
Setelah melewati beberapa jam perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka tiba di tempat pariwisata pantai Pangandaran. Sebuah pantai yang sangat indah yang terletak di kabupaten Pangandaran.
Memasuki kawasan itu, mereka disambut dengan semilir angin pantai yang mulai terasa kencang. Karena waktu memang sudah menunjukkan pukul 15.50.
Tiba di hotel yang telah mereka pesan, Bagas segera membuka jendela kamar hotelnya. Netranya menangkap sosok gadis yang berambut sebahu berwarna kecoklatan Dilihat dari belakang, postur tubuhnya terlihat mirip Kyara. Tapi melihat bentuk rambutnya yang pendek, Bagas pun menggelengkan kepalanya.
Tidak mungkin dia Kyara...! Dia memiliki rambut yang panjang dan bergelombang, sedangkan rambut wanita itu pendek, meskipun warna rambutnya sama.
"Lihat apa sih, bang ?"
Tiba-tiba Wawan telah berdiri di sampingnya.
"Tidak...! Abang cuma lihat pemandangan luar aja...! Cuacanya bagus ya Wan ?" ujar Bagas seraya mengalihkan pandangannya dari gadis yang sedang memegang kotak dagangannya.
"Iya...! Abis salat ashar, kita main ke pantai yuk bang ! Kita lihat sunset !" ajak Wawan.
"Kamu aja deh...! Abang malas, capek ! Abang mau istirahat di kamar saja." jawab Bagas.
"Ish...! Abang nggak asyik.. !" gerutu Wawan seraya pergi ke dekat lemari untuk menyimpan pakaiannya di lemari.
***
Di kota B.
"Pulang ya, Bim ! Papih kesepian tanpa kamu, nak !"
Tuan Ali kini sedang berada di rumah ibu sambungnya untuk membujuk putra bungsunya, pulang.
Bima hanya diam, sibuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya tanpa mau mendengarkan omongan tuan Ali.
"Bim, papih mohon ! Papih akui papih salah, dan papih minta maaf ! Kamu mau pulang ya, nak !"
Tuan Ali masih berusaha membujuk putranya.
Gila...! Kenapa harus minta maaf ke gue, bukan ke kakak Kyara ? Ah..., mau sampai kapan mereka bertahan dengan egonya sendiri...?
Bima segera membereskan buku-bukunya. Karena merasa kesal terhadap sikap papihnya yang keras kepala dan tidak mau berusaha untuk mencari Kyara, akhirnya Bima pun pergi ke kamarnya. Dia meninggalkan tuan Ali tanpa mau berbicara dengannya.
"Bima...!"
Tuan Ali berteriak, tapi Bima tidak ingin mendengarnya. Dia tetap melangkahkan kakinya menuju tangga.
Akhirnya tuan Ali mengusap kasar rambutnya dan menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.
Harus dengan cara apalagi aku membujuknya, ya Allah...?
"Sudahlah nak Ali, biarkan Bima tinggal di sini ! Toh ini juga rumah eyangnya !"
Nyonya Aini datang seraya memegang nampan yang berisikan secangkir teh jahe hangat kesukaan putranya.
"Ini, minumlah dulu !" ujar nyonya Aini, menyodorkan cangkir tersebut.
Tuan Ali menerima teh jahenya, dia kemudian menyeruput teh tersebut. Dia kembali menyandarkan punggungnya seraya memejamkan matanya sebentar, untuk merasai kehangatan teh di perutnya. Pikiran tuan Ali selalu merasa nyaman setelah mereguk teh jahe buatan ibunya.
__ADS_1
Kembali tuan Ali membuka matanya.
"Ali takut dia hanya akan merepotkan ibu saja !"
"Ish, kamu ini ! Bima itu cucu ibu juga, mana mungkin ibu merasa direpotkan dengan kehadirannya. Justru ibu merasa senang Bima tinggal di sini. Dia selalu menemani ibu. Sejak kepergian ayahmu, ibu sangat kesepian nak ! Ibu tidak bisa menghilangkan kenangan beliau, karena itu ibu selalu menyendiri di kamar. Ibu merasa, dengan mengunci diri di kamar, ibu bisa merasakan kehadiran ayahmu. Tapi, sekarang semuanya berbeda. Kehadiran Bima membuat ibu memiliki semangat lagi untuk belajar menjalani hidup tanpa ayahmu. Kehadiran putramu yang periang itu, membuat ibu merasa dibutuhkan kembali, nak ! Jadi, biarkanlah Bima tinggal di sini. Toh, nanti jika kemarahannya sudah reda, ibu pasti akan mengajaknya mengunjungi kalian."
Kali ini, nyonya Aini yang membujuk tuan Ali.
Tuan Ali pun mengangguk, mengiyakan permintaan ibu sambungnya. Memang tidak ada salahnya membiarkan puteranya tinggal di sini, Toh ini juga rumah kakek dan neneknya. Tuan Ali menghela napasnya.
"Iya bu ! Kalau begitu, Ali pulang dulu, bu ! Ini sudah hampir magrib. Titip salam buat Bima !"
"Iya, nanti ibu sampaikan. Hati-hati di jalan ya, nak !"
Tuan Ali mengangguk. Dia pun segera berdiri dan mencium punggung tangan kanan ibunya. Setelah mengucap salam, dia pun pergi.
***
Keesokan harinya, di pantai Pangandaran.
Setelah melakukan sarapan, Bagas dan kedua adik angkatnya sedang asyik bermain Banana boat di pantai timur Pangandaran. Sedangkan kak Indah bersama suami dan anaknya hanya berjalan-jalan di tepi pantai menikmati sejuknya udara pantai di pagi hari.
"Ya Khumaira...! Kita istirahat dulu sebentar, ya !" pinta Gunawan yang merasa kelelahan karena telah berjalan jauh.
"Ah, mas Gun...! Ayo, lanjut..!" rengek kak Indah, manja.
"Beneran Khumaira, mas mu ini sangat kelelahan sekali, karena harus berjalan sambil menggendong Arum."
"Ih, mas lebay banget deh...! Lagian aku kan udah bilang, bawa stroller baby aja, biar mas gak pegel gendong Arum. Kalau pakai stroller baby kan enak, tinggal didorong doang !"
"Haissh.. , kamu ini ya Khumaira...! Mana bisa stroller baby digunakan di jalanan berpasir seperti ini !"
"Bisa...!"
"Iya, tapi lama...! Sama aja bohong !"
"Ya tapi kan, setidaknya mas nggak harus keberatan menggendong Arum !"
"Permisi...! Assalamualaikum...!"
Di tengah-tengah perdebatan mereka, tiba-tiba ada seorang gadis cantik yang mengucap salam. Serentak kak Indah dan suaminya menoleh.
"Waalaikumsalam...! Eh, ada apa ya ?" tanya kak Indah.
Gadis itu tampak cantik dan berenegik dengan gaya rambutnya yang pendek sebahu. Senyumnya memancarkan kehangatan. Entah kenapa, tiba-tiba saja kak Indah merasa tertarik dengan aura yang terpancar dari wajah gadis yang putih bersih itu.
"Maaf nyonya, saya mau menawarkan manik-manik hasil kreasi warga di sini. Barangkali nyonya berminat !"
Oh, ternyata gadis berambut pendek itu, seorang penjual manik-manik. Netra kak Indah langsung terpana begitu melihat kotak asongan yang sedang dipegang oleh gadis itu. Banyak sekali perhiasan hasil kerajinan tangan dari daerah pantai Pangandaran ini.
"Wah..., cantik-cantik sekali ya, mas ?" ujar kak Indah sambil menatap penuh misteri kepada suaminya.
Gunawan yang sudah memahami arti tatapan istrinya, hanya bisa tersenyum pasrah.
__ADS_1
"Khumaira suka ?"
Kak Indah mengangguk-anggukan kepalanya sambil matanya tak pernah lepas dari barang dagangan gadis itu.
"Pilihlah, yang mana yang Khumaira suka !" perintah suaminya.
Kak Indah mengajak gadis itu duduk di atas pasir. Setelah kotak asongannya diletakkan di atas pasir, kak Indah pun mulai memilih dan memilah perhiasan manik-manik yang cocok untuk dirinya.
"Na... na.. na...na...!"
Tiba-tiba tangan Arum yang sedang duduk di gendongan ayahnya, meraih kotak asongan gadis itu.
"Ah..., Arum mau juga beli perhiasan manik-manik ini ya ?" tanya Gunawan.
"Mba...na..na..na...!" celoteh Arum.
Gadis itu tersenyum melihat baby Arumi yang memiliki pipi chubby.
"Boleh saya menggendongnya, tuan ?" pinta gadis itu.
Sejenak Gunawan melihat ke arah istrinya. Kak Indah pun mengangguk tanda menyetujui permintaan gadis itu. Gunawan segera menyerahkan Arumi kepada gadis itu.
"Hallo cantik...! Siapa namanya ?"
"Na...na...na...!"
"He..he..., kamu lucu sekali sih...! Bikin gemes.., mmuaahh...mmuaah...!!"
Gadis itu benar-benar terpesona melihat Arumi yang menggemaskan. Dia pun mulai menciumi pipi Arumi yang tembem. Membuat baby Arum tergelak senang mendapat perlakuan dari gadis tersebut.
Tiba-tiba tangan baby Arum kembali mencoba menggapai kotak asongan itu.
'Oh, dedek mau perhiasan ya...? Sini, biar ateu pilihkan buat dedek ya...?"
Sambil menggendong baby Arum, tangan gadis itu pun sibuk memilih perhiasan untuk anak. Dia meraih satu set perhiasan manik-manik yang berwarna-warni. Kemudian menyerahkannya kepada baby Arum.
Sinar mata bocah kecil yang berusia 5 bulan itu terlihat gembira, dan mulai memainkan set perhiasan manik-manik yang sedang dipegangnya.
"Uduh..., uduh...! Putra Abi kelihatan senang banget ya..! Mau dipakai nak, perhiasannya ?" ujar Gunawan seraya mengambil perhiasan itu dari tangan anaknya.
"Na...na...na...!"
"Iya, sabar ya sayang...! Abi bukain dulu perhiasannya !"
Gunawan segera membuka bungkus plastik perhiasannya, dan mulai memakaikan kalung di leher putrinya. Baby Arum kembali tergelak karena merasa geli saat ayahnya menyentuh tengkuknya untuk mengaitkan kalung tersebut.
Setelah beberapa menit merasa kesusahan, akhirnya kalung itu berhasil dipasang di leher putrinya. Gunawan pun beralih mengambil gelangnya dan berhasil memasangkannya di pergelangan tangan putrinya. Namun saat dia hendak memasangkan cincinnya,
"Jangan dipasang, tuan...!!"
Bersambung...
Mohon maaf jika author telat up...!
__ADS_1
Semoga masih suka ceritanya...
Terima kasih untuk like, vote n komennya 🙏🤗