Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Macam Kak Ros


__ADS_3

Lepas isya, Gunawan suaminya kak Indah tiba di rumah. Keadaan rumah pun semakin tampak ramai. Ditambah lagi dengan kedatangan Wawan dan Agus, semuanya tampak senang menyambut kelulusan Bagas.


Pesta kecil dimulai di halaman belakang. Wawan, Agus, Bagas dan kak Gunawan berlomba-lomba menyiapkan ayam bakar yang terenak untuk satu-satunya wanita yang mereka kasihi. Siapa lagi kalau bukan kak Indah, seorang istri yang sempurna untuk Gunawan, dan juga seorang kakak terbaik untuk Bagas dan kedua adik angkatnya.


"Ayo dong kak ! Beri penilaian yang fair ya...! Jangan mentang-mentang kak Gun suaminya kakak, terus kakak ngasih nilai yang bagus sama kak Gun !" gerutu Bagas.


"Haiss, kamu ini...! Ayamnya juga belum pada jadi ! Ayo cepetan...! Waktunya tinggal 15 menit lagi nih !" seru kak Indah dari arah gazebo.


"Ohmaygot...!" Wawan hanya mampu berteriak terkejut.


Gunawan dan Bagas tergelak melihat tingkah Wawan. Mereka pun kembali berlomba untuk mengipasi ayamnya agar segera matang sempurna.


15 menit berlalu. Ayam sudah tertata dengan cantiknya di piringnya masing-masing.


"Umi Khumaira...! Kemarilah....! Ayamnya sudah matang, mohon untuk memberikan penilaian !" teriak Gunawan.


Dipanggil Khumaira selalu membuat hati kak Indah terasa hangat. Padahal sudah ribuan kali suaminya memanggil Khumaira, tapi wajah ka Indah selalu bersemu merah dan terlihat malu-malu saat suaminya memanggil Khumaira (merona).


Dengan anggunnya, kak Indah berjalan ke arah mereka. Bagas segera mengambil alih Arumi kecil dari gendongan kakaknya.


Kak Indah berjalan ke arah suaminya. Dia pun mulai mencicipi ayam bakar hasil olahan suaminya. Kak Indah sedikit mengernyitkan dahinya.


Melihat gelagat yang kurang baik, Gunawan segera memeluk kak Indah dari arah belakang. Dia menopangkan dagunya di pundak istrinya.


"Bagaimana ya Khumaira...? Rasanya sempurna kan...?" bisik Gunawan, membuat kak Indah bergidik geli merasai napas suaminya yang menyentuh tengkuknya.


"Aaah..., curang nih...!! No rayu-rayu ya, kak Gun...!!"


Wawan yang berada di barisan ketiga berteriak-teriak melihat aksi kakak iparnya.


"He...he...he...! Selalu ada jalan menuju Roma..!" ujar Gunawan sambil mengedipkan matanya ke arah Wawan.


"Dih...! Apa hubungannya...?" dengus Bagas kesal.


Agus yang pada dasarnya seorang pendiam, hanya tersenyum saja melihat interaksi mereka. Maklumlah, ini pertama kalinya bagi Agus bertemu dengan kak Indah dan suaminya. Dan Agus sangat bersyukur, mereka dapat menerima kehadiran seorang mantan anak jalanan seperti dirinya dengan tangan terbuka.


"Sudah-sudah ! Jangan ribut ! Kalau kalian berisik terus, gimana kakak bisa konsen memberikan penilaian pada masakan kalian !" ujar kak Indah.


Ketiga laki-laki itu seketika langsung diam. Mereka tidak berani mengganggu lagi jika kak Indah mulai berkata agak ketus.


"Pssstt..., jangan membangunkan singa betina yang lagi tidur !"


Bisik Gunawan kepada adik-adik iparnya.


"He...he...he..., bener kak ! Nanti singanya ngamuk !" ujar Bagas.


"Kalau ngamuk, seram...! Macam kak Ros yang garang, ya bang !" Wawan ikut menimpali perkataan mereka.


"Ho-oh ! Pinter kamu Wan !" ujar Gunawan.


Mereka pun terkekeh, membuat kak Indah segera memalingkan wajahnya ke arah mereka.

__ADS_1


"Hei...!! Kenapa kalian bisik-bisik !" seru kak Indah sambil berkacak pinggang.


"Ah tidak apa-apa, Khumaira.. ! Silakan dilanjut memberikan nilainya !" bujuk Gunawan sambil merangkul istrinya.


"Hmm...! Apa ada yang bisa bicara jujur di sini ?" tanya kak Indah dengan tatapan dinginnya.


Bagas dan Wawan hanya diam, karena mereka tahu jika tatapan dingin kak Indah hanya gertakan saja. Mereka sudah biasa melihat hal itu. Tapi berbeda dengan Agus yang sudah merasa panas dingin melihat wajah kak Indah yang sinis.


"I...itu..., anu...kak....! Ta... tadi mereka...emh...me.. mereka se... sedang mem.. bicarakan kakak...!" cicit Agus dengan terbata dan menundukkan wajahnya.


"Ohmaygot.. !" seru Wawan sambil menangkup kedua pipinya dengan kedua tangannya.


Sedangkan Bagas dan Gunawan hanya melongo mendengar ucapan Agus. Gunawan segera menjauh dari istrinya, dan mulai mendekati Bagas.


"Mati kita, Gas !" ujar Gunawan seraya memegang bahu adik iparnya.


"Ho-oh kak !"


"Ayo lari sekarang, Gas !" seru Gunawan mengambil ancang-ancang.


"Enak aja ! Bagas lagi gendong Arum, susah larinya !"


"Tapi keburu kakakmu ngamuk !"


"Udah terima aja, mending ngamuk di sini, apa ngamuk di kamar ?"


"Ish.. , kamu ini...!"


Kak Indah mendekat ke arah Agus.


"Coba, bicara yang benar ! Apa kamu dengar percakapan mereka ?" tanya kak Indah ketus.


Agus semakin menundukkan wajahnya. Dia merasa takut akan sikap kak Indah yang semakin judes.


"A...agus dengar kak...!"


"Katakan !!"


"Ta...tadi kak Gun bilang, ka... katanya ja.. jangan bangunkan si...singa be..be...tina yang lagi tidur. Terus a..abang mengangguk, di..dia bilang...singa..nya..bi..bisa ngamuk...!"


"Terusss...??"


"Te... terus...ka...kata Wawan, ka... kalau kak Indah nga.. ngamuk, se..seram...macam kak Ros yang garang...!"


"Apa...!!"


"Be... beneran kak...! Sumpah...! Agus... Agus nggak bohong kok...!"


Agus terlihat semakin ketakutan, membuat kak Indah tak kuasa lagi menahan rasa ingin tertawanya yang sedari tadi ditahannya. Tiba-tiba...


"Ha...ha...ha....!!"

__ADS_1


Kak Indah tertawa terbahak-bahak, merasa lucu melihat ekspresi Agus yang ketakutan.


Agus diam tak mengerti akan sikap kak Indah, tapi meskipun begitu, tangannya masih tetap terasa dingin karena rasa takutnya.


"Ya sudah...! Ayo kita makan, Kakak sudah lapar !" ajak kak Indah.


Agus mengangguk menerima ajakan kak Indah.


"Selamet...! Selamet...!" gumam Wawan hendak duduk di meja makan.


"Eits...! Siapa suruh kamu duduk di situ ?" ujar kak Indah kembali judes.


"Kamu, abangmu dan kakak ipar tertuamu, silakan duduk di gazebo itu...!" tunjuk kak Indah pada sebuah gazebo yang berada di sudut halaman.


"Tapi kak...!" Wawan hendak protes, namun segera dibantah oleh kak Indah.


"Bukankah hanya pemenang saja yang berhak duduk dengan sang ratu ?" tanya kak Indah sambil mengedip-ngedipkan matanya ke arah Wawan.


"Hei ini gak adil ! Kakak kan belum mencicipi masakan kita, masak langsung dapat pemenang sih...!" gerutu Bagas.


"Aduh udah deh...! Perut kakak bisa sakit ya, mencicipi masakan kalian yang nggak jelas itu !"


"Tapi Khumaira...!"


"Sudah ya sayang...! Terima saja kekalahan kalian ! Sekarang permaisurimu ini hendak makan dengan raja pilihannya. Ayo cepat pengawal-pengawalku, sajikan makanannya !" perintah kak Indah, membuat mata mereka semakin melotot karena harus melayani kak Indah dan Agus.


Agus semakin merasa risih mendengar ucapan kak Indah, ditambah lagi melihat sikap kak Gunawan dan abangnya, Bagas yang sedang melayaninya. Sementara kak Indah cuman nyengir kuda melihat aksi suami dan adik yang disayanginya.


Makan malam telah selesai. Karena hari sudah semakin larut, kak Indah membawa anaknya masuk ke rumah. Sedangkan keempat pria yang disayanginya, masih bercengkrama di gazebo.


Pukul sebelas lewat. Akhirnya pesta benar-benar usai. Setelah membersihkan dirinya, Gunawan segera mendekati istrinya yang tengah tertidur. Dia mendekap istrinya dari arah belakang. Menikmati aroma wangi tubuh istrinya, membuat Gunawan semakin erat memeluknya.


"Aku merindukanmu ya Khumaira...!" bisiknya lembut.


Kak Indah tersenyum, dia pun segera membalikkan tubuhnya.


"Benarkah kau merindukanku ?" tanyanya pelan.


Gunawan mengangguk, tangannya mulai bergerilya di sekitar dada kak Indah. Wajahnya semakin mendekat ke arah istrinya. Hanya tinggal satu centi lagi bibir mereka bertemu. Tapi tiba-tiba...


"Katakan...! Benarkah aku garang macam kak Ros ?" tanya kak Indah menghentikan pergerakan suaminya.


"Ah Khumaira...! Kenapa kau harus merusak suasana...??"


Bersambung...


Note : Ya Khumaira, salah satu panggilan kesayangan nabi Muhammad Saw terhadap Aisyah, istrinya.


Untuk para readers, mohon maaf jika ke depannya author telat up. Di karenakan banyak sekali tugas negara yang harus author kerjakan...


Mohon bersabar ya...

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komen cerita ini 🙏🤗


__ADS_2