
Aku berdosa padanya...! Aku berdosa....! Maafkan aku...!" ujar Andin seraya memeluk Bagas.
Bagas yang mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Andin, merasa kaget. Tidak biasanya Andin bersikap seperti ini. Seorang Andin yang tegas, ceria, angkuh namun penuh percaya diri, kini terlihat lemah tak berdaya. Bagas pun mengusap-usap punggung Andin untuk menenangkannya.
Setelah dirasa cukup tenang, Bagas melonggarkan pelukannya, dia menatap Andin penuh selidik.
"Apa yang terjadi, Ndin ?" tanya Bagas.
"Aku...., aku.... tidak apa-apa...!" jawab Andin seraya menyeka air matanya.
Jujur dia belum siap untuk menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Dia hanya mampu diam. Pikirannya benar-benar kacau. Perasaan bersalah berkecamuk di dalam hatinya.
Bagas menatap tajam Andin. Dia tahu, sesuatu pasti telah terjadi, namun sepertinya, Andin enggan untuk bercerita, dan Bagas pun tidak ingin memaksanya.
"Baiklah, jika kau tidak ingin bercerita, aku tidak akan memaksamu. Ayo.., sekarang aku antar kamu pulang !" ujar Bagas.
Andin mengangguk. Dia pun mulai berdiri. Dengan gemetar, dia melangkahkan kakinya. Bagas yang melihat ketidakseimbangan tubuh Andin, segera menangkapnya kemudian memapahnya.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di lobi hotel.
"Tunggulah di sini !" perintah Bagas.
Andin pun duduk di lobi hotel, menunggu Bagas yang hendak mengambil mobilnya. Tak lama kemudian, Bagas kembali menghampiri Andin dan memapahnya untuk memasuki mobilnya. Selang beberapa menit, mobil pun berlalu meninggalkan hotel itu.
Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang tercipta di antara mereka. Bagas yang pada dasarnya tidak pernah mau tahu urusan orang, hanya fokus menatap lurus ke jalanan, tanpa berniat untuk menanyakan hal apapun. Begitu juga dengan Andin yang hanya mampu menutup rapat mulutnya.
Selang satu jam, mereka akhirnya tiba di rumahnya Andin. Bagas turun dari mobil. Segera dia membuka pintu mobil untuk Andin dan kembali memapahnya hingga sampai di depan pintu.
Bagas menekan bel pintu. Selang beberapa menit, ibunya Andin membukakan pintu. Beliau tampak terkejut melihat kondisi putrinya.
"Astaga...! Kamu kenapa, sayang...?" tanya nyonya Mira, penuh kekhawatiran.
"Andin cape, Andin mau istirahat mah...!" jawab Andin, enggan untuk menjawab pertanyaan ibunya.
"Baiklah, ayo mama bantu !"
Nyonya Mira pun ikut memapah Andin hingga ke kamarnya. Tiba di kamar, Andin segera membaringkan tubuhnya dan meminta Bagas dan ibunya keluar.
Meski penasaran, tapi nyonya Mira mengikuti juga keinginan Andin. Dia tahu jika saat ini, anaknya sedang ada masalah dan mungkin butuh waktu untuk sendirian.
"Apa yang terjadi, nak Bagas ?" tanya nyonya Mira saat mereka tiba di ruang tamu.
"Jujur, Bagas sendiri tidak tahu, tan. Bagas hanya diminta Laura untuk menjemput Andin di hotel Bintang." jawab Bagas.
__ADS_1
"Hotel Bintang ? Bukankah itu hotel milik tuan Mahesa ? Sedang apa Andin di sana ?" tanya nyonya Mira lagi.
Kembali Bagas menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, nanti tante tanya Laura sama Mita !" lanjut nyonya Mira.
Bagas mengangguk tanda setuju.
"Baiklah, kalau begitu, Bagas pulang dulu, tan ! Ini sudah malam. Assalamualaikum...!" pamitnya.
"Waalaikumsalam..!" jawab nyonya Mira seraya mengantar Bagas sampai ke depan pintu utama.
***
Keesokan harinya. Dengan alasan tidak enak badan, Andin pun tidak masuk untuk mengikuti magang di perusahaan yang kemarin menerimanya. Sepanjang hari dia hanya terbaring berbalutkan selimut tebal di ranjangnya. Makanan yang diantarkan asisten rumah tangganya pun, tak disentuhnya. Nyonya Mira sangat khawatir dengan keadaan putrinya, namun dia enggan untuk bertanya. Dia sangat mengenal sifat putrinya. Dia pun hanya bisa membiarkan putrinya melakukan apa pun yang diinginkannya, toh nanti, jika dia sudah siap bercerita, dia pasti akan menceritakannya, begitu pikir nyonya Mira.
Waktu terus saja berlalu. Tanpa terasa, Andin telah mengurung diri di kamarnya selama hampir sepekan. Hari ini, Mita dan Laura pergi ke rumah Andin untuk mengunjunginya.
"Kalian langsung saja ke kamarnya, ya...! Tolong hibur dia. Tante sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa." pinta nyonya Mira.
"Baik tante." ucap Mita dan Laura.
Mereka pun segera naik ke atas untuk pergi ke kamarnya Andin yang berada di lantai dua.
Mita mengetuk pintu kamar Andin.
"Ndin, nih gue, Mita sana Laura. Kita boleh masuk ?" izin Mita pada sang empunya kamar.
"Masuk !" jawaban Andin dari dalam kamar.
Ceklek...!
Pintu kamar terbuka. Mira dan Laura pun masuk.
"Are you okay, Ndin ?" tanya Laura.
Andin yang sedang menatap kosong di tepi jendela kamarnya, segera menoleh. Dia pun tersenyum samar menatap kedua sahabatnya.
"Menurut lo...?" Andin malah balik bertanya.
Mita dan Laura segera menghambur ke arah Andin. Mereka pun berpelukan untuk memberikan kekuatan kepada Andin.
"Sabar ya, Ndin ! Gue yakin, semua ini pasti ada hikmahnya." ujar Laura.
__ADS_1
Andin kembali terisak, mengingat akan nasibnya yang malang. Rasa sakit atas pengkhianatan sahabat dan kekasihnya, masih terpatri jelas di hatinya. Dadanya selalu terasa sesak ketika bayangan mereka yang sedang memadu kasih di atas ranjang kembali melintas di benaknya.
Tubuh Andin mulai berguncang, menandakan jika saat ini, dia sedang menangis. Mita dan Laura hanya bisa memeluknya seraya mengusap-usap punggung Andin. Puas saling memberikan kekuatan, mereka pun akhirnya melepaskan pelukannya.
"Gue yakin, lo pasti bisa lalui semua ini." ujar Laura memberikan semangat.
Andin tersenyum.
"Beginilah jadinya Ndin, jika lo mendapatkan kekasih hasil merebut dari wanita lain. Seseorang pasti akan merebutnya kembali. Itu sudah hukum alam, Ndin. Karma itu selalu ada." ujar Mita tiba-tiba.
"Sstt...!!" Laura menepuk lengan Mita.
"Ups...! Sorry, Ndin...!" ujar Mita merasa tak enak.
Laura memelototi Mita yang tidak pernah bisa menjaga perasaan temannya. Mita hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Lo benar, Mit. Gue menyesal telah melakukan semua itu. Gue benar-benar egois, gue memaksakan kehendak gue untuk memiliki Ajay. Sampai gue tega menyakiti hati seorang perempuan yang tidak pernah gue kenal. Gue benar-benar menyesal...!" ujar Andin lirih.
"Maafin gue, Ndin. Gue nggak bermaksud menyudutkan lo. Gue hanya merasa, jalan yang lo tempuh dalam mencintai Ajay, itu sudah salah. Terlebih lagi lo menghalalkan segala cara untuk memiliki Ajay. Namun Tuhan maha adil, Ndin..! Sekarang lo merasakan sakit yang gadis itu rasakan karena keegoisan lo...!"
Mita semakin berapi-api meluapkan uneg-unegnya. Sehingga membuat Laura berkali-kali menyenggol lengannya untuk mengingatkan Mita agar tidak terlalu jauh melangkah. Laura takut jika Andin akan berbalik tidak menyukai Mita karena nasihatnya.
Namun apa yang Laura takutkan, sama sekali tidak terjadi. Yang terjadi justru malah sebaliknya. Andin menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Apa yang diucapkan Mita, memang benar adanya.
"Gue tahu, gue salah, dan gue benar-benar menyesal. Seandainya gue bisa mengulang waktu, gue nggak akan pernah mau ketika pertama kali Ajay ngajak gue ke hotel itu." jawab Andin lirih.
"Gue senang lo bisa berbesar hati untuk mengakui kesalahan lo." ujar Laura, bangga. "Oh iya, Ndin. Bu Gina bilang, jika lo sudah merasa baikan, lo bisa masuk untuk magang di perusahaan itu. Mereka masih memberikan lo kesempatan untuk bisa bergabung di perusahaan itu." lanjut Laura.
Andin tersenyum, "Gue pasti datang dan bergabung dengan kalian di perusahaan itu." ujarnya.
"Yeayyy....! Gitu dong..., ini baru Andin yang gue kenal !" teriak Mita.
Andin sedikit tergelak melihat tingkah Mita yang selalu polos dan bicara seperti anak kecil.
"Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus gue lakukan." ujar Andin.
Mita dan Laura saling pandang.
Andin yang menyadari kebingungan kedua sahabatnya, langsung tersenyum.
"Sudahlah...! Ayo temani gue keluar...!"
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan like, vote n komennya 🙏🙏🤗