
Karena merasa lelah akibat menangis, Kyara akhirnya terlelap di atas ranjangnya. Entah berapa lama dia tertidur hingga suara pintu yang dibanting, membuat dia terjaga.
BRAKK.....
Seseorang membanting pintu secara kasar. Kyara terhenyak, seketika dia mengerjapkan matanya. Kyara terdiam sejenak, untuk mengumpulkan semua kesadarannya. Tak lama kemudian, samar-samar dia mendengar suara orang bertengkar di bawah. Dia segera membereskan kertas-kertas yang berceceran di atas nakas, kemudian turun ke bawah untuk mencari sumber suara pertengkaran yang didengarnya.
***
Dengan riangnya Cecilia bertamu ke rumah Ajay. Setelah berkali-kali memencet bel, mengetuk pintu dan mengucapkan salam, namun tetap saja tak mendapat jawaban dari sang tuan rumah.
Klek....
Cecilia mencoba membuka pintunya, namun tak disangka, pintunya tidak terkunci. Cecilia tersenyum, dia pun segera masuk.
Aku akan membuat kejutan untuk Ajay..., batinnya.
Dia segera naik ke lantai 2 untuk pergi ke kamarnya Ajay. Saat dia tiba di kamar Ajay, dia melihat seorang gadis sedang tertidur pulas di atas kasur yang selama ini mereka tempati untuk melakukan kegiatan panasnya.
Cecilia benar-benar marah. Hatinya terasa panas karena terbakar api cemburu. Dia menyangka jika Ajay menyembunyikan seorang perempuan di rumahnya. Dia pun membanting pintu kamar, kemudian segera turun.
Tiba di ruang tamu, Cecilia berpapasan dengan Ajay dan Bagas yang baru pulang meeting dari kantor ayahnya.
"Loh, Cecil..., Kamu ada di sini ?" tanya Ajay, kaget.
Sedangkan Bagas hanya terdiam melihat gadis itu. Ini pertama kalinya Ajay bertemu secara langsung dengan gadis itu. Gadis yang selama ini dilihatnya dari kejauhan jika dia bertandang ke rumahnya Ajay. Namun,...
Plakk....!
Bukannya menjawab pertanyaan Ajay. Cecilia malah menampar pipi Ajay dengan kerasnya.
"Hei..! Apa-apaan kamu...? Kenapa kamu malah menamparku...? Apa salahku ?" seru Ajay tak terima.
"Kamu yang apa-apaan ? Selama ini aku sudah sangat percaya padamu, tapi kenapa kamu malah mengkhianati kepercayaanku...? Kamu benar-benar brengsek, Jay !!" teriak Cecilia berapi-api.
Ajay semakin tak mengerti.
"Ada apa ini Cecil ? Aku tidak mengerti maksudmu..!" teriak Ajay.
"Kau...!"
"Ada apa ini ?" tanya Kyara yang melihat perdebatan seorang gadis bersama tunangannya di ruang tamu.
Ajay dan Bagas terkejut melihat Kyara.
Jadi gadis itu marah karena melihat Kyara di rumah ini.., pikir Bagas.
Sedangkan Ajay, matanya mulai merah menatap tajam ke arah Kyara. Tiba-tiba dia mendekati Kyara, memegang tangan Kyara dengan kuat, hingga Kyara meringis kesakitan.
"Apa yang kamu lakukan di rumahku ?" tanya Ajay penuh kemarahan.
"Ish..., lepaskan...! Sakit, Han..." jawab Kyara, meringis menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Ajay pun menghempaskan tangan Kyara dengan kasar. Bagas kembali mengepalkan tangannya melihat sikap kasar Ajay.
"Jawab...!!" teriak Ajay.
Sejenak Kyara diam. Dia menarik napasnya panjang dan menatap tajam ke arah Ajay.
"Apa aku harus mempunyai alasan untuk datang ke rumahku sendiri ?" tanyanya datar.
Cecilia terkejut. Rumahnya....? Apa maksudnya semua ini ? Apa gadis itu calon istrinya Ajay ?
Cecilia menghentakkan kakinya, setelah itu dia segera pergi dari rumahnya Ajay. Namun tak disangkanya, Ajay malah mengejar Cecilia, membuat Bagas semakin merasa geram atas pilihan Ajay.
Kyara hanya menatap kosong ke arah mereka.
Mungkin dia gadis itu, gadis yang diceritakannya di lembaran kertas yang kubaca tadi..., batin Kyara.
"Kamu nggak apa-apa ?"
Pertanyaan Bagas menyadarkan Kyara dari lamunannya.
"Aku tidak apa-apa, kak !" jawab Kyara.
"Apa kamu habis menangis ?" tanya Bagas yang melihat mata Kyara bengkak.
"Ti...tidak...! A...aku...hanya... , mungkin tadi ada debu yang masih ke mataku saat aku membersihkan kamar." jawab Kyara berbohong.
"Baguslah !" jawab Bagas.
"Baguslah jika matamu bengkak bukan karena menangis. Aku sudah pernah bilang, aku tidak akan pernah membiarkan kamu menangis lagi. Jika hari ini kau menangis karena perlakuan Ajay, itu berarti aku telah gagal memenuhi janjiku." jawab Bagas panjang lebar.
Kyara tersenyum. "Tenanglah kak, air mataku sudah habis untuk menangisi kebodohanku. Aku tidak akan pernah menangis lagi untuk setiap kejadian pahit yang telah menimpaku."
"Oh iya, apa kau punya waktu luang, sore ini ?" tanya Bagas
"Aku bukan artis yang memiliki jadwal padat ya, kak !" Kyara menjawab dengan sebuah gurauan.
"Ha...ha..ha..."
Bagas tergelak mendengar jawaban Kyara. Hingga membuat mata Kyara membulat sempurna, karena baru kali ini melihat tawa Bagas yang renyah.
"Memangnya kenapa kak ?" tanya Kyara penasaran.
"Tidak apa-apa. Sore nanti, aku akan mengajakmu pergi. Sekarang, pulanglah ! Sebentar lagi ashar. Jam 4 sore, aku jemput kamu !" perintah Bagas.
"Baiklah, kalau begitu Kya permisi dulu kak, assalamualaikum...!" pamitnya.
"Waalaikumsalam...!"
***
Pukul 16.00, Bagas menjemput Kyara di rumah tuan Ali. Setelah berpamitan dan mendapat izin dari nyonya Aini, mereka pun pergi.
__ADS_1
Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Meskipun mereka telah mengenal satu sama lain, tetap saja kecanggungan selalu terjadi pada saat mereka bersama.
Bagas segera membelokkan mobilnya menuju kawasan wisata Danau Tirta.
"Kita ke sini lagi, kak ?" tanya Kyara, saat Bagas menghentikan mobilnya di parkiran danau Tirta.
"Iya, ayo turun ! Seseorang telah menunggumu di sana." jawab Bagas.
"Siapa ?" tanya Kyara merasa heran.
"Nanti juga kau tahu. Cepatlah turun !" ujar Bagas.
Kyara pun segera membuka safety belt nya. Kemudian turun dari mobil dan mengikuti Bagas. Tiba di tempat, Kyara melihat Andin tengah duduk di salah satu kursi di tepi danau. Segera Kyara membalikkan badannya untuk pergi. Namun Bagas menahannya.
"Mau kemana ?" tanya Bagas seraya memegang tangan Kyara.
"Di sana ada mbak Andin, kak. Aku takut dia melihatku dan kembali memarahiku. Aku tidak mau dia salah paham." jawab Kyara.
Ah nona..., sebesar itukah rasa traumamu akan sikap Andin dulu ? Hingga hanya melihat dari kejauhan pun, kau sudah ingin menghindarinya..., batin Bagas, iba terhadap kondisi psikis Kyara.
"Tidak apa-apa, ada aku di sini. Ayo...!" ajak Bagas, menarik tangan Kyara.
"Tapi, kak...?"
"Kamu percaya padaku, kan ?"
Kyara mengangguk.
"Kalau begitu, tidak ada yang harus kau ragukan lagi. Ayo !"
Mereka pun kembali berjalan menuju kursi yang sedang diduduki Andin.
Andin menoleh ke belakang saat dia mendengar langkah kaki yang kian mendekat. Dia tersenyum tulus mendapati kedua orang yang sedari tadi ditunggunya.
"Akhirnya kalian datang juga !" ujar Andin kepada Bagas dan Kyara.
"Maaf menunggu lama." jawab Ajay.
"Tidak apa-apa, aku juga baru sampai, kok..." jawab Andin tersenyum.
"Apa kabar, Kyara...?" sapa Andin, mengulurkan tangannya, menyapa Kyara.
Andin berusaha untuk bersikap wajar, meskipun jauh di lubuk hatinya, dia merasa takut jika Kyara menolak uluran tangannya.
"Ba...baik..!" jawab Kyara sambil membalas uluran tangan Andin.
Untuk pertama kalinya mereka saling berjabat tangan. Bagas tersenyum melihatnya. Meskipun dia tidak tahu apa maksud Andin saat meminta dia mempertemukannya dengan Kyara. Namun Bagas berharap, pertemuan kali ini akan membuat mereka berdamai satu sama lain.
Bersambung...
Jangan lupa like vote n komennya...🙏🙏
__ADS_1