
"Bagaimana mom ?" tanya Rachella begitu dia melihat ibunya keluar dari ruang kerja Gunawan.
"Sepupumu itu tidak bisa diajak kompromi. Dia tidak menghalangi mommy, tapi dia juga tidak mau mendukung rencana mommy." dengus tante Monalisa merasa kesal.
"Terus gimana ?" tanya Rachella lagi.
"Ya satu-satunya cara, kita harus langsung bicara sama Bagas !" jawabnya.
"Kenapa harus langsung ke Bagas, mom ? Kenapa tidak bicara sama kak Indah saja ?"
"Percuma ! Jawaban Indah pasti sama dengan suaminya." gerutu tante Monalisa.
"Mommy...! Rachel sangat mencintai laki-laki itu ! Pokoknya, kalau bukan sama Bagas, Rachel ngggak pernah mau nikah...!" rengek Rachella kepada ibunya.
"Iya..., iya...! Sabarlah ! Nanti mommy cari waktu yang tepat buat ngomong sama Bagas !" ujar tante Monalisa mencoba menghibur anaknya.
***
"Bagaimana perkembangan Chiko, Kya ?" tanya bu Siska.
"Alhamdulillah bu, sekarang dia sudah mulai mau berbicara kepada saya." jawab Kyara.
"Kasihan anak itu, dia pasti merasa sangat terpukul dengan kejadian yang nenimpa ibunya." ujar bu Siska seraya duduk di samping Kyara.
Ya, hari ini adalah hari kunjungan Kyara terhadap anak-anak yang sedang menjalani rehabilitasi mental. Setiap anak korban kekerasan orang dewasa, ditampung di yayasan sosial yang didirikan bu Siska tepat setahun setelah LBH-nya didirikan.
"Bagaimana dengan anak-anak yang lainnya ?"
"Alhamdulillah bu, sebagian sudah ada yang bisa berinteraksi dengan yang lainnya."
"Hmm, syukurlah !"
"Oh iya Kya, kira-kira berapa lama lagi kamu menyelesaikan kuliahmu ?
"Mungkin satu setengah tahun lagi, bu ! Mudah-mudahan IP untuk semester ini bisa lebih tinggi dari semester kemarin, supaya Kya bisa kembali mengambil SKS lebih."
"Kamu nggak cape nak, harus mengejar-ngejar dosen seperti itu ?"
"Hmm, namanya juga perjuangan bu...!"
"Kamu benar, harus tetap semangat ! Ibu tinggal dulu ya, nak ! Ibu ada urusan ke pengadilan dulu !"
"Iya bu ! Semoga lancar persidangannya !"
__ADS_1
"Aamiin."
Kyara kembali membuka bukunya. Dia selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar.
***
"Bagas, bisa mommy bicara ?" tanya tante Monalisa begitu melihat Bagas yang sedang berada di dapur untuk mengambil minum.
Bagas diam. Dia tidak menjawab tapi juga tidak menolak. Setelah mengambil air minumnya, Bagas pun duduk diikuti oleh tante Monalisa yang duduk di kursi depan yang berhadapan dengan Bagas.
"Bagaimana pekerjaanmu ?" tanya tante Mona
"Baik." jawab Bagas singkat.
"Sudah berapa lama kamu bekerja di sana ?" tanya tante Monalisa lagi.
"Sudah setahun lebih."
"Apa.. !! Sudah lebih dari setahun, tapi kau masih tetap bertahan di sana ? Padahal jabatanmu hanya seorang buruh biasa. Benarkan ?" tanya tante Monalisa seolah sedang mengejek pekerjaan Bagas.
Bagas tersenyum kecut. Dia sama sekali tidak pernah ingin menanggapi semua perkataan tante Monalisa.
Bagas menggeser kursinya ke belakang, dia pun hendak berdiri.
"Kamu mau kemana ?" tanya tante Monalisa yang melihat Bagas berdiri.
"Duduklah ! Mommy belum selesai ngomong ! Maafkan jika perkataan mommy barusan menyinggung perasaanmu !"
Sejenak Bagas menghela napasnya, kemudian dia kembali duduk.
"Bagas, mommy mau meminta sesuatu sama kamu. Menikahlah dengan Rachella ! Setelah kamu menikah, kamu bisa mengurus salah satu cabang perusahaan daddy-nya Rachella yang ada di Indonesia. Kamu bisa jadi CEO di perusahaan itu. Hidupmu pasti akan lebih baik. Kamu anak yang pintar, masak iya akan terus menjadi seorang buruh yang tak berguna di pabrik itu !"
Hati Bagas terasa panas mendengar ucapan tante Monalisa. Dia mencekal gelasnya dengan kuat, namun dia masih menahan diri untuk tidak terpancing emosi.
"Maaf, Bagas tidak akan menggadaikan diri Bagas demi sebuah jabatan." jawab Bagas senetral mungkin meski dadanya sudah bergemuruh menahan amarah.
Ya ! Bagas terhina ! Harga dirinya terluka karena kalimat tante Monalisa yang merendahkan pekerjaannya.
"Huh ! Sombong sekali kamu ! Kamu itu hanya pemuda yatim piatu ! Sudah untung anak saya mau mencintai kamu yang tidak punya apa-apa ! Baru jadi buruh saja angkuhnya sudah selangit, kamu pikir kamu siapa, heh ! Hidup aja masih numpang. Kamu pikir dengan keadaanmu ini, gadis-gadis akan mengantri untuk menjadi kekasihmu ! Cih ! Dasar pemuda miskin ! Tidak tahu malu, sudah dewasa tapi tetap saja jadi benalu di rumah kakak iparmu !"
"CUKUP....!!"
**Sore itu. Setelah memandikan Arumi, kak Indah berniat ke kamar Bagas untuk menitipkan Arumi, karena dia pun hendak mandi. Namun begitu tiba di depan ruang makan, kak Indah melihat adiknya sedang bercakap-cakap dengan tante Monalisa. Awalnya kak Indah hendak bergabung, tapi tanpa sengaja kak Indah melihat perubahan raut muka Bagas. Kak Indah mulai mendekati mereka diam-diam.
__ADS_1
Hati kak Indah terasa panas mendengar semua perkataan yang menghina Bagas. Dadanya semakin sesak saat tante Monalisa mengatakan tidak akan pernah ada wanita yang mau menjadi kekasih Bagas yang hanya seorang pemuda yatim piatu. Hati kak Indah hancur mendengar hal itu. Dan tidak cukup sampai di sana, penghinaan tante Monalisa pun semakin merembet kemana-mana. Emosi kak Indah pun memuncak saat dia mendengar jika Bagas hanya dianggap benalu di rumah ini. Cukup...! Jangan hina lagi adikku ! **
Tiba-tiba, kak Indah telah berdiri di ambang pintu. wajahnya memerah menahan amarahnya.
"Cukup tante ! Jangan pernah hina adikku lagi ! Apa yang tante katakan tidaklah benar. Mas Gun sangat menyayangi Bagas seperti adik kandungnya sendiri. Dan Bagas adalah anggota keluarga kami. Dia bukan benalu di rumah ini ! Jadi tolong jaga sikap tante !"
"Kalian...! Dasar adik kakak yang tidak tahu di untung ! Sudah bagus keponakanku mengangkat derajat kalian ! Jika tidak, kalian pasti akan tetap menjadi seorang gembel ! Dasar orang-orang miskin yang tidak tahu diri ! Dan kamu Indah ! Jika Gunawan tidak menikahimu, mungkin sekarang kamu hanya akan menjadi seorang wanita panggilan untuk menghidupi adikmu ! Ka..."
PRANG....!!
Bagas melemparkan gelas yang sedari tadi dipegangnya, membuat omongan tante Monalisa seolah tercekat di tenggorokannya.
"Anda boleh menghinaku, tapi anda tidak berhak menghina kakakku ! Dan satu lagi, saya tidak pernah tertarik dengan tawaran anda, karena saya bukan orang yang gila jabatan. Asal anda tahu, saya sudah memiliki calon istri ! Dan seandainya saya masih sendiri pun, saya tidak pernah tertarik untuk menjadikan anak anda sebagai pendamping hidup saya ! Anda puas !"
Bagas menarik napasnya dalam. Dia menghampiri kak Indah yang sudah menangis mendengar semua penghinaan tante Monalisa.
"Ayo kak, kita pergi dari sini !"
Bagas segera mengambil Arumi dari gendongan kakaknya. Dia kemudian menggandeng kakaknya dan membawanya pergi ke kamarnya.
Ketika melewati ruang keluarga. Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Gunawan dan Rachella yang baru saja pulang dari kantor.
"Ya Khumaira, aku sudah memencet bel sedari tadi, tapi kenapa kau tidak membukakan pintunya. Apa kau tidak mendengar bunyi belnya ? Apa belnya rusak ?" tanya Gunawan begitu melihat istrinya.
Kak Indah mendongak ke arah Gunawan.
"Masya Allah, Khumaira.. ! Kenapa kamu menangis sayang !" ujarnya terkejut melihat mata istrinya sembab.
"Kakak, sebaiknya kakak bawa kak Indah ke kamar ! Dia butuh istirahat. Arumi biar Bagas ajak main di taman belakang." ujar Bagas seraya menyerahkan tangan kakaknya kepada Gunawan.
Gunawan mengangguk, dia pun segera memapah istrinya ke kamarnya. Sedangkan Bagas segera membawa Arumi bermain di taman belakang.
Arumi terlihat senang begitu tiba di sana. Bagaimana tidak, taman yang tadinya penuh dengan tanaman hias kini telah berubah menjadi arena bermain Arumi. Seperti sebuah taman kanak-kanak saja. Banyak berbagai macam alat permainan di taman itu. Mulai dari jungkitan, ayunan, perosotan bahkan papan titian. Di taman itu juga terdapat sebuah ruangan yang khusus dijadikan tempat bermain.
Karena Arumi telah terlihat cantik dan sudah mandi sore, akhirnya Bagas membawa Arumi ke ruangan bermain. Bocah berusia hampir 2 tahun itu terlihat senang berlarian ke sana dan kemari. Bagas menjaga Arumi dengan sangat telaten. Ketika Arumi sedang asyik dengan gambar-gambar yang menempel di dinding ruangan, Bagas mengeluarkan ponselnya.
Dia mengusap layar ponselnya. Tampak foto Kyara tersenyum manis di layar itu. Tiba-tiba Bagas teringat akan kata-katanya terhadap tante Monalisa.
Calon istri ! Hmm..., berani sekali aku bilang telah memiliki calon istri. Memangnya siapa calon istriku ? Apa itu kamu nona ? Apa kita akan bertemu kembali nona ? Dan jika kita bertemu kembali, apa kamu mau menjadi istriku ??
Hati Bagas terasa teduh setelah melihat senyum Kyara di foto itu. Amarah yang tadi menguasainya, seolah sirna. Tekad Bagas sudah bulat, setelah project nya berhasil, dia akan pergi dari rumah kak Indah. Dia akan segera mendirikan usahanya, dan memulai kembali pencariannya terhadap gadis yang selalu meneduhkan amarahnya hanya dengan melihat senyuman di wajahnya.
"Tuhan, izinkan aku bertemu dengannya..."
__ADS_1
Bersambung...
Semoga masih suka ceritanya yaaa...