
Pov Bagas...
Waktu telah menunjukkan pukul 15.30. Aku menutup semua berkas yang akan kami (aku dan pak menteri) tanda tangani minggu depan. Aku teringat janjiku untuk menjemput Kyara pukul 16.00. Karena takut terjebak macet lagi, aku pun segera pergi.
Pukul 16.15, aku tiba di sekolah baby Arum. Aku lihat keadaan sekolah sudah sangat sepi, sepertinya semua warga sekolah telah pulang. Pintu gerbang belum terkunci, tapi aku tidak mendapati penjaga keamanan untuk kutanyai. Akhirnya aku memutuskan untuk memasuki pelataran parkir.
Tiba di sana, aku segera memarkirkan mobilku. Aku yakin gadis itu telah membaca pesananku dan pasti tengah menungguku di ruang kerjanya. Dengan perasaan yang tidak bisa aku gambarkan, aku pun berlari kecil menuju ruang bimbingan konseling.
Ruangan itu cukup jauh dari gerbang sekolah. Butuh waktu sekitar 10 menit dari gerbang utama menuju ruangan itu. Karena sudah merasa tak sabar ingin menemui gadis itu, aku pun menambah kecepatanku berlari.
"Assalamualaikum...!"
"Assalamualaikum...!"
"Assalamualaikum...!"
Setelah berkali-kali aku mengucapkan salam, tapi jawaban tak kunjung aku dengar dari dalam. Karena penasaran aku pun mencoba menekan handle pintunya.
Ceklek...!
Ternyata pintunya tidak terkunci. Aku masuk, berharap gadis itu berada di dalam. Tapi aku harus menelan kekecewaan karena tidak menemukannya. 20 menit aku menunggu, tapi gadis itu tak kunjung datang. Aku mulai cemas, aku takut dia kembali pergi dan menghilang. Aku takut dia kembali menjauhiku. Aku pun pergi keluar untuk mencarinya.
Aku mencarinya di setiap ruangan di sekolah ini. Aku berlari dari satu ruangan ke ruangan lain. Seperti orang gila, aku berteriak-teriak memanggil namanya. Aku pun berlari menuju taman belakang, tapi aku sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya. Sialnya lagi, tak ada seorang pun yang bisa aku tanyai tentangnya. Aku cemas dan merasa frustasi karena tak mendapati gadis itu.
Aku tahu, mungkin semuanya terasa konyol. Padahal dia bekerja di sini, dan aku bisa menemuinya esok hari. Tapi kata-katanya dulu yang ingin melupakanku, membuatku merasa jika dia mungkin akan kembali menghindariku. Seketika lututku terasa lemas. Aku pun terjatuh di taman ini, taman yang menjadi saksi pertemuan pertama kami setelah 5 tahun lebih terpisah.
Aku mulai menangis, membayangkan jika kami akan kembali terpisah. Sekali lagi aku berteriak keras memanggil namanya. Cukup lama aku berlutut di tempat itu. Hingga panggilan ponsel dari kak Indah menyadarkanku. Aku pun segera berdiri dan mulai melangkahkan kakiku untuk pulang. Aku sadar, sejak aku tiba di negaraku, aku belum sempat menemui kakak dan kakak iparku.
Namun saat aku tiba di koridor ujung, aku melihat seorang gadis berdiri tepat di depan ruangan itu. Dan gadis itu..., dia adalah gadisku, dia Kyara ku. Aku tidak bisa menahan semua rasaku, aku takut jika dia akan kembali pergi dariku. Tanpa menunggu izin darinya, aku pun menghambur ke arahnya dan memeluknya erat dari belakang.
"Jangan pergi...! Aku mohon jangan pergi lagi ! Jangan pernah pergi dariku ! Aku bisa gila karena tidak menemukanmu ! Aku mohon...!"
Hanya itu yang mampu aku ucapkan untuknya.
***
Kyara terkejut begitu mendapati seseorang memeluk tubuhnya dengan erat dari arah belakang. Dia lebih terkejut lagi saat orang itu berkata lemah di telinganya. Rasa hangat mulai Kyara rasakan di pundaknya. Kyara hanya mampu diam mematung saat menyadari suara yang sudah sangat dikenalinya.
Kak Bagas...., ucapnya dalam hati.
Cukup lama Bagas memeluk Kyara. Wangi aroma rambut Kyara yang menempel di wajahnya masih sama seperti dulu. Bagas benar-benar merindukan kebersamaannya dengan gadis itu. Bagas benar-benar terhanyut dalam aroma tubuh Kyara yang semakin menyeruak menyentuh kalbunya.
"Jangan tinggalkan aku lagi nona ! Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu !" ujar Bagas lirih.
__ADS_1
"Cukup.. !!" bentak Kyara.
Bagas terhenyak mendengar bentakan dari Kyara. Dia pun segera melepaskan pelukannya. Dia membalikkan tubuh Kyara, berharap jika dia hanya salah mendengar saja.
"Cukup tuan ! Jangan katakan apa pun lagi tentang cinta ! Maaf, aku sibuk !" ujar Kyara.
Kyara segera memasuki ruangannya. Tak lama kemudian dia keluar.
"Pergilah ! Ini sudah hampir magrib. Sebentar lagi penjaga sekolah akan segera mengunci gerbang utamanya !"
Setelah mengucapkan hal itu, Kyara pun berlalu pergi tanpa pamit.
Bagas benar-benar tidak percaya akan perubahan Kyara. Kyara yang sekarang bukanlah Kyara yang pernah Bagas kenal.
Kenapa dia bersikap dingin seperti itu ? Kemana perginya gadis tegar namun penuh kelembutan dan kehangatan yang dikenalnya dulu.
Drrt... drrt...
Sekali lagi, getaran ponsel di balik saku jasnya kembali menyadarkan Bagas dari lamunannya.
***
Keesokan harinya, Bagas mengantarkan Arumi ke sekolahnya. Mulai hari ini, menjadi sopirnya Arumi adalah satu-satunya alasan yang masuk akal jika dia ingin kembali mendekati Kyara.
"Pagi bu Kya, ada orang yang sedang menunggumu di ruangan konseling." sapa penjaga sekolah.
"Sepagi ini ? Siapa, pak ?" tanya Kyara.
"Waduh, saya tidak menanyakan namanya bu, beliau bilang sih, katanya ibu sudah mengenalnya. Tapi mungkin saja dia wali murid bu, karena dia datang bersama anaknya."
"Baiklah, akan kutemui, terima kasih ya, pak !"
"Sama-sama."
Setelah mengucapkan terima kasih, Kyara pun segera pergi ke ruangannya. Kyara melirik jam di pergelangan tangannya. Hmm, masih ada waktu 15 menit lagi sebelum bel masuk berbunyi.
Ceklek !
Kyara membuka pintu ruangannya. Dia melihat Bagas sedang berdiri mengamati piagam-piagam penghargaan Kyara yang terpajang di dinding ruangan.
"Ehm...!"
Bagas menoleh begitu mendengar suara dehaman dari arah pintu.
__ADS_1
"Selamat pagi, nona !" sapa Bagas.
"Ibu Kyara ! Panggil aku ibu Kya, bagaimanapun juga, aku adalah guru dari keponakan anda ! Jadi mulai sekarang, belajarlah untuk memanggilku ibu Kya !" ucap Kyara tegas.
Bagas tersenyum.
"Baiklah, bu ! Sesuai dengan keinginanmu !" jawab Bagas.
Bagas membungkuk hormat di hadapan Kyara. Membuat Kyara jadi merasa kikuk berdiri di hadapan Bagas.
"Sudahlah ! Tidak usah seperti itu ! Katakan, ada urusan apa anda kemari !"
Kyara masih memperlakukan Bagas dengan sangat ketus. Namun Bagas hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Mengenai Arumi. Kemarin kita belum sempat bicara tentang permasalahan Arumi." ujar Bagas
Kyara melirik jam tangannya, masih tersisa waktu 8 menit lagi sebelum bel berbunyi. Ini tak akan cukup untuk membahas permasalahan Arumi..., batinnya.
"Intinya, Arumi merasa tersisihkan dan dia merasa trauma atas kesalahannya 6 bulan lalu. Dan kalian harus segera meluruskan kesalahpahaman ini. Agar Arumi tidak selalu terkungkung dalam penyesalannya." ujar Kyara.
"Masalah apa ?" tanya Bagas heran.
Bagas memang benar-benar tidak tahu apa yang pernah terjadi dengan Arumi.
Kyara menghela napasnya.
"Tuan, sebentar lagi saya masuk kelas. Saya sarankan, jika tuan ingin lebih tahu permasalahan tentang Arumi, tuan datang di jam istirahat saja. Tuan bisa datang jam 10 atau jam 12 siang." ujar Kyara.
"Apa aku bisa datang setelah sepulang sekolah. Agar kita bisa lebih leluasa untuk mengobrol." pinta Bagas penuh harap.
"Pergilah !" ujar Kyara.
Bukannya pergi, Bagas malah mendekati Kyara. Dia menggenggam tangan Kyara.
"Aku mohon Kya, beri aku kesempatan. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu.., aku ingin menjalani waktu bersamamu seperti dulu lagi." ujar Bagas.
Kyara menarik tangannya perlahan.
"Pergi dan lupakan ! Semuanya tidak akan pernah sama seperti dulu lagi ! Permisi !"
Bersambung...
Lanjut lagi nggak ya untuk hari ini...🤔
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya ya...
🙏🙏🙏