengannya. Oh iya, kata kak Bagas, kamu kuliah di sini, ya ? Di mana ?" Kyara mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya kak ? Di Universitas Harapan Bangsa." jawab Bima.


"Loh, itu bukannya kampus yang kemarin mengadakan seminar ya..?"


Bima mengangguk.


"Di sana juga Bima melihat kakak. Apa kak Kya tahu jika beberapa minggu ini keluarga Bima sedang mencari keberadaan kakak ?"


Untuk sejenak, Kyara diam.


"Kak...!" panggil Bima.


"Kakak tahu, kak Bagas sudah menceritakannya." jawab Kyara.


"Lalu ?"


Kyara menatap Bima dengan penuh kelembutan. Sungguh, dia tidak pernah ingin melukai perasaannya.


"Maaf Bim, kakak tidak bisa membantumu. Ada hati yang harus kakak jaga." ujar Kyara.


Bima diam.


"Semua ini gara-gara Cecilia sialan, ternyata selama ini dia menjebak kak Ajay untuk mengakui anaknya sebagai anak kak Ajay." ujar Bima geram.


Kyara terhenyak mendengar perkataan Bima. Meskipun dia merasa penasaran, tapi demi rumah tangganya, dia tidak boleh membiarkan celah keraguan timbul di hatinya.

__ADS_1


"Maaf Bim, sebentar lagi kakak harus masuk kelas. Nanti kita cari waktu luang untuk bisa saling bercerita lagi, ya ! Kakak tahu, kamu pasti punya banyak cerita yang ingin kamu sampaikan ya...!" kembali Kyara mengalihkan pembicaraannya.


Kyara segera membereskan buku-bukunya untuk menutupi semua kegugupannya ketika Bima menyebutkan nama yang telah dikuburnya dalam-dalam.


"Apa kakak belum bisa memaafkan kak Ajay ?" tanya Bima. "Bima bisa ngerti jika kak Kya tidak pernah bisa memaafkan kesalahan kak Ajay. Kak Bagas sudah menceritakan semua dosa-dosa kak Ajay. Kak Ajay memang pantas mendapatkan karma seperti itu !"


Kyara memejamkan matanya. Bening hangat mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia mencoba untuk tetap kuat, meskipun hatinya sakit karena teringat kembali semua perbuatan mantan tunangannya itu.


Kyara menyeka kedua sudut matanya yang telah berair. Dia menatap Bima dan tersenyum.


"Kakak sudah memaafkan kakakmu, dan kakak sudah melupakan semua masa lalu kakak dengannya. Jadi tolong, jangan pernah di bahas lagi, ya ! Kakak mau masuk kelas, kalau Bima mau nungguin kakak di sini sampai kakak selesai mengajar, silakan !"


Bima memegang tangan Kyara.


"Kakak belum bisa memaafkan kak Ajay ! Buktinya kakak tidak pernah mau menyebut nama kak Ajay ! Benar kan ?"


Bima menatap tajam ke arah Kyara.


"Bim, kakak mohon....!" ujar Kyara yang sudah tidak sanggup lagi mendengar nama Ajay di telinganya.


"Kak, Bima tidak akan memaksa kakak membantu keluarga Bima untuk menyembuhkan kak Ajay. Tapi, bisakah kakak melihat kak Ajay sekali saja ? Bima mohon kak ! Mungkin dengan melihat kak Kya, kak Ajay akan kembali sadar. Bima sayang sama kak Ajay, meskipun kak Ajay memiliki sifat yang buruk, tapi dia kakaknya Bima. Bima tidak mau kehilangan kak Ajay. Bima mohon, kak...!"


Tiba-tiba Bima berlutut di hadapan Kyara.


"Sudahlah Bim, tidak perlu seperti ini ! Nanti kita bicarakan lagi, ya ! Maaf, sekarang kakak harus ke kelas dulu. Pulanglah !" ujar Kyara.


Setelah itu Kyara mengambil bukunya dan pergi meninggalkan Bima. Sepanjang perjalanan menuju kelasnya, dada Kyara terasa sesak memikirkan kembali permohonan Bima. Ya Allah...., apa yang harus aku lakukan....


***


Pukul 4 sore, Bagas sudah berada di depan gerbang sekolah untuk menjemput istrinya pulang. Namun setelah setengah jam menunggu, Kyara belum juga terlihat. Bagas pun memutuskan untuk pergi ke ruangan Kyara.


Namun saat Bagas melintasi taman belakang, dia melihat istrinya sedang duduk melamun sambil mendekap tas nya. Bagas kemudian mendekatinya dari arah belakang. Dia menjahili istrinya dengan mengagetkannya.


"Astagfirullah...!"


Kyara melirik ke arah belakang. Tampak suaminya yang sedang tersenyum lebar berdiri di hadapannya.


Ish..., kenapa semakin hari dia semakin terlihat tampan saja...? batin Kyara.


"Kakang, ih...! Sengaja ya, mau bikin Kya jantungan !" rengek Kyara.


Bagas menghampirinya dan langsung duduk di samping Kyara.


"Maaf, abisnya aku lihat kamu lagi ngelamun. Kamu lamunin apa sih ? Sampai nggak ingat waktu pulang." ujar Bagas.


Kyara melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 16.42.


"Ya Allah kakang...! Sudah mau jam 5 sore. Ayo kita pulang !" ajak Kyara yang mulai menyadari waktu pulangnya sudah sangat terlewat.


Bukannya mangiyakan ajakan istrinya, Bagas malah merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya.


"Sebentar lagi sayang, udara di sini sejuk sekali. Aku rasanya ingin kembali bernostalgia saat pertama kali bertemu denganmu di sini." ujar Bagas seraya menatap lembut istrinya.


"Kakang....!"


Speechless...., hanya itu yang bisa Kyara rasakan. Kyara mengusap-usap pipi suaminya.


"Tadi Bima datang kemari." ujar Kyara seraya mengedarkan pandangannya ke depan. Dia tidak mampu menampakkan kesedihan di depan suaminya.


Bagas mengerjapkan matanya. Dia memang sudah tahu semua ini pasti akan terjadi. Tapi dia tidak menyangka jika terjadi secepat ini.


"Apa yang dia katakan ?" tanya Bagas datar.


"Dia memintaku untuk melihat kakaknya." jawab Kyara.


Bagas mengepalkan tangannya, menahan amarahnya. Namun dia mencoba mengontrol emosinya agar Kyara tidak kembali salah paham terhadap dirinya.


"Jawabanmu ?"


"Aku tidak mungkin mengambil keputusan sepihak. Ada hati yang harus aku jaga."


"Apa itu hatiku ?" Bagas menggodanya.


Kyara menatapnya lembut. Dia kemudian mengangguk.


"Hatimu, hatiku dam hati kita, tuan Anggara..!"


Bagas meraih tangan mungil Kyara. Dia kemudian mengecupnya.


"Jangan terlalu menahannya sayang. Jika kau memang ingin menemuinya hanya untuk memberikan semangat hidup kepadanya, aku pasti akan mengizinkannya. Selama hatimu tidak berubah untukku. Aku bukan orang egois yang bisa menghalalkan berbagai cara untuk mengekangmu sebagai istriku. Aku yakin kau tahu batasannya, dan aku percaya kau tidak akan pernah melangkahi batasanmu." ujar Bagas.


"Apa kamu tahu kakang ?" tanya Kyara.


"Tahu apa ?" Bagas mengernyitkan dahinya.


"Sikap pengertianmu inilah yang semakin membuatku jatuh cinta padamu setiap hari." ujar Kyara malu-malu.


Bagas merasa senang mendengar pengakuan cinta Kyara. Dia kemudian bangkit dan duduk berhadapan dengan istrinya. Tangan kanannya meraih dagu Kyara, sedangkan tangan kirinya menahan tengkuk Kyara. Bagas mulai melayangkan ciumannya yang begitu sempurna untuk Kyara rasakan. Ciuman tanpa nafsu, penuh cinta dan kelembutan. Ciuman yang membuat Kyara merasa dicintai dan dihargai sebagai seorang istri.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2