
Assalamualaikum readers...
Terima kasih sudah mampir di cerita ini...
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Matahari mulai menampakkan diri, sinarnya menyeruak masuk ke dalam celah-celah tirai kamar hotel yang di dalamnya tampak sepasang insan yang masih terlelap karena kegiatan panas mereka semalam. Andin mengerjapkan matanya yang terasa silau akibat cahaya matahari. Dia terbangun, bibirnya tersenyum manis menatap pria tampan yang berada di sampingnya. Ah Ajay..... bagaimanapun caranya, kamu pasti akan selalu menjadi milikku...batin Andin seraya mengusap wajah Ajay yang tampan.
Merasakan sebuah sentuhan di wajahnya, Ajay pun terbangun. Dia tersenyum melihat Andin, "Morning..!" katanya sambil menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Andin tersenyum lebar melihat dada bidang Ajay. Sepertinya, hasrat bercinta kembali menghampirinya, dia mengusap dada bidang Ajay. Mencoba memberikan sentuhan dan berharap Ajay akan kembali memuaskan hasratnya. Namun usaha Andin sia-sia.
Ajay segera bangkit, dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Andin menatap punggung Ajay yang semakin menjauh.
Dua puluh menit kemudian, Ajay keluar dari kamar mandi dan sudah terlihat berpakaian rapi. "Loh, kamu belum pakai baju juga...?" tanyanya pada Andin.
"Iya, aku mau mandi dulu." jawab Andin.
"Jangan lama-lama ya..! Kita harus segera menjalankan rencana ini, supaya gue bisa segera lepas dari masalah ini..!"
"Oke...! Lo tenang aja, gue jamin rencana ini pasti berhasil..!"
"Thanks honey..." Ajay kemudian ******* bibir Andin sebentar. "Mandilah..! Kita harus segera pergi...!"
Andin beranjak dari tempat tidur. Setengah jam kemudian, mereka pun keluar dari hotel.
****
Hari Minggu, hari yang dinantikan oleh orang-orang yang telah berkeluarga. Dimana di hari Minggu, biasanya mereka akan menggunakan waktunya untuk berkumpul dengan keluarga. Tapi tidak dengan dokter Risa. Dokter cantik berhijab ini selalu menggunakan hari Minggunya untuk melakukan penelitian di sebuah lab mini yang sengaja dia bangun di rumahnya.
Beruntungnya, Anton sang suami, tak pernah protes dengan kegiatan istrinya di hari Minggu. Dia paham betul, menemukan sesuatu yang baru dan bisa bermanfaat untuk orang banyak, merupakan hobi sekaligus cita-cita mulia sang istri.
Seperti biasanya, hari Minggu kali ini pun, dokter Risa masih terlihat asyik di dalam lab mininya. Entah apa yang dia lakukan, tak seorangpun berani mengganggunya....
Di ruang tengah, tampak Anton sedang bermain dengan Zein, anak keduanya. "Sus, Alma dimana ?" tanya Anton kepada suster yang membantu mengasuh Zein.
"Non Alma sedang bermain di rumah tetangga sebelah, tuan...?" jawab suster.
"Oh ya sudah. Kamu boleh istirahat sus, biar Zein aku yang urus...!" perintah Anton kepada pengasuh anaknya.
"Terima kasih tuan..." jawab suster. Saat dia hendak pergi ke kamarnya, terdengar suara ketukan pintu di ruang utama. Suster berlari ke depan untuk membuka pintu. Namun belum sampai di sana, tiba-tiba pintu telah terbuka lebar. Ternyata sang tamu telah masuk sebelum dipersilakan....
"Siapa sus...?" tanya Anton menghampiri pengasuh anaknya.
"Eh...anu tuan....itu..." jawab suster terbata-bata, karena memang tidak mengenal tamu tuannya.
__ADS_1
"Oh Andin.... masuk..!" perintahnya, "Nggak apa-apa sus, dia saudaranya nyonya. Tolong ambilkan minum dulu ya, sebelum kamu rehat...!"
"Baik tuan..."
"Siapa mas...? Pembokat baru ya..?" tanya Andin.
"Huss..!! Bukan, itu pengasuhnya Zein." jawab Anton.
"Sama aja mas..." jawab Andin seenaknya.
"Ah kamu ini, nggak pernah berubah ya. Hati-hati, jangan selalu merendahkan status orang !" ujar Anton.
"Udah deh mas..., nggak usah ceramah ! Risa mana mas...?"
"Hmm....biasa, di labnya..."
"Oke...! Aku ke sana ya...!"
"Din.... jangan di...." sebelum Anton menyelesaikan kalimatnya, Andin sudah menghilang dari pandangannya. "ganggu...." gumam Anton lirih. Anton menggelengkan kepalanya, ah anak ini.... kenapa tidak pernah berubah kelakuannya. Selalu saja seenaknya sendiri....batin Anton
"Klek." pintu lab terbuka. Dokter Risa mendongak, "Apa nggak bisa ketuk pintu dulu, Din...?" tanyanya sedikit ketus karena kegiatannya terganggu.
"Ah... formal amat sih Ris, kita kan saudara... Lagian, ini juga bukan di rumah sakit." jawab Andin seenaknya.
"Penemuan apalagi tuh Ris...?" tanya Andin mulai penasaran dengan apa yang dilakukan dokter Risa. Sebenarnya dia lagi ngapain sih, serius amat...ah, jadi kepo nih....
Dokter Risa mendongak, "Oh, ini hanya obat herbal untuk pasienku." jawabnya.
"Obat apaan...?" tanya Andin penasaran.
"Hanya ramuan untuk melancarkan siklus menstruasi. Kebetulan sudah setahun ini aku memiliki pasien yang siklus menstruasinya tidak teratur, dan dia mengalami berbagai macam keluhan. Karenanya, aku dan teman-teman obgyn lainnya meneliti berbagai macam tanaman herbal untuk membuat ramuan ini, agar darah kotor yang mengendap bisa segera luruh dan keluar."
"Aman nggak sih...?" tanya Andin.
"Aman-aman saja, selama digunakan sesuai dengan dosisnya, dan bukan untuk orang hamil atau menyusui. Karena memang ada kandungan yang kurang baik untuk dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui. Oh iya, ngomong-ngomong...kamu, ada apa ? Tumben kemari... !"
"Iya Ris....gue butuh bantuan lo...!"
"Aku...?! Bantuan apa...?"
"Gue butuh obat penggugur kandungan, lo punya kan..?"
Dokter Risa mengernyitkan dahinya, "Kamu hamil ?"
"Ish... bukan buat gue..! Lo jangan sembarangan kalau ngomong...!"
__ADS_1
"Ya... habisnya....kamu ini, permintaannya kok aneh banget. Nggak ada obat gituan..!!"
"Ah... jangan bohong Ris, masak obgyn nggak nyimpan obat kayak gitu...?"
"Din, ada kode etik yang harus dipatuhi seorang dokter dalam penggunaan obat-obatan. Lagipula, aku nggak tahu apa alasan kamu meminta obat itu..?"
"Ayolah Ris...! Sekali saja...! Lo nggak kasihan sama teman gue...! Cowoknya nggak mau tanggungjawab, dia bisa diusir dari rumahnya kalau ketahuan hamil. Ris.... Ayolah...!" rengek Andin.
"No..!!" jawab dokter Risa tegas. "Apa nggak ada cara lain selain menggugurkan kandungan ? Mereka harus bertanggungjawab dong atas perbuatan mereka ! Nggak bisa ngorbanin anak yang tak berdosa gitu aja ! Udah deh...kamu pulang saja, aku sibuk..!" jawab dokter Risa setengah mengusir Andin.
"Tok...tok...tok.." terdengar pintu ruangan diketuk.
"Ya... masuk...!" perintah dokter Risa.
"Klek." pintu terbuka, "Permisi nyonya, di luar ada dokter Alex, katanya ada keperluan sama nyonya." ujar suster.
"Oke sus, suruh tunggu dulu, sebentar lagi aku ke sana !" jawab dokter Risa.
"Baik nyonya, permisi..."
Dokter Risa membuka jas labnya. Setelah membersihkan dirinya, diapun pergi untuk menemui tamunya.
Sementara Andin...
Ah... kenapa sulit sekali meyakinkan Risa. Hmm... dia memang orang yang berprinsip, tapi gue benar-benar butuh obat itu. Ini satu-satunya cara untuk mengikat Ajay jadi milik gue selamanya. Gimana pun juga, gue nggak rela kalau sampai Ajay jatuh ke pelukan cewek lain...
Andin berjalan mendekati meja lab. Dia melihat deretan botol-botol kecil yang telah terisi ramuan tadi. Tunggu...!! Tadi Risa bilang, ini adalah ramuan untuk melancarkan siklus menstruasi, untuk meluruhkan darah kotor yang mengendap, dan tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Berarti, jika dikonsumsi, ramuan ini pasti akan berpengaruh. Apa gue pakai ini saja....,tapi kalau nggak ngaruh gimana...? Andin menimang-nimang niatnya untuk mengambil botol-botol kecil itu. Ah bodo amat...! Gue coba aja dulu, urusan berhasil tidaknya, gimana nanti saja..., diapun mulai mengambil botol ramuan itu.
Awalnya hanya dua botol kecil yang dia ambil. Namun, teringat akan ucapan dokter Risa tentang dosis penggunaannya, akhirnya Andin pun mengambil beberapa botol. Dengan harapan, jika dosisnya ditambah, maka bisa menyebabkan sesuatu terjadi pada kandungan Kyara.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Andin segera keluar dari ruangan itu. Di depan pintu, dia berpapasan dengan Anton. "Mas, aku pamit pulang ya..?"
"Loh, kok buru-buru Din. Nggak nunggu Risa dulu..?"
"Nggak usah mas, lagian urusanku sama Risa udah kelar kok...!" jawab Andin.
"Oh, ya sudah. Hati-hati di jalan !"
"Oke...! Salam buat Risa ya mas...! Bye...!"
Bersambung...
Terima kasih ya....
Jangan lupa like,vote n komennya...ππ
__ADS_1