
Sisil berdiri di balkon depan kamar suaminya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling perumahan kawasan elite yang berada di kota B. Sisil tersenyum miris melihat bangunan rumah-rumah megah yang ada di kawasan komplek ini. Dan kini, dia pun sedang berdiri di salah satu rumah megah itu.
Takdir hidup memang tidak pernah ada yang bisa menduganya. Niatnya yang mengikuti bosnya berpindah kerja di Singapore, ternyata membawa dia pada kehidupan keluarga Damian. Dan sejak 3 bulan yang lalu, Sisil pun resmi menyandang nama nyonya Damian.
Sisil memejamkan matanya. Masih terekam jelas dalam ingatannya kejadian 3 bulan lalu. Kehidupan yang dibayangkan indah saat memutuskan untuk bekerja di Singapore ternyata hanya terjadi sesaat.
Sisil bertemu dengan Aaron pada saat pertama kalinya dia menginjakkan kaki di negara itu. Musibah yang melandanya, membuat dia kehilangan segalanya dan tak tahu kemana arah tujuan, hingga Aaron pun membawanya ke rumah kakaknya yang sangat megah dan luas.
Meski itu pertemuan pertamanya dengan keluarga Aaron, tapi Sisil tidak merasa canggung. Karena ternyata keluarga Aaron menerimanya dengan tangan terbuka. Mereka senang ketika aaron membawa seorang wanita ke rumahnya.
Namun Sisil dan Aaron tetaplah 2 orang yang tak pernah bisa disatukan. Setiap mereka bertemu, selalu saja terjadi keributan. Kehidupan mereka ibarat 2 binatang yang terkenal dengan sebutan musuh bebuyutan. Tak jarang perseteruan mereka juga sering melibatkan 2 kubu yang berbeda. Kubu Sisil yang selalu di dukung oleh mamah Silvi dan mbak Kinan dan kubu Aaron yang selalu mendapat dukungan dari papah Damian dan mas Ardi. Hingga sebulan sebelum ijab qobul itu terucap.
"Sil, lo berhenti kerja deh sama bos lo !" ujar Aaron saat Sisil sedang berada di rumahnya.
Ya ! Sisil memang sering bermain ke rumahnya Aaron atas permintaan mamah Silvi. Kehadiran Sisil yang bawel dan cerewet itu memang selalu membuat suasana rumah menjadi ramai.
"Idih..., emangnya siapa elo, ngatur gue. Kakak bukan, pacar bukan, suami apalagi..!" jawab Sisil seenaknya.
"Eh udah syukur ya gue ingetin, meskipun lo tuh musuh bebuyutan gue ! Semua ini demi kebaikan elo !" ujar Aaron geram.
"Eit dah..., mana ada musuh yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Udah deh..., gue mo mandi. Malam ini gue ada meeting."
"Lo nggak salah Sil, masak meeting malam-malam.."
"Meeting nya sih tadi di kantor, tapi malam ini perayaannya." ujar Sisil sembari ngeloyor begitu saja.
Jam yang ditentukan akhirnya tiba. Dengan menggunakan dress selutut berwarna army, Sisil pun pergi menuju tempat yang telah ditentukan.
Tiba di alamat yang telah diberikan bos nya, Sisil merasa heran saat mendapati jika tempat perayaannya adalah sebuah night clubs. Meski gemetar, Sisil tetap memberanikan diri memasuki tempat itu.
Sisil melihat sang bos tengah duduk bersama rekan kerjanya yang tadi siang melakukan meeting dengannya. Di sana juga ada sekretaris dari rekan kerja bosnya, karena itu Sisil tidak menaruh kecurigaan apa pun terhadap mereka.Tanpa Sisil sadari, sepasang mata tengah mengawasinya
"Mau minum apa, Sil ?" tanya sang bos.
"Aku sih, orange juice saja pak !"
Pak bos melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan. Saat pelayan itu datang, dia pun langsung memesan minuman Sisil. Tak lama kemudian minuman yang dipesan pun tiba.
Cukup lama mereka berbincang-bincang hingga akhirnya Sisil merasa pusing. Karena sudah tidak kuat menahan berat di kepalanya, Sisil pun pamit untuk pergi ke toilet. Namun saat dia sedang berjalan menuju toilet, tiba-tiba seseorang menarik tubuhnya dan menggiringnya ke sebuah tempat.
"Eh, tuan...! Kau mau membawaku kemana ?" ujar Sisil sambil memegangi kepalanya yang semakin terasa berat.
"Aku akan membawamu ke surga, sayang !" pria botak itu menyeringai ke arah Sisil.
"Ish tuan, jangan main-main ! Aku belum mati ya, lagian, mana ada orang yang suka kelayapan di clubing masuk surga. Ah tuan ini aneh !" Sisil masih terus meracau.
"Ish, bawel sekali kamu ! Untung cantik, kalau tidak, sudah kulempar kau ke jalanan.
Tiba-tiba pria botak itu pun menggendong Sisil seperti seorang kuli pasar memanggul beras.
"Ish tuan...! Lepaskan aku...!"
"Diam ! Jangan berteriak lagi ! Enak saja minta dilepas, aku tuh udah bayar mahal sama bos kamu !"
"Eh, apa-apaan ini ! Bayar ? Siapa ? Lepaskan tuan ! Kalau tidak, aku akan berteriak !" ancam Sisil.
"Berteriaklah, lagi pula tidak ada seorang pun yang lalu lalang di sini !"
Sisil mulai berteriak, tapi entah kenapa tenggorokannya terasa kering. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Berat di kepalanya pun semakin bertambah. Pada akhirnya Sisil pun terkulai tak berdaya.
Pria botak itu membawa Sisil ke sebuah kamar. Dia pun meletakkan Sisil yang sudah tidak sadarkan diri.
Matanya mulai menatap buas ke arah Sisil. Dress yang tersingkap hingga menampakkan paha mulusnya, membuat darah pria botak itu berdesir. Dia mulai melucuti pakaiannya hingga yang tertinggal hanyalah celana boxernya saja. Pria itu merangkak dan mulai mengkungkung Sisil di bawahnya, namun saat dia hendak mencium bibir padatnya Sisil, tiba-tiba.
"Brengsek ! Dasar bandot tua !"
Bugh....
Bugh ..
Bugh...
Pukulan bertubi-tubi dari sang penyelamat yang tak lain adalah Aaron, membuat pria botak itu lari terbirit-birit meninggalkan kamar.
"Sil...! Sil..., bangun Sil...!"
Aaron berusaha menepuk-nepuk Sisil agar segera bangun.
"Uh....! Tiba-tiba Sisil mulai melenguh kecil.
"Ish..., kenapa panas sekali...!" ujar Sisil seraya membuka resleting dress nya.
Untuk sejenak, Aaron terkesiap melihat sikap Sisil yang tidak seperti biasanya. Dalam tidurnya, Sisil terus menggeliat-geliat seraya berusaha melepaskan pakaiannya.
__ADS_1
"Aaah...panas...! Kenapa rasanya panas sekali...!" teriak Sisil.
"Shitt....!" Aaron menjambak rambutnya, frustasi. Dia pun mulai menyadari apa yang terjadi pada Sisil.
Aaron segera membawa Sisil ke kamar mandi. Dia meletakkan Sisil di dalam bathtub. Perlahan Aaron pun mulai mengguyur Sisil untuk membantunya meringankan efek obat perangsang yang telah diberikan oleh seseorang. Ya ! Mungkin ada orang yang sengaja menjebak Sisil.
Sisil mengerjapkan matanya saat merasakan dinginnya air mengguyur kepalanya. Namun entah kenapa tubuhnya seolah terasa terbakar.
"Ar...!" ujarnya.
"Tenanglah, aku akan berusaha untuk meringankan pengaruh obat itu !" gumam Aaron.
"Ish Ar...! Panas Ar...! Tambah lagi airnya, gue kepanasan !" Sisil kembali menggeliat. Dia pun mulai melucuti pakaiannya, sehingga yang tertinggal hanya pakaian dalamnya.
"Sil, sadar ! Jangan !"
Aaron menghentikan pergerakan tangan Sisil yang sedang berusaha membuka bra nya.
"Ish..., panas Ar...! Tolong gue, gue kepanasan...!"
Hampir 20 menit Aaron mengguyur Sisil dengan air dingin, tapi cara itu tak membuahkan hasil, yang ada malah membuat bibir padat Sisil tampak kebiruan. Tak ada jalan lain, Aaron pun segera menggendong Sisil dan kembali membaringkannya.
Sisil masih menggeliat-geliat di atas ranjang. Selimut yang menutupinya mulai tersingkap. Raut wajahnya semakin pucat. Tubuhnya semakin bergetar hebat.
"To.... tolong gue Ar...! Panas Ar...! to... tolong gue..!"
Suara sisil terdengar semakin serak. Aaron pun mengusap kasar wajahnya. Tak ada cara lain, jika dibiarkan, Sisil bisa-bisa mati, karena ternyata bajingan itu menggunakan obat perangsang dosis tinggi.
Setelah mengunci pintunya. Aaron pun mulai merangkak mendekati Sisil yang sudah telanjang di atas ranjang. Pria mana yang sanggup menahan diri melihat tubuh polos nan putih bersih terlentang di hadapannya. Saat dia mendekatkan wajahnya, Sisil pun dengan rakusnya mencium bibir Aaron.
"Sorry Sil, gue harus ngelakuin ini buat nyelamatin lo...! Tapi lo nggak usah khawatir, gue pasti akan bertanggungjawab atas malam ini, Sil ! Sorry...!"
Akhirnya, malam itu pun, kehormatan Sisil yang selalu dijaganya, terenggut sudah.
Keesokan harinya.
"Sil, udah dong, jangan nangis terus ! Gue terpaksa ngelakuin semua ini. Gue hanya berusaha untuk nyelamatin nyawa lo ! Lo bisa mati, tahu, kalo lo nggak bisa ngelepasin hasrat lo...!"
Aaron menggaruk kepalanya saat tak bisa membujuk Sisil yang tengah menangis karena telah menyadari keadaan mereka.
"Harusnya lo biarin gue mati aja Ar ! Daripada gue hidup tapi harus menanggung malu seperti ini !" teriak Sisil.
Aaron menutup telinganya karena tidak tahan mendengar suara Sisil yang sangat nyaring bak kaleng bekas yang sedang dipukul.
"Udah dong Sil ! Harusnya lo terima kasih sama gue ! Lo tuh berutang nyawa ma gue !"
"Ish, kok gue yang untung sih, bukannya lo yang untung karena terhindar dari kematian akibat digituin ma gue !"
"Dasar otak mesum, cowok kadal ! Lo untung, karena perkosa gue yang masih perawan ! Dasar bego lo !"
"Heh, jangan salah, gue juga masih perjaka kali...!"
"Ya tapi kan lo cowok ! Lo nggak bakalan ketauan kalo udah pernah gituan. Lah gue cewek, bakalan ketauan kalo udah bolong. Yang ada janda bukan, perawan bukan...!" hardik Sisil sambil terus menangis.
"Udah dong Sil, gue pasti tanggungjawab kok !"
"Ish..., siapa juga yang mau jadi bini lo ! Bisa sawan gue kalo jadi bini lo !"
"Terus maunya lo apa ? Nyesel iya, nikah nggak mau, lo mo jadi perawan tua ! Eh salah, emang lo masih perawan ?"
"Lo nyumpahin gue nggak laku ? Enak aja, yang merawanin gue juga, elo dodol !"
"Ya udah yuk ! Pulang yuk ! Gue laper banget abis merawanin elo...!"
"Ish..., sialan lo...! Sini lo..., gue bejek-bejek jadi rujak baru tahu rasa lo...!
Sisil yang sudah merasa kesal kepada musuh bebuyutannya, seketika menyerang Aaron dan menduduki tubuh Aaron hingga tanpa sadar Sisil pun masih belum memakai pakaiannya.
Sisil terus memukuli Aaron melampiaskan kekesalannya. Hingga akhirnya Aaron menghentikan pergerakan Sisil dengan memegang erat tangannya.
"Sil....?" tanya Aaron.
"Apa...!!" teriak Sisil.
"Lo mo goda gue ya...!"
"Enak aja...!"
"Trus, ngapain anu lo nemplok di punya gue !" ujar Aaron seraya matanya menuduhkan sesuai ke arah bawah.
"Aaaaahhhhhh...."
Seketika Sisil pun berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Sebulan setelah kejadian
"Ar..., lo tokcer banget sih ! Nih...!" ujar Sisil seraya menyerahkan benda yang di atasnya terdapat dua garis merah.
"What...! Lo hamil Sil ! Alhamdulillah...!"
"Ish, kok alhamdulilah sih...!"
"Anak itu rezeki, jadi patut kita syukuri !"
"Tapi ini anak hasil di luar nikah Ar !"
"Lo nggak usah khawatir ! Besok kita minta mamah sama papah buat menikahkan kita."
"Ish Ar...! Tapi kan kita nggak saling cinta ?"
"Lo nggak usah khawatir Sil, kita emang nggak saling cinta, tapi kita punya ikatan yang akan membuat kita saling membutuhkan ke depannya."
Tak butuh usaha lama untuk mendapatkan restu kedua orang tua Aaron. Karena pada dasarnya, mereka pun sudah sangat menyayangi Sisil. Akhirnya, sejak 3 bulan yang lalu, Sisil pun resmi menyandang nama nyonya Aaron Damian.
Sisil tersenyum mengingat kembali kisah drama Aaron dan Sisil yang mengalahkan alur drama Korea.
"Sudah siang non, jangan berdiri di balkon terus, nanti non kepanasan !"
Teguran asisten rumah tangga mertuanya pun menyadarkan Sisil dari lamunannya.
***
"Ish, lo kenapa sih Gas ! Kok bisa tuh cangkir jatuh dari tangan lo !"
"Sorry Ar...!
Bagas pun memanggil OB untuk membersihkan pecahan beling yang ada di ruangannya.
"Gimana Gas ? Apa lo bisa ikut denganku ?"
"Jujur Ar ! Gue nggak tahu apa Ajay bisa nerima gue atau nggak ? Pertemuan terakhir kita sungguh benar-benar tak mengenakkan.
"Apa yang terjadi ?"
Ada banyak Ar...., ada banyak yang terjadi, hingga jika diceritakan pun, gue nggak yakin lo bisa nahan emosi lo...!!
"Gas..., kok diem lagi !"
Bagas menghela napasnya. Sungguh dia sangat bingung harus berbuat apa. Di satu sisi ada istrinya, dia baru saja beberapa minggu mengecap kebahagiaan bersama sang istri, tapi di sisi lain ada Ajay yang bagaimanapun juga kawannya semenjak kecil, bahkan semenjak mereka belum mengenal Kyara.
"Baiklah...! Aku ikut denganmu !" ucap Bagas mengambil keputusan.
"Aaron tersenyum senang. Akhirnya, usahanya membujuk Bagas tidak sia-sia.
Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00. Aaron pun langsung membawa Bagas ke rumah sakit untuk melihat kondisi orang yang menjadi sahabatnya.
Tiba di sana, ternyata Ajay sudah dipindahkan kembali ke kamar rawatnya.
"Di kamar mana Bim ?"
"VVIP no 02, kak !"
"Oke, bentar lagi kakak sampai !"
Tiba di kamar yang dimaksud, ternyata semua orang tengah berkumpul. Bahkan eyang Aini pun ikut berada di tengah-tengah mereka.
"Assalamualaikum...!" ucap Aaron dan Bagas berbarengan.
"Waalaikumsalam...!"
Semua orang menoleh ke arah Aaron dan Bagas yang baru datang. Nyonya Diana kembali menitikkan air mata melihat kedatangan mereka.
"Lihatlah siapa yang datang menjengukmu, nak ! Ada Aaron dan Bagas di sini. Bangunlah sayang...! Sadarlah...!" ujar nyonya Diana.
Aaron dan Bagas pun masuk. Bagas benar-benar terkejut melihat kondisi Ajay saat ini. Tak ada lagi seorang Ajay Sanjaya yang gagah, tampan dan penuh kesombongan. Yang ada hanyalah seorang pria lemah tak berdaya yang penuh dengan kesakitan terpancar dari wajahnya.
Nyonya Diana menghampiri Aaron dan Bagas. Kemudian memeluk mereka satu persatu.
"Tolong bantu tante...! Bantu tante untuk menemukan Kyara ! Tolong cari dan bujuk dia, agar dia mau melihat dan memaafkan Ajay. Tante mohon..., tolong Ajay Ar ! Tolongin Ajay, Gas !" pinta nyonya Diana lirih.
Jeddarr....
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Bagas benar-benar terkejut mendengar permohonan nyonya Diana. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan..., batin Bagas
"Insyaallah, kami akan coba untuk menemukan Kyara tan, dan membawanya kemari !" ujar Aaron.
"Terima kasih Ar, terima kasih Gas ! Tante sangat percaya, kalian pasti bisa membantu Tante untuk menemukan Kyara dan membawanya kemari.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗