Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Kebenaran tentang Kyara


__ADS_3

"Apa...!"


Tanpa pamit tanpa permisi, Kyara segera pergi ke ruang UKS untuk melihat keadaan muridnya.


Pak Joko hendak pergi mengikuti Kyara, namun Bagas mencegahnya.


"Tunggu !"


Pak Joko menoleh ke arah orang yang memanggilnya.


"Boleh saya bicara sebentar pak ?" pinta Bagas


"Oh iya, boleh ! Silakan duduk kembali, pak ?" jawab pak Joko.


Bagas pun duduk berhadapan dengan pak Joko.


"Ada yang bisa saya bantu ?" tanya pak Joko lagi.


"Itu, guru yang tadi, apa dia sudah lama bekerja di sini ?" tanya Bagas.


"Ibu Kyara ?" tanya balik pak Joko.


pak Joko mencoba lebih mempertegas orang yang ditanyakan Bagas.


"Loh, kenapa bapak tidak tahu ? Bukannya anak bapak sedang berurusan dengannya ?" ujar pak Joko sinis.


Ya ! Pak Joko memang paling tidak suka dengan siswa siswi yang selalu membuat masalah dan keributan. Karena itu dia selalu bersikap sinis pada orang tua yang berurusan dengan Kyara. Bagi pak Joko, tamunya Kyara pastilah orang-orang yang anaknya memiliki masalah. Karena itu pak Joko tidak menyukai orang tua yang menurutnya tidak bisa mendidik anaknya sehingga bisa menjadi anak yang selalu mencari masalah di sekolah ini.


Mendapat tatapan tak suka pak Joko, Bagas hanya bisa menggaruk kepalanya.


"Mmm, sebenarnya saya pamannya salah satu murid di sini. Kebetulan ibunya memiliki bayi lagi, dan ayahnya sedang ada perjalanan dinas ke luar negeri, karena itu saya datang untuk mewakili mereka." jawab Bagas.


"Oh, pantas saja anda tidak mengenal ibu Kyara. Sebenarnya ibu Kyara baru 2 tahun mengajar di sini. Kebetulan dua tahun yang lalu, sekolah kami mengadakan kelas inklusif. Saat itu kami tidak memiliki guru, namun ibu ketua yayasan menghubungi saudaranya yang ada di kampung. Dan saudaranya mengirimkan bu Kyara ke sekolah ini untuk menjadi guru di kelas inklusif. Karena ibu Kyara lulusan psikologi anak, akhirnya beliau diberi tugas tambahan untuk menangani beberapa kasus siswa."


Penjelasan pak Joko yang panjang lebar membuat Bagas hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.


"Apa dia sudah menikah ?"


Tiba-tiba pertanyaan konyol Bagas meluncur bebas dari mulutnya.


Pak Joko mengernyitkan dahinya.


Kenapa pertanyaannya jadi melenceng ke sana ? batin pak Joko.


"Mak.. maksud saya, emh...kalau.. kalau dia sudah menikah dan memiliki anak, dia pasti akan lebih mengerti apa yang keponakan saya rasakan. Jadi saya bisa mempercayai laporan beliau." jawab Bagas mencari jawaban yang entah masuk akal atau tidak.


"Bapak ini ngomong apa, meskipun dia belum menikah, namun dia sangat handal dalam menangani anak-anak yang bermasalah di sekolah ini. Bahkan banyak anak-anak yang menyukainya. Asal bapak tahu, saat pertama kali datang ke sekolah ini. 30 siswa ABK dia tangani seorang diri. Bukankah itu sudah menunjukkan keprofesionalannya ? Bapak tidak usah khawatir, keponakan bapak bisa jauh lebih berakhlak di tangan ahlinya."


Sialan, dia menyamakan Arumi dengan anak-anak nakal lainnya.


Gerutu Bagas dalam hati.


Hmm, syukurlah dia belum menikah. Jadi aku masih memiliki kesempatan untuk mengejarnya. Ah Kya, kali ini akan kupastikan kau akan mencintaiku dan mau hidup bersamaku...


Gumam Bagas seraya tersenyum sendiri.


"Baiklah pak, saya hendak mengajar dulu. Bapak silakan tunggu bu Kya kembali ! Permisi..!"

__ADS_1


Pak Joko pamit undur diri dari hadapan Bagas.


5 menit


10 menit


15 menit Bagas menunggu, namun tak ada tanda-tanda Kyara akan muncul di hadapannya. Bagas mulai gelisah.


Drrt...drrtt...


Ponsel Bagas berbunyi. Bagas segera merogoh saku jasnya.


"Gerald !" gumam Bagas.


"assalamualaikum, pak !" (Gerald)


"Waalaikumsalam, ada apa ?" (Bagas)


"Maaf pak, sekretaris anda menelpon saya, katanya orang yang sudah saya pilihkan untuk menjadi asisten bapak, sudah sejak jam 10 berada di kantor bapak. Dan hari ini, selepas makan siang, bapak ada jadwal pertemuan untuk memperkenalkan CEO perusahaan itu, pak !" (Gerald)


"Astaghfirullah, saya lupa ! Bilang sama sekretaris, 25 menit lagi saya sampai di kantor !" (Bagas)


"Baik, pak ! Assalamualaikum..!" (Gerald)


"Waalaikumsalam.." (Bagas)


Kenapa hari ini aku bisa lupa kalau ada pertemuan dengan para karyawan.....


Bagas segera berdiri dan merapikan jasnya. Namun saat dia hendak pergi, dia teringat akan masalah Arumi yang belum diketahuinya. Dia segera melangkah menuju meja kerja Kyara.


Maaf nona, aku harus pergi sekarang. Aku lupa kalau jam makan siang ini aku ada pertemuan dengan para karyawan. Aku akan kembali. Jam 4 sore aku akan menjemputmu. Mohon kiranya nona sudi menungguku !


Setelah menuliskan pesan, Bagas pun menyelipkan kertas tersebut di tempat yang mudah dilihat oleh Kyara. Bagas pun pergi menuju kantornya.


Butuh satu jam untuk menenangkan Sani, muridnya yang terjatuh tadi. Setelah Sani merasa tenang, Kyara segera kembali ke ruangannya. Dia teringat akan Bagas yang tadi ditinggalkannya sendiri. Kyara berlari kecil karena takut Bagas merasa kesal menunggunya. Maklum, jarak antara ruang konseling dan UKS cukuplah jauh.


Saat Kyara membuka pintu ruangannya. Bagas sudah tidak tampak di ruangan itu.


Ish..., pergi kemana dia ? Benar-benar tidak sopan sekali !


Kyara menggerutu dalam hati. Setelah memastikan bahwa Bagas telah pergi, dia pun memutuskan untuk kembali mengajar ke kelasnya.


***


Bagas tiba di kantornya ternyata 10 menit lebih lambat dari waktu yang sudah dijanjikannya. Hal ini dikarenakan jalanan ibukota terlihat macet. Bagas lupa jika ketertiban berkendaraan di kota J berbeda sekali dengan ketertiban jalanan di negara yang pernah ditinggalinya.


Bagas segera menuju lift khusus. Tiba di ruangannya segera Bagas menyuruh sekretarisnya untuk mempersilakan sang asisten masuk.


Tok.. tok.. tok


"Masuk !"


"Maaf pak, ini asisten yang telah ditunjuk pak Gerald untuk mendampingi bapak." ujar sekretarisnya.


"Ah ya, silakan duduk !" perintah Bagas.


Laki-laki berbadan tegap itu pun duduk berhadapan dengan Bagas.

__ADS_1


"Kamu boleh kembali ke mejamu !" perintah Bagas kepada sekretarisnya.


"Baik pak !"


"Siapa namamu ?" tanya Bagas.


"Doni, pak !" jawab sang asisten.


"Baiklah Doni, selamat bergabung di perusahaan ini. Tugas pertamamu, tolong atur pertemuanku dengan semua karyawan lepas jam makan siang !"


"Baiklah ! Terima kasih atas kepercayaan bapak kepada saya. Insyaallah saya akan bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan anda. Kalau begitu, saya permisi dulu, pak !"


"Hmm...!" hanya itu yang keluar dari mulut Bagas.


Setelah sekretarisnya pergi, Bagas langsung membuka file kontrak kerja yang telah Gerald dapatkan sebagai langkah awal pengembangan perusahaan ini.


"Ah..., akhirnya sekali lagi aku harus memulai usahaku dari nol !" gumam Bagas.


***


Di sekolah Mutiara Bangsa. Insiden yang menimpa Sani, membuat anak-anak kelas Kyara semakin heboh dan tak terkendali. Akhirnya Kyara pun memutuskan untuk memulangkan mereka, apalagi dia hendak mengantarkan Sani pulang. Akan lebih buruk lagi jika dia menitipkan kelasnya kepada guru lain. Masalahnya, hanya Kyaralah yang bisa mengendalikan anak-anak berkebutuhan khusus itu.


Setelah Kyara membubarkan kelasnya dia pun pergi mengantarkan Sani ke rumahnya. Butuh waktu yang sangat lama bagi Kyara untuk membujuk Sani mau ditinggalkan bersama pengasuhnya.


Sani adalah anak tunggal dari pasangan yang telah cukup umur. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai pengacara. Karena kesibukannya, mereka tidak pernah memikirkan untuk menikah. Hingga perjodohan itu datang menghampiri mereka.


Namun sepertinya, pernikahan seolah tidak pernah berarti bagi pasangan itu. Ibunya Sani memutuskan untuk tetap bekerja meskipun dia telah memiliki anak.


Pada akhirnya, Sani tumbuh menjadi seorang anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tuanya. Dia pun tumbuh menjadi murid yang sangat aktif melebihi murid normal lainnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 saat Sani tertidur dalam pelukan Kyara. Setelah Kyara melihat Sani cukup pulas tertidur, dia pun segera berpamitan.


Kyara memesan taksi online. Namun dalam perjalanan menuju rumah kontrakannya, Kyara teringat tugas yang hendak dibawanya pulang tertinggal di ruangannya. Dia pun memutuskan untuk kembali ke sekolah.


Tiba di sekolah.


"Mohon tunggu sebentar ya, aku tidak akan lama !" ujar Kyara kepada sopir taksi itu.


"Baik nona !" jawab sang supir.


Di pelataran parkir, Kyara heran melihat mobil mewah terparkir di sana.


Mobil siapa itu, seperti itu bukan mobil kepala sekolah ? Lantas itu mobil siapa ? Ah, sudahlah..., bukan urusanku !


Saat Kyara hendak membuka pintu ruangannya, tiba-tiba


Bugh....!"


"Jangan pergi...! Aku mohon jangan pergi lagi ! Jangan pernah pergi dariku ! Aku bisa gila karena tidak menemukanmu ! Aku mohon...!"


Bersambung...


Hai readers..., othor balik lagi nih.....!


Semoga masih suka dengan ceritanya


Jangan lupa like vote n komennya 🙏

__ADS_1


__ADS_2