
"Kau....!!" ujar wanita itu dengan raut muka yang sulit di gambarkan karena rasa terkejutnya.
"Mbak...mbak Risa...?" tanya Kyara tak kalah terkejutnya.
"Kya...., ah Kyara...!"
Seketika dokter Risa menarik Kyara ke dalam pelukannya. Mereka berdua pun menangis terharu menumpahkan kerinduan. Dokter Risa melepaskan pelukannya.
"Apa kabarmu, Kya ?.Masya Allah..., kamu semakin cantik saja.
"Alhamdulillah, kabar Kya baik. Mbak sendiri, apa kabar ?" Kyara balik bertanya.
"Seperti yang kamu lihat, alhamdulilah mbak sehat. Cuma badannya aja yang makin melebar, he...he..he.." dokter Risa terkekeh. "Kamu kok makin cantik sih Kya !" lanjutnya.
"Ah mbak bisa aja..., mbak juga tetep cantik kok...!" jawab Kyara.
"Eh, ngomong-ngomong, kamu sedang apa di rumah sakit ? Apa kamu sakit ?"
"Ah nggak mbak, alhamdulilah Kya sehat. Kya cuma lagi nungguin temen Kya yang lagi ketemuan sama temen dokternya di sini."
"Oh gitu, ya....! Ih, mbak kangen banget Kya, udah lama ya kita nggak ketemu."
"Sama mbak, Kya juga kangen. Hampir 7 tahun nggak ketemu, tapi mbak tetep awet muda."
"Kamu ini, pinter banget kalau lagi ngerayu..., he..he.."
"Mbak lagi sibuk nggak ?"
"Nggak tuh, kebetulan tadi abis kunjungan yang baru melahirkan. Emang kenapa, Kya ?
"Mmm..., sebenarnya Kya..., Kya pengen diperiksa mbak. Akhir-akhir ini, Kya sering keluar flek, tapi sedikit."
"Apa kamu sedang hamil ?"
Kyara terkejut. "Maksud mbak ?"
"Biasanya kalau wanita sedang hamil, terus dia kecapean atau sedang banyak pikiran, itu bisa memicu keluarnya flek."
"Kya nggak yakin Kya hamil, mbak ! Soalnya, siklus menstruasi Kya masih normal, walau terkadang suka telat dikit."
"Ya udah, kalau gitu kita periksa aja ! Yuk ke ruanganku !"
Akhirnya Kyara pun mengikuti dokter Risa untuk memeriksakan keadaannya.
"Kita langsung USG aja ya,Kya ! Soalnya kalau testpack, takut kurang akurat."
"Iya mbak."
Kyara pun berbaring di ranjang pemeriksaan. Dokter Risa membuka sedikit blouse Kyara. Setelah itu dia mulai mengoleskan gel bening di perut Kyara, dan mulai memutar-mutarkan stik transducer di sekitar perut Kyara.
"Kya, kapan terakhir kali kamu datang bulan ?" tanya dokter Risa.
"Seingat Kya, bulan kemarin Kya masih dapat haid mbak, tapi tidak teratur dan keluarnya sedikit-sedikit mbak !"
"Itu bukan datang bulan Kya, itu flek. Dengar mbak nggak mau kejadian yang dulu terulang lagi. Kamu sendiri tahu kan kalau kandungan kamu lemah ! Jangan terlalu banyak beraktivitas ! Kamu harus istirahat, Kya !"
"Ma... maksud mbak...? Kya baik-baik aja kan, mbak ? Kya pasti bisa hamil kan mbak ?" ujar Kyara cemas.
"Kya, kamu itu bukan hanya bisa hamil, tapi kamu sedang hamil, makanya jangan terlalu banyak beraktivitas !"
Kyara terkejut.
"Be... benarkah mbak ?"
"Iya sayang, coba lihat ! Ini adalah janin kamu, usianya sekitar 8 minggu. Itu artinya usia kandungan kamu sekitar 2 bulanan."
"Masya Allah, Subhanallah mbak...! Akhirnya Kya bisa hamil. Alhamdulillah..., terima kasih ya Allah...!" ujar Kyara terharu. Tanpa terasa air mata kebahagiaan mulai menetes di kedua pipi Kyara.
"Selamat ya sayang, mbak ikut bahagia." ujar dokter Risa seraya membersihkan sisa gel bening di perut Kyara.
Drrtt.... drrtt....
Ponsel Kyara berbunyi, "Sebentar ya, mbak ! Kya angkat telpon dulu." pamitnya.
Kyara turun dari ranjang pemeriksaan, dia pun mengangkat telpon dan mulai berbicara dengan lawan bicaranya di ujung telpon. Tak lama kemudian, dia kembali lagi menuju meja dokter Risa.
"Maaf mbak, Kya udah ditunggu sama temen, di lobi rumah sakit. Jadi semua biayanya berapa, mbak ?"
"Ish kamu ini ! Mbak nggak suka ya kamu bicara seperti itu lagi ! Kamu udah mbak anggap adik, jadi nggak usah sungkan ya ! Kalau mau periksa datang aja ke sini !"
"Wah jauh dong, mbak !"
"Loh, memangnya kamu tinggal di mana ?"
"Kya tinggal di kota J."
"Benarkah ? Ah iya, nanti mbak akan rekomendasikan dokter kandungan terbaik di sana. Ini vitamin buat kamu, bisa ditebus di apotek mana saja, kok !"
"Ah ya, makasih mbak ! Kalau gitu, Kya pamit dulu mbak. Assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam...!"
Tiba di lobi rumah sakit.
"Kamu kemana saja Kya ? Aku cemas nyariin kamu, tau !"
"Maaf, tadi aku ketemu teman lama."
"Siapa ?"
Kyara diam. Sebaiknya aku tidak usah membahas tentang dokter Risa, bisa runyam urusannya. Nita kan orangnya kepo..
"Ah, bukan siapa-siapa ! Ayo, kita jadi kan jenguk Ajay !"
"Jadi. Tapi kita nunggu dokter Firman, ya ! Dia lagi bawa mobil dulu di parkiran.
Kyara mengangguk. Tak lama kemudian, mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan mereka. Seorang dokter muda melambaikan tangannya ke arah mereka. Nita pun tersenyum dan segera membuka pintu belakang untuk Kyara duduk. Setelah itu dia membuka pintu depan dan duduk di samping temannya. Setelah Nita menutup pintunya rapat, mobil pun melaju menuju rumah sakit jiwa tempat di mana Ajay dirawat.
"Jadi ini yang namanya, Kya ?" ujar dokter Firman memecah keheningan di dalam mobil.
"I..iya, dok !" jawab Kyara gugup.
"Tidak usah terlalu formal, panggil saja saya Firman !"
"I..iya dok..., eh maksud saya Firman. Oh iya, bagaimana kondisi Ajay saat ini ?"
"Kondisinya masih tetap sama. Belum ada sedikit pun perubahan. Dia masih selalu histeris dan memanggil namamu."
__ADS_1
Kyara hanya bisa menundukkan kepalanya mendengar ucapan dokter Firman. Ada sedikit perasaan bersalah di hatinya, kenapa dia baru mengetahui semuanya setelah kondisi Ajay semakin parah.
Setelah melewati perjalanan selama setengah jam. Akhirnya dokter Firman membelokkan mobilnya ke RSJ Sumber Harapan. Setelah memarkirkan mobilnya, dia pun mengajak kedua temannya menemui dokter yang menangani Ajay.
Tok...tok...tok...
"Masuk !"
Ceklek...!
Dokter Firman membuka pintu ruangan dokter Yosef, kemudian dia mengajak dokter Nita dan Kyara memasuki ruangan itu.
"Selamat siang, dok ! Mohon maaf mengganggu waktunya." sapa dokter Firman.
"Ah..., dokter Firman ! Kemarilah ! Ayo silakan duduk, tidak mengganggu, kok !"
"Terima kasih, dok ! Oh iya, perkenalkan ini teman-teman saya. Ini dokter Nita, seorang dokter psikiater dari kota J, dan ini Kyara, seorang psikolog anak."
"Nita !" ujar dokter Nita
"Yosef !" balas dokter Yosef
"Kya !" ujar Kyara.
Dokter Yosef menatap lekat Kyara saat mereka berjabat tangan.
"Maaf, apakah anda Kya..."
Belum sempat dokter Yosef menyelesaikan kalimatnya, dokter Firman pun sudah menyelaknya.
"Benar, dok ! Dia adalah Kya yang selalu disebut-sebut oleh pasien anda." ujar dokter Firman.
"Ya Allah, nak...! Saya sangat senang, kamu bisa datang menjenguk Ajay. Saya yakin, kedatangan kamu akan membawa perubahan dalam jiwa anak itu." ujar dokter Yosef.
Dokter Yosef adalah seorang dokter senior yang usianya lebih dari setengah abad. Selain sebagai dokter yang menangani Ajay, dia juga sudah menganggap Ajay sebagai putranya, karena dokter Yosef adalah kawan tuan Ali semasa sekolah di tingkat SMP.
"Aamiin...! Semoga Kya bisa membantu, dok !" ucap Kyara.
"Iya, insyaallah sangat membantu. Kalau begitu, mari kita temui Ajay !" ajak dokter Yosef.
Mereka berempat pun pergi ke ruang perawatan Ajay. Namun dalam perjalanan, dokter Yosef segera memberikan kabar tentang kedatangan Kyara kepada tuan Ali sahabatnya.
Tak berapa lama, mereka tiba di sebuah kamar yang terlihat gelap dari luar.
"Kenapa ruangannya gelap sekali dok ?" tanya Kyara.
"Ajay tidak suka dengan cahaya lampu. Jika lampu ruangan ini dinyalakan, dia akan kembali histeris."
Sakit...! Tentu saja hati Kyara sakit mendengar penjelasan dokter.
Jreng....jreng...
Tiba-tiba, mereka mendengar suara petikan gitar dari dalam ruangan.
🎵🎵🎵
Betapa hancur hati
Hilang gairah hidup
Selimuti jiwa
Tak ada lagi tawa
Dan tak ada ceria
Semua hilang
Terkubur dalam duka
Dia...kini telah pergi jauh
Terbang tinggi tinggalkanku di sini
Tuhan Engkau tahu aku mencintainya...
Dan tak ada yang bisa mengganti dirinya
Tuhan hanya dia yang selalu ada
Dalam anganku dalam benakku...
Tuhan Engkau tahu aku mencintainya...
Dan tak ada yang bisa mengganti dirinya..
Tuhan.....
BRAKK....
BRAKK...
"KYA....! KYA...., MAAFKAN AKU....!!"
"Astaghfirullah hal adzim...! Dok, apa yang terjadi ?" ujar Kyara terkejut melihat sikap Ajay.
"Sepertinya dia kembali histeris. Kita harus segera memberikan suntikan, eh.., nona...ja....ngan"
Dokter Yosef tak mampu berbuat apa-apa lagi saat dia melihat Kyara tiba-tiba membuka pintu kamar Ajay.
"Ha....Han.....!" ujar Kyara lirih. Bibirnya bergetar mengucapkan kata panggilan kesayangannya terhadap Ajay dulu.
Ajay mendongakkan wajahnya. Dia benar-benar terkejut melihat Kyara berdiri di hadapannya. Berkali-kali dia mengerjapkan matanya hanya untuk sekedar memastikan penglihatannya.
"Ky....kya....! Kamu...kamu benar-benar Kya...!"
Kyara mengangguk.
Ajay mulai menggerakkan tangannya ingin menggapai Kyara. Namun apalah daya, kedua kakinya sangat sulit untuk digerakkan.
"Aaargghhh....! Aku emang bener-bener nggak berguna ! Aku lumpuh ! Pergi kamu...! Pergi...!" teriak Ajay mengusir Kyara.
Hati Kyara semakin perih melihat keadaan Ajay. Bukannya pergi, Kyara malah mendekati Ajay. Dia kemudian memeluk Ajay untuk menenangkannya.
"Ssstt...., tenanglah Han...! Aku mohon, tenanglah...! Jangan seperti ini...! Jangan lukai lagi dirimu dengan meratapi keadaanmu ! Percayalah, semuanya akan baik-baik saja !" ujar Kyara.
Ajay semakin mendekap erat pinggang Kyara.
__ADS_1
"Maafkan aku Kya....! Aku...aku benar-benar minta maaf...! Aku telah banyak berbuat jahat padamu pada anak kita...!Aku telah membunuhnya Kya, aku takut Kya, dia pasti membenciku ! Dia pasti tidak akan pernah memaafkan aku ! Aku memang seorang pengecut..! Maafkan aku Kya...! Aku mohon maafkan aku....!"
Air mata Kyara semakin deras mengalir saat Ajay mengungkit kembali anaknya.
Tidak, aku tidak boleh terlena. Anakku sudah berada di sisi Allah, aku tidak boleh kembali lemah. Demi anak yang sekarang ada dalam rahimku, aku harus kuat.
"Sudahlah, Han ! Anak kita sudah berada di surga. Dia sudah tenang di sisi Allah. Aku yakin dia anak yang hebat, dan dia bisa memaafkan ayahnya. ujar Kyara lirih menahan perih di dadanya.
Ajay terus mendekap Kyara erat, seolah tidak pernah ingin melepaskannya. Tanpa mereka sadari, ada sebuah pergerakan seseorang seraya tersenyum sinis.
Dokter Yosef menghampiri Ajay dan Kyara. Dia kemudian menyapa Ajay.
"Nak Ajay !" sapanya.
Ajay tersenyum.
"Dokter, kenalkan dia Kyara, tunangan saya !" ujar Ajay.
Deg....
Jantung Kyara seakan berhenti berdetak saat Ajay mengenalkannya sebagai tunangannya.
"Ah.., ternyata ini tunangan nak Ajay yah ! Cantik sekali, nak !"
"Dokter bisa aja, selain cantik dia juga baik hati." ujar Ajay memuji Kyara.
Kyara hanya bisa menatap bengong ke arah dokter Yosef.
Dokter Yosef mengerti arti tatapan Kyara, dia mengerlingkan sebelah matanya sebagai isyarat agar Kyara mengikuti sandiwara ini.
"Baiklah nak Ajay. Dokter harus bicara dulu tentang kesehatan nak Ajay kepada tunangannya, boleh kan..? Sekarang nak Ajay tidur dulu, ya !"
"Aku tidak mau tidur, kalau aku tidur, dia pasti akan pergi lagi. Aku tidak mau !" Ajay menolak, dia semakin erat memeluk Kyara.
"Han, dengarkan aku ! Aku ingin kamu segera sembuh, jadi aku harus berbicara dengan dokter supaya aku bisa merawatmu. Aku tidak akan mungkin bisa merawatmu jika aku tidak tahu caranya. Jadi aku mohon, izinkan aku berbicara dengan dokter ya ! Lagipula kamu perlu istirahat, Han ! Agar kesehatanmu bisa segera pulih ! Apa kamu tidak ingin berjalan lagi ?"
"Baiklah, demi kamu, aku akan tidur, supaya aku bisa cepat sembuh !"
"Terima kasih ! Sekarang lepaskan tanganmu dari pinggangku !"
Ajay melepaskan tangannya, dia pun mulai merebahkan tubuhnya. Setelah itu Kyara menyelimutinya.
"Kya, jangan tinggalkan aku !"
Kyara tersenyum, "Tidurlah...!" ujar Kyara seraya mengusap pucuk kepala Ajay.
***
Sementara itu di perusahaan BA Group. Badai amarah tengah memporak-porandakan ruangan seorang CEO. Bagas mengamuk dan melemparkan semua barang yang bisa digapainya.
"Aaaarrrggghh....!"
"Brengsek....!"
Braaakkk....!
Praaanng....!!
Brugh....!
Bagas melemparkan semua berkas yang ada di mejanya. Lemari kaca yang berisi piala penghargaannya tak luput dari pukulan tangan Bagas.
Jeje dan Doni hanya mampu berdiri di luar, tanpa berani masuk ke dalam meskipun hanya untuk menenangkan bosnya. Selama bekerja di perusahaan ini, baru kali ini Jeje dan Doni mendengar kemarahan bos nya
"Sebenarnya apa yang terjadi Je ?" tanya Doni.
"Jeje tidak tahu pak, tiba-tiba saja Jeje denger suara barang-barang yang seolah dilemparkan dengan kuat. Jeje nggak berani deketin bos, takut kena damprat." jawab Jeje.
Tak lama kemudian, suara keributan itu tiba-tiba berhenti.
Klek...
Pintu ruangan terbuka. tampak Bagas keluar dengan keadaan yang sangat kacau. Tangan kanannya berlumuran darah.
"Bos, a... apa yang terjadi ?" tanya Jeje hati-hati.
Bagas menatap Jeje dengan tatapan membunuh, sehingga Jeje pun mundur dan bersembunyi di balik tubuh kekarnya Doni.
Bagas menghela napasnya.
"Don, cancel semua meeting hari ini ! Dan kamu Je ! Tolong panggil beberapa OB untuk membereskan ruanganku !" perintah Bagas.
Setelah memberikan perintahnya, Bagas segera menuju lift khusus CEO dan menekan tombol lift langsung ke area parkiran. Tiba di sana, Bagas membuka mobilnya, secepat kilat dia melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
Bagas tiba di sebuah danau buatan di pinggiran kota J. Dia berdiri di tepi danau, menatap kosong air danau yang tampak kehijauan.
"Kyaaaaa.......! Kyaraaaa Adistyaaaaa....! Aaaarrrggghh...!"
Brugh....
Kaki Bagas terasa lemas hingga terjatuh tat kala mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu.
Bagas sedang asyik mempelajari materi meeting yang akan diadakan di restoran Lexi. Tiba, ponselnya berbunyi.
Ting....
Sebuah notifikasi WhatsApp masuk. Bagas mengusap layar ponselnya.
"Tante Di...!" gumamnya.
Segera Bagas membuka pesan dari nyonya Diana.
DEG....
Jantung Bagas berdetak cepat melihat pesan gambar yang dikirimkan nyonya Diana. Terlebih lagi saat Bagas membaca caption yang tertulis di sana.
Karena cinta tahu kemana dia harus pulang....
Hancur....! Hati Bagas hancur melihat foto itu. Bukan.., bukan karena foto Kyara yang sedang dipeluk oleh Ajay. Tapi karena sikap Kyara yang memutuskan bertindak tanpa sepengetahuannya.
"Kenapa Kya ? Kenapa kau tidak pernah bicara jika kau ingin menemuinya ? Kenapa kau malah membohongiku ? Apa kau tahu jika kau telah menyakiti harga diriku ? Apa aku bukan suami yang pantas untukmu, hingga kau harus diam-diam menemuinya di belakangku ? Kenapa Kya ?"
Bersambung...
Semoga masih suka ceritanya yaaa
Jangan lupa like vote n komennya 🙏
__ADS_1