Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Kau Mencintainya !


__ADS_3

Hari demi hari terus terlewati. Kini, Kyara mulai bisa tersenyum kembali. Dukungan orang-orang di sekitarnya, telah mengembalikan semangat hidupnya. Kyara selalu tampak hangat terhadap anak-anak. Tapi sikap hangatnya seketika akan sirna jika berurusan dengan lawan jenis.


Hati Kyara benar-benar telah tertutup untuk cinta terhadap seorang laki-laki. Dia tidak pernah ingin mengenal laki-laki dalam hidupnya. Pengalamannya bersama Ajay, membuat dia trauma akan cinta.


Selama dua minggu ini, Anti dan bu Ratna diam-diam berusaha mengenalkan Kyara dengan pemuda-pemuda yang berada di desanya. Namun, tak satu pun dari para pemuda itu yang bisa mengetuk pintu hati Kyara. Kyara telah menutup hatinya untuk laki-laki manapun. Hingga akhirnya, Anti dan bu Ratna merasa bosan dan mulai menyerah.


Sementara itu di kota B. Jadwal sidang perdana di kampus GD University, ternyata maju seminggu lebih awal dari yang telah ditentukan sebelumnya. Tentunya itu membuat Bagas semakin merasa senang. Lebih cepat lebih baik, seperti itulah yang ada dalam pikiran Bagas.


Hari ini, tanggal sidang pertama di gelar. Dengan penuh percaya diri, Bagas tampil ke depan dosen penguji. 3 jam berlalu. Dalam 3 jam itu, Bagas mempresentasikan hasil penelitiannya dengan sempurna. Dari sekian banyak pertanyaan yang dilontarkan dosen penguji, Bagas mampu menjawabnya dengan baik. Membuat para dosen penguji berdecak kagum akan prestasi Bagas.


Setelah 3 jam yang penuh dengan ketegangan, akhirnya Bagas bisa bernapas dengan lega setelah dinyatakan lulus sidang. Kebahagiaan membuncah dalam dadanya. Tiba-tiba, orang yang pertama dia ingat, adalah Kyara. Menurutnya, Kyara punya andil besar dalam penyusunan skripsi Bagas. Selama dua malam, Kyara lah yang selalu menemani Bagas dalam menyusun laporan awal skripsinya.


Bagas segera merogoh saku jas almamaternya. Dia mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Kyara dan menyampaikan kabar gembira ini. Namun kembali, Bagas harus menelan kekecewaan saat nomor Kyara tidak bisa dihubungi. Entah kenapa, tiba-tiba saja hal itu membuat Bagas tidak bersemangat. Dia pun tidak menghiraukan ucapan selamat dari rekan-rekan satu fakultasnya.


"Hai Bagas ! Selamat ya...! Bentar lagi, jadi sarjana nih..!" goda Laura.


"Ish.. ! Udah jadi sarjana kali, cuman tinggal nunggu wisuda doang !" Mita ikut menimpali.


Namum Bagas tidak menghiraukan ucapan mereka. Pandangannya masih tetap kosong menatap ponselnya.


Mita menyenggol bahu Andin. "Sobat loh kenapa, Ndin ? Kok bengong ?" tanya Mita.


Andin menggedikkan bahunya. Dia kemudian menghampiri Bagas yang sedang duduk di kursi depan kelasnya.


"Are you okay, Gas ?" tanya Andin seraya menepuk pelan bahu Bagas.


Bagas terkejut, ponselnya hampir jatuh karena keterkejutannya.


"Ya, kenapa Ndin ?" tanyanya.


"Ish..! Kamu lagi ngelamun ya ? Lamunin apa sih ?" Andin balik bertanya.


"Sotoy...! Si... siapa...yang...nge.. ngelamun ?" jawab Bagas terbata-bata.


"Itu, buktinya kamu gagap.. !" Andin tak mau menyerah dengan argumennya.


"Ah, udahlah ! Ngapain kalian ke kelas gue ?" tanya Bagas sinis.


"Ih jahat banget sih lo Gas ! Kita kan cuma mau ngucapin selamat atas keberhasilan sidang lo !" jawab Laura.


"Oh, thanks ya..!"


"Traktir dong Gas ! Lo nggak mau ngerayain keberhasilan lo sama kita-kita !" ujar Andin.


Bagas tersenyum, "Ya udah, gue traktir baso mang Iding deh.. ! Tapi jangan lebih dari ceban ya..!" pinta Bagas.


"Ah dasar pelit...!" teriak para cewek.


Bagas hanya tersenyum mendengar protes mereka.


"Udah, kalian duluan aja ! Entar gue nyusul !"


"Ok...!"

__ADS_1


Baru saja setengah jalan, tiba-tiba Andin menghentikan langkahnya.


"Girls...! lo pada duluan, ya...!" ujar Andin


"Lo mau kemana, Ndin ?" tanya Mita.


"Gue ada urusan dulu, bentar !" jawab Andin seraya kembali ke kelasnya Bagas.


Tiba di kelas, Andin mendapati Bagas yang masih asyik kembali melamun sambil menatap ponselnya.


"Lo kenapa sih Gas ? Dari tadi gue perhatiin, lo kayak nggak fokus gitu !" tanya Andin.


Bagas menunjukkan ponselnya.


"Kyara ?" gumam Andin membaca id name di ponsel Bagas.


"Ada apa dengan Kyara, Gas ?" Andin semakin penasaran.


"Dia sama sekali nggak bisa dihubungi, Ndin !" jawab Bagas semakin tidak bersemangat.


"Apa...! Sejak tempo hari, lo masih belum bisa hubungi dia ?" tanya Andin.


Bagas mengangguk. "Sepertinya, dia benar-benar melakukan semua ucapannya dulu !" gumam Bagas pelan, namun masih bisa terdengar oleh Andin.


"Apa maksud kamu, Gas ?" tanya Andin heran.


Bagas terhenyak, menyadari kesalahannya berbicara.


Bagas hendak berdiri, namun Andin mencekal lengannya.


"Katakan padaku, Gas ! Apa maksud ucapanmu ? Dan apa yang terjadi pada Kyara ?"


Bagas menghela napasnya, dia pun kembali duduk. Bagas mulai bercerita tentang kejadian yang membuat putusnya pertunangan Kyara dengan Ajay.


Andin mengepalkan tangannya. Merasa geram mendengar cerita Bagas tentang kelakuan Cecilia.


"Jadi seperti itu ! Pantas saja jika Kyara bisa langsung melepaskan Ajay, ternyata cewek licik itu menggunakan anaknya sebagai alat..! Heh..., rasanya pengen gue bejek-bejek tuh, cewek munafik..!" ujar Andin geram. "Terus...??"


"Mungkin, saat ini Kyara marah sama gue, Ndin. Makanya dia blokir nomor gue !"


"Gue nggak ngerti, kenapa dia harus marah sama lo ? Punya alasan apa sampai dia marah sama lo ? Udah jelas-jelas, putusnya hubungan mereka kan gara-gara Cecilia !"


"Gue meminta dia untuk menikah sama gue !"


"What...!!"


Saking kagetnya, Andin berteriak sambil berdiri.


Bagas langsung menarik tangan Andin.


"Ssttt..., jangan kenceng-kenceng ! Lo nggak sadar, kita jadi pusat perhatian orang !" ujar Bagas pelan.


"Ups..! Sorry Gas, gue cuman kaget aja lo punya keberanian nembak Kyara kayak gitu. Secara gitu, lo kan nggak pernah deket ma cewek. Sekalinya ada cewek yang deketin lo, eh lo malah selalu ngehindar. Emang lo punya motif apa ngajak dia nikah ? Lo cinta ma dia ?" tanya Andin penuh selidik.

__ADS_1


Bagas hanya menggedikkan bahunya.


"Ish, lo ini ! Terus, Kyara jawab apa ?"


"Kyara nolak gue !" ujar Bagas lesu.


"Kenapa ?"


Bagas menyandarkan punggungnya.


"Dia bilang, dia tidak butuh rasa kasihan dari gue."


Andin melongo. "Jadi, lo nembak Kyara karena lo ngerasa kasihan ? Gila lo, Gas !"


"Gue nggak tahu Ndin ! Lo tahu gue nggak pernah dekat sama cewek, jadi gue nggak tahu apa gue mencintainya atau enggak ! Satu-satunya yang gue tahu, gue nggak mau melihat Kyara menangis lagi. Lo tahu Ndin, hati gue sakit melihat air matanya jatuh di pipinya. Apalagi, setelah gue tahu semua penderitaannya, gue benar-benar ingin menjaganya. Tatapan sendunya mengiris perasaan gue, sakit Ndin, rasanya benar-benar sakit. Tapi saat dia tersenyum, rasanya perasaan gue senang. Lo tahu saat Kyara nginep di bengkel selama dua hari ?" tanya Bagas.


Andin mengangguk tanda dia mengingatnya.


Bagas kembali bercerita.


"Saat itu, gue benar-benar senang banget, Ndin. Gue bisa melihat senyumnya. Dan entah kenapa gue berharap jika gue akan selalu melihat senyum itu saat gue bangun tidur. Senyum yang membuat gue merasa bersemangat untuk melewati semua aktivitas gue."


Bagas kembali tersenyum membayangkan hangatnya senyuman Kyara.


"Terus apa yang lo rasakan saat Kyara menolak lamaran lo ?" tanya Andin membuyarkan lamunan Bagas.


Seketika senyum di wajah Bagas sirna saat Andin mengingatkannya akan penolakan Kyara.


"Kecewa.. ! Entah kenapa, gue ngerasa kecewa saat Kyara mengatakan kalau gue hanya merasa iba padanya. Terlebih lagi saat dia memutuskan untuk melupakan semua kenangan gue bersamanya, rasanya dada gue sesak banget mendengar keputusan Kyara." jawab Bagas, tampak kesedihan di raut wajahnya.


"Dan sekarang ?" tanya Andin lagi.


"Entahlah...! Tapi gue merindukannya, gue merindukan kebersamaan yang pernah gue lewati bersamanya. Lo tahu Ndin, bukan hal yang mudah melupakan setiap peristiwa yang pernah gue lewati bersamanya. Gue pernah melihat dia dalam keadaan yang sangat terpuruk, dan gue juga pernah melihat dia bangkit tegar demi membahagiakan orang tuanya. Gue benar-benar kagum akan tulusnya perasaan dia, meskipun berkali-kali, pria brengsek itu menyakitinya. Dan sekarang, gue ngerasa sakit ketika dia nolak gue untuk menemaninya melewati semua lukanya. Semuanya masih tampak jelas di mata gue, Ndin. Senyumnya, tangisnya, tawanya...., aahh.. gue benar-benar merindukan waktu itu, Ndin..." ujar Bagas seraya tersenyum simpul saat melihat bayangan Kyara melintas di benaknya.


"Kau mencintainya, Gas !" seru Andin.


Bagas terkejut, "Ma... maksud, lo ?"


"Itu artinya, kau mencintainya...! Tanpa kau sadari, kau telah sangat mencintainya ? Apa kau pernah merasa jantungmu berdebar saat kau berhadapan dengannya ? Apa kau pernah merasakan darahmu berdesir saat kau bersentuhan dengannya ? Apa kau pernah menginginkan waktu berhenti saat kau menatap matanya ?" tanya Andin penuh selidik.


Perlahan namun pasti, Bagas menganggukkan kepalanya. Ya..., dia memang pernah merasakan semua hal yang ditanyakan Andin barusan.


Andin tersenyum...


"Kau mencintainya, Gas...! Kau sangat mencintainya...!"


Bagas hanya diam dengan perasaannya yang kacau. Mencoba mencerna apa yang dikatakan Andin.


Aku mencintainya ? Benarkah aku mencintainya ? Ah Kyara...., aku...aku mencintaimu..., Benarkah itu..??


Bersambung...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2