Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Kekacauan Ajay


__ADS_3

Assalamualaikum readers....


Jumpa lagi yaaa....semoga masih setia mengikuti ceritanya...


Mohon maaf atas keterlambatan up....


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Duarr...!!" bagaikan petir di siang bolong, ancaman Aaron membuat Ajay sangat kaget. Kyara dan anaknya...? Apa itu artinya Kyara hamil..? batin Ajay.


Masih dengan menahan rasa perih, Ajay berdiri. Dengan tertatih-tatih dia melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Tiba di kamar mandi, Ajay membasuh mukanya yang penuh luka lebam dengan perlahan. "Shit..!! Entah kerasukan setan mana, sampai Aaron mukulin gue kayak gini. Aarrrhh...brengsek..!!" Ajay memukul dinding kamar mandi hingga tangannya terlihat memerah.


Dia membuka pakaiannya yang terkena darah, kemudian membersihkan luka-lukanya. Setelah merasa cukup bersih, Ajay kembali ke kamarnya. Dia membuka lemari dan segera memakai pakaiannya. Ajay merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia memejamkan matanya. Bayangan wajah cantik Kyara melintas di benaknya. Ya...! Sekarang Ajay ingat, Ajay tidak pernah menggunakan pengaman jika berhubungan intim dengan Kyara. Entahlah.... baginya, tubuh Kyara seolah menjadi candu yang membuat Ajay lupa akan segalanya.


Kyara Hamil..!! Ajay yakin itu anaknya. Ajay sangat mengenal Kyara. Pesona Kyara sangat berbeda dengan gadis-gadis yang pernah ditidurinya. Terlebih lagi, ternyata Ajaylah yang menjadi laki-laki pertama yang mengecap manisnya keperawanan Kyara. "Aarhhh...bodoh...bodoh... bodoh..., kenapa gue bisa lupa sama alat pengaman... aarrrhh...!!" Ajay menjambak rambutnya. Kepalanya terasa sakit mendengar omongan Aaron. Terlebih lagi, luka-luka yang ada di wajahnya semakin terasa perih.


Tangan Ajay meraih telpon yang berada di atas nakas. Dia menekan nomor yang menghubungkannya ke ruang makan.


"Ya, den....??" terdengar suara bik Nah.


"Bik, tolong ambilkan es batu sama kain kompresnya !" pinta Ajay


"Baik den..." jawab bik Nah.


Ajay meletakkan gagang telpon dan kembali merebahkan tubuhnya.


Bik Nah mengambil butiran es batu dari dalam kulkas, memasukkannya ke wadah yang cukup besar. Kemudian dia mengambil handuk kecil dari lemari handuk, lalu segera membawanya ke atas.


Di ruang tengah, dia berpapasan dengan nyonya Diana, ibunda Ajay.


"Nah... apa itu...?" tanya nyonya Diana.


"Oh, ini nyonya...den Ajay minta diantarkan es batu dan kain kompres ke kamarnya.." jawab bik Nah.

__ADS_1


Nyonya Diana mengernyitkan dahinya. Ada apa dengan anak itu... "Biar saya saja yang antar Nah...!" lanjut nyonya Diana.


"Eh iya...baik nyonya"


"Tok... tok...tok.." nyonya Diana mengetuk pintu kamar Ajay.


"Masuk...!!" perintah Ajay.


"Klek." pintu kamar terbuka. Betapa terkejutnya nyonya Diana melihat wajah Ajay yang penuh luka lebam. "Ya ampun....sayang, kenapa wajah kamu...?" nyonya Diana menghampiri Ajay, memeriksa luka-luka Ajay.


"Ish, mih....sakit...!" ujar Ajay meringis saat nyonya Diana memegang sudut bibir Ajay yang terluka.


"Kamu berkelahi...? Kok sampai bonyok-bonyok gini sih...?" tanya nyonya Diana yang mulai mengompres luka-luka di wajah Ajay.


"Biasa mih....anak laki...." jawab Ajay, mencoba menutupi keadaannya agar ibunya tidak merasa khawatir.


Fuhh... untung saja tadi gue ganti baju, coba kalau nggak, bisa pingsan mamih lihat keadaan gue tadi...huh...


"Kamu itu ya...! Sudah dewasa seperti ini, tapi masih terus berkelahi. Memang rebutan apa...? Cewek...?" tanya nyonya Diana.


"Huh... dasar...!" kata nyonya Diana sambil menekan rahang Ajay yang sedikit bengkak.


"Aww...mih...sakit..!!" Ajay kembali meringis. "Mih...kalau Ajay punya anak, gimana..?" tanya Ajay memancing pembicaraan untuk melihat reaksi mamihnya.


"No...!! Mamih belum mau punya cucu...! Lagian, kamu kan masih muda Jay, memang kamu sudah pengen nikah...? Atau.... jangan-jangan Andin hamil...? Ish kamu ini Jay... kenapa nggak pakai pengaman sih..!! Aduh.... gimana ini...? Sudah berapa bulan usia kehamilannya...? Kalau masih kecil, suruh gugurin aja deh....! Duh...mamih nggak kebayang ya kalau sekarang harus gendong cucu. Kalian masih pada kuliah, entar malah mamih yang disuruh buat jagain anak kalian.... Ish, Jay....kamu benar-benar ceroboh banget sih...!" nyonya Diana terus berkata tanpa henti, malah membuat kepala Ajay yang sakit, bertambah sakit.


"Aih....mamih apaan sih...? Pusing tahu, nyerocos terus... Sini, biar Ajay saja yang ngompres, mamih keluar deh...!" seru Ajay, merebut kain kompres dari tangan nyonya Diana kemudian mendorong nyonya Diana perlahan agar keluar dari kamarnya.


"Tapi Andin....? Anak...?" tanya nyonya Diana.


"Andin nggak apa-apa, dia nggak hamil...!" jawab Ajay


"Ah syukurlah.... Ya sudah, urus tuh wajah kamu yang pada bonyok itu ! Kacau banget kamu hari ini. Mamih nggak suka lihatnya, masak iya anak mamih jadi hilang ketampanannya...!!" ujar nyonya Diana.


"Iya...iya..." Ajay menutup pintu kamarnya. Dia kembali duduk di atas ranjangnya, sejenak kemudian dia bangkit dan berdiri di depan cermin. Ah... memang dia benar-benar terlihat kacau, bukan hanya wajahnya, hati dan isi kepalanya pun sangat kacau.

__ADS_1


*H*amil...!! Oh God... gue nggak bisa bayangin harus jadi bokap di usia gue sekarang. Tapi kenapa Kyara nggak pernah cerita tentang kehamilannya ? Apa rencana dia...? Apa dia akan nunggu perutnya buncit dulu, lalu datang ke rumah gue untuk minta tanggungjawab, biar orang rumah pada percaya ? Oh no...! Gue nggak boleh biarin itu terjadi. Jangan sampai keluarga tahu, apalagi eyang akung... bisa-bisa gue dicoret dari daftar hak waris eyang. Enak aja, ini nggak boleh terjadi, gue kan cucu pertama, cowok lagi.... aarrrhh...ayo Jay...mikir...


Seminggu sejak tragedi pemukulan yang menimpanya, Ajay benar-benar terlihat sangat kacau. Dia sering melamun, marah-marah tanpa alasan, terkadang mengurung diri di kamarnya. Kedatangan kekasihnya pun tak dihiraukannya.


"Ajay kenapa sih tan...?" tanya Andin.


"Entahlah....tante sendiri tidak tahu. Sudah, biarkan saja...! Nanti juga sembuh sendiri..." kata nyonya Diana terlihat cuek.


"Ya sudah, Andin pamit dulu ya tan...?"


"Iya, hati-hati sayang....!"


Selang beberapa menit setelah Andin pamit, Ajay terlihat sedang menuruni tangga. Dia sudah tampak rapi memakai jaketnya. "Siapa yang datang mih ?" tanyanya.


"Andin.." jawab nyonya Diana. "Kamu mau kemana, tumben rapi banget...!"


"Clubing dulu mih..."


"Sama Andin..?"


"No...!"


"Terus....?" tanya nyonya Diana merasa heran.


"Lagi pengen sendiri..." jawab Ajay meninggalkan mamihnya.


"Jay....are you oke...?" teriak nyonya Diana.


"I'm oke mih....! Don't worry...!" jawab Ajay setengah berteriak juga.


Akhirnya, bayangan Ajay pun menghilang di balik pintu utama.


Bersambung....


Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya author ini..

__ADS_1


Jika suka, tolong like, vote n komennya...πŸ™πŸ™


__ADS_2