Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Sebuah Penyesalan


__ADS_3

"Sayangnya..., aku tidak bisa, An..!!" tolak Cecilia, tegas.


Andin terkejut bukan main mendapat penolakan Cecilia yang dingin. Dia kemudian bangkit dan memegang kedua bahu Cecilia.


"A... apa maksud kamu ?" tanya Andin dengan tangan yang bergetar.


Cecilia menepiskan tangan Andin, dia kemudian menghampiri Ajay, memegang tangannya dan menatapnya dengan sendu.


"Aku mohon, jangan tinggalkan aku..!" ujarnya lirih seraya menggelengkan kepalanya.


Ajay diam terpaku. Dia mencintai Andin, namun dia juga tidak bisa mengabaikan tatapan sendu Cecilia. Dia senang menikmati waktu bersama Andin yang selalu penuh gairah dan keceriaan. Tapi bersama Cecilia, Ajay merasa menjadi orang yang sangat dibutuhkan. Ajay dilema jadinya.


Andin menghampiri Ajay dan Cecilia.


"Jangan coba kau pengaruhi dia, Li..!" seru Andin yang mengerti akan kediaman Ajay.


Andin sangat mengenal sifat Ajay. Ketika dia diam, itu artinya, dia sedang berada dalam satu titik di mana dia tidak mampu untuk mengambil keputusan.


Cecilia masih tetap menatap Ajay dengan tatapan yang mengharapkan belas kasihan.


"Cukup Li...! Aku bilang, jangan kau pengaruhi dia dengan tatapan lugumu...!!" teriak Andin seraya menepis tangan Cecilia dari tangannya Ajay.


"Aku tidak mempengaruhinya !" bantah Cecilia. "Tapi aku tidak bisa melepaskannya, aku tidak mau anakku tumbuh tanpa ayahnya !"


Semuanya terhenyak kaget mendengar perkataan Cecilia. Wajah Andin memerah menandakan jika amarahnya telah memuncak. Dia kemudian menarik tangan Cecilia sehingga mereka saling berhadapan.


"Apa maksudmu..?"


Andin menatap tajam ke dalam mata Cecilia. Berharap bisa menemukan kebohongan di mata itu. Namun Cecilia balas menatap netra Andin dengan tatapan yang sangat menusuknya.


"Aku hamil. Dan aku tidak mau anakku terlahir tanpa ayahnya !"


Plakk...


Untuk yang kedua kalinya, Andin menampar Cecilia. Kali ini, tamparannya sangat keras, sehingga membuat Cecilia jatuh tersungkur.


"Andiin...!!" teriak Ajay sambil mendekati Cecilia dan membantunya untuk berdiri.


Melihat perlakuan Ajay terhadap Cecilia, membuat Andin gelap mata.


"Dasar wanita tidak tahu diri, gugurkan anak itu !" teriak Andin.


Laura, Mita dan Ajay benar-benar merasa kaget mendengar ucapan Andin.


Bagaimana mungkin Andin mempunyai pikiran sejahat itu...?? ucap Laura dalam hatinya.


Andin benar-benar sudah gila..!! batin Mita.


Kyara...! Apa semuanya akan terulang lagi seperti Kyara..? Ya Tuhan..., aku sudah dihantui perasaan bersalah saat berhasil menggugurkan kandungan Kyara, aku tidak bisa berbuat dosa seperti itu lagi...!! batin Ajay.


Cecilia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak...! Aku tidak akan membunuh anakku...!" teriak Cecilia.


"Gugurkan...!! Atau aku yang akan membuatmu keguguran..!!" Andin tak kalah berteriak lebih keras.


Cecilia mundur seraya memegangi perutnya. Andin semakin menggila melihat pergerakan Cecilia yang mencoba melindungi perutnya. Dia kemudian menerjang Cecilia, kembali memukulnya menggunakan tas nya. Kali ini, sasaran Andin adalah perut Cecilia.


Bugh...


Bugh...


Dua kali, tas itu menghantam perut Cecilia.


"Aww...!"


Cecilia berteriak histeris sambil terus memegangi perutnya. Namun, karena dia hanya berbalutkan selimut, dia pun tampak kesulitan untuk melangkah menghindari amukan Andin.


Ajay yang melihat pergulatan mereka, segera berlari menangkap Andin dari belakang. Dia mencoba menghentikan pergerakan Andin agar tidak melukai Cecilia dan janinnya.


"Mita..., Laura...! Aku mohon, tolong bawa Cecilia pergi...!" perintah Ajay kepada kedua sahabat Andin.


Mita dan Laura saling pandang. Mereka tidak ingin mengkhianati Andin, namun ketika mereka melihat ada darah yang mengalir di betis Cecilia, naluri kemanusiaannya pun muncul. Mereka segera menghampiri Cecilia dan memapahnya untuk keluar kamar. Sementara Ajay masih tetap memeluk Andin dengan erat, mencoba menghalau pergerakan Andin.


"Lepaskan aku...! Lepaskan, bajingan...! Aku akan membunuhnya...!"


Andin terus meronta. Tangan dan kakinya terus bergerak berusaha menggapai Cecilia yang sedang berjalan tertatih-tatih. Ajay hampir kewalahan melawan tenaga Andin yang seolah kerasukan setan. Namun pada akhirnya, Mita dan Laura berhasil membawa Cecilia pergi untuk dibawanya ke rumah sakit.


Di sepanjang jalan, berpasang-pasang mata menatap heran kepada Cecilia yang hanya berbalutkan selimut.


"Seseorang....! Tolong kami...! Cepat panggilkan ambulans...!"teriak Laura.


"Apa kau punya baju ganti ?" tanya Mita kepada salah seorang resepsionis.


Resepsionis yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ish..., gimana ini Ra...? Masak kita bawa dia ke rumah sakit hanya memakai selimut saja..!" gerutu Mita.


"Permisi, nona..! Jika nona berkenan, saya punya baju ganti di loker saya." ujar salah seorang OG menghampiri mereka.


Mita dan Laura tampak berpikir sesaat.


Masak dia harus memakai pakaian OG...? Tapi, tak apalah..., daripada dia pergi ke rumah sakit dalam keadaan telanjang bulat ! batin Laura seraya melirik ke arah Mita


Ish..., menyusahkan saja...! gerutu Mita dalam hatinya.


"Bagaimana nona ?" kembali OG itu bertanya.


"Baiklah, di mana lokermu ?" tanya Laura.


"Mari ikut saya !" ajak OG tersebut.


Dengan bersusah payah memapah Cecilia yang semakin terlihat pucat, Mita dan Laura pun mengikuti OG itu menuju loker untuk mengganti pakaian Cecilia.

__ADS_1


Sementara itu, di kamar hotel, Ajay menghempaskan tubuh Andin ke atas ranjang.


"Kau gila, Andin..!!" teriaknya. "Apa yang kau lakukan, bisa saja membuat dia kehilangan anaknya..!" kembali Ajay membentak Andin.


"Lalu apa pedulimu ?" teriak Andin. "Bukankah kau juga pernah membunuh anaknya Kyara ?!"


Ajay terdiam. Bayangan Kyara yang menatap tajam penuh kebencian setelah Ajay memaksanya meminum ramuan itu, kini melintas di benaknya. Ajay mulai kehilangan keseimbangannya, seketika tubuhnya ambruk ke lantai. Sebuah penyesalan, kembali menyeruak di hatinya.


"Anakku...! Anakku...!" gumamnya lirih.


Andin terpana melihat pemandangan di hadapannya. Sosok Ajay yang sombong dan penuh keegoisan, tiba-tiba menghilang begitu saja. Andin mulai mendekati Ajay.


"Aku mohon, jangan tinggalkan aku !" ujar Andin lirih seraya menangkup wajah Ajay dengan kedua tangannya.


Sayangnya, kebrutalan Andin yang dilihatnya tadi, membuat Ajay mulai membencinya.


"Kau...!! Kau ingin membunuh anakku, dan kau juga yang dulu telah memberikan ide gila agar aku menghilangkan nyawa anakku dengan Kya. Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan orang kejam sepertimu !" jawab Ajay, sinis.


Plakk...!


Andin menampar kekasihnya. Bagaimana bisa Ajay hanya menyalahkan Andin seorang diri atas perbuatan kejinya terhadap Kyara.


Ajay meraba pipinya yang terasa panas. Tiba-tiba, pandangannya terkunci pada sesuatu di lantai.


"Darah...!" gumamnya saat dia melihat ceceran darah di atas lantai.


"Kyara...!! Kya..., aku mohon bertahanlah...!!"


Ajay sudah tidak bisa berpikir jernih. Rasa penyesalannya telah menutupi akal sehatnya. Terlebih lagi saat dia teringat akan perkataan Bagas yang menyebutkan jika Kyara mengalami keguguran. Yang ada dalam otaknya hanyalah Kyara. Ajay segera memakai pakaiannya. Dia mengambil kunci mobil di atas nakas, kemudian berlari keluar.


"Aku mohon, bertahanlah Kya..! Aku akan menyelamatkanmu..! Aku..., aku tidak akan membiarkan anak kita pergi..! Bertahanlah Kya...! Bertahanlah sayang.., aku mencintaimu...! Bertahanlah...!"


Sepanjang memakai pakaiannya, Ajay terus meracau menyebutkan nama Kyara, hingga dia menghilang di balik pintu.


Andin terpaku menatap sikapnya Ajay. Apa ini artinya, dia masih mencintai gadis itu..? batin Andin.


Racauan Ajay membuat Andin menyadari, jika dirinya ataupun Cecilia, sama sekali tidak pernah tinggal di hati Ajay.


Andin menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Dia mulai menangis dalam diam, merutuki nasibnya yang tak pernah bisa menetap dalam hatinya Ajay.


Kenapa..? Kenapa kamu bisa sebesar itu mencintainya ? Kenapa kamu tidak pernah melihatku ? Dan jika memang benar kamu mencintainya, kenapa kamu tidak berusaha untuk mendapatkannya kembali ? Padahal kamu tahu persis jika gadis itu masih mencintaimu. Kenapa kamu malah bermain api dengan Cecilia ? Kenapa kamu malah terjebak dalam situasi ini ? Jika penyesalanmu sangatlah dalam, kenapa kamu tidak memohon ampun pada gadis itu ? Apa kamu tahu, karena egomu, kamu telah menyakiti 3 orang gadis sekaligus ? Kenapa Ajay ? Aku pikir, kau mencintaiku, hingga aku tega mengesampingkan naluri perempuanku dan berbuat kejam untuk terlibat dalam menyingkirkan Kyara dan anaknya. Tapi ternyata, aku salah..., aku teramat bersalah..! Kau mencintainya, masih sangat mencintainya...! Kau benar-benar egois Ajay..! Aku membencimu..! Aku sangat membencimu....? rutuk Andin dalam hati seraya mengepalkan tangannya.


Kali ini, Andin benar-benar merasa hancur. Bayangan Kyara yang sedang terluka di danau Tirta karena melihat sikap Ajay yang sedang memeluknya, membuat Andin merasa iba. Dia benar-benar telah berbuat kejam pada gadis itu.


Bagaimana mungkin aku bisa menyakiti seorang perempuan, padahal aku sendiri seorang perempuan, batin Andin. Dia menyesali semua perbuatannya terhadap kyara. "Sekarang, aku tahu sakitnya dikhianati, apa kau akan memaafkanku, Kya ?" gumam Andin, lirih.


Andin mendongakkan wajahnya, menahan agar air matanya tidak terus mengalir di pipinya. Tekadnya sudah bulat, dia harus mengembalikan cinta itu kepada pemiliknya....


Bersambung...


Selamat berbuka puasa.

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya


🙏🙏🙏🙏


__ADS_2