Perjuangan CEO Muda

Perjuangan CEO Muda
Kecelakaan Ajay


__ADS_3

"Bagaimana ?" tanya masyarakat 1.


"Entahlah, sepertinya dia sudah meninggal." jawab masyarakat 2.


"Innalilahi, kasihan sekali !" jawab masyarakat 1.


Jalanan terlihat sangat macet. Johan yang kebetulan sedang melintas di sana, segera membuka kaca jendela mobilnya.


"Ada apa mas ?" tanya Johan


"Oh itu, mas ! Di depan, sedang ada evakuasi korban kecelakaan. Korbannya terjepit di antara jok mobil dan kemudi. Jadi sangat sulit untuk dievakuasi." jawab orang yang ditanya Johan.


Johan segera menepikan kendaraannya. Dia merasa penasaran ingin melihat kejadian lakalantas tersebut. Setelah Johan mendekati tempat kecelakaan itu, dia sangat terkejut melihat mobil yang tampak ringsek.


"Bukankah itu mobilnya tuan Ajay ? Ya Tuhan, jangan-jangan...."


Johan segera berlari untuk melihat lebih dekat.


Ya, benar...! Ini mobilnya tuan Ajay...! Apa..., apa tuan Ajay yang mengalami kecelakaan ini ?


Johan hendak memasuki TKP yang dibatasi police line, tapi seorang polisi segera menegurnya.


"Dimohon untuk tidak mendekat, pak !" tegur polisi tersebut.


"Maaf pak, saya hanya ingin memastikan orang yang mengendarai mobil ini." jawab Johan.


"Apa anda mengenalnya ?" polisi itu balik bertanya.


"Sebenarnya, ini mobil milik bos saya pak !"


"Apa korban di dalam mobil itu bos kamu ?"


"Ish, bapak ini ! Mana saya tahu ! Bukankah bapak sendiri yang melarang saya untuk tidak melintasi garis polisi ini ? Padahal saya hanya ingin memastikan apakah itu bos atau bukan ?" jawab Johan.


"Sudahlah, kita biarkan saja tim penyelamat untuk melakukan kerjanya. Jika anda ke sana, bisa-bisa anda hanya mengganggu pekerjaan mereka saja."


Johan hanya bisa mengangguk mengiyakan perintah polisi itu.


Setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam, akhirnya tim penyelamat bisa mengeluarkan korban. Korban sudah terlihat terkulai tak berdaya saat hendak diangkat dan ditidurkan ke atas brankar. Sebagian wajahnya tertutupi darah, membuat Johan merasa kesulitan untuk mengenalinya. Namun saat brankar ini di dorong menuju ambulance, tiba-tiba tangan korban jatuh terkulai. Tanpa sengaja, Johan melihat hal itu. Dia terhenyak kaget begitu melihat jam tangan di pergelangan korban.


"Di...dia..., tuan Ajay... !" gumamnya.


Sejurus kemudian, Johan berlari ke tempat mobilnya yang terparkir. Tiba di sana dia segera masuk dan menyalakan mesin mobilnya. Tak lama kemudian mobil itu melesat dengan kecepatan yang cukup tinggi untuk mengikuti ambulance yang akan membawa bos nya ke rumah sakit.


Di rumah sakit Insan Medika. Kondisi Danisa semakin memburuk karena belum juga mendapatkan pendonor. Stok darah yang berada di rumah sakit itu ternyata kosong.


"Katakan Cecilia ! Siapa ayah kandung Danisa !" teriak tuan Guna.


"A... Ajay, pah...! Ajay adalah ayah kandungnya Danisa !" jawab Cecilia masih sama.


Plakk...!!


Nyonya Diana menampar Cecilia cukup keras.


"Dasar wanita ular ! Sudah terbukti jika darah anakmu tidak cocok dengan darahnya Ajay, masih saja mau ngeles, heh !" teriak nyonya Diana.


"Ta..., tapi.., Ajay memang ayahnya, mih...! Aku bersumpah.. !"


Cecilia berlutut di hadapan nyonya Diana. Dia masih terus menangis. Pikirannya benar-benar kacau. Di satu sisi, anaknya sedang berjuang, tapi di sisi lain, Cecilia enggan semua kebohongannya terbongkar. Jika dia menghubungi Alvaro, maka sudah bisa dipastikan keluarga Ajay akan menendangnya dari rumahnya.


"Kamu...!! Aargghh, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi padamu.. !" ujar tuan Guna seraya menjambak rambutnya sendiri.


***


Johan masih mengikuti ambulance itu. Dia melihat ambulance itu berbelok ke rumah sakit Asy Syifa. Johan pun ikut berbelok ke rumah sakit itu. Dia kemudian memarkirkan mobilnya. Setelah itu dia masuk ke lobi rumah sakit.

__ADS_1


"Permisi ! Apa kau tahu kemana para petugas medis yang baru saja membawa korban lakalantas ?" tanya Johan pada petugas di bagian pendaftaran.


"Apa lakalantas yang terjadi di jalan Cemara ?" petugas itu malah balik bertanya.


"I...Iya.. ! Benar !"


"Tim medis baru saja membawanya ke IGD, pak !"


"Terima kasih !"


"Tunggu !"


Baru saja Johan hendak berlari ke ruang IGD, tiba-tiba perawat itu mencegahnya.


"Apa bapak keluarganya ?"


"Sa... saya asisten pribadinya."


"Baiklah kalau begitu, tolong diisi dulu formulir pendaftarannya pak ! Sekalian biodata pasien untuk kepentingan administrasi !"


"Apa tidak bisa nanti saja, sus ? Saya benar-benar cemas dengan kondisinya. Saya ingin melihatnya !"


"Tidak bisa pak ! Harus diisi sekarang ! Memangnya mau apa bapak ikut ke ruang IGD ? Apa bapak bisa menyembuhkannya ?" ujar perawat itu sinis.


Ish...! Sabar...sabar....! Batin Johan seraya mengusap dadanya. Johan pun mengambil formulir biodata yang telah disodorkan perawat judes itu. Dia mengisi biodata tuannya sesuai dengan apa yang dia ketahui.


Setelah selesai mengisi formulirnya, Johan langsung menyerahkan formulir tersebut ke bagian pendaftaran. Berikut kartu kreditnya sebagai jaminan, karena Johan sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mengikuti prosedural rumah sakit.


Tiba di depan ruang IGD, Johan berpapasan dengan salah seorang perawat.


"Permisi sus ! Pasien lakalantas yang baru dibawa kemari, bagaimana kondisinya ?"


"Oh, lakalantas yang di jalan Cemara, ya ? Saat ini pasien sedang dibawa ke ruang operasi untuk ditindaklanjuti. Dia mengalami pendarahan di bagian kepalanya, karena itu harus segera dioperasi."


"Ruang operasinya sebelah mana, sus ?"


"Oke ! Terima kasih, sus !"


"Sama-sama !"


Johan segera berlari mengikuti arahan dari perawat itu. Tiba di sana, Johan melihat lampu operasi di atas pintu ruangan tengah menyala merah. Itu artinya, para dokter sedang menangani operasi tuannya di dalam sana.


Johan menghela napasnya, lega. Dia pun duduk di kursi tunggu.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang ?" gumamnya.


Johan mengeluarkan ponselnya. Dia kemudian menghubungi tuan Ali.


"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan."


Hanya mbak operator yang menjawab telponnya Johan. Berulang kali Johan menghubungi nomor tuan Ali, namun jawabannya masih tetap sama.


Johan beralih menghubungi nyonya Diana, namun tak ada jawaban. Kembali lagi Johan menghubunginya, masih tetap tak ada jawaban.


"Nyonya muda ! Ish, kenapa aku bisa lupa sama nyonya muda !" gerutu Johan merasa kesal terhadap dirinya sendiri.


Kembali Johan memencet nomor istri tuanya. Namun tetap tak ada jawaban. Johan semakin frustasi. Johan menjambak rambutnya kasar.


"Apa aku harus ke rumahnya tuan Ajay untuk memberitahukan keadaan tuan pada istrinya ?" gumam Johan.


Baru saja Johan hendak beranjak untuk pergi ke rumahnya tuannya, tiba-tiba..


Drrtt... drrtt...


Ponselnya bergetar. Unknown nomor tertera di layar ponselnya.

__ADS_1


Nomor siapa ini ?


"Hallo !"


Johan mengangkat telponnya.


"Apa ini dengan nomornya pak Johan, asistennya Ajay Sanjaya ?"


"Ya benar, anda siapa ?"


"Oh, saya Bima, adeknya Ajay. Maaf pak, saya mau tanya, apa kakak saya ada menghubungi anda malam ini ?"


"Ah, kebetulan tuan muda menelpon saya. Tadi saya sudah menghubungi nomor tuan besar tapi nomornya tidak aktif. Saya juga menelpon nyonya besar dan nyonya muda, tapi tidak diangkatnya. Sesuatu terjadi pada tuan muda Ajay, tuan !"


"Kenapa, apa yang terjadi pada kakakku ?"


"Tuan Ajay mengalami kecelakaan ?"


"Apa, bagaimana bisa ?"


"Saya sendiri belum tahu kronologi nya seperti apa. Tadi kebetulan saya sedang melintas di jalan Cemara. Saya melihat mobil tuan Ajay menabrak truk pengangkut barang."


"Innalilahi.. ! Terus, bagaimana kondisinya ?"


"Saya belum tahu tuan, sekarang beliau sedang ditangani oleh para dokter di ruang sakit Asy Syifa."


"Baiklah, aku segera ke sana


"Baik tuan."


Johan pun menutup telponnya.


Di rumah sakit Insan Medika.


"Apa yang terjadi Bim ? Kondisi siapa yang kamu tanyakan ?" ujar nyonya Diana saat tanpa sengaja menguping pembicaraan anaknya.


"Ajay kecelakaan, mih ! Sekarang dia sedang ditangani oleh para dokter di rumah sakit Asy Syifa." ujar Bima.


"Ya Tuhan, Ajay...!" teriak nyonya Diana.


"Tidak...! Tidak mungkin mas Ajay kecelakaan..!" ujar Cecilia


Untuk sesaat, nyonya Diana mendelik ke arah menantunya.


"Ayo pih, kita harus segera ke rumah sakit Asy Syifa, Ajay pasti sangat membutuhkan kita !" ajak nyonya Diana menarik tangan suaminya.


"Cecil ikut mih !" teriak Cecilia.


"Cukup Cecil ! Diam dan jangan pernah beranjak dari sini !" teriak tuan Guna.


"Ta... tapi suami Cecil kecelakaan pah ? Bagaimana mungkin Cecil tidak melihatnya.


"Mantan suami ! Apa kamu pikir, setelah semua kejadian hari ini, dia masih mau menerimamu sebagai istrinya ? Jangan bodoh kamu, Cecil ! Lebih baik kamu fokus untuk mencari ayah biologisnya Danisa dan memintanya datang untuk menjadi pendonor bagi anakmu !"


"Tapi, pah...!"


"Malam ini juga, papah akan meminta pengacara papah untuk segera mengurus perceraian kalian ! Dan kamu tidak usah membantah apa pun lagi. Sudah cukup kamu mempermalukan papah !"


Cecilia hanya mampu menangis pilu dalam dekapan ibunya.


Bersambung....


Insyaallah lanjut malam yaaa...


Nugas dulu...🤭

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya 🙏


__ADS_2