
Seorang perawat memberikan obat penenang kepada Ajay supaya dia dapat beristirahat. Setelah keluar dari kamar Ajay, Kyara mendapati kedua orang tua Ajay tengah berdiri di hadapannya.
"Om...., tante...!" ucap Kyara dengan bibir yang bergetar.
Nyonya Diana tiba-tiba menghampiri dan memeluk Kyara. Dia menangis sesenggukan dalam pelukan Kyara.
"Te...terima kasih, Kya...! Terima kasih ka... karena mau memaafkan dan kembali lagi sama anak tante." ujar nyonya Diana.
"Ma...maaf tante ! Ini tidak seperti yang tante pikirkan. Kya hanya membantu teman Kya. Nit, sini..!" panggil Kyara pelan.
Nita menghampiri Kyara dan nyonya Diana.
"Kenalkan, ini dokter Nita tante, dia yang akan membantu menyembuhkan Ajay."
"Salam kenal,tante. Saya Nita." ucap Nita seraya mengulurkan tangannya.
"Diana !" jawab nyonya Diana tanpa mau menyambut uluran tangan lawan bicaranya.
Dengan perasaan malu, dokter Nita pun kembali menarik tangannya dan memasukkannya ke saku celananya.
Kyara menyentuh pelan bahu Nita.
"Kya, sayang...!" ucap seorang lelaki paruh baya yang tak lain adalah tuan Ali.
"Om...!"
Tuan Ali merentangkan kedua tangannya, dia memeluk Kyara erat.
"Maafkan om...! Maafkan semua kesalahan om karena om tidak pernah bisa mendidik Ajay dengan baik ! Om....!" tuan Ali tak mampu berkata-kata lagi. Dadanya sudah semakin sesak dipenuhi rasa bersalah.
"Tidak usah dipikirkan om. Semuanya telah berlalu, Kya sudah melupakannya om !" jawab Kyara.
Tuan Ali melepaskan pelukannya. Dia memegang kedua bahu Kyara.
"Terima kasih Kya ! Kamu memang gadis yang sangat baik. Terima kasih !"
"Sama-sama, om."
"Kamu tahu Kya, kalau seandainya kamu datang lebih awal, Ajay tidak akan mungkin bisa berada di sini ! Semua ini gara-gara anak sialan itu !" tiba-tiba nyonya Diana berkata dengan penuh emosi.
"Mih, sudahlah ! Semua ini bukan salah siapa-siapa ! Bukan salah Bagas jika dia tidak bisa menemukan Kyara. Papih ngerti Bagas pasti punya kesibukan sendiri. Jangankan anak buah Bagas, anak buah papih pun tidak berhasil menemukan Kyara waktu itu."
"Terus..., ayo...papih terus saja membela anak tidak tahu diri itu ! Mamih yakin, dia emang nggak pernah niat bantuin kita buat cari Kyara. Apa papih lupa kejadian waktu itu ? Perlu mamih ingatkan kembali, supaya papih tuh sadar, mana yang anak kandung, mana yang cuma anak angkat !"
"Sudahlah, mih ! Jangan bikin keributan di sini, malu ! Ini tempat umum, mamih kalau mau marah-marah, mending pulang saja, gih !" tegur tuan Ali.
"Ish papih ini, selalu saja seperti itu ! Selalu saja membela anak itu ! Yang anak papih tuh Ajay apa Bagas ?" ujar nyonya Diana merasa tak terima akan teguran suaminya.
"Sudahlah Kya, jangan dengarkan mamihnya Ajay. Sekali lagi, om benar-benar berterima kasih karena kamu mau menjenguk Ajay."
"Iya sama-sama, om ! Maaf om, kalau boleh tahu, maksud perkataan tante tentang kesalahan kak Bagas, memangnya ada apa ya ?" tanya Kyara penasaran.
"Kita duduk dulu, nak !"
Kyara mengangguk dan mengikuti tuan Ali duduk di kursi tunggu. Nyonya Diana dan dokter Firman pergi ke ruangan Ajay untuk menemaninya. Sedangkan dokter Yosef dan dokter Nita pergi ke ruangan dokter Yosef untuk membicarakan perkembangan Ajay.
"Sebenarnya, sekitar 3 atau 4 minggu yang lalu, entahlah om sendiri lupa tepatnya kapan, hari itu tanpa sengaja Bima bertemu dengan Aaron. Keesokan harinya, Aaron dan Bagas datang untuk melihat kondisi Ajay. Saat itu om meminta bantuan mereka untuk mencari kamu, karena menurut dokter psikiater temannya Firman, Ajay kemungkinan bisa sadar dengan mempertemukan kalian. Saat itu ada satu pertanyaan yang tidak pernah bisa kami temukan jawabannya. Ajay selalu menganggap dirinya seorang pembunuh, dan berulang kali juga dia mencoba mengakhiri hidupnya hanya karena ingin bertemu anaknya. Awalnya kami mengira jika Ajay merasa bersalah atas kematian Danisa, putri dari Cecilia. Tapi saat kami tanyakan dalam keadaan sadar, dia menjawab bukan Danisa. Sampai akhirnya, Bagas memberitahukan semua perbuatan Ajay terhadapmu di masa lalu. Sungguh Kya, om benar-benar marah, om benar-benar malu dengan perbuatan putra om, sampai om memutuskan untuk menghentikan pencarianmu."
Tuan Ali menarik napasnya panjang. Terlihat guratan kesedihan di raut wajahnya.
"Om...!" Kyara memanggilnya lirih seraya menggenggam tangan tuan Ali.
Tuan Ali tersenyum, "Tidak apa-apa, nak ! Om kuat !" ujarnya.
"Setelah itu, apa yang terjadi om ? Kenapa Ajay bisa berada di sini ?"
"Sejak om menghentikan pencarianmu, kondisi Ajay semakin tak terkendali. Firman mendapat tekanan dari rumah sakit untuk merujuk Ajay ke rumah sakit jiwa, karena para perawat sudah kewalahan merawat Ajay. Saat itu, Firman masih diberikan kesempatan oleh pihak rumah sakit untuk mendatangkan kamu, nak ! Akhirnya, om pun meminta bantuan Bagas, karena om tahu Bagas memiliki orang-orang terbaik dalam menangani sebuah masalah. Namun sayangnya, anak buahnya Bagas pun tidak bisa menemukanmu. Akhirnya, om pasrah dan menerima keputusan rumah sakit untuk memindahkan Ajay kemari."
Kyara termenung. Ish, kenapa kakang tidak pernah memberitahukan hal ini kepadaku ? Apa karena dia takut kehilangan aku ? Tapi ini benar-benar tidak masuk akal, jika demikian, sama saja artinya dia tidak pernah mempercayai kesetiaanku ! Ah kakang..., kenapa harus seegois ini...? Jika kakang bicara lebih awal, mungkin nasib Ajay tidak akan berada di sini...
"Nak, kenapa melamun ?"
"Tidak apa-apa, om !"
"Kya, bisa kita bicara ?" tiba-tiba nyonya Diana menghampiri mereka
"I...iya tan...!"
"Ikut tante !"
__ADS_1
Kyara pun mengikuti langkah nyonya Diana yang menuju ke kantin rumah sakit.
"Silakan duduk Kya. Oh iya, mau pesan apa ?"
"Jus jambu saja, tan !"
Nyonya Diana pun pergi untuk memesankan minuman mereka. Setelah itu dia kembali ke meja yang diduduki oleh Kyara.
"Langsung saja Kya, tante minta, kamu mau kembali lagi bersama Ajay.
DEG....
Kyara benar-benar terkejut dengan permintaan nyonya Diana.
"Ma...maaf tante, Kya..., Kya tidak mengerti ?"
Nyonya Diana menggenggam tangan Kyara.
"Tante mohon, kembalilah kepada Ajay, Kya ! Dia sangat mencintai kamu. Jangan musnahkan lagi harapannya ! Tante tidak mau hidup Ajay harus berakhir di rumah sakit jiwa. Tante tahu, mungkin semuanya terasa egois, tapi ibu mana yang tega melihat anaknya harus menjalani hari-hari di dalam kamar yang pengap itu."
Air mata nyonya Diana mulai mengalir di kedua pipinya.
"Tante, Insyaallah Kya akan membantu Ajay sebisa mungkin untuk sembuh. Tapi maaf, Kya tidak bisa kembali kepada Ajay." ujar Kyara mencoba memberikan pengertian.
"Kenapa Kya ? Apa kau sudah tidak peduli sama Ajay ?" tanya nyonya Diana sinis.
"Karena Kya sudah menikah, tante."
"Tidak ! Tidak mungkin ! Kamu pasti bohong !"
"Kya sudah menikah dan Kya sangat mencintai suami Kya. Kya harap tante bi....."
"Cukup ! Jangan diteruskan lagi ! Dengar Kya, tante tidak peduli kamu sudah menikah atau belum. Satu-satunya yang tante pedulikan hanyalah kesembuhan Ajay. Bila perlu, tante akan memohon kepada suami kamu, agar dia segera menceraikan kamu ! Camkan itu !"
Dengan wajah memerah karena amarahnya, nyonya Diana pun pergi meninggalkan Kyara seorang diri.
Astaghfirullah hal adzim...! Kenapa semuanya menjadi seperti ini...? Ya Tuhan, bukan ini yang aku inginkan ? Aku..., aku tidak pernah ingin berpisah dengan suamiku. Kakang...., maafin Kya....
Di ruang dokter Yosef.
"Jadi bagaimana, dok ? Apa yang harus kita lakukan selanjutnya ? Kita tidak harus bergantung pada Kyara kan, untuk menyembuhkan Ajay ?" tanya dokter Nita.
"Tapi, dok ! Jika kita melakukan semua itu, sama saja kita hanya memberikan kesembuhan semu kepada pasien."
"Aku tahu, tapi itu akan jauh lebih baik daripada pasien menganggap pertemuannya tadi hanya sebuah halusinasi. Dokter bisa bayangkan kan, bagaimana jadinya Ajay jika dia kembali membuka matanya dan tak melihat Kyara di hadapannya. Dia pasti akan lebih histeris daripada sebelumnya. Jadi kita masih membutuhkan Kyara hingga perlahan Ajay mulai bisa sepenuhnya kembali ke dunia nyata."
"Ish, kenapa semuanya menjadi seperti ini ?" Dokter Nita mengusap wajahnya kasar.
"Sebaiknya anda temui teman anda dan katakan semua ini. Buat dia mengerti, kenapa kita melakukan semua ini ! Dan saya harap, tidak ada kata mundur, karena kita baru memulainya."
Tanpa permisi, dokter Nita langsung keluar dari ruangan dokter Yosef. Dia benar-benar merasa terjebak dengan situasi ini. Dokter Nita kembali ke ruang tunggu, namun dia tidak mendapati Kyara.
"Permisi om, Kyara nya kemana ya ?" tanya dokter Nita.
"Tadi dia pergi ke kantin bersama mamihnya Ajay."
"Oh, kalau gitu, Nita ke kantin dulu ya, om !"
"Silakan, nak !"
Di ruang dokter Yosef.
"Bagaimana ? Apa kau sudah menekan gadis itu ?" tanya seseorang di ujung telpon milik dokter Yosef.
"Beres ! Semuanya berjalan seperti rencanamu." jawab dokter Yosef.
***
Dokter Nita berlari kecil menuju kantin. Tiba di sana, dia sangat terkejut melihat Kyara duduk termenung seorang diri.
"Kya, are you okay ?" tanya dokter Nita seraya menghampiri Kyara.
Kyara mendongak, dia melihat sahabatnya berjalan ke arahnya. Kyara menggeser kursinya, dia kemudian berdiri dan menghambur ke arah sahabatnya.
"Nit..., aku...aku sudah terjebak ! Tante Diana...., dia.., dia sudah menyalahartikan kedatanganku, hiks..., ba... bagaimana ini, Nit...?"
What...! Gila...., kenapa jadi begini....! batin dokter Nita.
"Duduklah dulu, Kya ! Kita bicarakan ini baik-baik !" ujar dokter Nita.
__ADS_1
Kyara mengangguk, mereka pun akhirnya duduk berhadapan. Dokter Nita meminta pelayan untuk membawakan mereka air mineral. Setelah pelayan itu datang, dokter Nita membuka botol air mineral itu.
"Minumlah dulu !" pintanya kepada Kyara.
Kyara segera mereguk minumannya. Setelah itu dia menarik napasnya panjang, berusaha untuk menenangkan dirinya kembali.
"Ceritakan, apa yang terjadi !"
"Tante Diana memintaku untuk kembali kepada Ajay. Aku menolaknya, aku bilang aku mau membantu menyembuhkan Ajay, tapi aku tidak bisa kembali bertunangan dengan Ajay karena aku sudah menikah. Tapi dia tidak mau menerima itu, dia...dia bahkan bilang jika dia akan memohon pada suamiku untuk menceraikan aku. Bagaimana ini, Nit ? Aku takut...!"
"Shitt...! Aku baru tahu jika mantan calon mertuamu itu, wanita yang tak punya hati." ujar dokter Nita geram. "Maaf Kya, aku tidak bermaksud menambah bebanmu, tapi ada sesuatu yang harus aku sampaikan." lanjut dokter Nita.
"Apa itu, Nit ?"
"Tadi aku baru saja berbicara dengan dokter Yosef. Dia minta aku untuk membujuk kamu membantu menyembuhkan Ajay."
"Maksud kamu ? Aku...aku tidak mengerti !"
"Begini Kya, meski Ajay sudah mulai sadar, tapi dia belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata. Dia masih menganggapmu tunangannya, itu artinya dia belum mampu mengingat apa yang terjadi setelah 6 tahun berlalu. Dokter Yosef meminta kamu terus merawatnya sampai kesadarannya pulih total. Untuk itu, kau harus sering mengunjunginya."
Kyara tercengang. Dia benar-benar terjebak oleh keputusannya sendiri.
"Aku...aku tidak bisa ! Ba... bagaimana dengan kakang, aku...aku tidak bisa mengkhianatinya walau sekedar berpura-pura."
"Aku mengerti apa yang kau pikirkan. Tapi kita tidak bisa mundur Kya, jika kita mundur, itu sama saja kita memberikan racun pada hidup Ajay. Saranku, kau bicarakan semua ini baik-baik dengan suamimu. Sementara itu, aku akan mencari cara agar Ajay bisa dipindahkan ke klinikku. Apa kau mengerti ?"
Kyara diam, dia masih mencerna apa yang sahabatnya bicarakan.
"Kya...! Hei...! Apa kau mendengarkan aku ?" ujar dokter Nita seraya menggoyang-goyangkan punggung tangannya.
"Ya, aku mendengarkanmu ! Sekarang, apa yang harus aku lakukan ?" tanya Kyara.
"Sekarang kita temui Ajay untuk pamit pulang. Namun sebelum itu, kau harus bisa meyakinkan Ajay bahwa kau akan selalu ada. Sebisa mungkin, buatlah dia mengerti tentang pekerjaanmu, kau tahu kan maksudku ?"
"Intinya, aku harus tetap bersandiwara dan selalu bersamanya sampai ingatannya benar-benar pulih ?"
"Maaf Kya, kita tidak punya pilihan lain."
Kyara sedih. Hatinya menolak ini, tapi dia tidak punya pilihan lain. Pada akhirnya dia pun merutuki kebodohannya yang telah gegabah mengambil keputusan.
Tiba di kamar Ajay.
"Tidak ! Aku mohon jangan pergi, yang ! Aku tidak ingin kamu pergi ! Aku takut kehilanganmu lagi !" rajuk Ajay kepada Kyara.
"Han, aku harus pergi ! Aku masih punya tanggung jawab Lihatlah ini !"
Kyara menunjukkan foto-fotonya bersama para peserta didiknya. Dia pun menunjukkan foto dirinya sebagai guru teladan di kota itu.
Ajay menatapnya penuh sukacita. Dia sangat senang melihat Kyara tampak cantik dengan setelah blazernya, sedang menerima trophy penghargaan.
"Aku bekerja di SD, tugasku mendidik mereka. Mereka sangat membutuhkan aku, Jay. Aku janji, setiap hari aku akan menelponmu. Jika aku punya waktu luang, aku pasti akan menjenguk mu kemari. Apa kau mengerti ?" bujuk Kyara.
"Tapi janji, kau tidak akan meninggalkanku!" ujar Ajay sambil mengangkat jari kelingkingnya sebelah kanan.
Kyara tersenyum, "Aku janji !" jawabnya seraya menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ajay.
Ajay mengangguk.
"Baiklah ! Kemarilah, aku ingin memberikan ciuman perpisahan !" ujar Ajay.
Kyara tertegun. Tidak...., aku tidak akan membiarkan dia menyentuh yang bukan miliknya...!
"Maaf Jay ! Kita bukan muhrim, aku..., aku tidak ingin mengulang kesalahan untuk yang kedua kalinya." ujar Kyara datar.
Ajay tersenyum kecut.
"Aku mengerti. Pergilah !"
Kyara pun berlalu dari hadapan Ajay.
***
Hari menjelang magrib saat Bagas tiba di rumahnya. Dia mendapati rumahnya yang sepi. Dia sengaja menyuruh bik Lilis cuti. Dia tidak ingin bik Lilis melihat kekacauannya.
Tiba di kamarnya, Bagas segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu dia solat magrib. Bagas mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk menenangkan kegundahan di hatinya hingga waktu isya. Selepas solat isya, dia pergi ke dapur untuk membuat makanan.
Waktu terus berlalu. Sudah hampir pukul 10 malam, namun belum ada tanda-tanda istrinya pulang. Bagas pun mulai mematikan lampu ruang keluarga. Dia mulai terlelap di ruang tengah, menunggu istrinya pulang.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏🤗